LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 17. You Look Different Today.



"Ex Cathedra ....


"Help me ...."


"Come here ...."


"They will destroy us (Mereka akan menghancurkan kami) ...."


"Deep in the forest (jauh di dalam hutan) ...."


"The Book Of Shadow ...."


"My priestess (pendeta wanitaku) ...."


"Sekar ...."


"Sekar ...."


"Sekar ... hei ... Sekar, bangun, Nak." Mama menepuk-nepuk pipi Sekar pelan. "Ini udah jam berapa, Se ... nggak mau sekolah apa?"


Mama menyibakkan selimut tebal yang menutupi tubuh Sekar. Gadis itu membuka mata pelan. Ia menatap Mama dengan alis mengkerut.


"Sekolah nggak?" ulang Mama.


Sekar mengangguk. Ia masih merasa linglung. Jiwanya seakan-akan baru saja kembali dari tempat yang sangat jauh.


"Mandi buruan," ujar Mama sembari melangkah keluar kamarnya.


Sekar mengusap-usap wajahnya dengan telapak tangan. Mimpi yang aneh. Kabur. Namun bisikan-bisikan itu jelas terdengar.


"Deep in the forest (jauh di dalam hutan)," gumamnya sembari melangkah menuju kamar mandi.


"My priestess (pendeta wanitaku)?"


Ia menyalakan shower dan membasahi tubuh polosnya dengan air hangat. Menikmati guyuran air yang seakan mampu menyegarkan otaknya untuk beberapa saat.


"Apa sih maksudnya?" Ia menggumam sembari mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Lalu melangkah keluar dari kamar mandi dan membuka lemari pakaiannya.


Ia memandangi sederetan pakaian yang tergantung di hanger. Pelan diraihnya sebuah mini dress hitam polos setinggi lutut, lalu meraih boot hitam yang ada di rak bawah dan melemparnya ke atas ranjang.


Sekar mengenakan mini dressnya dan mematut dirinya di depan cermin yang ada di pintu lemari. Kemudian ia menyeret langkah menuju meja riasnya dan membuka kotak make up yang selama ini jarang disentuhnya.


Menyesuaikan dengan warna hitam pakaiannya, ia mulai memoles kelopak matanya dengan eye shadow berwarna hitam membentuk riasan smokey eyes. Tidak terlalu tebal, namun cukup untuk membuat mata cokelatnya terlihat tajam. Ia pun mulai mencari-cari pemulas bibir dengan warna yang sesuai dengan eye shadownya.


Merah burgundi. Tipis saja. Sempurna.


Kalau kaya gini Einar nggak bakalan nganggep aku anak kecil lagi.


Ia menyisir rambutnya yang mulai mengering. Menatanya sedemikian lupa, lalu beranjak dari duduknya dan menyambar boot di atas ranjang dan memakainya. Ia meraih mantel hitam panjang yang tergantung di sudut ruangan beserta tas selempangnya dan menghambur keluar kamarnya.


"Dandan, Se?" tanya Mama yang tengah menunggunya di ruang makan. Memandanginya dengan kening mengerenyit. Sementara Papa yang tengah menikmati sarapannya hanya tersenyum-senyum.


Sekar meringis sembari mengambil piring dan mengisinya dengan menu sarapan yang tersaji di atas meja. Mama membantunya meracik bubur ayam karya Mbok Mar yang terlihat lezat itu.


"Tumben dandan? Ada acara di sekolah, Se?" tanya Mama.


"Nggak. Pingin aja, Ma," sahutnya sembari mengunyah suwiran ayam di mulutnya.


Mama mencebik. "Hari ini jadi mulai les gitarnya?" tanyanya kemudian.


"Kamu les gitar, Se?" tanya Papa.


"He'em," jawab Sekar dengan mulut penuh.


"Itu loh, Pa ... guru les gitarnya Sekar, ngeri," ujar Mama dengan bibir cemberut.


"Ngeri kenapa?" tanya Papa.


"Gondrong, tatoan, penampilannya, duh ... selengean, Pa."


Sekar memutar bola matanya sebal. Mama ini sungguh berlebihan. "Yang penting kan ilmunya, iya kan, Pa?" Sekar meminta pembelaan dari Papanya.


"Hmmmm." Papa hanya bergumam dan mengagguk-angguk.


Mama mendecak sebal. "Ditungguin Pak Karso pokoknya nanti, Se."


Sekar mengedikkan bahunya. Ia menghabiskan bubur ayamnya tanpa tersisa. Lalu mencium pipi Mama dan mengikuti Papa yang juga telah menyelesaikan sarapannya keluar rumah.


.


.


NATIONAL LIBRARY OF NORWAY, OSLO.


"Nggak, ini perpustakaan, Pak Karso," sahut Sekar. "Pak Karso pulang dulu aja, ya, nanti jemput aku di Grønland, inget kan, rumah temenku itu tuh," ujar Sekar sembari menunjuk ke arah Einar yang tengah berdiri di depan gedung menunggunya.


"Walah, nggak bisa begitu Non, nanti Bapak dimarahin Nyonya, gawat ini."


"Udah, ntar aku yang urusin."


Pak Karso menggaruk kepalanya kebingungan.


"Mama juga lagi pergi, pulangnya malem," kikik Sekar sembari membuka pintu mobil dan menghambur keluar.


"Udah sana, Pak Karso!" serunya ketika melihat Pak Karso membuka kaca mobil dan hendak memprotesnya.


Pria paruh baya itu hanya bisa pasrah dan melajukan mobilnya meninggalkan Sekar.


Einar terperangah melihat Sekar yang hari ini tampak ... berbeda. Cantik. Terlihat dewasa dengan riasan semi gothic yang mempertegas rahang mungilnya.


Dalam balutan warna hitam, Sekar terlihat anggun. Untuk sesaat gadis itu membuatnya terpana.


"Ein?" panggil Sekar.


Einar terkesiap. "Sekar?" tanyanya memastikan.


"Yeah?" Senyum tipis Sekar tersungging. Ia tahu, Einar terpana melihatnya.


"Emm ... shall we (ayo)," ujar Einar tergagap. Lalu mengajak Sekar masuk ke dalam perpustakaan.


"Buku-buku sejarah dan mitos ada di rak paling ujung sebelah sana." Seorang petugas perpustakaan menunjukkan arah yang Sekar tanyakan, setelah gadis itu selesai menyelesaikan registrasi menjadi anggota perpustakaan.


"Buku apa yang kau cari?" tanya Einar. Ia turut membaca judul demi judul dari buku-buku yang tertata rapi di rak.


"Anything about Norwegian Mythology (apa saja tentang mitologi norwegia)," sahut Sekar sembari matanya tetap memeriksa satu persatu buku-buku yang tampak lusuh itu.


"Hmmm," gumam Einar. Ia berlalu meninggalkan Sekar yang masih sibuk dengan pencarian bukunya.


Beberapa saat kemudian, Einar kembali dengan membawa sebuah buku tebal bergambar naga.


"Sekar," panggilnya sembari menyodorkan buku itu pada Sekar.


Sekar mengambil buku dari tangan Einar dan membaca sampulnya.


Myth and Religion of the North: The Religion of Ancient Scandinavia (Mitos dan agama dari Utara: Agama kuno scandinavia).


Ditulis oleh E.O.G. Turville-Petre.


"Thank you, Ein!" seru Sekar sembari mencuri kecupan di pipi Einar sekilas.


"Oww." Einar terkejut menerima ciuman di pipi yang tak terduga itu. Namun sejurus kemudian senyumnya terbit. "Sekar!" panggilnya.


"Hmmm?" jawab Sekar tanpa beralih dari buku yang dipegangnya.


"Bukunya," ujar Einar. "Biar aku yang mengurusnya." Ia mengambil buku dari tangan Sekar dan membawanya pada petugas perpustakaan.


Sekar tersenyum memandangi punggung Einar yang kini tengah berbicara dengan pria berjas hitam di meja layanan administrasi dan kasir.


Ia memutuskan untuk menunggu Einar di luar saja.


Beberapa saat lamanya, Einar pun muncul dari pintu perpustakaan dan menyerahkan buku pada Sekar.


"Kita ke rumahku sekarang?" Einar menyerahkan helm pada Sekar.


"Tunggu!" Sekar berseru. "Apa makanan favorit Ibumu?" tanyanya.


"Makanan favorit Ibuku? Mmmm ...." Einar mengelus dagunya. "Farikal ... I guess (kurasa)," ujarnya.


Sekar mengangguk, walaupun sebenarnya ia tidak mengerti makanan macam apa itu. "Antar aku membelinya untuk Ibumu."


"Oh, you don't have to do that (tidak usah), Sekar."


"Antar aku!" seru Sekar memasang wajah masamnya.


"Okay ... okay." Einar mengangkat tangannya menyerah. Ia menyuruh Sekar untuk naik ke motornya.


Sekar duduk menyamping karena mini dressnya yang tidak memungkinkan untuk duduk menghadap ke depan. Satu tangannya pelan menelusup ke pinggang Einar dan memegangi perut pemuda itu.


Bibirnya tak henti-hentinya menyunggingkan senyum bahagia.


***


***


***