
"Hei, Sekar ...." Suara Enar terdengar melalui headset ponselnya. Sekar sedang malas mengetik dan memutuskan untuk membalas pesan Einar melalui telepon.
Atau mungkin sebenarnya ia hanya ingin mendengar suara pemuda itu.
"Kau sudah sembuh?"
"Feeling better (merasa lebih baik)," jawab Sekar. "Aku bosan," lanjutnya.
"Mau main ke Nittedal lagi besok?"
Sekar tersenyum senang. Namun ia berpura-pura mempertimbangkannya untuk beberapa saat.
"Okay, setelah jam sekolah selesai." Ia terdiam sejenak. Lalu sebuah ide terbersit di kepalanya. "Bisa temani aku membeli keyboard terlebih dahulu besok?"
"Sure (tentu)."
Sekar kembali menyunggingkan senyumnya. Ia merasa begitu bersemangat.
"Where do you want me to pick you up (kau mau aku menjemputmu di mana)?"
"Di sekolah, jam dua siang," jawab Sekar tanpa memikirkan alasan apa yang akan ia berikan pada Mama besok.
"Great! See you tomorrow, then (bagus! Kalau begitu sampai besok)."
Sekar menutup teleponnya. Ia mengguling badannya di atas ranjang, lalu berbaring menengadah, menatap langit-langit kamarnya sembari lanjut mendengarkan Berge. Telinganya kini mulai terbiasa mendengarkan nada-nada rusak yang terkesan sembarangan namun mampu membawanya ke dalam atmosfer yang berbeda.
Dunia di mana ia melihat Einar, dengan pakaian vikingnya, rambut panjang berlumpur dan cat mayat hitam putih di wajahnya, membawa pedang era medieval lengkap dengan tameng bundarnya, membabat habis monster-monster buruk rupa di dalam hutan yang berkabut.
Lalu, Sekar terbawa pada sebuah ruangan kecil di dalam pondok, dengan rak-rak penuh cawan berisi ramuan. Ia, dengan gaun hitam dan mahkota tanduk rusanya, berdiri di depan sebuah belanga besar di atas tungku dengan api menyala-nyala, mengaduk cairan berwarna hijau yang telah mendidih dengan sebilah kayu.
Satu tangannya memegang sebuah buku kuno dengan sampul warna hijau tua bersimbol pentagram ( simbol berbentuk bintang berujung lancip yang digambar dengan lima garis lurus). Ia membaca halaman demi halaman dengan mulut berkomat-kamit, sembari satu tangan lain menaburkan serbuk-serbuk berwarna merah ke dalam belanga.
Lagu berakhir. Sekar terhempas kembali ke dunia nyata. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya.
Apa ia barusan tertidur dan bermimpi? Atau ia baru saja berkendara melewati dimensi waktu?
Buku kuno dengan simbol pentagram di sampulnya. Rasanya ia pernah melihat buku semacam itu. Tapi kapan dan di mana?
Sekar mengelus dagunya. Mungkin saja ia pernah melihat sekilas di toko buku, atau secara tak sengaja menemukannya di internet sewaktu ia berselancar.
Ia melirik jam di layar ponselnya. Pukul 00.30. Sekar meraih bantal dan selimut, mencari posisi nyaman di atas ranjang, kemudian memejamkan matanya.
***
OIS, BEKKESTUA, OSLO.
"Ma, nanti aku pulang agak maleman, ya. Aku ada latihan drama musikal di sekolah. Aku kabarin Pak Karso kalau udah selesai."
Sekar menutup teleponnya begitu Mama di seberang sana mengiyakan.
Ia kembali berkutat dengan grand piano di hadapannya. Memainkan Turkish March dari Mozart, mengiringi tiga orang gadis di atas panggung di dalam gedung teater sekolah menarikan ballet.
Miss Anniken Behn, Guru musik dan teater kurus berwajah manis dengan rambut hitam pendeknya itu berdiri di depan panggung, mengawasi murid-muridnya yang tengah berlatih drama.
Ia memberi isyarat dengan mengangkat tangannya pada Sekar untuk mengakhiri turkish marchnya.
"Én (satu) ...."
"To (dua) ...."
"Tre (tiga) ...."
Tiga jari ia isyaratkan pada Sekar dan dua orang siswa wanita pemain biola dan celo yang berdiri tak jauh darinya, untuk memulai lagu baru, begitu di atas panggung telah berganti pemain.
Sekar mengangguk. Intro biola dan celo dari Claudio Monteverdi, Si Dolce É'l terminto terdengar manis. Sementara Sekar baru memulai memainkan pianonya pada detik ke 35, bersamaan dengan pemeran utama pria mulai bernyanyi.
Lagu berdurasi 3.31 itu rampung dengan apik.
"Bravo!" Miss Anniken memberi tepuk tangan pada para pemain drama di atas panggung dan juga pada Sekar serta dua pemain biola serta celo. Disambut tepuk tangan dari beberapa siswa yang berada di kursi penonton.
Miss Anniken mendekati Sekar yang masih duduk di depan grand piano, sibuk dengan ponselnya.
"Sekar, can I have a minute (minta waktunya sebentar)," ujarnya.
"Yes, Miss," sahut Sekar sembari menaruh ponsel ke dalam tas selempangnya. Ia mengikuti langkah Miss Anniken keluar dari gedung kesenian.
"Aku ingin mengikutsertakanmu dalam acara teater di International Theatre Academy Norway. Kebetulan aku termasuk dalam tim penyelenggara. Kulihat kemampuanmu bermain piano sangat mumpuni. Sayang kalau kau tidak menunjukkannya di depan audience yang lebih besar."
"Are you serious, Miss (kau serius, bu)?" tanya Sekar tak percaya. International Theatre Academy Norway. Universitas seni paling bergengsi di Oslo.
"Ja (iya) ... kau bersedia?"
"Dengan senang hati, Miss."
Miss Anniken tersenyum gembira. Ia menepuk-nepuk bahu Sekar pelan. "Aku akan mengabarimu untuk follow upnya. Sampai jumpa, Sekar."
Sekar mengangguk. Ia tersenyum riang sembari memandangi punggung wanita itu yang mulai menjauh.
Ponsel di dalam tasnya berdering. Ia segera meraih benda itu. Matanya berbinar ketika nama Einar tertera di layar.
"Kau ada di mana? Aku sudah ada di depan." Suara Einar dari seberang.
"Be there in a minute (aku kesitu sebentar lagi)." Ia menutup telponnya dan berlarian menelusuri koridor sepi menuju ke luar gedung sekolahnya.
Sampai di halaman, ia melihat Einar tengah berdiri di balik gerbang. Motor skuternya terparkir di sampingnya.
"Kau masih terlihat pucat," ucap Einar sembari mengamati wajah Sekar yang kini telah berada di hadapannya. Ia menyerahkan satu helm yang telah ia siapkan pada gadis itu.
Sekar hanya tersenyum tipis sembari mengenakan helm yang Einar berikan. Ia segera naik ke kursi belakang motor Einar. Memandangi punggung yang dibalut jaket hitam di hadapannya itu.
"Music store (toko musik)?" tanya Einar.
"Ya ...."
Einar mengemudikan pelan motornya meninggalkan area OIS yang lengang.
.
.
"Ein ...." panggil Sekar.
"Ja (iya)," jawab Einar yang masih fokus mengemudikan motornya, memasuki sebuah area pertokoan.
"Why (kenapa)?"
"Mau mengajakku jalan-jalan."
Einar menepikan motornya di depan sebuah toko musik. Bukan toko tempat mereka pertama kali bertemu. Ada plang nama bertuliskan Guitarhuset Oslo Sentrum di sana.
"Aku kasihan padamu, kau tidak punya teman," kekehnya sembari turun dari motor dan melepas helmnya. Lalu membantu Sekar yang sedikit kesulitan melepas helm di kepalanya.
Sekar memanyunkan bibirnya. Membuat Einar terbahak. "Aku bercanda," ucapnya sembari mengacak rambut Sekar. "Ada sedikit rasa balas budi. Tapi, aku juga senang mengajakmu jalan-jalan." Ia melangkah masuk ke dalam toko diikuti oleh Sekar.
"Pacarmu tidak cemburu kalau dia melihatmu bersama gadis lain?" pancing Sekar sembari memeriksa beberapa model keyboard.
"Aku tidak punya pacar," jawab Einar. Ia melongok keyboard yang tengah diamati oleh Sekar. "Itu bagus," celetuknya sembari menunjuk keyboard bermerk Casio CT-S100 dengan jumlah tuts 61 buah itu. "10.000 krona. Mahal sekali," gumamnya sembari memeriksa tag harga.
"Anna?" tanya Sekar.
Einar menoleh ke arah Sekar. Lalu terbahak.
"Anna gadis yang aku sukai. Tapi belum menjadi pacarku."
"Kanapa?" tanya Sekar yang kini mengalihkan perhatian padanya.
"Hmmm ... apa aku harus menceritakannya pada anak kecil ini, ya?" gumam Einar sembari menyunggingkan senyum jahilnya.
"I'm not a kid (aku bukan anak kecil)!" protes Sekar.
"Okay, okay." Einar mengangkat kedua tangannya menyerah. Wajah Sekar terlihat masam. "Dia baru saja putus dari pacarnya. Kurasa aku harus memberinya sedikit waktu."
"Apa yang istimewa dari Anna? Kenapa kau menyukainya?"
Kening Einar mengerenyit. "Kau mau membeli keyboard atau menginterogasiku, Sekar?"
"Kalau tidak mau menjawab tidak apa-apa." Sekar kembali mengamati keyboard di depannya. Melihat tag harga, setara dengan enam belas juta jika dirupiahkan. Ia berpikir untuk membelinya dengan tabungannya sendiri agar Mama tak bisa mengeceknya. Sepertinya uang yang ada di dalam rekening pribadinya cukup.
"Dia cantik, manis, baik ...." Einar berucap. "Kau mau membeli yang ini?" tanyanya.
Sekar mengangguk. Namun kata-kata pujian dari Einar untuk Anna membuat moodnya jatuh.
"Kau mau mencobanya terlebih dahulu?" tanya Einar.
"No," jawab Sekar pendek.
"Biar aku yang bawa," ujar Einar sembari meraih keyboard dari rak dan membawanya ke kasir.
Sekar menyelesaikan pembayaran sementara Einar membantu memasukkan keyboard lengkap dengan stand adjustablenya ke dalam softcase warna hitam. Einar menenteng softcase dan melangkah keluar dari toko. Sekar mengikutinya dari belakang.
"Tidak terlalu berat?" tanya Einar ketika Sekar hendak menggendong softcase di punggungnya.
Sekar menggeleng sembari meraih helm di atas kaca spion motor dan memakainya.
"Aku mau beli burger," ujar Sekar sembari menunjuk sebuah mini van penjual burger yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Biar aku yang beli," ujar Einar.
"Lima. Untuk semua orang!" seru Sekar pada Einar yang kini telah mengantri di belakang dua orang pembeli. Einar mengacungkan jempolnya.
Sekar memandangi Einar dengan seksama. Rambut panjangnya berkibar terhembus angin.
Gadis itu menggeleng sembari menyunggingkan senyumnya ketika sosok Einar, dalam benaknya, berubah menjadi seperti yang ada dalam mimpinya semalam, menempelkan ujung pedangnya ke leher penjual burger, mengancam pria itu untuk cepat melayani pesanannya.
"Hei ...." Einar mencubit pipi Sekar yang tengah tersenyum-senyum sendiri. Lamunan gadis itu buyar.
"Ayo naik," ujar Einar. Ia memasukkan burger ke dalam tas punggung yang ia cangklong di dadanya.
Sekar hendak menaiki motor Einar namun urung dilakukannya ketika melihat dua orang pemuda berlarian ke arah mereka.
"Einar, hei, kau Einar Haugen ... Lord Abaddon!" seru salah seorang pemuda berambut cepak girang.
Einar mengelus tengkuknya seraya terkekeh. Ia menerima uluran tangan kedua pemuda itu untuk bersalaman.
"Kan vi ta bilde (boleh minta foto)?"
"Sikker (tentu)."
Salah seorang pemuda mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Meminta tolong pada Sekar untuk mengambil gambarnya dan satu temannya dengan Einar.
Sekar meraih ponsel dari tangan pemuda itu, lalu mengarahkannya pada ketiganya yang telah berpose dan siap untuk difoto. Dadanya berdesir melihat Einar tersenyum dengan matanya yang menyipit.
"Takk (terimakasih)."
Sekar mengangguk.
"Pacarmu?" tanya salah seorang pemuda pada Einar membuat Sekar gugup.
Einar terbahak sembari mengacak rambut Sekar. Ia tak menjawab pertanyaan pemuda itu.
"Terimakasih, Einar ... kami menunggu Lord Abaddon di Helvete," ujar salah seorang pemuda sembari mengangkat tangannya dan membentuk tanduk setan dengan jemarinya.
"Sampai jumpa," sahut Einar pada kedua pemuda itu.
Setelah keduanya berlalu, Einar menyuruh Sekar untuk naik ke atas motor.
"Kau terkenal?" tanya Sekar dari balik punggung Einar. Ia teringat video-video Lord Abaddon di youtube dengan views yang mencapai ratusan ribu.
"Hanya di kalangan genre metal," sahut Einar sembari melajukan motornya. "Tapi aku tidak mencari popularitas."
"Kau punya misi," gumam Sekar pelan. Teringat kata-kata Einar tentang misinya melestarikan agama leluhurnya.
Namun sepertinya Einar tak mendengarnya.
Tangannya mulai terasa dingin. Pelan Sekar memberanikan diri untuk memasukkan tangannya ke dalam saku jaket Einar. Pemuda itu sedikit kaget, namun membiarkannya saja. Ketika pipinya mulai terasa kaku, ia membuka kaca helmnya, dan menempelkannya ke punggung Einar. Hangat tubuh pemuda itu mulai tersalur padanya.
Entah dari mana ia mendapatkan keberanian itu, ia tak peduli. Ia semakin merapatkan tubuhnya ke punggung Einar. Memejamkan matanya, membayangkan seakan-akan Einar tengah membawanya ke negeri antah berantah dengan kudanya.
***
***
***