
NITTEDAL, OSLO.
Bard masuk ke dalam studio dan memberitahu keempat personel Lord Abaddon bahwa orang dari TVnorge telah datang untuk melakukan wawancara seperti yang telah dijadwalkan hari itu.
Einar dan yang lainnya mengakhiri latihan mereka dan melangkah meninggalkan ruang studio untuk menemui seorang wartawan dan dua orang kameramen yang telah menunggu mereka di teras pondok.
Wartawan wanita berumur sekitar empat puluhan tahun itu memperkenalkan diri dengan nama Irene Pederson.
"Lord Abaddon, nama kalian akhir-akhir ini menjadi buah bibir di media setelah tragedi di Øya. Bagaimana tanggapan kalian mengenai hal ini?" tanya Irene memulai wawancara. "Tapi, sebelumnya, bagaimana kalau kalian memperkenalkan diri terlebih dahulu," kekehnya.
"Mitt navn er Einar Haugen, jeg spiller gitar (namaku Einar Haugen, aku main gitar)."
"Jeg er Folke Jørgensen, vokal (aku Folke Jørgensen, vokal)."
"Jeg er Edvard Nilsen, jeg spiller bass (aku Edvard Nilsen, aku main bas)."
"Goran Dahl, jeg spiller tromme (aku main drum)."
"Bagaimana tanggapan kalian tentang tragedi Øya yang dikaitkan dengan nama Lord Abaddon?" tanya Irene. "Einar?"
"Kami sangat prihatin dengan kejadian itu. Dua orang dari kami juga menjadi korban, Folke dan salah satu kru kami," terang Einar.
"Lalu dengan gosip yang beredar tentang perseteruan antara dua sekte satanic yang melatarbelakangi kejadian itu bagaimana?"
"Omong kosong!" sergah Einar.
"Lord Abaddon disebut sebagai pengikut salah satu sekte yang berseteru, Satanic Norse Paganism, benarkah?"
Keempat personel Lord Abaddon saling pandang dan mengedikkan bahu.
"Okay ... sebelum kalian menjawab, aku ingin menanyakan tentang seperti apa musik Lord Abaddon sebenarnya?" tanya Irene seraya membuka buku catatanya. "Aku baru tahu kalau kalian cukup terkenal di kalangan genre metal dan hampir setara dengan Satyricon, Dimmu Borgir, dan Darkthrone."
"Banyak tema yang kami ambil untuk lagu-lagu kami. Mulai dari mitologi utara, agama lama scandinavia, nature, sindiran terhadap keserakahan, konspirasi politik." Einar menerangkan. "Sekalian saja aku jawab pertanyaanmu tadi. Lord Abaddon memang pengikut Norse Paganism. Tapi tanpa embel-embel satanic," kekehnya. Disambut dengan anggukan kepala Folke, Edvard dan Goran.
"Dan kami juga tidak ada masalah apa-apa dengan sekte Luciferian Witchcraft," tambah Folke.
"Baik," ujar Irene. "Kalau mendengar nama Lord Abaddon, untuk orang Norwegia, pasti akan dikaitkan dengan pembakaran gereja di Nittedal beberapa tahun yang lalu. Apa itu bukan merupakan sebuah bantahan kalau kalian memang pengikut ajaran satanic?"
"Ada sebab ada akibat," sahut Einar. "Kalian media mainstream, bukan? Jika kami ceritakan yang sebenarnya apa kalian akan tetap menayangkan wawancara ini?"
"Kami profesional."
"Tapi kalian adalah tangan kanan pemerintah," kekeh Edvard.
"Tapi kami tidak berat sebelah. Kalian bisa percaya pada kami."
Einar dan yang lainnya kembali saling beradu pandang.
"Okay ... yang akan kami katakan mungkin akan sedikit mengejutkan."
Irene tersenyum senang. Wanita itu sudah menduga wawancara dengan Lord Abaddon akan sangat menarik. Selama karirnya sebagai jurnalis, ia adalah seseorang yang selalu keluar dari zona nyaman. Walaupun terkadang membahayakan karirnya sendiri.
***
"Se, belum siap juga?"
Mama menghela napas pelan ketika masuk ke dalam kamar Sekar dan mendapati puterinya itu masih meringkuk di dalam selimut.
"Males ah, Ma. Aku nggak ikut, ya."
"Eh, harus ikut dong, Se. Ini acara Papa Mamanya Adam loh. Kita dapet undangan khusus."
Sekar memutar bola matanya. Ia saja tidak pernah menyukai Adam. Masa bodoh dengan acara keluarganya.
"Adam kan teman sekelasmu. Masa iya kamu nggak dateng."
"Iya, iyaa," sahut Sekar malas.
Perayaan pernikahan perak orang tua Adam si cerewet itu diadakan di kediaman mereka di Nordre Aker. Yang juga salah satu kawasan elite di Oslo, selain Frogner.
Ayahnya Adam yang merupakan teman Papa, adalah seorang pengusaha properti sukses. Mereka punya rumah di berbagai negara. Entah kenapa mereka memilih Norway menjadi tempat tinggal permanen mereka.
Selama acara berlangsung, Sekar hanya duduk diam di meja yang berada di sudut ruangan dan sibuk dengan ponselnya. Adam sudah berkali-kali mencoba mengajaknya ngobrol namun ia hanya menjawab seadanya.
"Loh, Sekar kok mojok sendirian di sini?"
Sekar melihat Mama dan Papa datang bersama dengan Adam dan kedua orang tuanya.
"Wah, anak gadismu ini cantik banget, ya, Pak Dubes," kekeh wanita dengan dandanan elegan yang sedang menggandeng lengan Adam. "Tak ambil jadi mantu boleh, ya? Buat Adam, nih."
"Atur saja," sahut Papa sembari mengerling pada Sekar. Membuat Sekar seketika memutar bola matanya sebal.
"Sekar sama Adam kan sudah akrab. Mereka satu kelas di OIS," celetuk Mama.
"Oh ya? Bagus itu." Kini giliran ayah Adam yang menyahut. Pria berambut cepak dan bermata sipit itu terkekeh.
Sekar melirik Adam sebal. Si cerewet itu meringis padanya.
"Tinggal nunggu kabar baik anak-anak aja ini." Ibunya Adam tergelak.
"Sekarnya cuek, Ma," ujar Adam seraya menatap Sekar dan menaik-naikkan alisnya.
"Sekar belum punya pacar, kan?"
"Belum dong." Mama menyahut cepat.
"Tuh, Dam. Kesempatan terbuka lebar."
Pembicaraan yang menyebalkan. Karena pembicaraan konyol antar orang tua itu membuat Adam menjadi lebih sering menganggunya di sekolah. Ada saja alasannya untuk selalu berada di dekatnya. Mengajaknya makan siang, menemaninya belajar di kelas musik, hingga memberinya hadiah-hadiah seperti cokelat mahal, buku, dan lain-lain.
"Nih, buat kamu." Adam tiba-tiba saja muncul entah dari mana ketika ia sedang menunggu taksi di depan gerbang sekolah.
Cokelat lagi. Kali ini dengan brand mahal Knipschildt Chicilatier's Madeline Truffle.
"Nggak usah kasih-kasih terus dong," gerutu Sekar.
"Nggak papa, cewek kan biasanya suka makan cokelat."
Sebenarnya Sekar tidak tega kalau harus menolak. Dengan berat hati ia menerima. Walaupun biasanya nanti akan diberikan ke Mbok Mar yang kegirangan menerima cokelat mahal. Dan Mok Mar akan membaginya dengan Pak Karso.
"Dijemput, nggak, Se?"
"Aku naik taksi."
"Bareng aku aja, yuk. Sekalian deh pingin main ke rumahmu."
"Nggak usah, aku ada urusan."
Dan begitulah setiap harinya, Adam selalu saja mengganggunya dan membuatnya risih. Hal itu sepertinya tidak luput dari peran Mama yang memberi akses pada Adam untuk mendekatinya. Mama menerima dengan baik setiap kali Adam berkunjung ke rumah. Terhitung sejak acara perayaan pernikahan perak kedua orang tuanya, Adam sudah beberapa kali datang ke rumahnya.
***
"Ein, I miss you," rengek Sekar malam itu ketika berhasil menghubungi Einar lewat telepon. Beberapa hari ini pacarnya itu sibuk sekali dengan kegiatan bermusiknya. Ia bahkan pernah tidak sengaja melihat wawancara Lord Abaddon di TVNorge.
Ia rindu sekali dengan si mata hazel itu. Hingga esoknya ia pun memutuskan untuk menemui Einar di Grønland. Papa dan Mama sedikit memberi kelonggaran padanya sejak Einar berjanji untuk tidak menemuinya lagi. Hingga ia bebas untuk keluar rumah. Namun tentu saja Papa dan Mama tidak tahu kalau ia akan menemui Einar.
Sekar membaringkan badannya di samping Einar. Di atas ranjang di kamar pemuda itu.
"Mana Agnes?" tanya Sekar ketika ia tidak melihat Nyonya Agnes di apartemen.
"Menginap di rumah kakaknya," jawab Einar sembari mendaratkan kecupannya di pipi Sekar.
"Kau sibuk sekali beberapa hari ini," gerutu Sekar.
"Banyak orang yang ingin berbicara dengan Lord Abaddon," kekeh Einar sembari menyilangkan kedua lengan ke bawah kepalanya.
"Jadi kau sudah terkenal sekarang?"
Einar terbahak. "Lord Abaddon dari dulu sudah terkenal."
Sekar mencebik. Lalu menoleh pada Einar yang tengah menatap langit-langit kamarnya.
"Do you miss me?" tanya Sekar.
"Very (sangat)," sahut Einar. Keduanya saling menatap dan terdiam untuk beberapa saat lamanya.
Tangan Einar pelan mengelus pipi Sekar. Lalu turun ke lehernya. Namun hanya sebatas itu saja. Tangannya tidak nakal menyentuh bagian-bagian tubuh Sekar yang lain. Walaupun sebenarnya ia ingin. Namun gadis di hadapannya ini begitu polos. Ia tidak sampai hati.
"Ein ...."
"Ja?"
"Apa yang dilakukan dua orang pria dan wanita ketika sudah resmi menjadi sepasang kekasih?" tanya Sekar. Tentu saja bukan karena ia terlalu bodoh menanyakan hal semacam itu. Ia hanya ingin tahu apa yang Einar mau. Ia takut dirinya terlalu membosankan di mata Einar. "Apa yang biasanya kau lakukan, dulu dengan mantan pacarmu?" lanjutnya.
Einar menautkan alisnya. "Kenapa menanyakan hal itu?"
"Ingin tahu saja."
"Hmm ... seperti normalnya sepasang kekasih. Bercinta."
Sekar meringis mendengar kata-kata itu dari mulut Einar. Tentu saja jawaban itu yang ingin didengarnya.
"Kau mau kita melakukannya?" tanya Einar. Menatap sepasang mata Sekar lekat.
Sekar menelan ludahnya. Badannya tiba-tiba dilanda panas dingin. Ia sedikit menyesal menanyakan hal itu. Namun dalam hati ia juga ingin melakukannya. Antara ingin dan tidak ingin. Atau takut, atau mungkin malu. Entah perasaan macam apa yang sedang bergelut di dalam dadanya.
"Tunggu kau berumur delapan belas tahun," kekeh Einar seraya mencubit hidung Sekar. "Tapi kalau aku bisa menahan diri selama itu," lanjutnya seraya mengerlingkan matanya pada Sekar membuat gadis itu terbahak. Antara lega, namun juga kecewa.
"Tunggu kita menikah saja," goda Sekar.
"Oh, sh it!" umpat Einar. Namun sejurus kemudian ia tertawa seraya meraih kepala Sekar dan ia benamkan ke dadanya.
***
***
***
***