
FROGNER, OSLO.
Sekar membanting pintu kamarnya. Lalu menghambur ke atas tempat tidur. Ia benar-benar kacau.
Namun ia sadar. Sikapnya pada Einar tadi sungguh berlebihan. Tentu saja ini bukan salahnya. Einar bahkan tidak tau apa pun tentang perasaannya.
Sungguh kekanakan.
Sekar menyusut sisa air matanya. Ia beranjak dari atas ranjang. Melangkah ke arah pianonya dan duduk termangu di depannya.
Johann Sebastian Bach, Air.
Sepi. Itulah yang ia rasakan ketika jemarinya mulai bergerak pelan menyentuh tuts-tuts piano. Seperti menyiksa diri sendiri dengan kehampaan yang luar biasa. Namun, jemarinya terus saja bergerak. Tak peduli hatinya meronta untuk segera menghentikannya. Menghentikan nada-nada depresif itu.
Padang rumput. Dua tangan saling bergandengan. Kaki-kaki mereka berlarian kecil menapaki salju. Mata hazel itu begitu memukaunya. Bibir tipis warna merah muda itu menyunggingkan senyum padanya. Rambut panjangnya menari-nari terhembus angin.
Ksatria abad pertengahan.
Einar.
Dengar ini.
Come to me
Comfort me
Take my hand
In your arms
In your eyes
I will be
Forever yours
Bring me down
To your bed
To your dreams
Take my life
Take everything
Through those meadows
Of heaven
Where we ran forevermore
I wish, oh, how I wish again
With you. Oh, to be with you
So lay me down
Close to you
Hold me now my lover
I kiss your tears
My sweet one
And kiss again, my love
"Sekar ...."
"Sekar ...."
"Help me (tolong aku) ...."
Sekar terkesiap. Apa baru saja ia mendengar seseorang berbisik di telinganya?
.
.
Mendengar bel pintu yang berbunyi beberapa kali, Mama yang tengah berada di dapur membantu Mbok Mar menyiapkan makan malam, segera melangkah menuju pintu dan membukanya.
"Ja (ya)?" ucapnya pada sesosok pemuda berambut panjang yang berdiri di hadapannya.
"God kveld, Fru (selamat malam, Nyonya)."
"Mencari siapa?" tanya Mama penuh selidik. Memandang pemuda itu dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Mata Mama menangkap tato yang menyembul di lehernya.
"Jeg heter (namaku), Einar, aku teman Sekar. Apa dia ada di rumah, Nyonya?"
"Teman Sekar? Teman sekolah?" Dahi Mama mengerenyit. Pemuda ini terlalu dewasa untuk ukuran anak SMA.
"Ah, bukan ... emm ... teman bermusik, Nyonya," jawab Einar sekenanya. Tapi itu adalah jawaban yang tepat. "Bisa bertemu Sekar, Nyonya?"
"Vent litt (tunggu sebentar)," ucap Mama. Wanita itu masuk ke dalam sembari sesekali menoleh ke arah Einar dengan waspada.
Einar duduk di kursi teras sembari menunggu Sekar keluar. Ia memandangi halaman rumah yang tertutup salju tipis dan diterangi oleh lampu-lampu taman.
"Nggak pernah cerita sama Mama kamu punya temen model begitu, Se!"
"Mama perlu ngobrol sama kamu loh, Se!"
Sayup-sayup ia mendengar suara dua orang wanita dari dalam rumah. Sebelum akhirnya mendapati Sekar muncul dari balik pintu, dengan wajah sembab dan piyama yang dibalut sweater panjang.
"Hei ...." Einar tersenyum sembari tatapannya mengikuti gerakan Sekar hingga duduk di sampingnya.
Gadis itu hanya terdiam. Memandang lurus ke depan.
"Aku datang untuk memastikan kau baik-baik saja. Kau aneh sekali tadi sore."
Sekar mengedikkan bahunya.
"What happened (apa yang terjadi)?" Einar mencondongkan badanya ke arah Sekar. Menatap wajah gadis itu yang merengut.
"Nothing (tidak ada apa-apa)," jawab Sekar pendek.
"Kau tiba-tiba marah padaku. Kau membuatku bingung, Sekar."
"Aku marah pada diriku sendiri!"
Einar menghela napasnya. "Tell me why (katakan padaku kenapa)?"
"Why do you care (kenapa kau peduli)?"
"Aku tidak mau jadi temanmu!" seru Sekar. "Maksudku ... aku tidak apa-apa. Hanya sedang kacau saja." Sekar meralat kata-katanya begitu melihat wajah Einar terkesiap mendengar seruannya.
"Okay, okay," ucap Einar sembari mengacak rambut Sekar.
Sekar menghindar dengan sebal. Einar selalu saja mengacak rambutnya. Akan lebih baik jika tangan kokohnya itu membelai rambutnya saja, lalu bibir tipisnya itu mengecup keningnya.
"Mau menonton kami di Helvete festival?" tawar Einar.
"Helvete?"
"Ya ...."
"Kapan?"
"Minggu depan."
Sekar terdiam sejenak. "Kau juga mengajak Anna?"
"Hmmm ... aku tidak tahu. Sepertinya aku harus menyembunyikan identitasku darinya," gurau Einar.
"Are you guys lovers, now (kalian berdua sudah resmi jadi sepasang kekasih, sekarang)?"
Einar mengedikan bahunya. "Mungkin ...."
Sekar mendongakkan wajah dan memejamkan matanya.
"Ein ...."
"Ya?"
Sekar menatap sepasang mata hazel yang terlihat gelap di bawah bias lampu teras yang redup. Ia menatapnya cukup lama. Mencoba menyelam masuk dan bertahta di sana. Ia ingin hanya dirinyalah yang ada dalam jangkauan pandangnya.
Aku menyukaimu.
"Sekar?" Einar menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Sekar. "Helloo?"
"You go home, I'm tired (kau pulang saja, aku capek)." Sekar beranjak dari duduknya.
"Sekar, tunggu!" seru Einar seraya meraih lengannya. "Kau yakin kau baik-baik saja?" Ia berdiri dan menyentuh bahu Sekar lembut.
Sekar mengangguk lemah.
"Kalau kau punya masalah kau bisa katakan padaku."
Iya. Masalahku adalah kau, Einar, kau!
Einar meraih tubuh Sekar dan membawanya ke dalam pelukannya. Ia mengusap-usap punggung Sekar pelan. Usapan seorang sahabat. Tentu saja.
Sekar tak melewatkan kesempatan itu. Ia membenamkan wajahnya di dada Einar, lalu mengaitkan kedua tangannya di punggung pemuda itu. Merasakan hangat dan harum tubuhnya. Menikmatinya selagi bisa.
"Help me (tolong aku) ...."
Sekar terperanjat dan mendorong tubuh Einar seketika. Membuat pemuda itu merasa kebingungan.
"Kau kenapa?" tanya Einar.
Sekar menggeleng. Apa ia barusan mendengar sesuatu? Ia merasa kosong untuk beberapa saat. Ia merasa hilang untuk beberapa detik saja.
"Hei?"
"Nothing (tidak apa-apa) ... god natt (selamat malam), Ein." Sekar melangkah masuk. Ia membiarkan saja Einar yang masih berdiri memandangnya hingga ia menutup pintu rumahnya.
"Sekar, Mama mau ngomong."
Sekar urung menaiki tangga. Dengan malas ia berjalan mendekati Mama yang tengah duduk di atas sofa ruang keluarga.
"Apa sih, Ma?"
"Itu temenmu?" tanya Mama.
"Guru les, Ma ... les gitar," jawab Sekar sembari menjatuhkan badannya di samping Mama. Ide itu terbersit begitu saja di kepalanya.
Ya. Les gitar dengan Einar. Dengan begitu intensitas bertemu mereka akan lebih sering.
"Les gitar? Sejak kapan tertarik sama gitar?" tanya Mama heran.
"Aku lagi belajar genre baru, Ma."
"Siapa namanya tadi, Ein ...."
"Einar."
"Kamu kenal dari mana sih si Einar ini? Memangnya nggak ada guru les lain gitu, Se? Mama nggak yakin sama dia. Penampilannya gitu. Gondrong, tatoan ... duh." Mama memijit keningnya.
Sekar mendecak. "Dia yang terbaik di seluruh Oslo," jawab Sekar asal. Namun itu memang pujian untuk Einar.
"Terus dia ke sini tadi ngapain?" tanya Mama kembali.
"Nentuin jadwal les."
"Nggak bisa lewat telpon gitu?" cecar Mama.
Sekar menghela napasnya berkali-kali. "Mau ngomong langsung."
"Emang lesnya di mana?"
"Rumahnya.
"Rumahnya di mana?"
"Ya ampun, Mama kenapa, sih?"
"Biar kalau kamu les bisa ditungguin Pak Karso!"
Sekar menepuk keningnya. "Einar bukan orang jahat, Ma."
"Siapa tahu, Se."
Sekar beranjak dari duduknya dan melanjutkan langkahnya menaiki tangga. "Terserah Mama aja deh."
"Makan malam dulu, Se!" seru Mama.
"Nggak laper."
***
***
***