
Tengah malam, Sekar terbangun dan Einar yang sedang tertidur pulas masih memeluknya dengan erat. Ia merasa sekujur tubuhnya penuh dengan keringat. Mungkin ia mengalami demam dan sekarang sudah turun.
Tidak ingin mengganggu tidur Einar, pelan Sekar melepaskan pelukannya dan merangkak menuruni ranjang. Ia melangkah dengan hati-hati keluar kamar.
Di ruang tengah, nampak Edvard dan Goran yang sudah terlelap di atas sofa. Sekar tidak melihat Liana dan Cassandra di sana. Folke pun tidak terlihat. Akhirnya ia melanjutkan langkahnya keluar pondok.
Begitu berada di luar pondok, ia disambut udara dingin yang menusuk. Sekar merapatkan sweater tebalnya untuk menghalau hawa dingin yang menerobos masuk ke kulitnya.
Sekar mengedarkan pandangannya ke halaman pondok yang sepi dan remang-remang. Angin membuat ranting-ranting pohon pinus menari-nari dengan gembira.
Ia tengah merenggangkan otot-otot jemarinya ketika matanya menangkap sesosok bayangan hitam yang melintas di antara batang-batang pohon. Alisnya mengerenyit. Bayangan itu berhenti di balik pohon pinus dengam batang yang paling besar di antara yang lain.
Sekar melangkahkan kakinya menuruni tangga teras pondok dan menajamkan matanya melihat ke arah bayangan hitam itu, yang ternyata adalah seseorang yang memakai jubah besar dan penutup kepala. Seseorang itu berdiri membelakanginya dengan punggung yang sebagian terhalang batang pohon.
"Hvem er du (siapa kau)?" tanya Sekar setengah berseru. Ia melangkah pelan mendekati seseorang itu. Ketika jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal saja, si jubah hitam membalikkan badannya.
Sekar merasa bulu romanya seketika meremang ketika menyaksikan wajah seorang pria tua dengan bibir yang menyeringai memperlihatkan gigi-gigi taringnya.
"Hallo, Budbringer (si pembawa pesan)," sapa pria tua itu. "We meet at last (akhirnya kita bertemu)," ucapnya setengah berbisik.
"Who are ... you (kau siapa)?" tegas Sekar.
"Sekar! Sedang apa di situ?"
Seruan Einar dari arah teras membuat Sekar menoleh ke arah pemuda itu. Ketika ia mengalihkan pandangannya kembali ke arah pohon di depannya, pria tua itu telah menghilang.
"Sekar!" panggil Einar kembali.
Sekar yang keheranan melangkah menuju teras pondok sembari sesekali menoleh ke arah pohon.
"Hei, kau membuatku khawatir. Kenapa kau keluar tengah malam begini?" tanya Einar seraya merangkul bahunya dan menggosoknya pelan untuk memberinya rasa hangat.
"Aku ... ingin mencari udara segar," ujar Sekar.
"Mau ke studio?" tawar Einar ketika Sekar mengatakan ia tidak bisa tidur lagi. Gadis itu hanya mengangguk.
Di ruang yang penuh dengan peralatan musik itu, Einar menyiapkan keyboard kecil milik Lord Abaddon untuk Sekar mainkan.
"Mau membuat lagu?" tawar Einar.
Sekar yang masih memikirkan tentang pria tua misterius yang ia temui di halaman pondok beberapa saat lalu itu terkesiap mendengar suara Einar.
"Yeah, sure (tentu)," sahutnya sembari memosisikan dirinya di belakang keyboard. Ia berusaha menghapus bayang-bayang pria tua itu dari benaknya.
Pandangannya beralih pada Einar yang tengah mencangklong gitarnya. Matanya mengikuti gerakan lihai kekasihnya itu memasukkan kabel jack pada ampli, lalu bergantian menyetem kunci gitarnya. Ia tersenyum melihat gerak-gerik Einar yang begitu seksi.
"Coba pakai voice string, Sekar."
"Oh, okay." Sekar yang tengah memperhatikan Einar sedemikian rupa buru-buru memokuskan dirinya pada keyboard di hadapannya.
Sekar mengganti voice piano menjadi string melalui sebuah tombol kecil bulat dengan lampu warna jingga di atas keyboard.
"Dengar Sekar, nadanya seperti ini ...." Einar menginjak pedal gitarnya dan mengganti suara cleannya menjadi diatorsi. "Dari D," ujarnya.
O Death, come near me!
Be the one for me
be the one who stays.
My rivers are frozen
and mischosen,
and the shadows around me
sickens my heart.
Einar menyenandungkan beberapa bait lirik dibarengi dengan suara petikan gitarnya. "Di awal lagu, aku memakai petikan, kau lengkapi dengan voice string. Tambahkan melodi seperti ini." Einar memberi contoh melodi dengan gitarnya.
Sekar mengangguk seraya mengikuti nada yang diperdengarkan oleh Einar. "Seperti ini?" tanya Sekar.
"Yes." Einar tersenyum senang. Setelah Sekar selesai dengan melodinya, ia melanjutkannya dengan riff gitar pelan, mendayu, namun berat.
"Bait pertama kau yang nyanyikan, Sekar."
O, come near me
And stay (by my side).
In sadness I'm veiled
to the cross I am nailed
And the pain around me
freezes my world
My cold world ....
"Bait kedua, bersama. Kau dengan suara angelic, dan aku, growling. Masih dengan nada yang sama dengan bait pertama."
"Ini gothic," gumam Sekar.
"Gothic doom, lebih tepatnya."
"Doom?"
"Yeah, doom metal. Sebenarnya doom adalah black metal yang dibuat pelan. Coba kau dengar ini." Einar mempraktekan perbedaan dan persamaan dari kedua genre musik itu. "Bedanya, tema lirik. Lirik Doom metal cenderung lebih gelap seperti kematian, keputusasaan, kesengsaraan, dan sebagainya, tapi ditulis dengan gaya sastra. Sedangkan black metal, banyak terinspirasi dari occult, seperti hal-hal misterius, science, magic, mythology."
"Aku mengerti," sahut Sekar.
"Kalau lagu ini selesai, aku akan kirimkan demonya ke Nuclear Blast di Jerman," ujar Einar. "Sebuah label rekaman khusus untuk musik heavy metal."
"Oh, I see."
"Kalau mereka menerima, kau akan terkenal Sekar."
Sekar meringis. "Kau dan aku. Bukankah ini project duo?"
Einar terbahak. "I don't need fame (aku tidak butuh ketenaran)."
Sekar mencebik. "Apa ada lagu Lord Abaddon yang pernah kau kirimkan ke Nuclear Blast?"
Einar menggeleng. "We want to stay underground (kami ingin tetap bawah tanah)."
"Nice (nice)," kekehnya.
Einar melepas selempang gitar dan meletakkannya di lantai. Ia melangkah mendekati Sekar yang memandangnya seraya menyunggingkan senyum.
"Kita buat orang tuamu bangga. Dan biar Mamamu tahu kalau hubungan kita tidak selalu buruk," ujar Einar seraya mengelus rambut Sekar.
Sekar menghambur ke pelukan Einar dan membenamkan kepala di dadanya. "Kenapa kau sempurna sekali, Ein?"
"Tidak sama sekali," gelaknya.
"Bagiku kau sempurna," protes Sekar. "Aku bersedia menikah muda denganmu."
Ucapan polos Sekar membuat Einar terbahak. "Kau mau Papamu membunuhku, ya?"
"Dia tidak akan berani."
"Tunggu sampai kau lulus SMA dan berumur 18 tahun," bisik Einar seraya menciumi puncak kepala Sekar.
"Masih pertengahan tahun depan," gerutu Sekar seraya memasang wajah cemberutnya.
"Masih banyak waktu untuk membuatmu terkenal dan ... mendapat restu orang tuamu."
"Agnes bagaimana?"
"No problem, she likes you (tidak masalah, dia menyukaimu)."
Sekar mengeratkan pelukannya pada Einar. Rasa bahagia begitu membuncah di dalam dada. Ia bahkan tidak peduli meski pun besok Papa dan Mama akan memarahinya habis-habisan karena menginap bersama Einar.
"Jeg elsker deg (I love you), Ein."
"Jeg elsker deg også (I love you too), Sekar."
Bukankah Einar ketika sedang berbicara bahasa lokal Norsk terdengar begitu manly?
***
***
***