LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 41. I Wanna Be With You Always.



KIRKEVEIEN, OSLO.


Oslo University hospital Ullevål


Dalam insiden yang terjadi di Øya, satu kru Lord Abaddon bernama Lief tertembak di bagian paha, sedang Folke menderita luka sobek yang cukup parah di bagian dada kirinya karena terserempet peluru. Sementara korban jiwa dari ledakan bom masih belum diketahui jumlahnya. Baik yang terluka atau pun meninggal, mereka dibawa ke Norwegian Radium Hospital di Ullernchausseen.


Sementara Einar dan yang lainnya memutuskan untuk pergi ke rumah sakit yang lebih kecil di Kirkeveien.


Di ruang tunggu rumah sakit, Einar duduk menyandarkan punggungnya. Ia merelakan dadanya menjadi tempat Sekar mendusal dan tertidur. Ia sangat mengerti gadis itu begitu shock menyaksikan peristiwa berdarah yang mengerikan dengan mata kepalanya sendiri. Yang lebih membuatnya shock adalah, mimpinya menjadi kenyataan. Bahkan ia terus menangis hingga kelelahan.


Einar dan Sekar, Goran, Edvard beserta satu kru Lord Abaddon bernama Bard menunggu Lief dan Folke yang sedang ditangani oleh dokter.


"Jeg kan ikke tro det (aku tidak bisa percaya ini)," ujar Edvard yang duduk di sebelah Einar sembari memegangi kepalanya.


Einar menggeleng pelan. Tangannya masih mengelus punggung Sekar. Memberikan gadis itu rasa nyaman sebisa mungkin. Sesekali diciuminya puncak kepala Sekar dan menyesap wangi rambutnya.


"Dia baik-baik saja?" bisik Edvard seraya memandang ke arah Sekar yang tertidur pulas di pelukan Einar.


"Dia kelelahan," sahut Einar. "Orang tuanya akan menjemputnya kemari sebentar lagi."


Baru saja Einar selesai bicara, dua orang pria dan wanita berwajah asia berlarian dengan cemas menghampirinya.


"Sekar! Syukurlah!" seru Mama membuat Sekar terbangun dan melepaskan pelukannya pada Einar. "Kamu nggak apa-apa, kan, Sayang." Tanpa memedulikan keberadaan Einar, Mama menangkup pipi Sekar lalu menciuminya bertubi-tubi. Sementara Sekar hanya terdiam dengan sorot mata kosong.


Sementara Papa mengelus kepala Sekar lembut lalu melempar senyumnya pada Einar, Edvard dan juga Bard yang duduk bersebelahan.


"Anakku," isak Mama seraya memeluk Sekar dengan erat. Ia tidak bisa membayangkan jika puteri satu-satunya itu ikut menjadi korban insiden di Øya.


"Ayo, Ma, bawa Sekar pulang." Papa menepuk bahu Mama pelan.


"Nggak mau!" seru Sekar sembari meraih lengan Einar dan memeluknya erat.


Einar mengelus lengan Sekar dan membujuknya agar mau pulang dengan kedua orang tuanya.


"No, Ein ... I wanna be with you (aku mau sama kamu)," rengeknya sembari menyembunyikan wajahnya di bahu Einar.


"Sekar!" seru Mama. Ia hendak menarik paksa tangan Sekar namun Papa segera menahannya.


"Biar Papa yang bujuk," ujar Papa dengan tenang. Lalu duduk di samping puterinya itu


"Aku nggak mau pulang, Pa ... aku mau sama Einar. Aku kacau banget, Pa," isak Sekar. Matanya yang sembab kembali basah.


"What did you do to my daughter (apa yang kau lakukan pada puteriku)!" Mama menatap Einar dengan kekesalan yang memuncak. Sekarang telah terbukti kalau pemuda itu hanya membawa keburukan untuk Sekar.


"I'm sorry, Mam." Hanya itu yang keluar dari bibir Einar. Mama memalingkan wajahnya menghindari tatapan pemuda itu.


Sementara Papa terus membujuk Sekar dengan sabar. Hingga beberapa saat lamanya, gadis itu pun akhirnya menyerah dan dengan berat hati ikut pulang dengan kedua orang tuanya. Walaupun rasanya ia tidak tahu bagaimana bisa melewati malam ini dengan bayangan kejadian mengerikan yang terus terulang dalam benaknya. Rasa bersalah yang besar karena tidak bisa berbuat apa-apa membuatnya semakin terpuruk.


Kini, di kamarnya yang nyaman, Sekar meringkuk di bawah selimut tanpa bisa memejamkan mata. Ia lelah, namun otaknya terus saja bekerja memutar ulang kejadian mengerikan itu.


Tadi ia sempat tertidur dalam pelukan Einar. Nyaman sekali. Entah kenapa untuk sesaat ia merasa begitu tenang. Ia bisa melepaskan sejenak bebannya.


.


.


Dua hari ini Sekar terserang demam tinggi. Papa sudah memanggil dokter untuk menanganinya namun demamnya belum juga turun. Sementara Mama yang panik membujuk Sekar untuk mau dibawa ke rumah sakit. Namun gadis itu menolak dengan alasan ia akan baik-baik saja.


Sekar hanya ingin bertemu Einar. Jika saja kedua orang tuanya mengerti, hanya Einar yang bisa membuatnya tenang dan sedikit melupakan traumanya.


"Mama nggak suka ini, Pa."


Sekar menghela napas berat ketika mendengar seruan Mama dari balik pintu kamarnya. Sepertinya kedua orang tuanya itu sedang terlibat dalam perdebatan. Entah apa yang mereka bicarakan.


Masa bodoh. Sekar menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya dan mencoba memejamkan mata. Ia mendengar pintu kamarnya dibuka dan seseorang melangkah masuk. Namun ia tidak berminat untuk melihat siapa yang datang. Mungkin Papa, atau Mama, atau Mbok Mar yang mengantar makanan. Namun ketika ia merasakan sentuhan hangat di pipinya, dadanya berdebar kencang. Mungkinkah?


Sekar pelan membuka matanya dan mendapati seraut wajah tampan dengan senyum manis tersungging di bibirnya.


"Ein?" tanya Sekar tak percaya. Ia mengerjap-ngerjapkan mata memastikan kalau sosok yang sedang duduk di hadapannya itu bukan halusinasi.


"Hei, Sekar."


"Aku datang menjenguk. Ayahmu mengijinkanku masuk. Tapi sepertinya ibumu tidak suka," kekeh Einar sembari merapikan rambut panjangnya yang ia ikat sebagian. "How are you? Feeling better (bagaimana kabarmu, merasa lebih baik)?"


"Hanya sedikit demam. Tapi sudah lebih baik. Folke dan Lief bagaimana?"


"Yeah, hari ini mereka keluar dari rumah sakit."


Sekar menarik napas lega. "Senang sekali mendengarnya."


"Ein, aku mau bilang sesuatu."


"Apa, Sekar?"


"Bukan Liana dan Cassandra yang melakukannya."


Einar mengangguk-angguk. "Liana datang menjenguk Folke kemarin. Dia bersumpah tidak terlibat dalam insiden itu. Awalnya aku tidak percaya, mengingat waktu itu dia mengancam akan melakukan sesuatu yang buruk."


"Be careful (hati-hati), Ein. This is only the beginning (ini hanya awalnya saja)."


"I know (aku tahu)." Einar mengelus kembali wajah Sekar. Gadis itu menangkap telapak tangannya dan menggenggamnya erat.


"Ein ... waktu aku datang ke Øya, apa kau mengajakku ke tepi sungai kecil di pinggir perkemahan?" tanya Sekar.


Einar mengerenyitkan alisnya. "Tepi sungai?" tanyanya bingung.


"Hmm ... lupakan saja," ucap Sekar lirih seraya melepaskan genggaman tangannya. Memang cuma khayalannya saja. Tidak mungkin Einar semudah itu melupakan Anna. Ia tersenyum getir.


"Ada apa dengan tepi sungai?" tanya Einar.


Sekar menggeleng. "Nothing (bukan apa-apa)." Ia menarik selimutnya kembali. Lalu memejamkan matanya.


"Kalau kau mau istirahat, aku akan pergi."


Sekar segera membuka matanya. Ia menyingkirkan selimut dan duduk di tepian ranjang.


"Jangan pergi, Ein," rengek Sekar. "I need a hug (aku butuh pelukan)."


Einar terbahak. Lalu mengelus tengkuknya canggung. "Bisa saja, Sekar ... tapi aku tidak enak dengan ayah dan ibumu," ujarnya. "Mereka ada di balik pintu," bisik Einar seraya menunjuk ke arah pintu kamar yang terbuka sedikit.


Wajah Sekar merengut. Namun sejurus kemudian ia terkekeh sembari menutup mulutnya. Sekar menggerak-gerakkan jari telunjuknya memberi isyarat pada Einar untuk mendekat.


"What (apa)?" tanya Einar sembari mendekatkan wajahnya pada gadis itu.


Tanpa aba-aba, Sekar menghampur pada Einar dan memeluknya dengan erat. Membuat pemuda itu hampir saja tersungkur.


"Sekar, hei, Sekar ... hmm ... please, don't be like this (jangan begini)," ujarnya sembari melepaskan tangan Sekar pelan dari lehernya.


"Ein!"


Einar mendelik. "No, Sekar." Ia memberi isyarat dengan matanya ke arah pintu. "Istirahat, ya, Sekar ... kau terlihat lelah."


Sekar bersungut masuk ke dalam selimutnya lagi. "Dua malam ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak."


"Kalau begitu tidur sekarang, Sekar."


"Tapi kau jangan pergi, Ein. Tunggu sampai aku tidur."


Einar menghela napasnya. Ia memandang sendu gadis mungil di atas ranjang itu. Ingin sekali menemaninya melalui trauma yang sedang dideritanya. Namun benteng di antara mereka begitu tinggi.


"Please," pinta Sekar memelas. Einar tak kuasa menolak. Ia mengangguk setuju.


Sekar bersorak dalam hati. Ia memejamkan matanya sembari tersenyum lebar.


Beberapa saat kemudian terdengar dengkuran halus gadis itu menandakan kalau ia telah masuk ke alam mimpi.


***


***


***