LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 57. Sangat Nyata.



FROGNER, OSLO.


Ruang tengah rumah Sekar hening. Gadis itu duduk di atas sofa seraya menundukkan wajahnya, menghindari tatapan Mama yang tajam, sementara Papa duduk tenang sembari melipat kedua lengannya di dada.


Einar, yang duduk di samping Sekar meraih telapak tangan gadis itu dan menggenggamnya dengan erat.


"We're married (kami telah menikah) ... in Germany (di Jerman)," ucap Einar sambil menatap kedua orang tua Sekar tanpa ada rasa gugup sedikit pun, layaknya seorang Ksatria yang sedang meminta izin untuk meminang seorang gadis kepada orang tuanya.


Ucapan Einar bagai petir menggelegar di telinga Mama. Saking terkejutnya, wanita itu hanya mampu membuka mulutnya, namun tidak ada satu patah kata pun yang lolos.


Sementara Papa, dari ekspresi wajahnya, pria paruh baya itu tampak terkejut. Namun ia berusaha bersikap setenang mungkin.


"Allow me to take Sekar with me (izinkan aku untuk membawa Sekar bersamaku),'' ucap Einar kembali.


Mama berdiri. Menatap Einar dengan tatapan yang sulit untuk diterjemahkan oleh kata-kata.


"Einar!" panggil Mama. Wanita itu tampak berusaha dengan keras untuk menenangkan diri. "Aku ingin bicara empat mata denganmu,'' ujarnya seraya melangkah keluar.


Einar dan Sekar saling melempar pandang. Lalu keduanya menoleh pada Papa yang masih duduk bersidekap sambil jemarinya mengelus dagunya. Papa memberi isyarat dengan tangannya pada Einar untuk mengikuti Mama keluar.


Tinggallah Sekar dan Papa di ruang tengah. Sekar menatap pria itu dengan tatapan memelas. "Maafin aku, Pa ...."


Papa memberi isyarat pada Sekar untuk duduk di sebelahnya. Pria itu membelai rambut Sekar dengan lembut. "Asal kamu bahagia, Se ... selama ini, Papa sama Mama berkonsentrasi penuh biar kamu bisa hidup normal, bahagia, dan bisa senyum lagi."


Sekar memandang Papa dengan mata berkaca-kaca. "Tapi, Mama ...."


"Mama sama seperti Papa."


Sekar menghambur ke pelukan Papa dan menangis penuh haru. "Makasih, Pa," ucap Sekar di sela-sela tangisnya.


Beberapa waktu kemudian, Mama melangkah masuk ke ruang tengah diikuti oleh Einar. Mata wanita paruh baya itu terlihat sembab. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Mama melangkah menaiki tangga menuju kamar Sekar.


Sekar memandang pada Einar yang kini sedang berbicara dengan Papa dengan setengah berbisik. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, ia tidak begitu mendengarnya. Tapi apa pun itu, ia yakin, semua baik-baik saja.


Semua baik-baik saja seperti yang ia pikirkan. Semesta telah mengirim sinyal untuk mantra-mantra yang Sekar ucapkan.


Law of Attraction.


***


GRØNLAND, OSLO.


Agnes menyerahkan apartemennya pada Einar dan Sekar untuk ditinggali. Sementara dirinya memutuskan untuk tinggal bersama kakaknya yang hidup sendirian di sebuah daerah di pinggiran Oslo.


Hari ini, hari pertama Einar dan Sekar tinggal satu atap. Satu ruangan yang biasanya digunakan Agnes untuk menyulam, beberapa waktu lalu telah disulap oleh Einar menjadi studio musik tempat duo Budbringer untuk berkarya.


Album pertama mereka sukses membawa warna baru dalam musik cadas dan nama mereka masuk dalam jajaran band-band metal Norwegia yang cukup berpengaruh.


Lagu-lagu yang syarat akan muatan kepercayaan kuno Scandinavia dan juga lirik-lirik yang terkadang bersinggungan dengan agama-agama besar dan juga politik, membuat nama Budbringer menjadi sorotan media.


Apalagi dengan adanya Sekar, pianist dan vocalist yang bukan orang kulit putih dan bukan orang Scandinavia, ditambah lagi nama Einar Haugen yang dikenal sebagai front man Lord Abaddon dengan segala kontroversinya, membuat duo itu menjadi sangat unik di mata para penggemar metal.


Semuanya berjalan dengan lancar, bukan? Namun, hidup bukan semata-mata tentang bahagia dan kesenangan. Ini yang Sekar pahami selama ini. Bahwa, semesta punya sisi gelap yang mampu membuat semua makhluk terperosok di dalamnya.


"Apa yang ibuku bicarakan denganmu?" tanya Sekar pada Einar yang sedang sibuk membersihkan gitarnya dengan kain.


"Biar aku dan ibumu saja yang tahu," jawab Einar dengan senyum tipis tersungging di bibirnya.


Sekar memanyunkan bibirnya. Ia naik ke pangkuan Einar tanpa memedulikannya yang masih memegang gitar.


"Tunggu, Sekar, biar kurapikan dulu gitarnya."


Einar menghela napasnya. "Kau ini kalau menginginkan sesuatu harus selalu dituruti, ya," ujar Einar seraya mencubit pipi Sekar dengan gemas. "Dua kepribadian yang unik. Satu sisi seorang jenius yang berbahaya," kekeh Einar. "Di sisi lain, seorang perajuk yang menggemaskan," lanjutnya seraya menggesek hidungnya ke hiding Sekar.


"Tidak usah mengalihkan pembicaraan," sungut Sekar.


"Aku tidak akan mengatakannya sekarang, Sekar ... suatu saat kau akan tahu."


Wajah Sekar berubah masam. Ia tidak suka Einar bermain rahasia dengannya.


"Baiklah, intinya saja. Ibumu berterima kasih padaku aku telah membuatmu tersenyum lagi," ucap Einar.


"Benarkah?" tanya Sekar seraya menatap Einar curiga. "Memang selama ini aku tidak pernah tersenyum?"


"Selama ini kau tidak punya ekspresi apa-apa. Kecuali ... ketika sedang dinaungi aura gelap, ekpresimu sungguh menyeramkan," gurau Einar.


Sekar melingkarkan lengannya di leher Einar, lalu mengecup bibir pemuda itu dengan lembut. "Kalau ekspresiku di atas ranjang bagaimana?"


"Hmmm ...." Einar mengerutkan dahinya, pura-pura berpikir. "Awal yang pasif, tapi buas kemudian," bisiknya.


"Ein!" seru Sekar seraya melayangkan kepalan tangan ke pundak Einar. Pemuda itu mengaduh, namun sejurus kemudian tawanya lolos.


"Kau bertanya, aku menjawab. Di mana letak kesalahannya?"


"Salahnya kau terlalu jujur," gerutu Sekar.


"Baiklah, Sekar ... bisa kau menyingkir dariku sebentar? Aku mau merapikan gitarku dulu," ujar Einar sembari menepuk-nepuk punggung Sekar.


Dengan bersungut-sungut, Sekar beranjak dari pangkuan Einar dan duduk di sampingnya.


"Hmm ... besok orang suruhan Papa akan mengantar pianoku ke sini. Di mana aku harus meletakkannya?" tanya Sekar seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang studio. Di dalam ruangan itu sudah penuh dengan alat-alat musik milik Einar. Sementara miliknya hanya satu buah keyboard yang tidak begitu besar.


"Aku akan menyimpan ke gudang beberapa alat yang tidak sering aku gunakan."


Sekar tersenyum senang. Ia menyadarkan kepalanya di bahu Einar yang masih melanjutkan membersihkan gitarnya.


"Ein ...."


"Ya."


" Aku masih tidak percaya Mama merestui begitu saja pernikahan kita," gumam Sekar.


Einar memberikan usapan terakhir pada gitarnya, lalu meletakkannya ke stand gitar.


"Karena semuanya mengikuti apa yang otakmu visualisasikan, Sekar," jawab Einar seraya duduk di samping Sekar.


"Sedahsyat itu?"


Einar mengedikkan bahunya. "Hanya kau yang bisa menjawabnya," ujarnya seraya meraih dagu Sekar dan membawa wajah gadis itu mendekat padanya.


"Ini nyata, bukan, Ein?" tanya Sekar setelah ciuman Einar mendarat di bibirnya.


"Apa kau masih tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan?" tanya Einar.


Sekar meringis. "Mungkin. Kecuali ada seseorang yang mengatakannya padaku."


Einar menangkup wajah Sekar dan menatap sepasang mata dengan manik kecokelatan itu lekat-lekat. "Sangat nyata, Sekar ... aku sangat nyata dalam duniamu," bisiknya lembut.


***


Segini dulu, aku ngantuk banget sumpah. Maaf kalau ada yang typo, kubenerin besok. Aku mau masuk peti dulu.