
Sekar memandangi dirinya yang terduduk di ranjang sebuah kamar bercat putih yang kosong. Hanya ada dirinya dan ranjang yang sedang didudukinya. Baju putih terusan yang melekat di badannya membuat kedua alisnya mengerut.
Terdengar suara beberapa orang yang sedang berbicara namun ia tidak menemukan asal suara itu. Mungkin hanya ada di kepalanya. Suara seorang wanita yang sedang menangis dan seorang pria yang menenangkannya. Sementara satu pria lagi, berbicara panjang lebar menjelaskan sesuatu yang tidak ia mengerti.
"Aku ada di mana?" Ia bergumam seraya mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Ruang yang begitu tertutup. Tak ada satu jendela pun di sana. Hanya ada satu pintu besi yang terlihat begitu kokoh.
Entah datang dari mana, angin menyambar wajahnya menerbangkan rambut panjangnya sekilas. Membuatnya terkesiap dan ....
Sekar membuka matanya pelan. Ia ada di kamarnya di Frogner. Jendela kamarnya sedikit terbuka dan angin masuk membuat tirainya melambai-lambai. Sekar mengerutkan dahinya.
"Tadi bukannya ketutup, ya?" gumamnya. Ia menyibakkan selimut dan beranjak turun dari ranjang dan melangkah ke arah jendela kamarnya. Kepalanya melongok keluar. Ia bisa melihat halaman rumahnya tampak lengang.
Sekar hendak menutup jendelanya kembali ketika matanya menangkap seseorang berjubah hitam berdiri di balik pintu gerbang, menatap ke arahnya dan tersenyum miring.
Pria tua itu lagi. Pria yang ia temui di Nittedal dan juga di perpustakaan gereja. Ia segera berlari keluar kamarnya lalu dengan cepat menuruni tangga dan langsung menuju keluar rumah.
"Sia lan!" makinya ketika tidak mendapati pria tua itu lagi di balik gerbang.
Sekar menghembuskan napasnya kasar. Dengan kecewa ia masuk kembali ke dalam rumah dan menghempaskan badannya ke atas sofa di ruang tengah.
Mau main teka-teki rupanya. Senyum miring Sekar tersungging dari bibirnya. Pria tua sia lan!
***
Hari ini Einar memberinya sebuah kabar gembira. Demo lagu mereka diterima oleh Nuclear Blast. Lagu Death Come Near Me akan menjadi single pertama mereka yang akan diluncurkan pada khalayak sebelum tanda tangan untuk kontrak album pertama mereka.
"We're going to Germany (kita akan pergi ke Jerman)," kata Einar siang itu di sebuah restauran cepat saji di area Grønland, setelah menjemput Sekar dari sekolah.
"You're kidding (kau bercanda)," sahut Sekar tak percaya.
"Nei (tidak)."
"Kapan?"
"Dua minggu lagi. Kita akan menandatangani kontrak album pertama dan merekam tujuh lagu di studio mereka."
"Wow."
Einar mengacak rambut Sekar dengan gemas. Reaksi kaget gadis itu begitu lucu. "Selamat, Sekar," ucapnya kemudian.
Sekar memanyunkan bibirnya. "Selamat untuk kita berdua," protesnya.
"Aku hanya membantu." Einar mengedikkan bahunya. "You'll get the spotlight (kau akan mendapatkan sorotan)."
Sekar meringis. Ia merasa begitu senang tapi sekaligus bingung. Bingung bagaimana caranya meminta izin pada Papa dan Mama untuk pergi ke Jerman selama beberapa hari.
"Jelaskan baik-baik pada orang tuamu, mereka pasti akan mengizinkan."
Bibir Sekar mencebik. "Entahlah, sepertinya akan butuh perjuangan. Atau aku minta tolong Liana membuatkan ramuan untuk melembutkan hati Papa dan Mama," ujarnya dengan wajah serius.
Einar meloloskan tawanya dengan keras. "Jangan mengambil jalan pintas, Sekar. Sihir mereka dengan rangkaian kata-kata diplomatik yang cerdas."
"Ok, jeg skal prøve (akan kucoba)."
"Flink pike (gadis baik)," kekeh Einar.
Dan malam itu juga Sekar duduk berhadapan dengan Mama dan Papa di ruang keluarga. Ia bagai terdakwa yang duduk di kursi pesakitan. Pria dan wanita yang telah mmembesarkannya itu menatap padanya menunggu Sekar menjelaskan segala sesuatunya.
"Aku dapat kontrak dengan Nuclear Blast. Label rekaman di Jerman." Sekar memulai pembicaraannya.
"Terus?" tanya Mama.
"Nggak mau kasih selamat gitu?" Sekar balik bertanya demi melihat reaksi datar kedua orang tuanya.
"Selamat, ya, Sekar," ucap Papa. Hanya itu yang terucap dari bibir pria paruh baya itu. Papa yang biasanya antusias dengan apa pun yang dikerjakan Sekar, kini tidak sehangat dulu.
Sekar terdiam. Memang ia merasa akhir-akhir ini hubungannya dengan kedua orang tuanya sedikit merenggang.
"Ke Jerman? Sama Einar?" tanya Mama.
Sekar mengangguk.
"Nggak boleh," ucap Mama cepat.
"Maaf, Ma ... ini penting buat aku. Jadi, tanpa izin dari Mama atau Papa pun, aku tetap berangkat."
Mama seketika berdiri dan menatap tajam pada Sekar. "Apa kamu pikir Mama sama Papa sudah gila ngizinin kamu pergi berdua berhari-hari dengan berandalan itu?"
"Einar bukan berandalan, Ma!" seru Sekar mulai tersulut emosinya. "Aku nggak hanya pergi berdua sama Einar aja. Kami punya team."
Sekar mengalihkan pandangannya pada Papa yang masih terdiam. "Pa, aku tahu Papa orang yang open minded. Papa juga pasti bisa baca Einar itu kaya apa. Papa tahu persis kalau Einar itu cowok baik-baik. Jangan hanya karena ego Papa mengesampingkan itu semua."
"Sekar," ucap Papa pelan. "Jaga diri baik-baik. Jangan kecewakan Mama sama Papa dan jaga nama baik kami."
"Papa?" Mama berseru. Ia tidak terima dengan ucapan suaminya itu. Lain halnya dengan Sekar yang tersenyum lebar mendengar perkataan Papa.
"Makasih, Pa. Aku nggak akan ngecewain kalian," kata Sekar seraya menghambur ke pelukan pria itu. "I love you, Pa," ucapnya kemudian.
Sementara Mama yang begitu kesal bersungut-sungut meninggalkan bapak dan anak itu. Papa mengelus punggung Sekar dengan lembut dan menciumi puncak kepala puterinya itu dengan gemas.
"Papa tahu kalau Einar pemuda baik-baik," ucap Papa setelah Sekar melepaskan pelukannya.
"Nah, ini baru Papa aku," kekeh Sekar. "Masa seorang Dubes pikirannya kolot sih," godanya.
"Dubes juga manusia kali, Se. Punya ego juga. Apalagi cuma punya anak satu yang cantik dan pinter kaya gini," ujar Papa seraya mencubit hidung Sekar.
Sekar mencebik. "Pa ... boleh ngomong sesuatu, nggak?" tanyanya.
"Apa itu?"
"Kalau aku nikah muda boleh, nggak?"
Papa membulatkan matanya. "Nih anak ngelunjak, ya, lama-lama."
"Boleh, nggak?"
"Ini kamu serius nanya kaya gini?"
"Serius lah."
"Tanya Mama aja sana."
Sekar memutar bola matanya sebal. "Nggak usah nanya sih aku udah tahu jawabannya."
"Terus Papa harus jawab apa nih?" tanya pria itu seraya mengelus janggutnya. "Boleh aja sih, asal ... kamu udah bisa mencapai sesuatu yang bisa Mama dan Papa banggakan."
Sekar tersenyum senang. "Aku mau nikah sama Einar, Pa."
Papa menepuk keningnya lalu sejurus kemudian ia memijitnya. "Lulus SMA aja belum, Se," keluhnya.
"Nanti kalau udah lulus."
Papa terkekeh seraya menggeleng pelan. "Ngomong-ngomong, Se. Kamu bakalan terkenal dong nanti. Hebat kamu tuh," pujinya seraya mengacak rambut Sekar.
Sekar tersenyum jumawa sembari menepuk-nepuk dadanya dengan bangga. "Aku gitu loh."
"Sombong," hardik Papa seraya memiting kepala Sekar dan kembali mengacak rambutnya. Ruang keluarga kini dipenuhi gelak tawa ayah dan anak itu. Sementara dari lantai atas, Mama memandangi suami dan anaknya itu dengan helaan napasnya yang berat.
***
***
***