
Beberapa menit kemudian...
Rivan baru saja melakukan penerbangan jauh dari kota ke kota. Selama tiga hari tiga malam ia tidak pulang ke rumah. Setelah pulang pun ia hanya berdiam diri saja. Hingga ia kembali lagi bekerja tanpa berkata apa-apa pada kakaknya. Reyan pun sebagai kakak menyadari perubahan sikap adiknya. Tapi ia belum mau menanyakannya karena khawatir menambah beban Rivan. Apalagi sang adik baru saja melakukan penerbangan jauh.
Kini waktu yang pas sudah tiba. Pagi ini Rivan baru saja pulang bekerja. Reyan pun teringat jika hari ini adalah hari ulang tahun adiknya. Ia lantas mempersiapkan kejutan untuk Rivan. Bahkan ia sampai tidak ikut istrinya pulang ke rumah. Semuanya demi sang adik tercinta.
"Cepat katakan ada permasalahan apa di bandara."
Reyan meminta kepada adiknya untuk bicara. Keduanya bicara di dalam kamar. Di pinggir kasur dengan raut wajah Rivan yang seperti orang frustrasi.
Rivan masih diam.
"Rivan, bicaralah. Jangan hanya diam. Aku tidak bisa membantu menyelesaikan permasalahanmu jika kau terus menerus diam seperti ini." Sang kakak meminta adiknya bicara.
Rivan menghela napasnya. "Aku ... aku patah hati, Kak." Rivan akhirnya jujur.
Saat mendengarnya, saat itu juga Reyan ingin tertawa. Tapi, ia menjaga perasaan adiknya. Sehingga ia bersikap antusias menanggapi cerita adiknya.
"Patah hati dengan siapa?" tanya Reyan lagi.
Rivan menunduk lesu. "Seorang gadis yang akhir-akhir ini menarik perhatianku," jawab Rivan kemudian.
"Apakah pramugari maskapai penerbangan?" tanya Reyan.
"Tidak," jawab Rivan.
"Operator penerbangan?" tanya Reyan lagi.
"Bukan," jawab Rivan.
"Pelayan penumpang bandara?"
"Bukan?"
"Sekuriti barang pengecekan?"
"Juga bukan."
"Lalu?"
Saat itu juga Reyan terbelalak seketika. Ia tidak menyangka jika sang adik akan kepincut dengan seorang penulis.
"Maksudmu penulis ...?"
"Dia bekerja di kantor redaksi majalah ibu kota. Namanya Naura. Gadis yang tanpa sengaja kutemui saat ada kecelakaan di jalan raya," tutur Rivan kemudian.
"Lalu apa yang membuatmu patah hati dengannya?" Reyan ingin tahu penyebab sang adik seperti orang frustrasi.
Rivan menghela napas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. "Dia bermesraan di pinggir jalan bersama bosnya." Rivan menceritakan.
"Hah???"
"Dia bilang itu bosnya, Kak! Tapi dia mau saja dipeluk oleh bosnya!" Rivan tak terima.
"Sebentar-sebentar." Sang kakak pun mencoba menelaah cerita adiknya. "Kau sudah jadian dengannya?" tanya Reyan ke Rivan.
Rivan menggelengkan kepala.
"Lalu mengapa harus marah? Kau kan belum mengikat apapun dengannya." Reyan mengajak sang adik berpikir logis.
Rivan beranjak berdiri. "Kakak tidak mengerti bagaimana perasaanku. Sudahlah!" Rivan pun malas untuk melanjutkan pembicaraan.
"Hei, hei, sudahlah. Jangan marah-marah. Begini saja." Reyan berpikir cepat, mencari solusi untuk adiknya.
"Apa?!" Rivan pun menunggu.
"Akhir pekan akan ada pesta barbeque di vila keluarga kak Nia. Datanglah bersamanya. Perkenalkan dia ke kami. Nanti aku akan coba bicara padanya." Reyan berniat membantu adiknya.
"Kakak yakin?" tanya Rivan.
"Ya. Jika kau yakin pilihanmu jatuh ke gadis itu, mengapa tidak kau perkenalkan dia ke kami? Jadi yakinkan hatimu terlebih dahulu. Masih ada beberapa hari lagi untuk berpikir. Lagipula..."
"Lagipula?"
"Lagipula kau sudah dewasa untuk serius menjalani hubungan. Kau sudah dua puluh lima tahun. Jadi lekaslah bergegas mencari pasangan. Jangan diam saja menunggu bidadari turun dari khayangan." Kakaknya menuturkan.