LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 9. Aku Mau Pesan Pizza, Bisa Tolong Antar Ke Rumah?



"Hatcih!"


"Hatcih!"


Sekar terbersin hebat dan menggigil dalam gulungan selimut tebalnya. Penghangat ruangan di kamarnya seakan tak mampu mengatasi hawa dingin yang begitu menusuk.


"Mbok Mar, pijitin," pinta Sekar dengan suara serak begitu melihat sosok asisten rumah tangganya itu masuk ke dalam kamarnya membawa secangkir teh hangat.


"Si Non ini sekali main lama di luar pulang-pulang malah sakit," ujar wanita paruh baya itu sembari memijiti badan Sekar pelan.


"Mama sama Papa belum pulang, ya?" Pagi tadi Mama berpamitan mau menemani Papa keluar kota. Wanita itu berpesan agar Sekar tidak usah masuk sekolah hari ini setelah ia tahu badan anak semata wayangnya itu panas. Tentu saja sebelum Mama pergi, ia sudah diinterogasi kenapa bisa jatuh sakit. Sekar menceritakan apa adanya, bahwa ia dan temannya pergi ke pinggir kota untuk bermain-main salju. Namun, tentu saja tak menyebutkan nama Einar dan teman-temannya.


"Maleman katanya pulangnya, Non ...."


"Pijit sebelah sini, Mbok." Sekar menunjuk tengkuknya. Mbok Mar dengan sigap berpindah memijit tengkuk Sekar.


"Minum tehnya dulu ...."


"Entar aja," sahut Sekar sembari merapatkan selimutnya. Badannya terasa pegal. Ia kembali terbersin beberapa kali.


"Aku pingin makan pizza," ujarnya. Ide itu tiba-tiba saja terbersit ketika bayangan Einar muncul dalam benaknya. Sedang sakit begini, kenapa rasanya tiba-tiba ia ingin bertemu dengan pemuda itu?


"Walah, Non ... si Mbok belum bisa bikinnya ...."


"Aku mau pesan aja, Mbok ... HPku mana?"


Mbok Mar mengambil ponsel Sekar yang tergeletak di ujung kaki gadis itu.


Sekar meraih ponsel dari tangan Mbok Mar dan mulai mencari nomor Einar.


"I wanna order pizza (aku mau pesan pizza)," ucapnya ketika suara sapaan Einar terdengar di seberang.


"Two (dua)," lanjutnya ketika Einar menanyakan berapa kotak yang ia pesan. "Yeah, original."


"I'll text you my address (aku akan menuliskan alamatku)."


Sekar menutup teleponnya. Lalu menaruhnya sembarang.


"Udah pijitnya, Non?" tanya Mbok Mar.


Sekar mengangguk.


"Mbok ke dapur dulu, ya?" ujar wanita itu sembari beranjak dari atas ranjang.


"Eh, Mbok ... entar kalau ada yang nganter pizza suruh ke kamar aja, ya," ujar Sekar. "Temenku yang nganter," lanjutnya ketika dilihatnya kening Mbok Mar mengerenyit.


"Temen Indonesia apa Norway, Non?"


"Norway ...."


Mbok Mar menepuk keningnya. "Ngomongnya gimana?" tanya wanita itu dengan polosnya.


"Pake bahasa isyarat," jawab Sekar asal.


"Ishh ... si Non, nih," gerutu Mbok Mar sembari menutup pintu kamar Sekar.


Sekar tersenyum tipis di balik selimutnya. Ia memejamkan matanya, menunggu kedatangan Einar.


.


.


Einar berdiri di depan pintu besar bercat putih itu seraya menekan bel rumah beberapa kali. Satu tangannya memegang dua kotak pizza yang dipesan oleh Sekar.


Pintu perlahan dibuka dari dalam dan seorang wanita paruh baya berwajah khas Asia Tenggara muncul.


"Monggo ... eh kok monggo," ucap wanita yang tak lain adalah Mbok Mar itu sembari terkikik dan menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Ia geli melihat wajah tampan Einar yang terbengong-bengong.


Ia hendak menyerahkan dua kotak pizza pada Mbok Mar tapi wanita itu memberinya isyarat untuk mengikutinya masuk ke dalam rumah.


Dengan canggung Einar mengikuti Mbok Mar menaiki tangga ke lantai atas, sembari pandangannya ia lontarkan ke sekelilingnya. Ruang tamu yang luas dengan sofa-sofa besar yang mewah, lukisan-lukisan bergaya classic realist yang terpajang di beberapa tempat seperti di atas perapian, di atas bufet kayu besar dan panjang. Ada satu ruang dengan pintu terbuka yang terlihat seperti perpustakaan. Einar bisa melihat banyak buku tertata rapi di rak-rak kayu.


"Sebelah sini ...." Mbok Mar membuka pintu kamar Sekar yang berada tak jauh dari tangga.


"Thank you," ucap Einar. Ia lalu masuk ke dalam kamar dan mendapati Sekar yang tengah tertidur pulas di balik selimut tebalnya.


"Pizza delivery!" ucapnya sembari meletakkan kotak pizza ke atas nakas di samping ranjang Sekar.


"Wah, kamarmu luas dan bagus," puji Einar sembari menyapu pandangannya ke seluruh ruangan bercat abu-abu itu. Tak begitu banyak hiasan yang memenuhi kamar atau pun pernak pernik yang biasanya dimiliki oleh seorang gadis. Hanya ada sebuah upright piano yang sepertinya adalah keluaran dari brand ternama, lemari pakaian dan meja rias yang digunakan untuk meletakkan alat-alat kecantikan Sekar yang hanya ada beberapa saja, dan satu bingkai foto yang memperlihatkan wajah Sekar tanpa senyum. Ia menghirup aroma kamar yang begitu harum khas kamar seorang gadis.


Sekar membuka matanya pelan. Wajahnya yang terlihat pucat menyunggingkan senyum ketika melihat kehadiran Einar.


"Kau sakit?" tanya Einar.


"Sedikit ...."


"Aku sudah menduganya," kekeh Einar. "Ah, Sekar ... apa tidak apa-apa aku berada di kamarmu seperti ini. Kau ini aneh, aku hanya mengantar pizza, aku bisa menitipkannya pada Ibumu tadi di bawah."


"She's not my Mother, she works here (dia bukan Ibuku, dia bekerja di sini)," sahut Sekar seraya menyibakkan selimutnya. Namun kata-kata Einar membuat dadanya berdegup. Ia menelan ludahnya. Wajahnya terasa memanas. Perkataan Einar membuatnya tersadar kalau idenya ini memalukan. Kini ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Ya sudah ... aku permisi, Sekar," pamitnya. "Get well soon ... enjoy your pizza (cepat sembuh ... selamat menikmati pizzanya)." Einar memberikan senyum manisnya sebelum akhirnya keluar dari kamar Sekar.


"Einar!" panggil Sekar. Ia melupakan sesuatu.


Einar melongok dari balik pintu. "Ja (iya)?"


"Aku belum membayar pizzanya!" Sekar menepuk keningnya.


"Aku yang traktir," ujar Einar.


"Jangan!"


"It's okay ...."


"Tidak bisa begitu!" Sekar beranjak dari ranjangnya dan berjalan ke arah meja riasnya untuk mengambil dompet.


"Aku serius." Einar mengangkat kedua tangannya memberi isyarat kalau ia tidak mau menerima uang dari Sekar.


Sekar menghela napas pelan. "Aku antar kau keluar," ujarnya sembari menyambar sweater di atas kursi dan melangkah menuju pintu di mana Einar berdiri. Keduanya beriringan menuruni tangga dan melewati ruang tamu.


"It's cold outside ... go back to your room (di luar dingin ... kembali saja ke kamarmu)," ujar Einar ketika melihat Sekar yang mengikutinya hingga ke halaman dan membantunya membuka pintu gerbang.


"I'm bored (aku bosan)," ucap Sekar. Ia memandangi Einar yang tengah memakai helm menaiki motor skuternya yang berada di luar gerbang.


"Kita jalan-jalan lagi lain kali, kalau kau sudah sembuh," kata Einar sembari menghidupkan mesin motornya.


"Jangan lupa kau punya PR dari Folke," kekehnya. "See you, Petite Sekar (sampai jumpa, si kecil Sekar)," kekehnya sembari melajukan motornya pelan menjauh dari hadapan Sekar.


Sekar hanya bisa memandangi kepergian Einar. Ada apa dengannya? Kenapa ia merasa sangat kacau. Ia merasa begitu gelisah. Melanjutkan tidurnya kembali pun sepertinya akan sulit. Makan pizza yang dibawa Einar, perutnya sebenarnya sedang tidak bersahabat dengan makanan. Entah kenapa, lagi-lagi, ia tersadar akan ide konyolnya.


Gadis itu menghela napas dalam-dalam. Einar sudah tak terlihat lagi. Ia melangkah masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke kamarnya.


Ia terduduk lesu di depan pianonya. Pelan dirabanya tuts-tuts hitam putih, dari kanan ke kiri, begitu sebaliknya.


Lalu alunan Canon D dari Plachelbel mulai terdengar lewat sentuhan jemari lembutnya.


Lagu yang dimainkan Einar dengan gitar di sebuah toko musik yang mempertemukan mereka.


***


***


***