
NITTEDAL, OSLO.
"Ein, berapa banyak pengikut Norsk Paganism di Norway?" tanya Sekar pada Einar yang duduk di sampingnya. Di sebuah kursi kayu panjang di belakang kuil. Di bawah pohon birch putih tak berdaun yang dilapisi salju tipis.
"Banyak. Tersebar di seluruh negara-negara scandinavia. Denmark, Sweden, Finland, Iceland," jawab Einar. Ia menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya ke udara.
Sekar menoleh ke arah Einar. "Ein, apa kalian bermusuhan dengan sekte Luciferian?" tanya Sekar dengan wajah serius.
Einar menghisap rokoknya. Lalu menggoyang telapak tangannya. Menandakan kalau jawabannya adalah antara iya dan tidak.
"Dari yang aku baca, dan juga berbicara dengan Cassandra dan Liana ...." Sekar terdiam sejenak. "Praktek ritualnya hampir sama. Altar, persembahan, The Book Of Shadow."
"Luciferian witchcraft, kurasa," sahut Einar. "Spin-off atau pemisahan dari aliran Wicca, tapi dengan sentuhan setan. Wicca itu neopaganisme, agama pagan modern. Tapi akarnya sama, Norsk Paganisme."
Sekar mengelus dagunya. Ia memandang lurus padang rumput tertutup salju tipis yang terhampar di hadapannya, namun otaknya sedang berpikir keras.
"Ein ...."
"Ja?"
"Aku rasa aliran Luciferian Witchcraft punya dendam lama dengan Gereja Katholik. Dari buku yang aku baca, leluhur mereka para penyihir dibakar hidup-hidup berdasarkan hukum Kekaisaran Romawi pada abad pertengahan yang melarang praktek witchcraft."
"I guess you're right (kurasa kau benar)." Einar memandang wajah serius Sekar. Gadis itu tidak tampak seperti gadis yang suka merengek dan merajuk jika sedang berteori seperti ini. Tapi tetap saja menggemaskan.
"Tapi aku pikir, tentang penyihir-penyihir yang dibakar itu lagi lagi terkait masalah politik. Sama persis dengan Partai Buruh di negara ini yang mengkambing hitamkan orang-orang yang mempraktekan agama leluhur scandinavia, untuk menjaring pengikut," ujar Sekar. Kemudian gadis itu terkekeh. "Astaga ... cerita lama yang selalu diulang-ulang dari masa ke masa."
"Akan selalu seperti itu selama masih ada manusia-manusia yang serakah," sahut Einar sembari menghisap sisa rokoknya. Lalu mencecaknya di atas tumpukan salju yang ada di lantai dan melempar puntungnya ke tong sampah.
Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Suasana di belakang kuil itu begitu hening.
"Ein." Sekar merubah posisi duduknya menghadap pada Einar. Ia menatap sepasang mata hazel itu lekat.
"What (apa)?" tanya Einar.
"Memang kau masih menganggapku anak kecil, ya?"
Einar terbahak. "Terkadang iya. Kalau kau sedang merengek dan merajuk. Tapi, kalau kita sedang mengobrol hal serius seperti ini, aku berpikir umurmu sudah setengah abad."
"Tapi aku suka dua-duanya," lanjut Einar sembari menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis. Tangannya pelan merapikan anak rambut Sekar yang tertiup angin sepoi-sepoi dan menutupi wajah cantiknya.
"Ein ...."
"Yes, Sekar."
"Berapa umurmu?"
"Tidak sopan menanyakan umur pada seseorang," gurau Einar seraya menepuk-nepuk pipi Sekar. Bibir gadis itu mencebik.
"25 tahun. Kenapa memangnya?" tanya Einar.
"Kenapa mau berteman dengan anak remaja seumuranku?"
Einar mengedikkan bahunya. "Tidak ada alasan spesifik. Aku bisa berteman dengan siapa saja, umur berapa saja."
"Kalau denganku, kau tidak punya tujuan apa-apa selain berteman?" cecar Sekar.
"Tujuan awal hanya berteman."
"Selanjutnya?"
Einar terkekeh. "Terserah universe saja."
Sekar meloloskan senyumnya. Jawaban yang terdengar sangat masuk akal. Terserah alam semesta saja akan membawa perasaan ini kemana.
"There's no such a thing as coincidence, everything happens for a reason (tidak ada yang namanya kebetulan, semua yang terjadi pasti ada alasannya)," ucap Einar.
Dua pasang mata cokelat dan hazel itu saling menatap lama dalam diam. Entah karena keduanya sedang memikirkan hal yang sama, atau antara dua kutub magnet yang saling berlawanan itu begitu kuat saling tarik-menarik, sehingga wajah kedua insan itu kini begitu dekat dan bibir mereka hampir saja bersentuhan. Kalau saja Bapa Espen tidak memanggil Einar untuk suatu keperluan.
"Emm ... tunggu sebentar," ujar Einar gugup seraya beranjak dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam kuil melalui pintu belakang. Ia memaki dirinya dalam hati. Hampir saja ia tidak bisa menahan diri untuk memagut bibir tipis itu.
Sementara Sekar merasakan pipinya memanas dan dadanya berdegup kencang. Badannya terasa panas dingin. Ia menggigit bibirnya. Gila. Sensasi yang gila. Kurang dari satu senti saja bibirnya berdekatan dengan bibir Einar, hormon oksitosin di dalam tubuhnya seakan meluap-luap.
Ia menutup wajah dengan telapak tangannya. Menggeleng keras, namun senyumnya terus saja tersungging. Antara bahagia dan malu.
***
Hingga malam hari setelah Sekar menikmati makan malam yang menegangkan karena harus mendengar omelan Mama yang tidak rela dirinya diantar pulang oleh Einar, bayangan adegan "hampir berciuman" di belakang kuil itu masih membuat badannya terasa panas dingin.
Sekar tidak bisa memejamkan mata sama sekali. Otaknya penuh dengan bayangan Einar yang menatap sendu padanya, tatkala wajah mereka begitu dekat.
Bahagia. Gundah. Rindu. Semuanya membuncah dalam dadanya.
Ia beranjak dari ranjangnya. Piano adalah satu-satunya jalan untuk mengungkapkan segala rasa yang ada dalam dirinya saat ini.
Tidak. Ia tidak mau memainkan lagu milik orang lain. Tidak ada satu pun lagu yang bisa menggambarkan perasaannya.
Sekar menarik napas dalam-dalam. Ia mengelus tuts-tuts piano pelan, lalu menekannya seiring dengan irama cinta yang mengalun indah di dalam lubuk hatinya.
Let Me Draw You Tonight.
The night is young
This room's so warm
There's only you and me
Look at each other and smile
You play your guitar
Then we get high
Nothing worries us
Tonight I just wanna laugh
I wanna stop the world
Flap our wings and run away for awhile
This moment there's only our love
So beautiful, and sacred
Your soft kisses land on
your favorite forehead o mine
You hold me so tight
Oh, love, let me draw you
On a canvas of my heart
Tonight.
Kata-kata indah muncul begitu saja dari bibirnya dalam balutan nada. Sebuah penggambaran rasa. Begitu manis, begitu jujur.
Ketika inspirasi begitu kuat dan jelas, menciptakan lagu akan seperti air yang mengalir di sungai yang tak berbatu. Tiada hambatan menuju laut lepas.
***
***
***
Let Me Draw You Tonight, sebuah lagu dari Gardenia yang masuk dalam album Meadow Of Heaven.
Ditulis dan dinyanyikan oleh : Lady Magnifica
Diaransemen oleh : Christophorus Maximilian A. P.
Kalau teman-teman mau cek di youtube, boleh dengan kata kunci :
Gardenia - Let Me Draw You Tonight