LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 10. Hati Yang Kalut.



MØLLERGATA, OSLO.


"Anna ... hei ... Anna!"


Einar membanting rokoknya ke lantai trotoar dan menginjaknya. Ia buru-buru mengejar seorang gadis bermantel abu-abu dengan rambut merahnya yang baru saja keluar dari toko bunga.


"Kau sudah selesai kerja? Mau kuantar pulang?" tanya Einar. Ia mengimbangi langkah cepat gadis yang dipanggil dengan nama Anna itu.


"Tidak usah, Ein ... aku tidak mau merepotkanmu." Anna tersenyum kecut. Matanya masih terlihat sembab, seperti yang Einar lihat akhir pekan kemarin ketika mereka keluar bersama. Wajah cantiknya terlihat muram.


"Er du ok (kau baik-baik saja)?" tanya Einar.


Anna menghentikan langkahnya. "Ein ...."Ia berucap. Kepalanya tertunduk. Ia sepertinya menahan tangis. "Jeg føler meg så rotete (aku merasa sangat kacau)," ucapnya lirih.


Einar menghela napasnya pelan. Seperti yang telah Anna ceritakan pada hari sabtu kemarin, gadis itu terlibat pertengkaran hebat dengan kekasihnya dan berujung pada perpisahan.


Einar meraih punggung Anna dan membawa gadis itu dalam pelukannya. Ia membelai rambut panjangnya mencoba memberi rasa nyaman yang ia butuhkan saat ini.


"Aku kira aku bisa mengatasi rasa sakit ini, ternyata aku lemah," isak Anna dalam pelukan Einar.


Einar mengelus punggung Anna lembut. "Jeg vet, jeg vet (aku tahu, aku tahu)." Ia begitu menyukai gadis yang tengah berada dalam dekapannya ini. Hanya saja, sepertinya hati Anna masih tertutup untuknya.


"Aku antar kau pulang, ya ... kumohon," pinta Einar.


Anna melepaskan pelukan Einar. Ia menyusut air matanya lalu pelan mengangguk setuju.


.


.


"Ini mau ke mana sebenernya, Non?" tanya Pak Karso. Sudah hampir setengahnya mengelilingi Oslo, namun Sekar belum juga mengatakan ke mana tujuannya.


Ketika Pak Karso menjemputnya tadi di sekolah, ia mengatakan ingin jalan-jalan ke suatu tempat. Namun pada kenyataannya, gadis itu hanya melamun di jok belakang mobil sembari memandangi jalanan dari balik jendela.


"Pulang aja deh, Pak," ujar Sekar asal.


"Walah ... ndak jelas ini Non Sekar," gerutu Pak Karso sembari mencari-cari belokan untuk memutar mobil.


Sekar mengedikkan bahunya. Ia memperhatikan gedung-gedung dan pertokoan di sepanjang jalan. Namun pikirannya entah sedang berada di mana.


"Pak, Pak ... mampir restauran pizza di sebelah situ tuh," ujar Sekar tiba-tiba ketika matanya menangkap tulisan di papan nama berbunyi Hell's Kitchen yang ada di depan sebuah restauran pizza. Ia teringat nama itu tertulis di kotak pizza yang Einar antar kemarin.


"Mau beli pizza lagi, Non?" tanya Pak Karso heran. Dua kotak pizza yang masih utuh kemarin saja Sekar berikan padanya dan Mbok Mar.


"Eh, nggak jadi deh, Pak!" seru Sekar.


"Lah, piye to, Non?" Pak Karso urung menepikan mobilnya.


Dada Sekar berdegup kencang tatkala matanya menangkap sosok rambut panjang kecokelatan dengan jaket hoodie bergambar salib terbalik di punggungnya, tengah berdiri di samping sebuah toko bunga yang ada di sebelah restauran pizza. Yang membuatnya mengurungkan niatnya untuk berhenti adalah, sosok itu, Einar, sedang memeluk seorang gadis berambut merah dan mengusap punggungnya dengan lembut.


"Pulang, Pak," ucap Sekar sembari terus memperhatikan dua orang yang tengah berbagi pelukan itu hingga keduanya berjalan menuju motor skuter Einar yang terparkir di depan restauran pizza.


Sekar menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Air mukanya semakin muram sekarang. Satu nama terngiang dalam benaknya. Nama yang pernah ia dengar dari mulut Folke waktu itu.


Anna.


***


"Kom inn (masuk)."


Anna membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan Einar masuk. Ia masuk ke dalam kamarnya, sementara Einar menunggu di ruang tamu.


Tak lama gadis itu keluar dan duduk di samping Einar. "Mau minum sesuatu?" tanyanya.


"Anna ..."


"Ja (ya)?"


"Aku tahu ini terlalu cepat. Kau sedang dalam proses recovery. Mungkin kau belum akan membuka hatimu untuk siapa pun saat ini ...."


Anna menoleh pada Einar dan menatap wajah tampan Einar dengan dahi mengerenyit.


"Aku hanya ingin mengatakan ... aku menyukaimu."


Einar mengangkat tangannya memberi isyarat pada Anna untuk menunggunya selesai bicara.


"Aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu," ucapnya. "Kau tidak harus menanggapiku. Aku hanya ingin kau tahu apa yang kurasakan."


"Ein ...." Anna menyentuh lengan Einar lembut. Takk (terimakasih)," ucapnya. Air matanya kembali bergulir membasahi pipinya. "Aku kacau sekali. Hatiku benar-benar sakit. Aku dan Halvor sudah bersama selama bertahun-tahun. Aku tidak menyangka ia berpindah ke lain hati semudah ini." Anna menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tubuhnya terguncang karena tangis.


"Hei, Anna ... dengar aku ...." Einar meraih dagu gadis itu. "Kau pasti bisa melewati semua ini." Ia menatap mata biru Anna yang basah.


Keduanya saling menatap dalam diam untuk beberapa saat. Pikiran Anna yang tengah kalut, dan Einar yang begitu mendambanya, membuat keduanya kini tak sadar saling mendekatkan wajah mereka, dan tanpa tahu siapa yang memulai, dua bibir itu kini saling berpagut.


Cukup lama. Cukup panas. Seperti tengah menuntaskan dahaga dalam padang pasir yang kering kerontang.


"Beklager (maafkan aku), Anna," ucap Einar ketika ia tersadar telah menyeberang garis yang seharusnya tak ia lewati. Atau belum seharusnya ia lewati.


***


"Mother North ... Mother North." Sekar menggumam sembari melepaskan headset dari telinganya. Ia baru saja mendengarkan lagu dari Lord Abaddon.


Treng.


Jemarinya menekan tuts tuts piano dengan kasar. Begitu asal, begitu acak. Ia membanting jemarinya lagi, dan lagi. Menyapu tuts dari kiri ke kanan, dan sebaliknya. Wajahnya tampak tegang.


Ia merasa begitu kesal.


"Mother North ... piece of cake (gampang)!" gumamnya sembari tersenyum sinis.


Cukup dua kali saja mendengarkan lagu yang didominasi melodi gitar Einar itu, Sekar sudah bisa merambati dengan pianonya. Bahkan ia bisa mengimprovisasinya. Menjadikannya lebih rumit, lebih gelap.


Gelap, segelap hatinya saat ini.


Jemari Sekar seakan mengamuk melompat dari satu nada ke nada yang lain. Namun tetap pada pakemnya. Ia seperti mengacak-acak nada hingga melebar ke mana-mana. Namun kembali bertemu di satu titik ketika nada berakhir.


Sekar menjatuhkan dahinya ke atas pianonya. Menimbulkan bunyi dentingan beberapa tuts secara bersamaan.


Ia sulit mengungkapkan semua yang ia rasakan saat ini.


Mata hazel itu, wajah manis ketika tersenyum dan menyipitkan mata, berganti dengan wajah mengerikan dengan cat mayat hitam putih.


Silih berganti memenuhi kepalanya.


***


Lord Abaddon are :



Mother North, diambil dari judul lagu milik Satyricon, band black metal asal Norwegia.


Boleh check di youtube.


Warning: Dapat menyebabkan mimisan.