
Lille Arkana. Einar menepikan motornya di depan sebuah toko barang antik dengan kaca berbingkai batang pohon. Ia melepas helmnya dengan buru-buru dan melangkah masuk melalui pintu kaca dengan papan kayu kecil tergantung ditengah bertuliskan Åpen (open).
"Velkommen (selamat datang)." Cassandra yang tengah melayani dua orang pembeli menyapanya. Kedua alisnya mengerut. Ia mengenal pemuda berambut panjang kecokelatan dengan mata hazel itu. Raut wajahnya menggelap. "Ada yang bisa aku bantu?" Namun ia berusaha untuk tetap bersikap ramah.
Einar hanya berdiri mematung memandang pada Cassandra dengan sorot mata tajam. Ia menunggu hingga gadis itu selesai melayani pembeli.
"Apa ada gadis Asia bernama Sekar di sini?" tanya Einar begitu dua pembeli meninggalkan toko.
"Einar Haugen. Lord Abaddon." Senyum miringnya terbit. "Sekar sedang bersama Liana di belakang. Tunggu sebentar." Cassandra masuk melalui pintu yang tertutup tirai.
Tak lama kemudian ia keluar lagi bersama dengan Liana dan juga Sekar.
"Owh, det er en hederlig gjest (ada tamu terhormat rupanya)," sapa Liana. Namun lebih kepada sindiran.
"Hallo, Liana, Cassandra ...." Einar meloloskan senyumnya. Manis, namun sinis. Lalu ia memberi isyarat pada Sekar untuk mendekat padanya. Sekar terlihat malas-malasan melangkah ke arahnya.
"Sampai jumpa lagi, Sekar," ujar Liana dan Cassandra bersamaan begitu gadis itu berpamitan pada mereka.
"Einar!" panggil Liana. "Sampaikan salamku pada Folke. Bilang padanya dia masih punya urusan yang belum selesai denganku," ujarnya dengan senyum absurd tersungging di bibirnya.
Einar mencebik dan mengangkat kedua tangannya. Mengisyaratkan kalau ia tidak ingin ikut campur. Lalu ia menarik tangan Sekar membawa gadis itu keluar.
"Dari mana kau bisa tahu tempat ini?" tanya Einar sembari menyodorkan helm pada Sekar.
"Bukan urusanmu," sahut Sekar ketus.
Einar mendecak. Lalu menaiki motornya dan menyuruh Sekar duduk di belakangnya. Ia melajukan motornya pelan. Menelusuri jalanan utama Oslo yang ramai.
Begitu berbelok ke jalan yang lebih sepi, Einar menepikan motornya di depan sebuah taman kecil di antara gedung-gedung apartemen.
"Why do you stop here (kenapa berhenti di sini)?" tanya Sekar heran.
Einar tak menjawab pertanyaannya. Pemuda itu turun dari motornya dan melangkah menuju ke sebuah bangku taman memanjang yang berada di bawah pohon linden tak berdaun.
Ia menyingkirkan salju tipis yang menutupi bangku dengan tangannya. Lalu memanggil Sekar yang masih berdiri di samping motornya untuk mendekat.
"Dengar Sekar, dua gadis itu pengikut Lilith." Einar membuka pembicaraan. Ia mengambil satu bungkus rokok dari saku jaketnya, lalu mengambil sebatang dan menyalakannya.
"Aku sudah tahu," sahut Sekar. Masih dengan nada ketusnya. "Memangnya apa salahnya?"
"Mereka mempraktekkan dark witchcraft, sihir hitam."
"Kau mengenal mereka?"
Einar menghisap rokoknya dalam-dalam. Lalu menghembuskan asapnya ke udara.
"Liana ... dan Folke. Dulu mereka berpacaran. Folke, si kepa rat itu, tidur dengan wanita lain. Hubungan mereka berakhir. Liana tidak terima semua itu. Dia masuk sekte Luciferian untuk balas dendam."
"Lalu?"
"Dia dendam pada Folke dan Lord Abaddon. Sejak itu, banyak kekacauan yang terjadi. Entah sekarang Liana masih menyimpan dendam atau tidak. Tapi, kau dengar tadi yang gadis itu bilang, dia masih punya urusan yang belum selesai dengan Folke?"
Sekar terdiam. Ia tidak tertarik dengan cerita Folke dan Liana. Ia lebih tertarik dengan kata-kata Dark Witchcraft.
"Bukankah kau sendiri juga melakukan ritual seperti itu?"
Einar menoleh pada Sekar. "Beda. Itu agama leluhur kami orang Scandinavia. Kami tidak pernah menggunakannya untuk hal-hal negatif."
"Ohya? Jadi membakar gereja adalah hal yang positif menurutmu?" serang Sekar.
"Tidak ada asap kalau tidak ada api. Kau sudah membaca tentang Anders Behring Breivik?"
Sekar menggeleng.
"Okay ... aku akan menceritakannya padamu." Einar kembali menghisap rokoknya. "Anders Behring Breivik adalah anggota Partai Kemajuan berhaluan kanan yang mengkritik kebijakan pemerintah Norwegia saat itu. Pemerintah Norwegia mengijinkan arus imigran dari negara-negara Timur Tengah." Einar menghentikan perkataannya untuk menghisap rokoknya kembali.
"Sikap temannya yang dia anggap tidak menghormati bangsa Kulit Putih memicu minat dan hasratnya untuk antipati dengan imigran yang masuk ke Norwegia."
"Partai Kemajuan bersebrangan pandangan dengan Partai Buruh yang waktu itu menguasai negeri ini. Bagi Anders, imigran-imigran dari Timur Tengah ini mengancam budaya asli orang Utara (Norsk), mereka membawa budaya asing yang perlahan-lahan menggilas budaya leluhur orang-orang Scandinavia."
Einar menghela napasnya. Ia menatap Sekar yang terdiam mendengarkan ceritanya. "Masih mau dengar lanjutannya?"
Sekar mengangguk.
"Okay ... pada juli 2011, dia meledakkan bom di dekat kantor pemerintahan Oslo. Dan menembaki sebuah kamp imigran di Pulau Utøya. Dia membunuh 77 orang."
"Tentang pembakaran gereja yang kulakukan ...." Einar menghela napasnya dalam-dalam. "Partai Buruh, yang waktu itu pamornya mulai redup, meminta dukungan Gereja Kathedral Oslo untuk menghembuskan isyu bahwa kami yang melakukan praktek agama leluhur, adalah pengikut Anders yang tersisa. Mereka menuduh ritual yang kami lakukan adalah ritual satanic. Mereka ingin mendapatkan simpati dari seluruh masyarakat Norwegia yang mengecam tindakan Anders, untuk meraih posisi atas mereka kembali dalam pemerintahan."
"Mereka membakar kuil kami di Nittedal. Dan breng seknya, hampir seluruh warga Norwegia mendukungnya." Einar mengepalkan tangannya. Wajah tampannya tampak tegang. "Dan media hanya mem-blow-up pembakaran gereja di Nittedal tanpa memberitahu alasan yang sebenarnya. Benar-benar breng sek!" makinya.
Sekar menatap Einar lekat-lekat. Baru kali ini ia melihat Einar begitu emosional, atau mungkin miris, lebih tepatnya.
"That was the reason why (itulah alasannya kenapa), Sekar." Einar menghisap sisa rokoknya, lalu membantingnya ke tanah dan menginjak puntungnya.
"I can understand it (aku bisa mengerti itu)."
Einar merubah posisi duduknya. Kini ia menghadap pada Sekar. "Dua gadis ini, Liana dan Cassandra, mereka benar-benar mempraktekkan ritual satanic. Jauhi mereka Sekar!" pinta Einar sembari menggenggam telapak tangan gadis itu.
"Kau jangan menuduh sembarangan." Sekar menarik tangannya dari genggaman Einar. "Lagi pula kalau itu memang benar, kenapa kau melarangku?" pancingnya.
"Berbahaya. Kau masih terlalu kecil untuk terlibat dengan hal-hal semacam itu. Kau bisa dicuci otak untuk melakukan sesuatu yang menyimpang."
Sekar mendecih. Ia tidak suka Einar selalu menganggapnya anak kecil. "Kau tidak perlu memedulikanku!" sentaknya.
"Please, Sekar ... I said this because I care about you (aku mengatakan ini karena aku peduli padamu)," ucap Einar.
"Ein!" hardik Sekar geram. "Tidak usah mengatakan omong kosong. Aku tahu kau peduli padaku karena kau merasa berhutang budi padaku!"
"Not at all, I do care about you (tidak sama sekali, aku benar-benar peduli padamu)," sergah Einar.
"As what (sebagai apa)?" tantang Sekar.
"As ... as a friend ... as my little sister (sebagai teman ... sebagai adik perempuanku)." Einar tergagap. Entahlah. Hanya kata-kata itu yang bisa ia pikirkan untuk menjawab Sekar.
Sekar terbahak. Namun hatinya terasa begitu nyeri. Jelas sekarang. Einar memang tidak punya perasaan apa-apa padanya kecuali hanya sebatas teman, bahkan adik.
Breng sek.
"Aku mau pulang naik taksi!" serunya sembari beranjak dari duduknya dan melangkah cepat menuju ke pinggir jalan.
"Jangan! Aku akan mengantarmu," ujar Einar sembari mengejar langkah Sekar.
"Menjauh dariku!" Sekar mendorong tubuh kokoh Einar. "I need to be alone (aku butuh waktu sendiri)."
"Jangan ikuti aku!" hardik Sekar sembari menunjuk tepat di wajah Einar.
Aura gelap di wajah Sekar muncul kembali. Einar hanya bisa terpaku menatap gadis itu. Tubuhnya seakan tak bisa digerakkan. Bahkan hanya sekedar untuk meraih tangannya saja dan menahannya pergi.
Ia hanya bisa memandangi Sekar yang kini berdiri di pinggir jalan sembari melambai pada sebuah taksi yang melintas. Hingga gadis itu masuk dan taksi pun membawanya pergi, Einar masih diam terpaku.
Einar menghembuskan napasnya sembari terengah. Ia mengusap wajahnya kasar. Lalu mengelus rambutnya seraya memegangi kepalanya.
Hatinya merasakan kehampaan yang luar biasa. Kepergian Sekar seakan ikut membawa jiwanya terbang bersama gadis itu.
***
***
***