
Dua puluh menit kemudian di kedai kopi...
Naura memakan perlahan nasi goreng yang ia pesan. Ia tampak tidak bersemangat menyantap makanan malam ini.
"Aku malu masih menerima kiriman uang dari ibu. Seharusnya aku yang memberi ibu, bukan malah ibu yang memberiku. Aku pikir akan mencari pekerjaan lain saja yang lebih tinggi gajinya." Naura menyampaikan keluh kesahnya.
Nara mendengarkan. "Bukankah kau sudah satu tahun lebih bekerja di kantor redaksi itu? Pastinya gajimu lumayan, bukan?" tanya Nara kepada Naura.
Naura mengembuskan napas lelahnya. "Aku masih digaji menggunakan ijazah SMA, Nara. Belum diakui sarjana karena belum ada ijazahnya." Naura menceritakan.
Nara tampak mengerti.
"Aku ingin mencoba mencari pekerjaan baru di perusahaan yang baru. Siapa tahu gajinya lebih besar," tutur Naura kembali.
"Memangnya berapa gajimu sekarang?" tanya Nara sambil menyeruput kopinya.
"Dua juta setengah," jawab Naura segera.
"Dua juta setengah untuk lulusan SMA? Itu sudah besar, Naura. Lagipula jam kerjamu hanya sampai jam tiga sore, bukan?" tanya Nara kepada Naura.
Naura mengangguk. "Tapi kadang juga pulang malam seperti ini. Tidak bisa diprediksikan." Naura sudah seperti amat jenuh dengan pekerjaannya.
"Hahahaha." Nara tertawa. "Kau hanya butuh istirahat, Naura. Aku yakin kau tidak serius saat ingin resign dari pekerjaanmu. Cutilah. Setahun bekerja sudah layak untuk mendapatkan cuti." Nara memberi saran.
Naura diam saja.
"Sudah jangan dipikirkan. Jalani saja kehidupan ini. Nanti juga akan tahu ke mana arah tujuannya." Nara menyemangati.
Naura pun terdiam seraya menunduk di hadapan Nara. Ia masih tampak belum puas. dengan semangat yang diberikan sepupunya.
Naura mengangguk pelan.
"Em, begini saja. Jikalau perlu bantuan, bicaralah padaku. Aku pasti akan membantumu. Masalah resign dari kantormu itu tahanlah dulu. Sebenarnya kau bisa saja bekerja di perusahan ayahku. Tapi apa kau mampu ikut menambang minyak bumi di lautan? Sedang posisi admin belum ada di sana." Nara menuturkan.
"Baiklah. Terima kasih, Nara. Aku akan mencoba bersabar sampai toga itu kudapatkan." Naura kembali bersemangat.
"Nah, ini. Ini baru Naura yang kukenal. Sang super girl!" Nara menyemangati.
Naura tertawa. Keduanya lalu memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Beristirahat setelah lelah bekerja seharian. Kembali lagi, semua masalah itu pasti akan bisa selesai jika dibicarakan.
Sabtu, pukul delapan malam...
Hari yang dijanjikan telah tiba. Naura pun datang bersama Nara ke sebuah pesta. Dan sesampainya di sana, ternyata Nita yang merupakan pacar Nara sudah tiba terlebih dahulu bersama keluarga besarnya. Nita pun menghampiri Nara dan Naura. Mereka mengobrol ringan sejenak.
"Kau cantik sekali, Naura. Tak pernah kulihat seperti ini sebelumnya." Nita memuji Naura.
Naura datang ke acara pesta dengan mengenakan gaun berwarna hitam. Gaun yang memperlihatkan sedikit bagian lengannya. Ia juga memakai sepatu hak tinggi sehingga terlihat begitu ideal. Sedang Nara mengenakan setelan jas hitam lengkap, sama seperti warna gaun Naura.
"Dia memang harus cantik malam ini, Sayang." Nara memanas-manasi Naura agar iri dengan kemesraan mereka.
Seketika itu juga Naura sebal kepada Nara. Berkata mesra tanpa peduli padanya yang masih belum mempunyai pacar.
Bukan Nara jika tidak bisa menghibur Naura. Ia kemudian mengenalkan Naura kepada beberapa temannya yang datang ke pesta. Tapi sayang, tidak ada satu orang pun yang dapat membuat Naura tertarik. Nara pun dibuat bingung oleh sepupunya.
Ini aneh sekali. Sebenarnya sepupuku ini normal tidak, sih?
Pada akhirnya Nara jadi bertanya-tanya dengan Naura. Ia pun kesal sendiri. Pesta pernikahan teman Nara itu malah menjadi ajang pencarian jodoh buat Naura.