LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 8. He's A Good Man, I Guess.



"Jadi dia yang membelikanmu gitar, Ein?" tanya Goran.


Einar, Folke, Goran dan Edvard duduk berjejer di tengah-tengah padang rumput yang tertutup salju, hingga hanya nampak ujung-ujungnya saja.


Beberapa meter jauhnya dari mereka, Sekar asyik bermain-main salju sendirian. Berbaring menelungkup sembari mengayun tangannya yang masih menempel ke atas salju, membuat pola menyerupai sayap malaikat.


"Siapa namanya tadi, terdengar aneh?" tanya Edvard.


"Sekar ...." Einar menyahut.


"Der hvor hun kommer fra (berasal dari mana dia)?" Kini Folke yang bertanya.


Einar menghisap rokoknya. Lalu kembali melempar pandangan pada Sekar yang masih asyik bermain-main dengan salju.


"Asia, kan være (mungkin)." Einar menghembuskan asap rokoknya ke udara.


"Turis?" tanya Folke.


"Dia tinggal di Frogner."


"Frogner?" Goran dan Edvard menyahut secara bersamaan.


"Memang dia anak orang kaya." Goran melanjutkan.


"Dia membelikan si Bang sat ini gitar seharga 18.000 Krona (kr)!" Edvard menyahut. "Sudah pasti dia anak orang kaya."


Goran terkekeh. "Kau tidak mau memacarinya, Ein?"


"Einar lebih cinta mati dengan Anna si Penjaga Toko Bunga," celetuk Folke. "Sekar untukku saja, ya?"


"Hei, dia masih SMA, Bang sat!" maki Einar.


"Memangnya kenapa?" protes Folke.


Einar urung menjawab Folke karena dilihatnya Sekar berlarian kecil mendekat.


Sekar menghambur pada keempat pemuda itu dan duduk di samping Folke. "How can you own such a beautiful place like this (bagaimana bisa kalian memiliki tempat seindah ini)?" tanyanya.


"Owh, this place belongs to my father (tempat ini milik Ayahku)," jawab Folke. "Kau suka?"


"Suka sekali."


"Kau boleh datang ke sini kapan pun kau mau."


"Benarkah?" Mata Sekar berbinar.


"Yeah," ucap Folke. "Tempat ini terbuka untukmu."


Sekar meringis.


Sementara Goran dan Edvard tersenyum-senyum menyimak pembicaraan Folke dan Sekar. Dan Einar, ia sibuk menikmati rokoknya.


"Di mana kalian biasa melakukan ritual?" tanya Sekar tiba-tiba. Membuat keempat pemuda itu menoleh padanya secara bersamaan.


Sekar mendadak terkesiap mendapat tatapan dari empat pemuda berambut panjang, dengan warna mata yang beraneka ragam itu.


"A-pa aku sa-lah bertanya?" tanya Sekar terbata.


Keempatnya terbahak melihat reaksi Sekar yang terlihat canggung. "Kau membaca tentang kami di internet?" tanya Einar. "Kau percaya kami melakukan ritual satanic?"


Sekar mengangguk pelan. Pipinya bersemu merah menahan malu.


"Well ...." Einar menghela napasnya. "Kami adalah para pemuda Scandinavia yang ingin melestarikan budaya dan agama leluhur kami. Mereka menganggap ritual yang kami lakukan adalah ritual satanic."


Sekar menelan ludahnya. "Tapi ...."


"Pembakaran gereja?" tebak Einar. Ia lalu memandang ketiga temannya dan mereka saling terbahak. "Ceritanya panjang. Lain kali saja kuceritakan padamu."


"Ah, Ein bilang kau seorang pianist?" tanya Folke mengalihkan pembicaraan.


Sekar kembali mengangguk.


"Apa yang biasa kau mainkan?" tanya Folke kembali.


"Schubert, Bach, Beethoven, Chopin ...."


"Awesome (keren)," puji Folke. "Ah, Sekar ... kami punya satu lagu berjudul Mother North ... bagaimana kalau ...."


Suara Folke menguap begitu saja. Perhatian Sekar tertuju pada Einar yang sedang mengobrol dengan Goran dan Edvard. Sesekali gelak tawanya muncul. Wajah pemuda itu begitu manis ketika sedang tertawa dengan menyipitkan matanya.


"... untuk eksperimen. Kau mau mencobanya?" Sayup-sayup suara Folke terdengar. "Sekar? Hello?" Folke menggoyang-goyangkan telapak tangan di depan wajah Sekar. Membangunkan gadis itu dari lamunannya.


"Ah, Mother North ... okay, aku akan mencarinya di youtube." Walaupun pikirannya tengah terfokus pada senyuman Einar, namun ia masih bisa menampung kata-kata Folke.


"Great (bagus)!" seru Folke girang. "Seperti yang aku bilang tadi, kau bisa datang ke sini kapan pun, aku tinggal di sini," ujarnya. "Tidak perlu menunggu Einar," kekehnya.


Sekar meringis. Lalu mengangguk. Ia merasa tiba-tiba hidungnya mulai pegal dan gatal.


Ponsel di saku jaketnya bergetar. Ia segera meraih benda itu. Pak Karso menelponnya. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sial. Pukul lima sore. Rupanya Pak Karso sudah menelponnya berkali-kali. Namun ia tak menyadari karena saking asyiknya bermain salju.


"Pak Karso udah di depan apartemen temenku?" Dada Sekar berdegup kencang. "Iya, tunggu sebentar lagi, Pak. Aku lagi di luar." Ia pun menutup telponnya.


"Ada masalah, Sekar?" Einar berseru.


"Aku harus pulang ... hatcih ... hatcih!" Sekar tak bisa menahan rasa ingin bersinnya. Hidungnya terasa semakin gatal.


"Okay, ayo ...." Einar yang melihat hidung Sekar mulai memerah segera beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu bangun dari duduknya.


"Folke, aku pinjam mobilmu untuk mengantar Sekar," ujar Einar.


"Sikker (tentu)," kata Folke sembari melangkah masuk ke dalam pondok, dan keluar membawa kunci mobil lalu melemparkannya pada Einar.


"See you, guys ... thank you," ucap Sekar ketika Einar telah mengeluarkan mobil dari garasi di samping pondok.


Folke, Goran dan Edvard melambai pada Sekar yang kini telah berada di dalam mobil.


Einar pun mengemudikan mobil keluar dari halaman pondok, melalui jalanan setapak, dan kini telah masuk ke jalan raya. Ia menoleh ke arah Sekar yang tengah menggigil kedinginan dan terbersin beberapa kali.


Sementara Sekar merasa kepalanya mulai sedikit pusing dan telinganya berdengung. Sepertinya memang ia akan terserang flu.


"Antar aku sampai depan apartemenmu. Ada yang akan menjemputku di sana ...."


"Okay ...." sahut Einar. "Ini ... pakai jaketku." Einar yang melihat Sekar kedinginan dengan susah payah melepas jaketnya sembari mengemudi dan mengulurkannya pada Sekar.


"Thanks," ucap Sekar sembari mengenakan jaket Einar.


Kini Einar hanya mengenakan kaos lengan pendek yang memperlihatkan tattoo yang memenuhi kedua lengannya. Ia tak tampak kedinginan. Wajahnya fokus menatap ke depan.


"Kau tidak kedinginan?" tanya Sekar yang merasa bersalah.


Einar terbahak. "Tidak. Aku sudah terbiasa."


"Kuharap kau tidak jatuh sakit," lanjut Einar sembari menoleh sekilas pada Sekar.


Sekar menggeleng. Walaupun sebenarnya kini badannya mulai terasa pegal. Mungkin sebentar lagi ia akan terserang demam.


"Einar ...."


"Ya?"


"Kenapa kau membakar gereja?" tanya Sekar.


Einar tertawa terbahak mendengar pertanyaan Sekar. "Aku sudah bilang ceritanya panjang. Ini masalah politik yang cukup rumit. Intinya ... mereka pantas mendapatkannya."


"Kau seorang Antichrist (anti kristus)?"


"Definitely (tentu saja)."


"Why (kenapa)?"


Einar terdiam sejenak. "Kau masih mau bergaul denganku dan teman-temanku?" tanyanya.


Sekar mengangguk mantap. Entah kenapa ia merasa nyaman berada di tengah-tengah Einar dan teman-temannya. Walaupun ia belum mengenal mereka lebih dalam.


"Kalau begitu lama-lama kau akan tahu. Aku susah menjelaskannya," ucap Einar.


"Folke menyuruhku mengulik lagu kalian yang berjudul Mother North," ujar Sekar sembari mengucek hidungnya yang gatal.


"Ohya? Apa katanya?"


"Memainkannya versi piano."


"Kau coba saja ...."


"Okay ...."


Suasana hening untuk beberapa saat. Mereka mulai memasuki area Grønland yang padat. Einar menepikan mobil di depan gedung apartemennya.


Sekar melihat mobil Pak Karso telah menunggu di depan restauran Timur Tengah di mana supirnya itu siang tadi menurunkannya.


"Thanks, Einar," ujarnya sembari membuka pintu mobil. Sementara Einar mengikutinya dari belakang.


"Owh, I'm sorry, your jacket," ujar Sekar sembari melepaskan jaket Einar yang masih dikenakannya dan memberikannya pada pemuda itu.


"See you, Sekar," ucap Einar seraya melambaikan tangannya.


Sekar menyambutnya dengan senyuman. Lalu membuka pintu belakang mobil dan masuk ke dalamnya.


"Non Sekar dari mana? Katanya main di sini," ujar Pak Karso yang tak puas dengan jawaban Sekar sewaktu ia menelpon anak majikannya itu beberapa saat lalu, sembari mengemudikan mobilnya pelan.


"Kan udah dibilang tadi main keluar," jawab Sekar asal. Ia menoleh ke belakang. Einar tak terlihat lagi.


"Itu temennya Non Sekar? Kok penampilannya begitu? Ganteng sih, tapi tattoonya ngeri," kekeh Pak Karso.


"Ih, Pak Karso kepo deh," gerutu Sekar.


Pak Karso melanjutkan kekehannya. "Habisnya Nyonya bilang Non Sekar main sama temen sekelas cewek, la kok malah sama cowok gondrong tattooan begitu."


"Awas loh kalau bilang-bilang ke Mama!" ancam Sekar.


"Yang penting hati-hati aja, Non."


Sekar menghela napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Matanya menerawang keluar jendela, memandangi gedung-gedung yang berjejer di sepanjang jalan.


"Dia orang baik kok."


Sepertinya.


***


***


***