
Pagi itu, Sekar terbangun tanpa Einar di sampingnya. Masih teringat jelas kejadian semalam ketika Einar meninggalkannya begitu saja tertidur tanpa memedulikannya. Ia malu tapi juga kesal.
Ketika ia keluar dari kamar dan mendapati Einar sedang duduk menikmati sarapan di meja makan dengan Goran Dan Bard, ia langsung memasang wajah masamnya.
"Selamat pagi, Pengantin Baru," sapa Goran dengan senyum jahilnya.
Sekar terpaksa menyunggingkan senyumnya mendengar candaan Goran. Lalu ia duduk di sebelah Einar yang menatapnya dengan mata berbinar.
"Tidurmu lama sekali," kata Einar seraya mengelus kepala Sekar. "Kubuatkan sarapan untukmu," lanjutnya. Ia menyodorkan satu piring menu sarapan berupa omelet dan salad yang dibuatnya beberapa saat lalu ketika Sekar masih tertidur.
"Kau pasti membuat Sekar kelelahan semalam," seloroh Bard disambut kekehan Goran.
Sementara pipi Sekar telah merah padam menahan malu. Sementara Einar menggeleng dan memberi isyarat pada Goran serta Bard untuk menghentikan candaan mereka. Ia khawatir Sekar akan merajuk sepanjang hari.
"Hari ini kita akan menyelesaikan dua lagu terakhir," ujar Einar mengalihkan pembicaraan. "Jangan sampai mood pianist kita ini buruk," kekehnya kemudian.
Bard tergelak seraya mengangkat kedua tangannya.
"Berarti besok kita pulang ke Oslo?" tanya Goran.
"Ya."
Siang itu mereka berempat bertolak ke studio Nuclear Blast untuk menyelesaikan dua lagu terakhir. Setelah rekaman ini selesai, single mereka yang berjudul Death, Come Near me, akan dilempar ke pasar sebagai perkenalan Budbringer, band yang mengusung subgenre Gothic Doom. Setelah itu akan ada promo dan tour di seluruh Eropa utara dan barat. Begitu yang dikatakan Markus Staiger, selaku pimpinan Nuclear Blast.
Bagi Sekar, ini adalah hal besar. Ia tidak pernah menyangka karir bermusiknya akan sejauh ini. Dahulu, ia cukup puas hanya dengan pertunjukan-pertunjukan solo pianonya dan orkestra yang hanya ditonton oleh kalangan atas saja.Tapi, kali ini, bersama Einar, ia benar-benar memasuki dunia yang berbeda.
Dunia yang berada dalam genggamannya. Tentu saja, ia adalah apa yang ia pikirkan.
***
Malam terakhir di Donzdorf. Bard Dan Goran berpamitan akan berpetualang semalaman di kota cantik ini. Meninggalkan Sekar Dan Einar bebas melakukan apa pun yang harus mereka lakukan.
Tapi pada kenyataannya, keduanya hanya duduk diam di ruang tamu apartemen dengan kikuknya. Einar, adalah pria Norwegia yang berpengalaman tentang bagaimana memperlakukan wanita di atas ranjang. Namun, menghadapi Sekar, ia seperti mati kutu. Ia berubah menjadi pemuda culun yang takut menyentuh wanita. Jika Sekar mengatakan tidak, ia tidak punya daya untuk memaksa. Jika Sekar mengatakan iya, maka ia akan menyentuhnya dengan hati-hati. Jika di tengah hasratnya yang menggebu, Sekar memerintahkannya untuk berhenti, maka tanpa pikir panjang ia akan berhenti.
Sedahsyat itu Sekar, gadis mungil introvert dengan otak jenius namun penuh dengan sisi gelap, sisi gelap yang indah. Indah dalam konteks yang berbeda. Indah, aneh, menghanyutkan.
Ini dunia Sekar. Einar adalah hamba di sini. Sekar yang menghadirkannya.
"Sekar ... aku akan ke kamar mandi," ujar Einar memecah keheningan di antara mereka.
Sekar hanya mengangguk. Ia menatap gerakan tubuh Einar masuk ke dalam kamar mereka. Ia menghela napas dalam-dalam. Apa yang akan dilakukan selanjutnya? Apakah ini saatnya? Mengumpulkan keberanian untuk menyatukan diri seutuhnya dengan Einar?
Dadanya tiba-tiba berdegup kencang. Ia berdiri. Lalu berjalan mondar-mandir seraya memijit kepalanya. Ia memandang pintu kamar yang sedikit terbuka. Einar ada di dalam sana, mungkin sedang menunggunya di atas ranjang.
Sekar menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar dan mendapati kamar, kosong. Einar tidak ada di sana, namun ia bisa mendengar suara gemericik air di kamar mandi.
Dewi Jörd, bimbing aku.
Sekar sangat berharap saat ini ia dirasuki sesuatu. Tapi sayangnya, hanya di saat aura gelapnya membutakan pikiran, di saat itulah ia menjadi orang lain, atau Sekar yang lain, atau bahkan mungkin itulah sejatinya dirinya selama ini.
Ia yang berpakaian putih di dalam sebuah ruang aneh yang begitu tertutup. Dengan suara tangisan wanita yang terdengar memilukan, dan suara dua orang pria yang sedang berbicara satu sama lain.
Dia akan baik-baik saja. Sebaris kata itu yang sempat Sekar dengar. Entah apa artinya atau siapa "Dia" yang mereka maksud.
***
Sekar mengintip ke arah pintu kamar mandi yang hanya dibatasi kaca buram. Suara shower menghiasi ruangan, membuat gadis itu duduk dengan gundah. Menanti Einar, kekasih yang ia hadirkan dalam hidupnya.
Ia memandang koper warna biru miliknya yang tergeletak di lantai. Pasti ada sesuatu di dalam sana yang bisa ia kenakan malam ini. Baju hitam, jubah hitam. Memang akhir-akhir ini banyak baju baru yang dibelinya berwarna hitam.
Pelan Sekar meloloskan seluruh pakaian yang membalut tubuhnya, dan menggantinya dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dan juga kepalanya.
Jubah penyihir wanita era pertengahan, berwarna hitam terbuat dari beludru berkualitas tinggi. Ini adalah jubah wajib ketika melakukan ritual bersama Liana dan Cassandra. Entah kenapa ia membawanya dari Oslo.
Senyum Sekar terkembang. Terpikir ide gila di benaknya. Ia sampai-sampai menggigit bibirnya karena merasakan gelenyar aneh saat memikirkannya. Lalu, ia berdandan, menyemprotkan parfum terbaiknya.
Wanita dewasa di dalam cermin itu tersenyum. Ini dia, Sekar yang lain, mungkin perwujudan Lilith, atau Succubus, setan berwujud wanita cantik yang datang dalam mimpi seorang pria untuk mengajaknya mereguk kenik matan.
Dan Sekar, akan datang ke dalam mimpi Einar.
***
Einar keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk di pinggangnya. Matanya langsung tertuju pada sesosok wanita berjubah hitam dengan wajah yang begitu memikat.
"Wow ... siapa ini? Apa aku salah kamar?" kekehnya.
"Hai, Berserker, Ksatria pembela Odin," Sapa Sekar.
Einar menaikkan alisnya. Ia sempat berpikir sosok cantik di hadapannya ini bukanlah Sekar. "Hm," Einar hanya bergumam. Ia mau tahu, rencana jahil apa yang ada di dalam benak penyihir cantik ini.
"Penyihirmu telah menunggu, bersedia mendekat?" tanya Sekar lagi.
Einar masih terpaku di tempatnya. Lalu Sekar terkikik pelan dan berjalan perlahan kearah ranjang.
Ia menghadap ke arah Einar dan menyibakkan tudungnya perlahan ke belakang. Wajah cantiknya kini semakin jelas terlihat. Manis tiada tara, terkesan innocent namun dilain pihak misterius dan memikat.
"Kemari, Ksatriaku, lihatlah aku lebih jelas."
Einar berpikir sepertinya Sekar kembali dirasuki sesuatu. Namun setelah ia melihat sekilas senyum jahil dari sudut bibir mungil Sekar, ia sadar kalau Sekar sedang menggodanya.
Entahlah apa yang gadis ini lakukan sampai menghipnotisnya sedemikian rupa. Sekar memang penyihir, tidak diragukan lagi. Seperti ada yang mengendalikan gerakannya, tubuhnya maju perlahan mendekat pada Sekar.
Einar menghentikan langkahnya sekitar satu meter di depan Sekar begitu gadis itu mengangkat telapak tangannya memberi isyarat padanya untuk berhenti.
Pelan, jemari lentiknya pun terangkat dan
menyibakkan setengah jubahnya ke belakang punggung. Membuat Einar langsung menarik napas panjang.
Da da kanan Sekar terpampang jelas di matanya, tampak ra num dan manis, dengan puncak pink yang bisa langsung dicecap oleh lidah Einar hanya dengan melihatnya.
Tapi Einar tidak mampu menggerakkan tubuhnya. Entah kenapa. Mungkin ia terlalu terpukau dengan pemandangan indah di hadapannya ini. Atau mungkin reaksi hormonal yang tiba-tiba langsung menyerangnya justru membuat otot tubuhnya kaku.
Melihat reaksi Einar yang terpaku menatapnya, Sekar malah semakin penasaran. Ia takut. Tapi ia juga bersemangat. Lagipula, apa yang harus dikuatirkan? Kini, mereka saling memiliki.
Mereka sudah direstui alam semesta. Sekar milik Einar, dan Einar milik Sekar.
Sekar melanjutkan penyerahan dirinya.
Ia ingin melihat sisi lain Einar. Di kehidupan nyata Einar lembut dan selalu ceria, mengayominya dan menjaganya. Di atas panggung Einar begitu liar. Menerjang aturan dan ganas.
Bagaimana kalau di atas ranjang?
Dengan kondisi jubah tertutup setengah, Sekar duduk di pinggir ranjang, lalu menyingkap sisi jubahnya yang lain ke belakang punggungnya.
Ia merentangkan pahanya. Menyajikan surga dunia untuk Einar, suaminya. Ia gugup, tubuhnya gemetar.
Namun saat ia melihat mata Einar yang memandangnya dengan terpesona, bagai melihat Valkyrie turun dari langit di depannya, Sekar menjadi relax dan semakin intens menggoda.
"Aku menyajikan tubuhku dan menyerahkan hatiku untukmu, Berserkerku. Kau akan melaksanakan kewajibanmu, seperti seharusnya."
"Seperti seharusnya?" tanya Einar, mengulang perkataan Sekar.
Otaknya langsung buntu bagaikan robot.
Yang ada di sana hanya cara bagaimana ia 'menikmati' makhluk menawan di depannya ini.
Tersadar. Tiba-tiba ia sangat haus dan lapar.
"Ya. Bersatu denganku." Sekar menggoyangkan pinggulnya sedikit. Sebenarnya reflek, karena jubahnya tertarik. Tapi goyangannya malah membuatnya seolah-olah ia mengundang Einar untuk tidak lagi membuang-buang waktu.
"Sial!" dengus Einar sambil menyibak handuknya dan membantingnya ke lantai, lalu menerjang penyihirnya dengan hasrat yang tidak lagi mampu ia bendung.
"Einar!" pekikan kaget dari Sekar saat sesuatu yang berat menabraknya, lalu mengangkatnya dan membantingnya ke tengah ranjang.
"Maafkan aku, aku hanya pria biasa. Bahkan jika seorang Dewi menggodaku seperti ini, aku tidak bisa merasa sungkan lagi."
Einar adalah kata terakhir yang ia ucapkan. Setelah itu ia tidak mampu berkata-kata lagi ketika sesuatu membungkam mulutnya sampai ia tidak mampu bersuara. Lidah Einar mendesaknya, tubuh berat pria itu menin dihnya. Ia bahkan kesulitan untuk mengambil napasnya, apalagi bergerak.
Ia tidak mampu lagi mendeteksi sentuhan Einar. Karena seluruh tubuhnya sedang digera yangi. Einar menyerangnya benar-benar seperti Berserker! Buas dan menggila!
Bibirnya melu mat bibir Sekar dengan erat dan tangannya mere mas dadanya. Tangan yang satu lagi mencengkeram bagian tubuhnya yang lain.
Seperti ini, iya seperti ini ternyata gitaris Lord Abaddon ketika menja mah wanita. Sekar yang mencoba berperan sebagai sorang Dominatrik pun kalah telak.
Lalu, sesuatu yang panas dan keras menggesek perut Sekar. Ia tahu apa itu. Namun ia tidak punya nyali untuk memeriksanya. Ia mencoba memberontak untuk membebaskan dirinya. Ia ingin gerakan yang lebih lembut. Astaga, ini saat pertamanya. Sekar benar-benar salah sudah menggoda Einar sampai jadi seperti ini.
Einar memeluknya dengan erat, menekannya sampai Sekar merasa sangat sesak. Apa yang harus ia lakukan untuk menghentikan Einar?
Ah! Senjata wanita. Sekar tersenyum miring. Ia menghujamkan kukunya di lengan Einar, dan menariknya sekuat tenaga. Succubus tidak boleh lemah.
"Ugh!!" seru Einar kaget. Einar melepas ciumannya karena merasa sayatan panas menyerang lengannya.
Sekar mengambil napas dengan rakus. Ia tersengal-sengal mengatur tubuhnya yang gemetar. "Maaf," gumamnya pendek sambil memejamkan mata. "Tapi itu sebuah peringatan, Ein ... lihat siapa yang sedang kau hadapi ini."
"Demi Odin ... maafkan aku." Einar meraup wajahnya mencoba menyadarkan dirinya sendiri.
Lalu, pelan ia memberi jarak antara dirinya dan Sekar. Lalu mengangkat tubuh mungil itu dengan mudah dan membawanya ke sisi kepala ranjang.
"Aku tidak mau melihatnya." Sekar menggeleng keras Dan menutup mata ketika tubuh polos Einar tanpa sehelai benang itu terpampang jelas di depannya.
"Jangan dilihat. Sentuh saja, Sekar."
Sekar memekik tertahan saat merasakan tekstur yang keras dan panas di tangannya.
"Genggam seperti ini," suara pria itu serak dan dalam. Einar bisa merasakan jemari lentik itu menelusuri tubuhnya. Gemetar dan dingin, namun setiap inchi sentuhannya membuat Einar bergairah.
"Belai seperti ini," desak Einar lagi.
Hanya butuh waktu sebentar buat Sekar untuk memahami artinya. Ia seorang quick learning, ia sudah mahir dalam beberapa detik. Sekar sedang dalam proses mengenali tubuh gitaris Lord Abaddon itu. Sementara Einar sibuk dengan lehernya, rahangnya, dadanya. Semakin Einar menyesapnya, gerakan jemari Sekar semakin cepat. Membuat Einar seakan ingin meledak.
"Tunggu, Sekar," bisik Einar. Ia tidak ingin meledak secepat ini.
"Apakah ini saatnya?" tanya Sekar setengah bergumam.
"Kalau kau mengizinkan," sahut Einar dengan tatapan mendamba. Lucifer berkata dalam benaknya, diizinkan atau tidak, aku tetap akan datang memasukinya.
Sekar mengangguk. Menelan salivanya dengan susah payah. Menunggu detik-detik paling mendebarkan dalam hidupnya.
"Sakiiiit," rengek Sekar.
Voila. Sekar kembali menjadi Sekar. Tukang merengek dan merajuk. Manja seperti seorang puteri raja. Saatnya memerankan peran sebagai seorang pria yang sedang menghadapi seorang perawan.
"Hanya sebentar saja. Percaya padaku," bisik Einar lembut.
Sekar percaya Einar, tentu saja. Sakitnya hanya sebentar. Hanya sebuah sayatan kecil. Setelah itu hanya ada surga, surga dan surga. Seperti menemukan pohon oak yang indah di tengah hutan yang dikelilingi kabut hitam nan seram. Namun sekali ditemukan, hanya ada keindahan terpampang di depan mata.
Lalu, Sekar memeluk Einar seerat mungkin, meminta perlindungan. "Sakit, Ein," rintihnya.
"I know, Baby ... I know (aku tahu, sayang, aku tahu)," hibur Einar seraya mengecup kening Sekar.
Lalu detik berikutnya terdengar suara mendengus yang asing di telinga Sekar. Dan gerakan pria itu semakin cepat. Geraman Einar adalah sesuatu yang belum pernah Sekar dengar. Terasa aneh, tapi seperti candu.
Cara pria merasakan gairah, suara yang otomatis keluar dari mulutnya, tarikan napasnya, raut wajah Einar belum pernah ia saksikan sebelumnya, semua hal baru bagi Sekar.
Dan berikutnya hal itu terjadi. Sensasi yang lebih mengagetkan. Kata-kata tidak cukup untuk mewakilinya.
Benaknya dipenuhi oleh Einar, wajah tampannya, dan tubuh penuh tattoo simbol-simbol pagan. Begitu seterusnya dan berulang-ulang sampai dia bagai ditampar dengan keras. Tamparan yang sangat memabukkan. Menyerang bagian bawah tubuhnya, bagian in timnya. Ia tersengat sesuatu yang kuat.
Bersama Einar, Sekar sampai ke puncak Valhalla. Ia hanya bisa berteriak memanggil nama Einar dan mencabik punggung kokoh itu tanpa ampun.
Dan cengkeraman Einar pun mengendur. Ia memeluk tubuh lemah Sekar dan menghujaninya dengan kecupan-kecupan lembut.
"Ein ... sepertinya aku akan mati," ucap Sekar lirih.
Einar terbahak sembari menjatuhkan badannya di sisi Sekar. "Kau akan baik-baik saja," ujarnya seraya meraih tangan Sekar dan membawanya ke dadanya. Ia memejamkan mata seiring rasa lelah yang mulai singgah.
***
Ehem ... ini kan Bab yang ditunggu-tunggu. Aku tahu ... ih, nakal, ya, kalian ini 🤣🤣🤣.
Okay ... mohon maaf kalau update lama, berhubung aku banyak kerjaan di aplikasi sebelah dan juga dunia permusikan di kehidupan nyataku mulai membutuhkan perhatian lebih. Tapi, cerita Einar-Sekar tetap akan sampai tamat karena plot sudah ada.
Daan ... jeng jeng jeng ... di bagian adegan belah ketupat dimasukin ke bakso kuah sambel pedes ini (sori, lagi laper), aku nodong seseorang untuk ikut menyumbang kata-kata mutiara ... ya siapa lagi kalau bukan Angspour a. k. a Septira Wihartanti yang kalian pasti udah kenal lah ya.
Jadi, adegan makan bakso kuah seger aduhai itu adalah hasil campuran kejahilanku dan kegendengan Angspour.
Mohon maaf updatenya pagi-pagi di saat para suami sudah berangkat kerja, itu semua silahkan complain kepada Angspour yang pagi-pagi buta baru setor naskah wkwkwkwk.
Yuk, kita timpuk dia bareng-bareng.
🤣🤣🤣🤣🤣
Okay, sekian dan terimagaji.