
"Aku akan menemui orang tuamu," ujar Einar pada Sekar yang masih berada dalam dekapannya.
"Kapan?" tanya Sekar sembari menarik dirinya memberi jarak dengan Einar.
"Nanti malam. Aku akan mengantarmu pulang sekaligus bertemu dengan mereka."
"Secepat itu?"
"Kenapa harus ditunda? Aku tidak mau sembunyi-sembunyi. Sama saja aku seperti seorang pengecut."
"Tapi ...." Sekar menghela napasnya dengan berat. "Mereka pasti akan menolak," ucapnya getir.
Einar bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk bersila di depan Sekar. "Kita tidak akan tahu kalau belum mencobanya," ucapnya sembari menangkup kedua pipi Sekar.
"Kau tidak akan menyerah, meskipun mereka menentang?"
"Berjuang saja belum kenapa menyerah?" gelaknya.
Sekar beringsut naik ke pangkuan Einar lalu melingkarkan lengannya di leher pemuda itu. "Kau cinta pertama dan terakhirku. Aku mau menikah denganmu."
"Oh ya? Sudah yakin?"
Sekar mengangguk mantap.
"Menggemaskan," ucap Einar seraya menggesekkan hidung mancungnya ke hidung mungil Sekar.
"Ein ...."
"Hmm?"
"Minta cium."
Einar terbahak. Lalu mengecup pipi Sekar sekilas.
"Bukan di situ," rajuknya.
"Di mana, Sekar?"
"Di sini." Sekar menempelkan jari telunjuk ke bibirnya.
"Kalau di ruang tertutup seperti ini aku takut tidak bisa berhenti."
Sekar memanyunkan bibirnya. "Ein ...."
Einar menghela napasnya. "Okay, okay," ucapnya pasrah. Dipagutnya bibir Sekar dengan lembut. Kali ini Sekar menyambutnya tanpa harus diberi intruksi terlebih dahulu. Sepertinya pelajaran yang ia berikan beberapa hari lalu mampu gadis itu serap dengan baik.
"Astaga, Sekar ... kau benar-benar menyiksaku," ucap Einar seraya menyudahi ciumannya dan menempelkan keningnya di pundak Sekar.
Sekar terkikik. Lalu meraih kepala Einar dan melanjutkan ciumannya.
"Sudah, ya, Sekar," ujar Einar seraya mengangkat tubuh mungil Sekar dan mendudukkan gadis itu di sampingnya. "Main musik saja, ya," tawarnya. "Aku baru ingat Agnes punya keyboard kecil di gudang, tunggu aku ambilkan dulu."
"Agnes main musik?" tanya Sekar.
"Dulu. Sudah lama sekali. Semoga masih berfungsi," jawab Einar sembari melangkah keluar dari kamarnya.
Tak lama kemudian ia masuk kembali dengan membawa sebuah keyboard usang 36 keys bermerk rolland.
"Biar aku coba dulu," ujar Einar seraya menghidupkan amplinya lalu memasukkan kabel jack keyboard ke dalamnya.
Einar menekan beberapa tuts keyboard dan tersenyum senang ketika benda itu terdengar masih berfungsi dengan baik. Ia lalu menyerahkan keyboard pada Sekar dan mengambil gitar akustik miliknya yang ada di stand gitar.
"Ein ... dengar ini."
Sekar mulai memainkan keyboard dari kunci E, G, dan F#minor. Lalu merangkainya menjadi sebuah intro lagu yang cukup depressive.
"I called it Forsaken (aku memberinya judul, Forsaken)." Sekar melanjutkan lagunya mengembangkan intro yang tadi dibuatnya. "Lagu ini untuk Dewi Jörđ," lanjutnya.
"Veldig fint (bagus sekali), Sekar," puji Einar.
"Minta bantuanmu untuk mengisi riff gitarnya, Ein."
Einar mengganti gitar akustiknya dengan gitar elektrik. "Sudah kau tulis liriknya?" tanyanya seraya memasang kabel jack gitarnya.
Sekar mengangguk. "Ada di sini," kekeh Sekar seraya mengetuk-ngetuk kepalanya dengan jari telunjuk.
"Coba kau ulang intronya," pinta Einar.
Sekar mengulang intro lagu sementara Einar hanya sesekali menimpali dengan distorsi gitarnya.
"Coba kau nyanyikan lagunya," pinta Einar kembali.
Sekar berdehem sekali untuk melicinkan tenggorokannya, lalu mulai melantunkan lirik yang tersimpan di kepalanya.
I can not see but darkness and death
I feel this cold breeze enter the tune
Thy voice once so soft, declaring Thy love
Why hast Thou forsaken me
I enter the castle we shared once again
Here in these halls our love was to behold
Why hast Thou forsaken me
I feel this thing woe
Creep into my heart
For there to remain forever as I fear
In the deepest of nights
When my name is called out
I know I will come, I can no longer resist
Why hast thou forsaken me
"Vokal soprano yang bagus," puji Einar membuat Sekar tersipu. "Ini lagu yang ... bagaimana ya aku menjelaskannya ... emm ... depresif tapi indah. Aku bisa mendengar suara Dewi Jörđ yang sedang meminta bantuan."
"Aku hanya menulis yang aku rasakan. Kau juga pasti seperti itu, kan, Ein?"
"Exactly (tepat sekali)." Einar mengelus dagunya seraya menatap Sekar. "Sekar, bagaimana kalau kita buat proyek duo?"
"Kau serius, Ein?" Mata Sekar membola.
"Yeah."
Sekar mengulurkan tangannya meminta Einar untuk menjabatnya.
"Deal!"
***
FROGNER, OSLO.
Semua yang ada di ruang tamu memandang Einar dan Sekar yang baru saja muncul dari balik pintu. Sementara Sekar tak kalah terkejutnya ketika melihat Adam dan kedua orang tuanya ada di sana bersama Papa dan Mama. Sewaktu datang tadi, ia memang melihat ada mobil tamu di depan gerbang, namun ia tidak tahu kalau Adam dan keluarganya yang datang.
"Sekar? Mama nggak bisa percaya ini." Mama langsung berdiri dan menatap tajam pada Sekar dan juga Einar.
Dan Papa juga terlihat tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sementara Adam dan kedua orang tuanya terlihat kebingungan.
Sekar meraih telapak tangan Einar dan menggenggamnya dengan erat. Hal itu membuat Mama gusar dan hendak menarik tangan Sekar namun Papa menahannya.
"Kita bicara di luar," ujar Papa sembari menatap Einar. Lalu melangkah keluar diikuti oleh Einar dan juga Sekar.
"Kan du forklare dette (bisa kau jelaskan ini), Einar?" tanya Papa. Ia berusaha bersikap setenang mungkin. Walaupun hatinya diliputi dengan amarah. "Aku kira kita telah sepakat," lanjutnya.
"Papa ...."
"Kamu diem dulu, Se. Papa lagi ngomong sama Einar!" seru Papa membuat Sekar terkesiap. Baru kali ini ayahnya ini berbicara padanya dengan nada tinggi.
"Jeg beklager, Sir (maafkan aku, pak), aku tidak bisa memegang janjiku. Aku jatuh cinta dengan puterimu. Aku ke sini untuk meminta izin padamu untuk menjalin hubungan dengan Sekar," kata Einar dengan lugas dan tenang.
"Kau sadar dengan semua perkataanmu, Einar?" tanya Papa. Wajahnya kini berubah angker.
"Yes, Sir."
"Tidak. Aku tidak akan mengizinkan. Dan kau tahu dengan jelas apa alasannya."
"I know, Sir (aku tahu, Pak), tapi aku tidak mungkin membahayakan Sekar. Aku mencintainya dan akan aku lindungi dia dengan nyawaku."
Papa mendecih. "Kau tidak tahu betapa berbahayanya lingkunganmu, Einar. Dan kau bersikap egois karena melibatkan Sekar."
"Sir ...."
"I said no, it means no. Do I make my self clear (aku bilang tidak, artinya tidak. Apa sudah jelas)?"
"Aku nggak nyangka Papa setega ini, ya. Aku kira Papa lebih open minded!" seru Sekar.
Papa hanya memandang Sekar sekilas. Lalu kembali menatap Einar dengan tajam.
"Tidak ada yang perlu didiskusikan lagi. Kau boleh pergi."
Sekar meraih lengan Einar dan memeluknya erat. "Jangan pergi, Ein," rengeknya.
"Sekar, sini kamu!" seru Papa dengan intonasi memberi peringatan.
"Nggak mau!"
Papa menghela napas berat. "Se, kamu mau Papa panggil polisi buat usir Einar?"
Mendengar ancaman Papa, perlahan Sekar melepaskan lengan Einar dan beringsut menjauh. Ia menatap pemuda itu dengan tatapan sendu.
Papa menggerakkan tangannya memberi isyarat pada Einar untuk segera meninggalkan rumahnya.
"Jeg gir ikke opp (aku tidak akan menyerah), Sir," ujar Einar menantang tatapan tajam Papa. Lalu menoleh pada Sekar dan tersenyum pada gadis itu seraya menyentuh dadanya sendiri.
Papa menyilangkan kedua lengan di depan dada sembari memandang Einar melangkah keluar dari halaman rumahnya.
***
***
***