LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 14. Aku Tidak Rela!



Ex Cathedra.


Sekar mulai membaca baris demi baris artikel di layar laptopnya. Terkadang matanya menyipit dan keningnya mengerenyit.


Dalam teologi Katolik, kata Bahasa Latin ex cathedra, secara harafiah berarti "dari kursi", merujuk pada sebuah ajaran Paus yang dianggap dilahirkan dengan niat untuk menggunakan kekuasaan infalibilitas.


"Kursi" yang dimaksud bukanlah sebuah kursi secara fisik, tetapi sebuah rujukan metafora pada kedudukan Sri Paus, atau pemerintahannya, sebagai guru resmi dari doktrin Katolik: kursi merupakan simbol seorang guru di dunia kuno, dan para uskup hingga hari ini memiliki sebuah cathedra, sebuah kedudukan atau takhta, sebagai sebuah simbol kekuasaan pengajaran dan pemerintahan mereka.


"Kalau artinya kaya gini, ngapain harus hati-hati?" Ia bergumam.


"Apa ada hubungannya sama pembakaran gereja yang dilakuin Lord Abaddon, ya?" Sekar mengelus dagunya.


Ia kemudian membuka channel youtube Lord Abaddon. Mencari list lagu yang ada di sana. Matanya membulat ketika melihat satu judul dengan dua kata yang kini tengah memenuhi kepalanya itu.


Ex Cathedra.


You point a shattered mirror at the world


And mock those who dare to look


But you most of all are afraid


Of what you might see in the glass


Your fire once shined bright in the distance


The light in your eyes


Could have drawn poison from a wound


Your banner once fluttered in the mountain breeze


Red, gold, and silver but little color remains


Ia membaca lirik lagu yang terdapat pada caption di bawah video. Lagu yang cukup panjang. Berdurasi 10 menit. Dengan riff gitar yang tak terputus-putus.


"Ini sih sindiran," ucapnya.


Video yang hanya menampilkan cover album Lord Abaddon itu diunggah pada bulan juni tahun 2017.


"Persis sebelum pembakaran gereja di Nittedal berarti ini ...."


Sekar mengangguk-angguk. Otaknya mulai menyusun skenario, mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi dalam peristiwa itu.


Kami adalah para pemuda Scandinavia yang ingin melestarikan budaya dan agama leluhur kami. Mereka menganggap ritual yang kami lakukan adalah ritual satanic.


Kata-kata Einar waktu itu di padang rumput kembali terngiang di benaknya.


Seperti itu rupanya.


Sekar menghela napasnya dalam-dalam. Menutup layar laptopnya dan merebahkan badannya ke atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamar. Segalanya tentang Einar sungguh menarik untuk ditelusuri. Einar benar-benar menarik perhatiannya. Tak disangkanya, bertemu dengan sosok tampan di sebuah toko musik itu membawa perasaannya hanyut sedemikian rupa.


Ia belum pernah menyukai seorang pria. Belum ada yang mampu menarik perhatiannya. Einar yang pertama.


Love at the first sight (cinta pada pandangan pertama).


Benarkah?


Ketika sepasang mata hazel itu bertemu pandang dengan matanya untuk pertama kali. Saat itu, dunia seakan berhenti sesaat.


Perasaannya kembali tak menentu. Memikirkan Einar yang saat ini mungkin sedang bersama Anna.


Hatinya terasa nyeri. Ia tidak rela. Benar-benar tidak rela.


Alasan Einar menyukai Anna, klise sekali. Cantik, manis, baik? Hanya itu.


Sekar mendesis. Seorang Einar menyukai gadis yang biasa-biasa saja. Apa ia hanya ingin terlihat seperti manusia normal? Atau hanya ingin merasakan suasana baru, yang bertolak belakang dengan dirinya yang sebenarnya.


.


.


Sekar duduk melamun di kursi belakang mobil yang sedang dikendarai oleh Pak Karso. Pandangannya menerawang memperhatikan gedung-gedung pertokoan di area Møllergata yang tengah dilewatinya.


Melintas di depan Hell's Kitchen, restauran pizza tempat Einar bekerja, matanya menangkap sesosok gadis berambut merah yang tengah masuk ke dalam sebuah toko bunga.


"Pak, berhenti, berhenti!" seru Sekar tiba-tiba.


"Beli bunga." Sekar menjawab sekenanya sembari membuka pintu mobil dan meloncat keluar.


Ia mendorong pintu kaca dan melangkah masuk ke dalam toko bunga. Gadis berambut merah yang tadi dilihatnya itu menghampirinya dan tersenyum ramah.


"Can I help you (bisa kubantu)?" Gadis itu, Anna, menyapanya.


Rupanya Anna bekerja di sini. Ia hanya ingin melihat dari dekat seperti apa gadis yang disukai oleh Einar ini.


Anna memang cantik. Wajahnya lembut dengan mata hijaunya yang indah. Rambutnya merah alami.


"Satu buket bunga." Sekar buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah pot-pot bunga yang berjejer rapi di atas rak-rak yang memenuhi toko.


"Kau mau memilih sendiri atau kau ingin aku membantumu?" tawar Anna.


"Aku pilih sendiri," ujar Sekar.


Anna mempersilahkan Sekar untuk melihat-lihat bunga yang ingin dipilihnya. Gadis itu lalu pergi meninggalkannya dan berdiri di belakang meja kasir, berkutat dengan kertas-kertas yang menumpuk.


Sekar hanya memandangi bunga-bunga dengan berbagai jenis itu dan belum berniat untuk memilih beberapa di antaranya. Ia berjalan pelan mengelilingi ruangan yang penuh dengan bunga-bunga indah itu. Menyentuh kelopaknya satu persatu, dan sesekali menciumi aromanya.


"Jeg jobber, Ein (aku sedang bekerja, Ein)!"


Sekar mendengar suara Anna dari balik rak. Sepertinya ia sedang bersama seseorang. Penasaran ia melongok dari samping rak dan melihat pemandangan yang membuat dadanya berdegup kencang.


Einar hendak mencium Anna tepat di depan matanya.


Prangg.


Suara benda jatuh dan hancur menabrak lantai membuat Einar dan Anna seketika menoleh ke arahnya. Yang diam terpaku menatap keduanya.


"Hei, Sekar." Einar berjalan mendekatinya. "Suka sekali menjatuhkan barang di toko, ya?" godanya sembari membantu Sekar memunguti pot keramik yang telah terbagi menjadi beberapa bagian itu. "Mau beli bunga?" tanyanya.


Sekar tak menyahut. "Maafkan aku, aku akan menggantinya," ucap Sekar pada Anna yang telah berdiri di belakang Einar.


"Tidak apa-apa," ujar Anna.


"Aku akan membayarnya." Sekar berjalan menuju meja kasir diikuti oleh Anna.


Dada Sekar bergemuruh. Ia benar-benar tidak suka situasi ini. Ia ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Dalam pikiran kalutnya, mungkin Einar dan Anna sudah resmi berpacaran sekarang. Ia benci membayangkan semua itu. Ia benci.


Sekar menyerahkan kartu debetnya pada Anna, tanpa peduli berapa harga pot yang telah dipecahkannya.


Ia melangkah cepat keluar dari toko tanpa memedulikan Einar yang memanggil-manggil namanya.


"Lah, Non, kenapa ini?" tanya Pak Karso ketika Sekar masuk ke dalam mobil dan membenamkan wajahnya ke atas bantal yang ada di jok. "Nggak jadi beli bunganya?"


"Diem, Pak Karso!" seru Sekar sembari terisak.


"Lah, malah nangis, piye to iki?" Pak Karso yang kebingungan memandangi punggung Sekar yang terguncang. Lalu pandangannya beralih pada seorang pemuda tampan berambut panjang yang tengah berlarian ke arah mobil dan membuka pintu.


"Sekar, kartumu ketinggalan," ujar Einar sembari menyodorkan kartu di tangannya pada Sekar. "Hello, Sir," sapanya pada Pak Karso. "Sekar, hei, Sekar ... kenapa menangis?" tanyanya kemudian begitu melihat Sekar yang tengah terisak.


"I don't wanna see you (aku tidak mau melihatmu)!" hardik Sekar sembari mendorong tubuh Einar keluar dari dalam mobil.


"Hei, what's wrong (ada apa), Sekar?" tanya Einar dengan wajah kebingungan.


"I hate you (aku benci kau)!" seru Sekar sembari menarik pintu mobil dengan kencang namun ditahan oleh Einar.


"Hei, apa salahku? Sekar ... sekar!"


Sekar tak memedulikan seruan Einar. Begitu ia berhasil menutup pintu, ia menyuruh Pak Karso yang tengah kebingungan, untuk menjalankan mobil.


"Ini ada apa, Non?" tanya Pak Karso.


"Nggak usah banyak tanya!" sahut Sekar sembari membenamkan kembali wajahnya ke atas bantal.


Ia kacau. Benar-benar kacau.


***


***


***