LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 13. Kau Membuatku Kagum.



NITTEDAL, OSLO.


"Sudah kau kerjakaan PR dariku, Sekar?"


Folke membantu Sekar memasang stand pada keyboard, meletakkan benda persegi panjang bertuts itu di atasnya, lalu menyambung kabel jacknya ke ampli.


Sekar mengangguk sembari meraba tuts tuts pianonya. Ia memandang sekilas pada Einar dari balik badan Folke. Ia tengah berbicara dengan Edvard.


"I wanna listen to it now (aku ingin mendengarnya)," ujar Folke memaksanya mengalihkan perhatian dari Einar.


Sekar membanting jemarinya ke atas tuts dengan keras. Lalu merayap mengacak-acak nada. Berhenti sejenak, lalu memulai lagu Mother North dengan sedikit improvisasi.


Namun, Sekar mengamuk di tengah-tengah lagu. Jemarinya mulai melanglang buana mengembangkan nada, dan kembali lagi ke nada semula. Ia mempercepat tempo lagu namun tidak ada satu pun nada yang terpelesat.


"Du ser denne jenta (kalian lihat gadis ini)?" Folke tercengang sembari menoleh ke arah Einar, Edvard dan Goran yang juga terbelalak mendengar permainan Sekar.


Einar mendekat pada Sekar yang baru saja menyelesaikan lagunya.


"Kau ini ... jenius?" Einar berucap kagum. Lagu sebrutal Mother North mampu diubah oleh gadis itu menjadi lebih brutal, lebih gelap, bahkan hanya dengan keyboardnya saja.


Sekar hanya meringis. Ia puas. Einar mengaguminya. Pemuda itu bahkan terbengong-bengong di hadapannya. Memandangi wajahnya tanpa berkedip.


"Apa isi otakmu?" Einar menyentuh kepala Sekar.


"I'm falling in love with you (aku jatuh cinta padamu), Sekar ... I'm falling in love with you!" seru Folke sembari mengguncang bahu Sekar, membuat Goran dan Edvard terbahak melihat kelakuannya.


"Berapa kali kau mendengarkan lagunya?" tanya Einar.


"Twice (dua kali)," jawab Sekar.


Einar menggeleng. Ia bersusah payah merancang lagu itu, menyendiri di dalam hutan untuk mencari inspirasi selama beberapa hari. Tapi dengan mudahnya Sekar mengacak-acaknya tanpa ampun. Hanya dengan dua kali mendengarkan lagu yang rumit itu.


Indah. Gelap. Beauty in the dark (keindahan dalam kegelapan).


"Denne jenta er min (gadis ini milikku)!" seru Folke sembari menepuk-nepuk dadanya. Namun tidak ada yang menanggapi serius ucapannya.


Einar masih mengamati Sekar yang kini terlihat gugup karena diperhatikan sedemikian rupa olehnya.


"Ikut aku!" Einar meraih tangan Sekar dan membawanya keluar studio. Tak dipedulikannya seruan Folke yang memprotes tindakannya.


Einar membawa Sekar melewati padang rumput luas dan terus masuk ke dalam hutan.


"Ein? Kita mau ke mana?" tanya Sekar. Ia mengikuti langkah Einar menapaki salju tipis di antara pepohonan pinus yang tinggi.


Einar tak menjawab. Ia melompati sebatang pohon tumbang besar yang melintang menghalangi jalan dan membantu Sekar melewatinya.


"Ein ...." panggil Sekar kembali.


"Tempat persembunyian."


Einar terus saja berjalan. Sekar mengikutinya dengan susah payah. Ia belum terbiasa berjalan sejauh ini. Apalagi di tengah hutan seperti ini. Napasnya terengah-engah.


Einar meraih tangan Sekar dan membawanya masuk ke semak-semak rimbun yang cukup tinggi. Setelah melewati semak-semak, mata Sekar terbelalak mendapati pemandangan di hadapannya.


Berdiri sebuah pohon oak putih raksasa dengan akar yang mengular ke segala arah. Pohon itu berdiri sendiri, terpisah dari pohon-pohon lain di hutan ini. Di sekelilingnya tumbuh rumput-rumput pendek yang tertutup salju tipis. Sekar tidak bisa melihat bagian atas pohon itu karena tertutup kabut yang mulai turun.


Mystique.


"Mother North ... Dewi Jörð, Bumi ... dia ada di sini." Einar mengelus batang raksasa itu sembari menempelkan wajah padanya. Matanya terpejam. "Come here, Sekar ... touch this (kemari, sekar ... sentuh ini)."


Sekar melangkah pelan mendekati Einar. Ia menyentuh batang oak seperti yang dititahkan Einar. Pemuda itu menangkap telapak tangan Sekar.


"Feel her (rasakan dia)," bisik Einar.


Sekar memejamkan matanya. Hanya kesunyian yang ia dengar untuk beberapa saat.


Lalu suara angin berhembus, suara rintik hujan bersentuhan dengan tanah, distorsi gitar yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Semakin lama semakin terdengar jelas. Mengamuk, mencabik. Membawa Sekar, entah, dunia yang berkabut. Akar dan dedaunan yang menari dalam harmoni.


Sekar terlempar. Entah energi apa yang membuatnya terombang-ambing. Saling bertautan, melemparnya, menariknya. Ia membuka matanya.


Einar.


Pakaian viking, rambut penuh lumpur, cat mayat hitam putih di wajahnya. Pedang, tameng. Ia berteriak, mengerang, membabat habis apa pun yang ada di hadapannya.


"Vær forsiktig (hati-hati) ... Ex Cathedra ...."


Bisikan lembut namun terdengar seperti rintihan itu seketika membuat Sekar menarik diri dan menjauh dari batang pohon.


"Sekar?"


Sekar mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia merasa seperti baru saja terbangun dari tidurnya.


"Ein ... did I fall asleep (apa aku tadi tertidur)?" tanya Sekar. Einar yang tengah duduk menyandarkan punggungnya ke batang pohon memandang Sekar keheranan.


"Ya, kau tertidur." Einar mengerenyitkan keningnya. "Duduk di sini ...." Einar menepuk-nepuk tempat datar di sampingnya.


Sekar melangkah mendekati Einar. Ia memandang ke sekelilingnya. Kabut tebal telah menghilang. Puncak pohon kini terlihat jelas. Tinggi menjulang.


"Tadi aku sedang menceritakan padamu bagaimana lagu Mother Earth aku rancang. Kau malah tertidur," kekehnya.


"Sorry," ucap Sekar. Ia merasa bersalah.


"Dewi Jörð?" tanya Sekar.


Einar menoleh pada Sekar. "Dari mana kau tahu?"


"Kau yang mengatakannya."


"Aku?"


Sekar mengangguk. Sementara Einar menyipitkan matanya memandang Sekar penuh keheranan.


"Emm ... mungkin aku pernah membacanya di sebuah buku." Sekar meralat ucapannya. Ia pun sebenarnya merasa heran pada dirinya sendiri.


Einar mencebikkan bibirnya. Lalu ia pun mengangguk-angguk. "Aku suka sekali kau mengacak-acak Mother North," ucapnya. "Tepat sasaran ... benar-benar mengagumkan," pujinya.


Sekar meringis.


Aku mengacak-acak lagu itu karena aku kesal melihatmu berpelukan dengan Anna.


"Ein ...."


"Ya?"


"Apa arti kata Vær forsiktig?" tanya Sekar. Kata-kata itu terdengar aneh dalam aksen gadis itu.


"You mean "vær forsktig" ...?" Einar meluruskan pelafalan Sekar.


Sekar mengangguk. "Apa artinya?"


"Hati-hati," jawab Einar.


"Hati-hati ...." Sekar menggumam. Mengulang kata-kata Einar. "Ex Cathedra ...." Ia berbisik.


"What did you say (kau bilang apa)?"


Sekar menggeleng. "Bukan apa-apa." Ia mengambil ponsel di saku mantelnya. Tidak ada sinyal. Namun, jam telah menunjukkan pukul lima sore.


"Kita kembali ke pondok?" tawar Einar. Disambut oleh anggukan kepala Sekar.


Sepanjang perjalanan ke tepian hutan, benak Sekar dihinggapi rasa penasaran tentang makna kata-kata yang didengarnya dalam mimpi itu. Ia tidak sabar untuk segera mencari tahu apa artinya.


Ia adalah seorang pemikir. Jika ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya, ia harus tahu jawabannya.


"Hei, kau membawa Sekar ke mana? Sialan kau, Ein!" Folke langsung saja memberondong pertanyaan dan makian begitu melihat Einar dan Sekar memasuki ruang tengah pondok. Ia menatap Einar penuh selidik.


Einar terbahak sembari meraih kunci motornya yang tergeletak di atas meja. "Aku akan mengantar Sekar pulang," ujarnya seraya melambai pada Goran dan Edvard. Kepada Folke, ia menyeringai.


Sekar berpamitan pada tiga pemuda yang tengah berkutat dengan botol alkoholnya itu dan mengikuti Einar keluar pondok.


"Kau mau aku mengantarmu ke mana?" tanya Einar dalam perjalanan mereka.


"Rumah."


"Okay."


Hening menemani perjalanan pulang mereka. Hingga memasuki area Frogner yang lengang, tak satu obrolan pun yang lolos dari mulut mereka.


"Thanks, Ein." Sekar menyerahkan helm pada Einar. Ia memperbaiki posisi tas keyboard di punggungnya yang miring.


"See you, Sekar," ucap Einar sembari merogoh ponsel di sakunya yang berdering. "Ja, Anna? Er du ok? Jeg er der om et øyeblikk (ya, Anna? kau baik-baik saja? Aku akan ke sana sebentar lagi)."


Senyuman Sekar hilang seketika begitu nama Anna terucap dari bibir Einar. Ia yang hendak menunggu Einar hingga pemuda itu melajukan motornya, segera saja berbalik dan membuka pintu gerbang rumahnya lalu melangkah masuk dengan hati bergemuruh.


Ia tak menoleh sama sekali ketika mendengar Einar menghidupkan mesin motornya dan berlalu.


"Lah, si Non kok udah pulang? Baru aja Bapak mau njemput ini." Pak Karso muncul dari balik pintu dan berpapasan dengannya. "Jadi Non pulang sama siapa?" tanyanya.


"Temen." Sekar menjawab pendek. Ia masuk ke dalam rumah tanpa memedulikan Pak Karso yang tampak keheranan.


Melewati ruang keluarga pun ia hanya melambai kecil pada Mama dan Papa yang tengah bersantai di sana.


"Loh, udah pulang, Se? Pak Karso baru mau jemput? Pulang sama siapa, Se? Naik T-Bannen?" Mama memberondongnya dengan banyak pertanyaan.


"Iya ...."


"Gimana sih, Se ... Mama kan udah bilang jangan naik T-Bannen ... kalau ada apa-apa gimana ... kamu ini, dibilangin nggak ...."


"Ma ...." Suara Papa terdengar menghentikan omelan Mama.


Sekar melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju kamarnya. Ia membuka pintu kamar pelan. Langkahnya gontai menuju ranjangnya.


Ia meletakkan tas keyboard di punggungnya ke lantai. Lalu menghambur ke atas ranjang. Ia mengambil bantal dan menutup kepalanya.


Aku benci Anna!


***


***


***