
"Hallo, Sir ...."
Einar tersenyum dan mengangguk. Lalu mengulurkan tangannya hendak menjabat tangan pria paruh baya berpakaian rapi di hadapannya itu.
"Er du Sekars venn (kau teman Sekar)?" tanya Papa dengan tenang sembari menyambut uluran tangan Einar.
"Ja, Sir."
"Hva heter du (siapa namamu)?"
"Einar, Sir." Ia berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokannya. "Aku minta maaf atas kekacauan ini, Pak. Aku yang bersalah. Seharusnya aku mengantar Sekar pulang semalam."
Papa melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau bawa Sekar ke mana semalam?"
"Emm ... rumahku. Tapi aku bersumpah aku tidak melakukan hal-hal yang buruk padanya."
Papa memandang Einar penuh selidik. "Kenapa tidak mengantar Sekar pulang? Kenapa harus membawanya ke rumahmu?"
"Sekar yang memintanya, Pak."
Papa menghela napasnya dalam-dalam. "Einar ... aku bukan seorang ayah yang kolot. Aku juga tidak melarang Sekar untuk berteman dengan siapa pun. Tapi, kau harus mengerti kalau Sekar masih ... ya ... kau tahu." Papa menggoyang-goyangkan telapak tangannya. "Remaja yang masih suka mengeksplorasi banyak hal." Ia melanjutkan.
"Sekar itu cerdas. Tapi bukan berarti dia tidak butuh bimbingan, terutama dari kami sebagai orang tua."
"Aku tidak mau dia terjerumus pada hal-hal negatif."
"Aku tidak sedang menuduhmu membawa keburukan pada Sekar, karena aku belum tahu kau seperti apa."
Enar mengangguk. "Aku mengerti, Pak."
"Kalau hanya untuk berteman, aku tidak akan melarang. Tapi, ingat ... Einar ... tidak lebih dari itu. Dan aku tidak mau hal seperti ini terjadi lagi."
"Yes, Sir."
"Kurasa kau paham apa yang kumaksudkan."
Kembali Einar mengangguk. "Jeg lover, sir (aku berjanji, pak)."
"Takk (terima kasih)." Papa menepuk-nepuk bahu Einar. Kemudian melangkah memasuki gerbang meninggalkan Einar.
Einar memandangi punggung pria itu dengan perasaan tak menentu. Kata-katanya halus. Namun ia tahu, itu adalah sebuah peringatan untuknya.
Tidak lebih dari seorang teman.
Entah kenapa kata-kata itu kini begitu mengganggu pikirannya. Bukankah ia dan Sekar memang hanya teman. Atau ia sebenarnya mengharapkan lebih.
Lagi pula, bukankah seharusnya ia fokus bagaimana caranya membujuk Anna yang saat ini sedang marah dan kecewa padanya?
.
.
"Kamu nginep di rumah cowok itu, Sekar?"
Suara Mama menggema ke seluruh ruangan. Sekar yang terduduk lesu di atas sofa hanya menunduk.
"Ini lagi, Mbok Mar ... nggak ngabarin kalau Sekar nggak pulang semalem. Kalian bersekongkol?"
Mbok Mar yang berdiri di belakang sofa pun menunduk. "Maaf, Nyah," ucap wanita itu lirih.
"Kamu nggak diapa-apain kan sama dia, Se?"
Sekar menggeleng. "Einar cowok baik-baik, Ma." Ia menyela.
"Namanya cowok, Se ... apa lagi yang bentukannya kaya gitu. Mama nggak percaya. Pokoknya ya, Se ... kamu nggak boleh berhubungan lagi sama dia."
"Ma ...." Papa yang baru saja masuk menyentuh bahu Mama lembut. "Sekar biar ke kamar dulu. Nanti Papa yang bicara."
Mama mendecak. "Nggak bisa gitu dong, Pa ... ini gawat. Sekar harus ngerti kalau nyari teman itu jangan sembarangan."
"Se, kamu ke kamar dulu, ya," titah Papa pada Sekar tanpa memedulikan omelan Mama.
Sekar mengangguk. Lalu beranjak dari duduknya dan menaiki tangga menuju kamarnya.
Sampai di kamar ia menghempaskan badannya ke atas ranjang. Berbaring terlentang memandangi langit-langit kamarnya. Senyumnya tersungging. Hangat tubuh Einar masih terasa membekas. Memeluk pemuda itu semalaman adalah hal yang paling indah.
Anna. Gadis itu memergoki mereka tidur dalam satu ranjang. Berpelukan layaknya sepasang kekasih. Ia tidak tahu apakah harus merasa bersalah atau justru senang.
"Papa boleh masuk, Se?"
Sekar yang mendengar suara Papa dari arah pintu segera bangkit dan duduk di tepian ranjang. Dadanya berdebar ketika pria itu melangkah mendekat padanya dan duduk di sampingnya.
"Papa jadi inget waktu kamu bilang mau punya teman yang unik."
"Boleh kan, Pa?"
Pria itu terkekeh. "Inget nggak Papa jawab apa?"
Bibir Sekar cemberut. "Hanya te-me-nan."
"Kenapa cemberut?" tanya Papa seraya mencubit pipi Sekar. "Memangnya punya rencana lain?" Ia menaikkan alisnya.
Sekar meringis. "Aku cuma les gitar sama dia."
"Les gitar nggak masalah. Tapi jaga diri, Se. Jangan malah nggak pulang kaya semalem."
"Einar tuh baik, Pa."
"Ya mana Papa tahu." Papa mengedikkan bahunya. "Pokoknya apa pun itu, mau les gitar, mau temenan aja, kalau deket sama kamu, Papa harus tahu dulu backgroundnya dia. Tapi bukan berarti Papa setuju loh ya, kalau kamu punya niat mau lebih dari sekedar temenan."
"Ih, Papa kolot ah."
"Loh ya nggak kolot dong, Se. Seorang ayah itu adalah pelindung puterinya. Apa lagi masih anak-anak kaya kamu ini."
Sekar mendecak kesal. "Aku bukan anak-anak!"
"Masih 16 tahun."
"17 tahun!"
Papa terbahak. "Pokoknya jangan aneh-aneh. Papa awasin kamu loh," ujarnya seraya beranjak dari duduknya dan melangkah keluar kamar.
Sekar mencebikkan bibirnya. Lalu kembali menghempaskan badannya ke atas ranjang. Papa lebih diplomatis jika dibanding dengan Mama. Ternyata tidak semengerikan seperti apa yang ia bayangkan sejak tadi. Kecuali kemarahan Mama tentu saja.
***
NITTEDAL, OSLO.
Sudah cukup lama Einar berkutat dengan gitarnya. Merambati nada, mengulangnya, lalu berusaha sekuat tenaga untuk menjaga temponya, namun gagal.
"Sial!" makinya ketika satu petikan nadanya meleset.
Konsentrasinya benar-benar buyar. Ia tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Sekar. Bagaimana keadaannya saat ini. Gadis itu pasti sedang menghadapi kemarahan orang tuanya.
Bodohnya ia. Seharusnya ia memikirkan bagaimana perasaan Anna. Dan berjuang untuk mendapatkan hatinya kembali. Tapi kenapa bayangan Sekar yang terus saja mengganggu pikirannya.
"Faen (f uck)!" makinya kembali. Ia berdiri mematung. Membiarkan saja gitarnya tergantung di badannya. Ia menghembuskan napas sembari menggeleng pelan.
"Noen problemer (ada masalah), Ein?" tanya Edvard yang baru saja masuk ke dalam studio.
"Hmm? Nei (tidak) ... jeg trenger en pause (aku butuh istirahat)," jawabnya seraya meletakkan gitar ke lantai dan mengambil sebungkus rokok yang tergeletak di sana.
"Hvor skal du (mau kemana)?" Edvard yang melihat Einar melangkah keluar studio kembali bertanya.
"Få litt frisk luft (cari udara segar)."
Einar melewati Folke dan Goran yang tengah mengobrol di ruang tamu tanpa menoleh ke arah mereka. Sembari menyalakan sebatang rokok di bibirnya, ia duduk di anak tangga pondok yang hanya beberapa itu.
Pandangannya lurus ke arah padang rumput yang tertutup salju tipis. Matanya menangkap bayang samar Sekar yang tengah bermain-main dengan salju. Menghamburkan salju ke udara, lalu melambaikan tangan padanya seraya tersenyum lebar.
Einar memejamkan matanya sesaat. Lalu memandang kembali ke arah padang rumput yang menghampar luas, tanpa bayangan Sekar di sana.
"Jeg må være gal (aku pasti sudah gila)."
***
***
***