LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 50. Strange Place.



Sekar berdiri di depan bangunan gereja yang megah dan didominasi oleh warna merah bata itu. Matanya menatap menara tinggi menjulang dan memperhatikan simbol segi tiga dengan satu mata di dalamnya. Memang terlihat samar jika tidak diteliti dengan seksama.


Langkahnya ia tuju pada sebuah bangunan di samping gereja yang juga bergaya abad pertengahan.


Katedralmuseet (Museum Kathedral).


Begitu yang tertulis dalam ukiran batu di atas pintu masuk. Pintu kayu dengan ukiran besi yang ditempel di tengahnya itu tinggi menjulang. Sekar mendorongnya dan ternyata pintu itu tidak terkunci.


Di dalam ruang utama yang cukup luas, suasana abad pertengan begitu kental dengan kayu-kayu besar yang saling melintang di langit-langitnya. Lalu jendela khas gothic dengan design rose window berbentuk bulat dengan kaca yang berwarna-warni.


"Hva kan jeg for deg (ada yang bisa aku bantu)?"


Sekar melihat seorang pria berjubah hitam dengan tali yang terikat dipinggangnya, berjalan tergopoh-gopoh ke arahnya.


"Aku ingin berkeliling museum," jawab Sekar.


"Apa kau jemaat di sini?" tanya pria itu.


"Bukan."


Pria itu tersenyum. "Aku bisa memberikan tour berkeliling museum."


"Emm ... apa aku bisa berkeliling sendiri?"


"Bisa. Tapi ada beberapa ruangan yang tidak terbuka untuk umum. Hanya jemaat di sini yang boleh masuk. Nanti ada tanda di larang masuk untuk beberapa ruangan tertentu," terang pria itu.


Sekar mengangguk. Setelah pria itu mempersilahkannya untuk berkeliling museum, ia masuk ke dalam koridor panjang yang entah menuju ke mana. Di sepanjang koridor berjejer lukisan-lukisan para Bishop dengan keterangan tahun kepemimpinan mereka. Mulai dari tahun 1600an hingga sekarang.


Ia masuk ke dalam sebuah ruangan yang tidak terkunci. Masuk ke dalam, ruangan sepi. Tidak ada seorang pun yang ada di sana. Memang sejak tadi ia belum bertemu siapa pun kecuali pria penjaga museum itu.


Di ruangan bercat putih itu, terdapat box kaca persegi panjang yang berisi potongan-potongan bata pembangunan pertama gereja itu. Lalu di sudut ruangan terdapat patung Maria dan Joseph yang sedang menggendong bayi. Jesus.


Sekar melangkah menuju sebuah pintu kayu yang ada di ruangan itu. Setelah dibuka, rupanya terhubung dengan ruangan lain dengan warna cat senada. Di sana terdapat furnitur-furnitur tua yang berasal dari abad ke 16.


Ada satu pintu lagi yang terhubung dengan ruangan lain. Ruangan itu adalah sebuah perpustakaan tua, dengan buku-buku tua yang tertata rapi di rak-rak yang berjejer memenuhi ruangan.


Sekar memeriksa buku-buku yang kertas-kertasnya telah menguning itu dan membaca judul-judulnya. Buku sejarah, Injil perjanjian baru dan lama, filosofi dan lain sebagainya. Lalu matanya menangkap sebuah pintu dengan kayu yang terdapat di sebelah rak terakhir.


Do not Enter (Dilarang masuk).


Pastilah ruangan di balik pintu itu yang disebut oleh penjaga museum. Lama Sekar berdiri mematung di depannya. Memperhatikan simbol-simbol aneh yang terukir di sana.


Rasa penasarannya begitu besar. Apa yang ada di dalam sana? Ia pun menoleh ke sana ke mari. Tidak ada seorang pun di sekitarnya. Lalu pelan Sekar mendorong pintu kayu itu. Tidak terkunci. Ia mengerenyitkan dahinya. Bagaimana bisa ada larangan untuk masuk tetapi mereka tidak menguncinya.


Sebenarnya ia ragu-ragu untuk melangkah masuk. Tapi rasa penasarannya begitu besar hingga menuntun kakinya untuk memasuki ruangan itu.


Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu-lampu dinding warna merah yang sedikit remang, namun benda-benda yang terdapat di sana masih bisa terlihat jelas.


Pedang, pisau belati, dan tombak tertempel di dinding. Lalu ada pula lukisan perang abad pertengahan yang terbingkai rapi, namun hanya disenderkan begitu saja ke dinding. Sekar mendekat pada satu lukisan yang berada di sudut ruangan. Ia memperhatikan isi dari lukisan itu.


Seorang wanita yang tengah disalib di tengah kobaran api, dikelilingi oleh pria-pria berjubah yang mengangkat satu tangan dan mengacungkan dua jari ke langit.


Witch Burning. An offering to the Prince Of Darkness (Pembakaran penyihir. Sebuah persembahan untuk Pangeran Kegelapan).


Mata Sekar membulat ketika membaca sederet tulisan yang ada di bagian bawah lukisan. Ia baru sadar, di samping tulisan itu ada sebuah simbol pentagram dengan satu mata di tengahnya.


"Help us (tolong kami) ...."


Sekar terlonjak kaget dan melangkah mudur. Dia baru saja mendengar sebuah bisikan. Ia yakin tidak salah dengar. Diedarkannya pandangan ke seluruh ruangan. Ia merasa ada hawa panas yang terhembus sekilas di wajahnya.


Sekar buru-buru membalikkan badan dan berlalu dari ruangan itu. Kembali ke perpustakaan, ia melihat ada beberapa orang pengunjung museum yang tengah membaca buku di sana. Aneh sekali, tadi ia tidak melihat siapa-siapa di sana. Ia juga mendengar suara-suara orang yang tengah mengobrol dari ruang sebelah yang pintunya terbuka.


"You've seen too much (kau sudah terlalu banyak melihat)." Suara itu berasal dari balik punggungnya.


"Kau?" ucap Sekar terkejut. Pria tua itu, ia ada di sini, menyeringai padanya.


"You've known too much (kau sudah terlalu banyak tahu)," ucap pria itu.


Sekar menoleh ke sekitar. Semua orang sibuk dengan buku mereka. Sepertinya tidak ada seorang pun yang menyadari kehadiran pria itu. Mungkin mereka tidak memperhatikan, atau bahkan tidak peduli.


Sekar terkesiap ketika menoleh ke arah pria tua itu kembali, ia sudah tidak ada. "Apa sih maksudnya?" gumamnya. Ia menggeleng pelan, lalu melangkah keluar dari ruang perpustakaan dengan banyak pertanyaan yang hinggap dalam benaknya.


***


Akhir pekan Sekar ikut membantu Einar bekerja mengantar pizza. Selain ingin membicarakan tentang teori barunya dan apa yang ditemuinya di Gereja Kathedral Oslo, ia juga ingin menghabiskan hari itu dengan Einar.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Einar mengajak Sekar menikmati semangkuk es krim krumkake di dekat Hell's Kitchen yang kini sudah menjadi cemilan kesukaan Sekar.


"Ein ... kemarin aku pergi ke Gereja Kathedral Oslo," ujar Sekar.


"Oh ya? Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Einar.


Sekar menelan es krim yang lumer di mulutnya. "Ingat waktu malam-malam kau menyusulku di luar pondok?"


"Aku bertemu dengan seorang pria tua yang entah dari mana datangnya. Dia berpakaian seperti orang yang berkaitan dengan gereja. Dia mengatakan ...."


Hallo, Budbringer (si pembawa pesan), we meet at last (akhirnya kita bertemu).


Einar mengerutkan dahinya. Ia teringat perkataan Bapa Espen tentang Sekar waktu itu ketika mengajak gadis itu menemuinya di kuil.


"Setelah itu pikiranku tidak bisa lepas dari gereja kathedral Oslo. Aku berselancar di internet mencari tahu tentangnya. Dan aku menemukan sebuah foto ganjil," ujar Sekar.


"Foto apa?"


"Simbol Illuminati di menara gereja. Segi tiga dengan satu mata di tengahnya."


"Hmm ...." Einar menggumam.


"Kenapa ada simbol itu di gereja? Padahal Illuminati itu erat kaitannya dengan Zionist dan Yahudi."


"Mungkin ...."


"Tunggu, Ein ... aku belum selesai bicara." Sekar memotong perkataan Einar. Pemuda itu tersenyum seraya mengangkat kedua tangannya.


"Jadi, teoriku begini ... Zionist ada di belakang gereja. Bahkan Vatican. Entah mereka bekerja sama, atau salah satu mengendalikan yang lainnya. Kau pasti sudah tahu misi Zionist ini, kan?"


"Ya. Membuat kekacauan agar dunia cepat kiamat. Dan Raja mereka akan datang. Kami pengikut agama leluhur Scandinavia sudah tahu tentang itu sejak lama."


Sekar mengangguk. "Kau tahu apa yang kutemukan di museum gereja? Lukisan pembakaran penyihir pada abad pertengahan."


"Wow ... kenapa kau bisa menemukannya? Aku yakin lukisan itu disembunyikan."


"Entahlah. Aku nekat masuk ke dalam ruangan yang terlarang. Anehnya ruangan itu tidak terkunci." Sekar mencebik. Lalu mengedikkan bahunya.


Einar terkekeh. "Kau memang punya kekuatan aneh, Sekar."


"Bukan itu saja yang membuatku heran. Aku juga bertemu dengan pria tua yang kutemui di Nittedal malam itu. Dia berkata ...."


You've seen too much (kau terlalu banyak melihat).


You've known too much (kau terlalu banyak tahu).


"Aku sadar, aku memang melihat banyak, dan aku juga tahu banyak." Sekar melanjutkan perkataannya. "Aku simpulkan begini ... gereja kathedral tidak seperti yang orang-orang lihat dari luar. Mereka itu ... Satanic, benar-benar satanic. Mereka itu zionist yang berkedok Christianity."


"Masuk akal, sangat masuk akal," sahut Einar.


"Mau tahu yang lebih mengejutkan lagi?" Sekar menarik sudut bibirnya. "Di Eropa, orang-orang yang masih berpegang teguh dengan agama kuno alias Pagan, adalah ancaman besar bagi mereka."


Sekar mengangkat tangannya memberi isyarat pada Einar untuk tidak memotong pembicaraannya. "Karena semakin banyak orang-orang yang percaya akan roh bumi, maka kekuatan Nature akan semakin besar. Zionist takut dengan Mother Nature."


"Luar biasa." Einar menggeleng tak percaya. Gadis di hadapannya ini benar-benar cerdas.


"Kau puji aku nanti saja, Ein. Aku belum selesai," sungut Sekar membuat Einar terbahak.


"Ini sudah berlangsung sejak zaman Romawi. Pembakaran penyihir atau orang-orang yang dianggap penyihir di abad pertengahan. Fitnah keji terhadap orang-orang Pagan."


"Itu dia ... jelas sudah," sahut Einar. "Kau mau berjuang bersama kami, Wahai Pembawa Pesan?"


Sekar meringis. "Tentu saja." Lalu ia menghela napasnya dalam-dalam. "Haaah, aku lelah sekali. Semalaman aku berpikir dan mengaitkan segala sesuatunya," rengek Sekar.


Gadis itu kembali menjadi Sekar yang suka merengek. Dan itu membuat Einar gemas.


"Kalau saja kita sudah tinggal bersama, mungkin kita akan membahas semua ini setiap hari ... di atas ranjang," gelak Sekar.


"Sabar, Sekar ... the time will come (waktunya akan tiba)," ucap Einar.


"Kusihir saja waktunya agar cepat datang," gumam Sekar.


"Jangan mengganggu keseimbangan semesta," ujar Einar.


Sekar meloloskan tawanya. Einar menanggapi perkataannya seolah-olah ia memang punya kekuatan untuk mempercepat waktu.


Tentu saja bisa, jika ia menciptakan mesin waktu. Dengan science (ilmu pengetahuan) tentunya. Bukan hanya dengan menjentikkan tangannya.


***


***


***


Cerita ini tidak semata-mata ikut sejarah yang tertulis di buku-buku. Adalah dikombinasikan dengan kehaluan seorang Lady Magnifica. Jadi bagi yang tahu tentang ilmu sejarah, mohon maaf kalau tidak sesuai.


Namanya juga novel ya, bebas. Apa lagi authornya gendeng. Wakakak, yowes.