
DONZDORF, GERMANY.
Tim Sekar yang terdiri dari Einar dan drummer Lord Abaddon, Goran, serta Bard, kru Lord Abaddon yang bertugas mengurus kebutuhan mereka selama di Jerman, menyewa sebuah apartemen berkamar tiga yang terletak tidak jauh dengan studio Nuclear Blast di Donzdorf, kota indah di Jerman Selatan yang dikelilingi oleh lembah.
Einar meminta Goran untuk mengisi bagian drum sementara instrumen yang lain seperti gitar dan bas, serta vokal growling, ia sendiri yang mengisinya. Sementara Sekar hanya mengisi bagian piano dan vokal clean. Empat hari mereka targetkan untuk menyelesaikan tujuh lagu yang akan menjadi album perdana duo yang belum punya nama itu.
"Apa nama untuk duo kita?" tanya Einar di suatu sore ketika ia dan Sekar sedang duduk di balkon apartemen yang menghadap pada lembah hijau membentang nan indah.
"Emmm." Sekar berpikir sejenak. Terbersit dalam benaknya untuk memberi nama duo mereka dengan satu kata yang diucapkan pria tua misterius yang ia temui di Nittedal dan juga perpustakaan gereja. "Budbringer (pembawa pesan)," ucapnya.
"Tepat. Aku juga memikirkan kata yang sama," sahut Einar. "Kita membawa pesan untuk manusia yang masih mau berfikir jernih, dengan lagu-lagu kita."
"Selamat datang di dunia, Budbringer," ujar Sekar mantap. Ia menggenggam tangan Einar dengan erat.
Keesokan harinya, aktivitas rekaman mereka di Nuclear Blast cukup padat. Sekar harus menunggu giliran merekam piano dan vokalnya selama berjam-jam untuk dua lagu yang mereka jadwalkan hari itu. Untung saja studionya sangat nyaman sehingga tidak membuatnya terlalu bosan.
Sesekali Sekar mengintip aktifitas Einar dan Goran serta seorang sound engineer di dalam ruang rekam kedap suara melalui jendela kaca besar yang memisahkan ruang tunggu dan studio. Ia tersenyum-senyum sendiri memperhatikan wajah serius Einar yang sedang mengambil part-part melodi gitarnya dan beberapa kali memasang wajah masam karena sepertinya belum sesuai. Ia lalu duduk di depan keyboardnya dan melemaskan jemarinya dengan memainkan satu lagu klasik untuk pemanasan.
Sekar menghentikan permainannya ketika melihat seorang pemuda berambut hitam panjang dengan tas gitar di punggungnya masuk ke dalam ruangan.
"Hello," sapa pemuda itu pada Sekar.
"Hi," sahut Sekar seraya menyunggingkan senyum ramah.
"Speak German (bisa berbahasa Jerman)?" tanya pemuda itu seraya meletakkan tas gitarnya ke atas sofa dan duduk di hadapan Sekar.
"No," jawab Sekar pendek.
"Sedang menunggu giliran?"
"Ya."
Pemuda kulit putih berwajah manis itu mengangguk-angguk. "Namaku Nicolaus," ujarnya seraya mengulurkan tangan pada Sekar.
"Sekar."
"Kau bersama bandmu?" tanya pemuda yang mengaku bernama Nicolaus itu.
"Ya."
"Kalian datang dari mana?"
"Norwegia."
"Owh, nice (bagus sekali)," ucap Nicolaus. "Gudangnya metal, ya," kekehnya.
"Sepertinya," sahut Sekar. "Kau mau merekam lagu?" tanyanya kemudian.
"Ya. Satu jam lagi. Di ruangan yang itu," jawabnya seraya menunjuk satu pintu yang tertutup rapat. "Aku sedang menunggu temanku."
"Good luck (semoga berhasil)," ucap Sekar memberi semangat.
"Yeah, thanks. Semoga berhasil untukmu juga. Subgenre apa yang kau ambil?"
"Emm ... doom, gothic."
Nicolaus membulatkan kedua mata birunya. "Sangat langka untuk zaman sekarang. Senang sekali ada band yang mau mengusungnya kembali. Apa nama bandmu?"
"Budbringer. Bahasa Norsk, artinya pembawa pesan."
"Okay ...akan kusimpan nama itu di memori otakku," kekeh Nicolaus.
"Kau sendiri? Subgenre apa yang kau ambil?" Sekar balik bertanya.
"Emm ... melodic death metal. Nama bandku, Burial Vault."
"Okay, aku juga akan mengingatnya," sahut Sekar.
Nicolaus tersenyum senang. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke dalam ruangan yang terpisah jendela kaca. "Tunggu!" serunya seraya memegang keningnya. "Pria yang ada di dalam studio, sepertinya wajahnya familiar sekali," ujarnya. Pemuda itu mengamati Einar yang sedang berbicara dengan sound engineer.
"Lord Abaddon," seru Nicolous seraya menjetikkan jarinya. "Aku benar? Dia gitaris Lord Abaddon, bukan?" tanyanya pada Sekar. Gadis itu meringis seraya mengangguk.
"Wow!" pekik Nicolaus kemudian. "Kau personel Lord Abaddon?"
Sekar terbahak. "Bukan. Aku dan Einar punya proyek duo."
"Ya, ya ... Einar, Einar Haugen. Ya Tuhan, aku tidak menyangka dia ada di sini," ujar Nicolaus girang.
"Kau tahu dia?" tanya Sekar.
"Dalam dunia metal, siapa yang tidak kenal Lord Abaddon," jawab Nicolaus seraya duduk di samping Sekar. "Kau sedang mengerjakan proyek duo dengan Einar?"
Sekar mengangguk. "Ya."
"Cool (keren)!"
Saat itu Einar keluar dari dalam studio dan mendapati Sekar yang sedang mengobrol dengan seorang pemuda tak dikenal.
"Sekar, giliranmu sebentar lagi setelah Goran selesai, ya," ujarnya disambut anggukan kepala Sekar.
"Einar!" panggil Nicolaus membuat alis Einar mengerut heran. Pemuda itu berdiri dan menjabat tangannya. Lalu ia kembali duduk di samping Sekar.
"Do I know you (apa aku mengenalmu)?" tanya Einar.
"I'm a fan of yours ( aku penggemarmu)."
Kenapa mereka terlihat akrab?
.
.
"Dari kita keluar studio, kau diam terus, Ein," ucap Sekar yang sedang berbaring tengkurap di samping Einar seraya menumpu dagunya dengan kedua telapak tangan.
"Hmmm ... tidak apa-apa," sahut Einar. Ia tersenyum lalu memandang Sekar sekilas.
"Ada yang aneh sepertinya."
"Apanya yang aneh?"
"Kau, Ein."
Einar terkekeh. "Memangnya aku kenapa?"
"Sepertinya ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranmu."
"Ohya? Apa terlihat jelas?" Einar memicingkan mata dan merubah posisi badannya sama dengan Sekar.
Sekar mengangguk. "Kau marah, ya?" tuduhnya.
"Sedikit."
"Marah kenapa?"
Einar mengedikkan bahu seraya mencebikkan bibirnya. "Entahlah."
Sekar terbahak. "Aku tahu. Kau cemburu pada Nicolaus," tuduh Sekar.
"Owh, sudah saling bertukar nama rupanya," gumam Einar.
Sekar mendecak. "Aku hanya mengobrol."
"Yeah, okay," sahut Einar pendek.
"Ein ...."
"Hmm?"
Sekar mendekatkan wajahnya pada wajah Einar seraya memejamkan matanya. "Kiss me (cium aku)," ucapnya lirih.
Einar menatap Sekar penuh damba. Dengan gerakan pelan ia meraih bahu gadis itu dan memosisikan di bawahnya. Ia mengelus rambut Sekar dan menyentuhkan bibirnya pada bibir tipis itu.
"Kau tahu betapa sulitnya aku menahan diri," bisik Einar di sela-sela pagutan bibirnya.
"Aku tahu."
"Apa yang harus aku lakukan, Sekar?" tanya Einar sembari tangannya menjelajahi tubuh indah gadis itu yang terbalut pakaian tidur.
"Entahlah, Ein," jawab Sekar pasrah. "Aku sudah bilang pada papaku aku mau menikah denganmu."
"Apa jawabannya?"
"Hmmm." Sekar melenguh ketika bibir Einar menelusuri lehernya. "Ayo menikah saja, Ein. Di sini, di Jerman. Kau, aku, dan seorang pendeta."
"Kau mau seperti itu?" Einar mengelus pinggang ramping Sekar dengan sangat lembut. Gadis itu mengangguk.
"Aku tidak ingin terlihat brengsek menikahimu begitu saja tanpa meminta izin orang tuamu."
Sekar menggeleng. "Bukankah persetujuanku saja sudah cukup?" tanyanya. "Aku ingin terikat padamu, Ein."
Perlahan Einar menarik pakaian Sekar turun dari pundaknya. "Kapan?"
"Besok."
Einar mengurungkan niatnya untuk meloloskan pakaian Sekar. "Kalau begitu aku akan menahan diri sebentar lagi untuk menjelajahi tubuhmu," bisiknya seraya menaikkan kembali pakaian Sekar.
"Min kjærlighet (cintaku)," ucap Einar kemudian.
***
***
***
Hello, teman-teman.
Yang punya aplikasi FICTUM, boleh mampir ke novelku di sana ya, judulnya adalah:
Itu dia, Married To Rockstar.
App FICTUM itu gratis, ya, teman-teman, tidak ada sistem buka kunci bab dengan koin.
Sekali lagi, GRATIS.
Hihihihihi.