
FROGNER, OSLO.
"Jangan pulang dulu!" rengek Sekar.
Einar yang hendak mengemudikan motornya setelah menurunkan Sekar di depan rumahnya, mematikan mesin motornya.
"Aku harus ke Nittedal, Sekar ... ada rehearsal."
Sekar memasang wajah cemberutnya seraya membuang muka. Ia melipat kedua tangan di depan dada.
"Hmm ... okay," ujar Einar menyerah. Ia melepas helmnya dan turun dari motornya. Dengan wajah sumringah Sekar membuka pintu gerbang dan mengajak Einar masuk.
"Tunggu sebentar," ujar Sekar riang seraya melangkah masuk ke dalam rumah.
Einar hanya menggeleng sembari menyunggingkan senyumnya. Sekar si gadis manja, tapi cerdas. Menggemaskan, tapi tukang merajuk. Pendiam, tapi galak. Sikapnya terkadang aneh, tapi membuatnya rindu. Dalam hati Einar menertawakan diri sendiri. Ia pernah memperingatkan Folke untuk tidak mendekati Sekar. Dengan alasan gadis itu masih SMA. Kenapa sekarang malah dirinya sendiri yang mengarah ke sana?
Sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap bergerak pelan memasuki halaman. Mobil itu berhenti di depan garasi. Pak Karso keluar terlebih dahulu dari pintu depan dan membukakan pintu belakang untuk majikannya.
Einar segera berdiri ketika Papa memasuki teras dan berhenti di hadapannya. Ia mengulurkan tangannya menyalami pria paruh baya yang masih terlihat gagah itu.
"Hello, Sir."
"Owh, Einar ... hvordan har du det (apa kabar)?" sapa Papa seraya menyambut uluran tangan Einar.
"Jeg har det bra, Sir (kabarku baik, pak)."
Papa mengangguk. "Sedang menunggu Sekar atau ...."
"Aku mengantar Sekar pulang, Pak."
Papa memberi isyarat pada Einar untuk duduk. Lalu ia melambai pada Pak Karso yang tengah mengambil barang-barang bawaannya dari dalam mobil. Pria itu berjalan tergesa-gesa menghampiri Papa.
"Iya, Pak?" tanya Pak Karso.
"Jemput Nyonya, ya."
"Di tempat arisan Nyonya yang biasa itu, Pak?"
"Ya."
Sepeninggal Pak Karso, Papa mengalihkan pandangannya kembali pada Einar, lalu ia duduk di kursi yang berada di hadapan pemuda itu, yang terpisah oleh sebuah meja bundar.
"Kau bekerja di mana, Einar?" tanya Papa.
"Di sebuah restauran pizza. Sebagai kurir, Pak."
Papa mengangguk-angguk. "Aku dengar dari Sekar kau juga mengajar gitar?"
Einar tersenyum lebar. "Hanya mengajar Sekar, Pak."
"Dari mana kau mengenal Sekar?"
"Emm ... kami bertemu di sebuah toko musik. Aku sedang mencoba sebuah gitar yang ingin kubeli tapi uangku belum cukup. Sekar ... entah datang dari mana, dia ... membayar gitar itu untukku."
Papa menautkan alisnya. "Benarkah?"
"Yes, Sir ... dia bilang dia suka permainan gitarku. Hanya itu alasannya," terang Einar. "Your daughter is an angel (puterimu seorang malaikat)," pujinya kemudian.
Papa terkekeh. "Kau benar, Einar. Sekar itu malaikat. Dia spesial."
"Papa ngomongin aku?" Sekar muncul dari balik pintu dengan satu cangkir teh panas yang akan ia berikan pada Einar.
Papa terbahak. "Kok Papa nggak dibikinin teh, Se?" guraunya.
Sekar meringis. Lalu menaruh cangkir di atas meja kecil yang berada di samping tempat duduk Einar.
"Thanks, Sekar," ucap Einar sembari melempar senyum pada gadis itu.
"Papa nggak pingin istirahat, gitu?" tanya Sekar sembari duduk di samping Einar.
Papa memandang Sekar dengan tatapan curiga. "Papa lagi bicara sama Einar."
Bibir Sekar cemberut. Sementara Einar yang tidak mengerti pembicaraan ayah dan puterinya itu hanya terbengong.
Dan Papa pun akhirnya beranjak dari duduknya. Namun sebelumnya ia menghampiri Einar dan menepuk pundak pemuda itu. "Hun er min eneste datter, og hun er fortsatt et barn. Hvis du skjønner hva jeg mener. Vi har allerede snakket om det (dia putriku satu-satunya, dan dia masih anak-anak. Kau tahu apa yang kumaksudkan, kita sudah pernah membicarakannya)," ucap Papa dalam bahasa Norsk yang tidak terlalu dimengerti oleh Sekar.
Einar mengangguk. "Ja, Sir."
Papa menepuk sekali lagi pundak Einar, lalu melangkah masuk ke dalam rumah. Sementara Sekar menatap Einar yang tersenyum getir sembari menunduk.
"Ein!" panggil Sekar.
"Ja?" Einar mengangkat kepalanya dan memandang ke arah Sekar.
"Ayahku bilang apa padamu?"
Einar tertawa hambar. "Bukan apa-apa. Dia hanya memintaku menjagamu baik-baik. Jangan sampai kulitmu lecet," kekehnya.
"Bu llshit (omong kosong)," umpat Sekar membuat Einar terbahak.
"Your dad is a nice man (ayahmu pria yang baik)," ujar Einar. "Dia sangat menyayangimu. Dia tidak ingin puteri cantiknya ini ... emm ...." Einar menggantung kata-katanya. Punya hubungan khusus denganku.
Einar mengibaskan tangannya. "Nah, forget it (lupakan saja)."
"Dia melarangmu berteman denganku?" cecar Sekar.
"Bukan. Dia tidak mempermasalahkannya."
"Tapi?"
"Astaga, Sekar. Tidak ada tapi."
Sekar mendengus kesal. Ia tidak puas sama sekali dengan jawaban Einar. Sepertinya ia harus menanyakan langsung pada Papa.
"Ein ... kau ingat dulu kau pernah bilang akan mengajakku untuk bertemu dengan seseorang?" tanya Sekar. Ingatan itu tiba-tiba saja muncul dalam benaknya.
"Ya, aku sudah menjemputmu di sekolah dan kau berubah pikiran," sahut Einar.
Itu karena aku sedang cemburu dengan Anna.
"Bagaimana kalau besok?" tawar Sekar.
"Okay, deal!" Einar meneguk tehnya. Lalu meneguknya lagi hingga habis. "Helvete, sabtu ini, kau jadi menonton?" tanya Einar.
"I will (pasti)."
"Kau mau pergi dengan siapa?"
"Emm ...." Sekar mengelus dagunya. Ia tidak punya teman untuk diajak pergi menonton konser. "Akan kupikirkan nanti." Bayangan Liana dan Cassandra terlintas begitu saja.
"Okay ... Helvete adalah sebuah camp music festival. Kau bisa menemuiku di tenda Lord Abaddon. Tanyakan saja pada panitia di mana letak tenda kami."
Sekar mengangguk senang. Ia tidak sabar menyaksikan pemuda bermata hazel di hadapannya ini berada di atas panggung dengan gitarnya. Tentunya dengan penampilan yang berbeda. Bukan Einar dengan wajah tampan dan senyum manisnya ini. Tetapi Einar yang lain.
"Sekar, aku benar-benar harus pergi latihan sekarang. Atau Folke dan yang lainnya akan membunuhku," ujar Einar seraya memeriksa jam di layar ponselnya.
"Nanti dulu," rengek Sekar. "Aku bosan."
"Kita akan bertemu lagi besok, bukan?" bujuk Einar.
"Sebentar lagi, please."
Einar menghela napasnya. Namun sejurus kemudian senyumnya mengembang. "Kau ini benar-benar tidak punya teman, ya?"
Sekar menggeleng. "Temanku cuma kau, Ein."
"Aww ... kasihan sekali," ujar Einar seraya memasang wajah memelasnya. Ia mengelus rambut Sekar dan merapikannya. Ada apa dengan gadis mungil ini, kenapa ia tidak tega meninggalkannya?
"You want me to cancel my rehearsal (kau ingin aku membatalkan latihanku)?" tanya Einar.
"Emmm ...." Sekar menatap Einar lekat. Dari mata, lalu turun ke bibir. Bagaimana rasanya menyentuh bibir itu dengan bibirnya. Sensasi seperti apa yang akan ia rasakan. Sekar menelan ludahnya. "Okay, you can go (kau boleh pergi)," ujarnya lirih.
Einar menyentuh pipi Sekar sekilas. Lalu beranjak dari duduknya. "Jangan sedih, kita bertemu lagi besok, okay?"
Sekar melangkah malas mengikuti Einar melintasi halaman rumahnya yang luas menuju motor Einar yang terparkir di luar pintu gerbang.
"Masih punya persediaan buku yang belum kau baca?" tanya Einar sembari meraih helm di atas motornya.
"Ya. Kenapa?"
"Kalau kau sedang kesepian, baca buku saja," kekeh Einar.
Bibir Sekar mengerucut. "Aku membaca buku setiap hari," gerutunya. Yang kuinginkan adalah tidur di pelukanmu semalaman. Itu obat kesepianku.
Einar terbahak. Lalu mengacak rambut Sekar. "So adorable (menggemaskan sekali)," gumamnya.
"Siapa yang menggemaskan?"
"Kau, Sekar. Kau menggemaskan."
Sekar mendorong dada Einar pelan sembari tersenyum malu. "Pergi sana!"
"Baiklah." Einar mengangkat kedua tangan lalu menaiki motornya. "Akan kupikirkan teorimu itu. Ini hal yang sangat serius," ujarnya seraya mengenakan helm. Ia menghidupkan mesin motornya.
"Ein ...."
"Yes, Sekar?"
"Emmm ...." Sekar mengurungkan niatnya untuk memeluk Einar ketika dilihatnya mobil yang dikendarai Pak Karso mendekat lalu berbelok masuk ke halaman dan melewati mereka. Kaca mobil bagian belakang diturunkan.
"Sekar, masuk!" seru Mama dari dalam mobil. Wanita itu menatap Einar dingin. Ia bahkan tidak menyambut sapaan pemuda itu.
"Sekar!" panggil Mama kembali ketika Sekar masih saja berdiri di tempatnya.
"Sampai besok, Ein." Sekar melambai pada Einar dan melangkah mengikuti mobil yang bergerak pelan masuk ke halaman. Sembari menutup gerbang, matanya terus memandangi kepergian Einar hingga menghilang dari pandangannya.
***
***
***