
GRØNLAND, OSLO.
Sekar merapikan rambutnya yang sedikit berantakan lalu mengetuk pelan pintu nomer 28 di depannya. Ia menarik napas dalam-dalam. Dadanya tiba-tiba berdebar tidak karuan. Ketika pintu dibuka pelan dari dalam, sosok yang menjadi kesayangan dalam hatinya muncul dan tersenyum dengan sepasang mata hazelnya yang menyipit.
Einar hanya mengenakan celana jean biru dan kaos kaki. Sementara dadanya polos tanpa pakaian. Tattoo kepala Black Phillip yang memenuhi dadanya yang kokoh, naga di lengan kanan bagian bawah, dan tengkorak di lengan kiri bagian atas, lalu perutnya yang rata, membuatnya terlihat begitu,
"Sekar? Hello?"
Sekar terkesiap. "Hah?"
"Aku bilang, silahkan masuk."
Sekar meringis. Lalu melangkah masuk ke dalam apartemen. Ia duduk di sofa seraya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.
"Mana Agnes?" tanya Sekar.
"Pergi," sahut Einar sembari melangkah masuk ke dalam kamarnya. Beberapa saat kemudian ia keluar dengan pakaian rapi. Rambut panjangnya ia ikat sembarang, menyisakan anak rambut yang jatuh di dahinya.
"Mau pergi sekarang?" tanya Einar sembari menjatuhkan badannya pelan di samping Sekar.
Wangi parfumnya memanjakan hidung Sekar. Baunya enak sekali. Membuatnya ingin mendekat dan menghirup aromanya dalam-dalam.
"Melamun lagi?" tanya Einar seraya mencubit pipi Sekar gemas.
Sekar menggaruk kepalanya. Ia tertunduk malu. Berdekatan dengan Einar membuat otaknya berkelana membayangkan hal-hal aneh.
"Ayo, Sekar." Einar beranjak dari duduknya. Sekar mengikuti langkah Einar keluar dari apartemen.
Di luar, Sekar tidak menemukan motor Einar melainkan mobil Folke yang terparkir di pinggir jalan.
"Mana motormu?" tanya Sekar ketika ia telah berada di dalam mobil.
"Di Nittedal. Semalam aku membawa mobil Folke," jawab Einar sembari mengemudikan mobil pelan masuk ke jalan raya.
Sekar mengangguk-angguk. Ia memandangi Einar yang sedang fokus pada jalan. Ia tidak habis pikir, bahkan gerak geriknya mengemudi bisa seseksi itu.
"Sekar ...."
"Hah? Ya?"
"Ada apa denganmu semalam? Apa yang membuatmu sedih?" tanya Einar tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
"Tidak tahu."
"Feeling better now (sudah merasa lebih baik sekarang)?"
"Tentu saja. Aku sudah punya penawarnya."
"Oh ya? Apa itu?"
"Rahasia."
Einar terbahak. Dielusnya kepala Sekar dengan tangan kanannya, lalu mengacak rambutnya hingga berantakan.
"Ein!" seru Sekar seraya menepis tangan Einar. Dengan wajah cemberut ia merapikan rambutnya. "Suka sekali mengacak rambutku," gerutunya.
"Iya, hobi baruku," ujar Einar sembari membelokkan kemudi keluar dari jalan utama Oslo.
Sekar melempar pandangannya ke luar jendela. Menikmati pemandangan indah pepohonan tertutup salju yang tumbuh di sepanjang jalan.
"Siapa orang yang akan kita temui?" tanya Sekar tanpa mengalihkan pandangannya.
"Seorang Gothi."
"Apa itu?"
"Semacam pendeta dalam agama kuno scandinavia, Norse Paganism."
"Kenapa kau mau aku bertemu dengannya?"
"Karena aku merasa kau harus bertemu dengannya."
Bibir Sekar mencebik. "Okay," ujarnya. "Apa tempatnya masih jauh?"
"Tidak terlalu jauh dari markas Lord Abaddon."
Mereka baru saja melintas di dekat pondok milik Folke. Lalu beberapa kilometer dari sana, Einar mengemudikan mobil masuk ke jalan setapak. Di depan sana tampak sebuah bangunan kuno bergaya abad pertengahan dengan dinding-dinding yang terbuat dari batu.
"Bangunan apa ini?" tanya Sekar.
"Kuil," jawab Einar.
Setelah memarkir mobil di halaman yang tidak begitu luas itu, Einar mengajak Sekar masuk ke dalam bangunan melalui sebuah pintu kayu berstruktur devil's door atau bentuk lancip di atasnya.
Sekar memandangi satu persatu lukisan dewa-dewi Norsk yang terpajang di sekeliling ruangan. Matanya menangkap satu lukisan wanita bergaun hijau dengan mahkota bunga di kepalanya.
"Ein." Sekar menarik-narik lengan baju Einar dan menunjuk ke arah lukisan itu.
"Dewi Jörđ, dewi bumi, isteri pertama Odin." Einar menunjuk sebuah lukisan seorang pria tua berjanggut putih panjang dan bermahkota tanduk yang sedang menunggang kuda dan mengangkat tombak.
"Dan Ibu dari Thor," lanjutnya sembari menunjuk ke arah lukisan pria gagah berambut merah dengan pakaian viking yang memegang sebuah palu besar berselimut petir.
"Aku tahu," gumam Sekar. "Dia yang datang dalam mimpiku," ucapnya lirih.
Einar merengkuh pundak Sekar dan mengusap punggungnya dengan lembut. Ia memandangi wajah Sekar yang terlihat tegang. "Are you okay, Sekar?"
Sekar hanya mengangguk. Namun pandangannya tak lepas dari lukisan wanita bergaun hijau itu.
"Ah, Einar, kau sudah datang." Pria paruh baya dengan janggut putih panjang dan memakai jubah berwarna hitam masuk ke dalam ruangan.
Einar menyilangkan satu tangannya ke dada dan membungkuk memberi hormat pada pria itu.
"Siapa ini?" Pria itu mengalihkan pandangnya pada Sekar dengan alis mengkerut. Ia menatap gadis itu lekat-lekat.
"Far Espen, dette er Sekar (Bapa Espen, ini Sekar)," ucap Einar. "Sekar, ini Bapa Espen. Pendeta yang ingin aku perkenalkan padamu."
"Hello, hyggelig å møte deg, Far Espen (senang bertemu denganmu, Bapa Espen)." Sekar mengulurkan tangannya untuk menyalami Bapa Espen. Namun alih-alih menyambut tangannya, pria itu menangkup telapak tangan Sekar lalu mengusap keningnya.
"Gadis ini ...." Bapa Espen menoleh ke arah Einar. "Hun er bestemt til å være her (dia ditakdirkan untuk berada di tanah ini)."
Sekar memandang Einar dan Bapa Espen secara bergantian dengan wajah heran. Ia tidak terlalu mengerti apa yang sedang dua pria itu bicarakan. Ia terkesiap ketika Bapa Espen mendekatinya dan memegang kedua pundaknya.
"Sekar? Navnet ditt (namamu)?"
Sekar mengangguk.
"Katakan ... siapa di antara mereka yang datang ke dalam mimpimu?" tanya Bapa Espen sembari menunjuk semua lukisan dewa-dewi di seluruh ruangan.
Sekar pelan menunjuk ke arah lukisan wanita bergaun hijau. Bapa Espen tersenyum. Lalu melepaskan tangannya dari pundak Sekar.
"Einar, jeg må snakke med deg (aku harus bicara denganmu)."
Einar meminta Sekar untuk menunggu sebentar. Lalu melangkah mengikuti Bapa Espen masuk ke ruangan lain melalui pintu yang hanya ditutup oleh tirai kain.
"Kau bertemu gadis itu di mana, Ein?" tanya pria itu.
"Di sebuah toko musik. Secara kebetulan."
"Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah digariskan." Bapa Espen terdiam sejenak. "Ceritakan semua yang gadis itu ceritakan padamu, Ein," pintanya.
"Gereja akan mendukung pengangkatan kembali isyu Anders Behring Breivik ...." Einar menceritakan semua teori yang Sekar buat berdasarkan mimpi dan bisikan yang sering ia dengar.
Bapa Espen mengangguk-angguk seraya mengelus jenggot putihnya. "Semua yang gadis itu katakan benar, Ein."
Einar membulatkan matanya. "Benarkah, Bapa Espen?"
"Ya. Kita harus berhati-hati dengan orang-orang yang duduk dalam ex cathedra. Ini bukan cuma masalah politik di negara ini. Politik hanya alat. Ada agenda yang lebih besar dan lebih mengerikan dari itu."
"Gadis itu seorang Budbringer (pembawa pesan)." Pria itu melanjutkan.
"She's a Priestess (dia seorang pendeta wanita)," ucap Bapa Espen.
Einar melipat kedua lengannya di depan dada. Ia menyimak semua perkataan Bapa Espen dengan seksama.
"Tapi aura gelap dalam dirinya masih sangat kuat. Dia bisa saja menyeberang ke sisi gelap."
"Jaga gadis itu baik-baik, Einar. Dewi Jörđ telah memilihnya."
Bapa Espen menepuk pundak Einar beberapa kali. Ia hendak melangkah meninggalkan Einar, namun langkahnya tiba-tiba terhenti.
"Helvete ... Einar, vær forsiktig (hati-hati).
***
***
***
Mohon maaf kalau ada salah kata atau typo, soalnya aku ngantuk berat 🙃
Tapi pingin update.
Tapi ngantuk berat.