
Ruangan tertutup itu lagi. Sekar dengan pakaian terusan polos warna putih duduk di atas ranjang, satu-satunya benda yang ada di sana. Namun kali ini ia tidak mendengar suara wanita menangis atau orang-orang yang sedang mengobrol.
Senyap. Ia hanya mendengar hembusan napasnya sendiri.
Di mana lagi ini? Sekar berusaha untuk beranjak dari ranjangnya namun badannya seakan tidak dapat digerakan. Ia berpikir keras untuk mengingat semuanya, namun gagal. Ingatannya seakan terpenjara dalam ruangan ini.
Sekar memejamkan matanya. Ia berharap ini hanya mimpi. Ia berharap ini tidak nyata. Rasanya begitu sunyi, begitu menyesakkan dada. Seperti kehilangan sesuatu yang tidak pernah ia miliki. Seperti merindukan sesuatu yang tidak pernah ia temui.
"Kau siap?"
Sekar membuka matanya. Seulas senyum manis tersungging dari bibir pemilik mata hazel yang memesona itu. Einar. Pemuda itu mengulurkan tangan padanya.
Einar Haugen, ia mengenakan pakaian putih lengan panjang dengan tali-tali di bagian dadanya, celana kain warna hitam dan boot. Rambut panjangnya ia ikat bagian atasnya, dan sisanya tergerai begitu saja.
Tampan sekali. Jelas, Einar tidak berasal dari jaman ini. Ia pemuda abad pertengahan yang membuat Sekar jatuh cinta sedalam-dalamnya.
"Lady in blue, come here (wanita bergaun biru, kemarilah)." Einar Masih mengulurkan tangan pada Sekar yang diam mematung di hadapannya.
Sekar memeriksa gaun sederhana yang ia kenakan. Gaun warna biru, layaknya pengantin wanita Celtic.
"Aku tanya sekali lagi, Sekar ... apa kau sudah siap?"
Sekar mengangguk mantap. Ia meraih tangan Einar dan berdiri di samping pemuda itu. Keduanya menghadap pada seorang pria tua berjanggut putih panjang.
"Tangan kanan untuk pengantin pria, dan tangan kiri untuk pengantin wanita."
Sekar dan Einar menuruti titah pria berjenggot putih itu. Lalu pria itu mengikatkan kedua lengan dua sejoli itu dengan sehelai potongan kain putih.
"Hari ini aku mengikatmu, Einar Haugen, pada seseorang yang dipilih oleh Dewi Jörd, seorang wanita suci yang terperangkap dalam tubuh gadis bernama Sekar Ayuning Prayoga. Jadilah sepasang kekasih yang akan memberi napas untuk manusia."
Lalu pria itu melantunkan sebuah lagu yang terdengar seperti mantra. Ia mengangkat tangan kanannya, lalu membuat simbol-simbol pengikat di hadapan wajah Einar dan Sekar.
"Jika semesta telah menyatukan, maka tidak akan pernah ikatan suci ini terlepas."
"Dengan ini kunyatakan kalian berdua adalah Adam dan Eve, Lucifer Dan Lilith, Jörd Dan Thor, sebagai perumpamaan cinta sejati tanpa sisi gelap yang mengintai."
"Minumlah ...." pria itu menyodorkan cawan kecil berisi cairan berwarna merah pada keduanya.
Setelah Einar dan Sekar selesai meminum isi dari cawan itu secara bergiliran, pria tua itu melepaskan ikatan kain di tangan mereka. Ia mempersilahkan keduanya untuk meninggalkan kuil.
Einar dan Sekar melangkah keluar sebagai sepasang kekasih yang diberkati oleh semesta.
***
Sekar tersenyum-senyum memandangi Einar yang sedang menikmati santap siangnya di sebuah restauran kecil di pinggir kota Donzdorf.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Einar sembari mengunyah potongan schnitzelnya.
Sekar meringis. "Rasanya masih aneh kita sudah menikah sekarang. Apa ya, reaksi ayah dan ibuku kalau tahu hal ini?" gumam Sekar.
"Sudah pasti mereka akan membunuhku," kekeh Einar seraya menyuapi Sekar dengan sesendok salad.
"Ein ... ngomong-ngomong, dari mana kau menemukan kuil pagan di sekitar sini?"
"Goran yang membantuku. Dia punya teman di kota ini."
Sekar mencebikkan bibirnya. "Rasanya seperti semua serba kebetulan."
"Begitulah jika energi semesta sudah selaras. Terlebih jika kau mampu memanifestasikan keinginanmu," sahut Einar.
"Hmmm ...." Sekar bergumam. "Apa kau tidak merasakan ada sesuatu yang janggal, Ein?"
"Seperti apa?"
Sekar mengelus dagunya. "Emm ... kenapa semuanya begitu mudah." Ia memandangi kedua telapak tangannya. "Sepertinya semua bisa kukendalikan dengan ini." Sekar mengetuk-ngetuk kepalanya.
Einar tersenyum menatap Sekar. "Ini duniamu, Sekar. Miliki dan nikmati."
"Duniaku ... hmm ... ya, duniaku." Sekar menggenggam tangan Einar erat. Ia jatuh cinta dengan pemuda ini sejak pertama kali mata mereka bertemu.
Aku menghadirkanmu dalam duniaku, Ein.
Sekar pelan membuka mata. Senyuman manis Einar yang pertama kali dilihatnya. Mereka berada di kamar apartemen.
"I'm scared (aku takut), Ein," ucap Sekar lirih seraya menatap mata hazel di hadapannya itu lekat.
"It's okay, I'll be gentle (tidak apa-apa, aku akan memperlakukanmu dengan lembut)." Einar mengecup lembut bibir Sekar. Lalu pelan meloloskan pakaian yang membalut tubuh gadis itu.
"Aku malu, Ein," ujar Sekar seraya menutupi dadanya dengan menyilangkan kedua lengan.
Einar tersenyum. Perlahan ia menarik kedua lengan Sekar yang menghalanginya menikmati pemandangan indah yang ada di hadapannya.
"Ein ... please," pinta Sekar seraya mendorong pelan dada Einar menjauh darinya. Namun sejurus kemudian ia menyusul bibir Einar dan mengu lumnya, membuat pemuda itu kembali mendekat padanya.
"Do you want it or not, Baby (kau mau atau tidak, sayang)?" tanya Einar. "Aku tidak akan memaksa kalau kau tidak mau."
"Aku mau. Tapi aku takut, aku malu." Sekar menutupi wajahnya erat-erat dengan telapak tangan.
Einar terkekeh melihat tingkah menggemaskan Sekar. Ia menarik pelan telapak tangan gadis itu. "Jadi maumu bagaimana, Sekar?"
"Apa akan sakit?" rengek Sekar.
"Sedikit," kekeh Einar seraya melepas kaos yang membalut tubuhnya. Dada dan lengannya yang terlukis tattoo terlihat menggiurkan di mata Sekar. Namun rasa takut dan malunya masih lebih besar.
"Kenapa kau menakutiku?"
"Siapa yang menakutimu, Sayang?"
"Kau menjawab akan sedikit sakit."
Einar menghela napasnya. Namun ia tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Menghadapi anak perawan mungkin memang harus bersabar.
"Bagaimana kalau kita coba saja," tawar Einar seraya melepas celananya.
"Aargh, tunggu, Ein!" pekik Sekar sambil menahan tangan Einar yang hendak meloloskan celana yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Apa lagi, Sekar?"
"Apa kau berniat untuk telan jang, Ein?" tanya Sekar panik.
Einar menepuk keningnya. "Memangnya kau tidak mau melihatku tanpa pakaian?"
"Ein, aku malu."
Einar menghela napasnya dengan berat. "Okay ... kita tunda dulu saja kalau begitu."
"Jangan!" seru Sekar.
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Beri aku waktu sebentar," ujar Sekar seraya menarik selimut dan menutupi badannya.
"Okay, Baby," ucap Einar pasrah seraya menjatuhkan badan ke samping. Ia mengacak rambut gadis itu pelan lalu memosisikan tubuhnya memunggungi Sekar.
Sementara Sekar berusaha mengumpulkan keberanian dengan mengatur napasnya yang sedikit memburu, Dan juga menormalkan detak jantungnya yang berdegup cukup kencang.
Ia harus mengalahkan rasa takut serta malunya dan menyerahkan jiwa dan raganya malam itu juga pada Einar. Pria yang ia hadirkan dalam hidupnya.
Sekar menoleh ke arah Einar yang berbaring di sampingnya, dengan posisi memunggunginya. Ia menelan ludahnya seraya memandangi punggung kokoh yang terlukis tattoo kepala tengkorak besar itu.
Setelah selama beberapa saat ia bergulat dengan pikirannya sendiri, akhirnya ia memutuskan untuk,
"Ein," panggilnya. Namun tidak ada jawaban.
"Ein!"
Hanya terdengar suara dengkuran halus Einar dengan napas yang teratur.
"Yah, dia tidur," ucap Sekar kecewa.
****