LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 49. Church.



FROGNER, OSLO.


Ketika Einar mengantar Sekar pulang, Papa dan Mama belum tiba di rumah. Namun karena Einar ada acara dengan Lord Abaddon, pemuda itu langsung berpamitan. Tentunya setelah membujuk dan memberi pelukan panjang pada Sekar yang merajuk memintanya untuk tinggal beberapa lama.


Kini Sekar ada di dalam kamarnya, membuka laptop dan memperhatikan layar dengan pikiran melayang pada pria tua yang ia temui semalam di Nittedal.


Pria itu berpakaian seperti cassock, pakaian panjang warna hitam yang dikenakan oleh pendeta Kristen, anggota paduan suara gereja, pembantunya, dan orang lain yang memiliki beberapa jabatan atau peran tertentu di gereja, lengkap dengan penutup kepala a la zaman medieval Eropa.


Entah kenapa, saat ini pikiran Sekar hanya tertuju pada gereja cathedral Oslo, meskipun ia tidak tahu letak gereja itu di mana. Jemarinya bergerak merayap di atas keyboard laptopnya dan mengetikkan tiga kata.


Gereja Cathedral Oslo.


Layar menampilkan foto-foto gereja dengan bangunan a la abad pertengahan dengan dominan warna merah bata. Gereja itu dibangun pada tahun 1600an di akhir era renaissance.


Sekilas tidak ada yang aneh dengan foto-foto itu. Namun, pada salah satu foto, matanya menangkap sebuah simbol kecil di bagian atas menara, sebuah segitiga kecil dengan gambar satu mata di dalamnya.


"Hmmm ...." Sekar bergumam. Ia adalah pelahap buku sejarah dan buku teori konspirasi. Tentu saja ia tahu simbol apa itu.


Illuminati.


"Damn (sial)!" umpatnya. "Aku pernah baca. Semoga bukunya kebawa ke sini." Sekar beranjak dari ranjangnya, lalu membuka lemari kecil yang ia khususkan untuk buku-buku yang dibawanya dari Indonesia.


Ia membaca satu persatu judul buku yang tertata rapi di rak lemari. Ketika menemukan satu buku yang ia cari, ia segera mengambilnya dan kembali ke atas ranjang.


Kaum Zionist Dan Perjalanan Mereka Menuju Tanah Terpilih.


Ia mulai mencari-cari halaman di mana terdapat simbol segitiga dan gambar satu mata di dalamnya.


"Kenapa ada simbol ini di gereja katholik, ya?" Sekar mengelus dagunya. Ia sedang berpikir keras. Ia membaca beberapa kalimat di dalam buku, berharap mendapat sebuah petunjuk. "Ini kan simbol Illuminati."


Illuminati, sebuah gerakan bertujuan membajak dunia. Erat hubungannya dengan Zionisme dan Yahudi.


Berangkat dari Eropa timur, dipelopori oleh Vladimir Jabotinsky, seorang tokoh Zionist Revisionis yang berasal dari Rusia.


Mereka menggunakan ayat-ayat dalam Injil untuk misi mereka.


Pembajakan dunia, melakukan segala cara demi tercapainya The New World Order, sebagai misi dalam perjalanan mereka menuju bukit Sion di Yarusalem.


Mengacaukan dunia agar hari akhir segera datang. Kaum Zionist menanti datangnya Sang Wakil Tuhan yaitu Dajjal, Raja bermata satu yang mereka yakini akan menguasai lautan dan daratan.


Maka dunia akan berada dalam genggaman mereka.


"Ini dia ... teoriku benar, gereja cathedral ada di bawah kendali," ujar Sekar. "Yahudi Zionist," lanjutnya.


Sekar yakin, antek-antek mereka akan terus melakukan kekacauan di negara-negara Eropa. Termasuk Norway. Pemilihan umum akan dilangsungkan tahun depan. Dan mereka sedang mempersiapkan segala tipu daya untuk menyetir para politikus agar sejalan dengan agenda mereka.


"Mereka yang Satanic, benar-benar satanic," ucapnya seraya menggeleng pelan.


"Melakukan segala cara untuk mencapai tujuan. Fitnah, kerusuhan, bahkan menjadikan kaum mereka sendiri korban." Sekar membaca deretan kalimat di dalam buku tentang bagaimana sepak terjang kaum Zionist ini dari masa ke masa.


Adalah pada masa perang dunia II, mereka memanfaatkan kekejaman Hitler untuk membantai kaum Yahudi, kaum mereka sendiri, dalam peristiwa Holocaust pada tahun 1939 di Polandia dan negara-negara Uni Soviet. Tujuannya adalah, mengambil simpati dunia, agar kaum Yahudi mendapatkan free pass untuk melakukan apa pun di masa datang, karena dunia merasa bersalah atas peristiwa pembantaian di masa perang dunia II itu.


Yang terpenting adalah, ketika waktunya tiba mereka berkumpul di tanah Israel, tanah yang terpilih, para petinggi dunia tidak akan protes meskipun mereka merebut wilayah-wilayah Palestina dan membantai penduduknya.


Sekar menghela napas dalam-dalam. "Rumit banget," keluhnya.


Ingatannya kembali pada pria tua yang ditemuinya di Nittedal. Pria itu mengatakan bahwa Sekar adalah seorang pembawa pesan. Ia tidak mengerti maksud pria tua itu. Pesan apa?


Mungkinkah roh bumi yang menjadikannya seorang pembawa pesan untuk memperingatkan manusia yang masih percaya dengan kekuatan Mother Nature, akan adanya ancaman dari manusia-manusia serakah yang telah berubah menjadi Iblis?


***


Sore itu setelah pulang sekolah, Einar menelpon Sekar dan mengajaknya ke sebuah studio rekaman di tengah kota Oslo. Tentu saja Sekar harus melalui perdebatan panjang degan Mama yang berusaha sekuat tenaga mencegahnya untuk pergi. Akhirnya Papa turun tangan dan mengizinkan asal berangkat dan pulangnya diantar dan dijemput oleh Pak Karso.


"Aku bukannya mau pacaran, Ma ... aku mau produksi lagu!" Begitu yang ia katakan pada Mama ketika ibunya itu menuduhnya macam-macam.


"Jam berapa nanti dijemputnya, Non?" tanya Pak Karso ketika Sekar hendak turun dari mobil.


"Nanti aku kabari," jawab Sekar seraya membuka pintu mobil dan menghambur keluar.


Ia memperhatikan papan nama di atas pintu sebuah bangunan yang diapit oleh pertokoan di sisi kanan dan kirinya.


Norfolk Music Studio. Begitu tulisan yang ia baca di atas papan nama. Ia melenggang masuk melalui pintu kaca dan mendapati Einar sedang duduk di ruang tunggu.


"Ein!" panggilnya.


"Hei, Baby," sapa Einar seraya membalas kecupan Sekar di bibirnya.


Ternyata Einar tidak sendiri. Ia sedang bersama dengan seorang pria berjenggot yang duduk tidak jauh darinya. Sekar yang sejak datang tidak menyadari kehadirannya tersipu malu ketika pria itu tersenyum melihat perlakuannya pada Einar.


"Perkenalkan, Sekar ... ini Daniel, temanku. Dia yang punya studio ini."


"Hi, Daniel," sapa Sekar seraya menjabat tangan pria yang dipanggil Daniel itu.


"Einar bercerita banyak tentangmu. Kau pianis yang sangat berbakat," ujar Daniel membuat Sekar tersenyum kikuk.


"Membentuk group musik dengan pacar sendiri itu ide yang sangat bagus. Menyatukan hati, pikiran, dan jiwa. Hasilnya pasti luar biasa," kata Daniel.


"Aku sudah memperdengarkan pada Daniel contoh lagu kita. Dan dia sangat terkesan." Kini Einar yang berbicara.


Daniel mengangguk menyetujui ucapan Einar. "Gothic Doom sudah lama tidak terdengar. Band-band bergenre itu sukses di tahun 90an, tapi banyak dari mereka yang tidak produktif lagi."


"Tapi lagu kalian, benar-benar akan menjadi warna di dunia musik metal. Aku yakin, semua yang rindu dengan kehadiaran Gothic Doom akan memburu kalian," kekeh Daniel kemudian.


Einar dan Sekar saling melempar pandang dan tersenyum. Telapak tangan mereka saling menggenggam.


"Einar ini gitaris yang jenius kalau aku bisa bilang. Semua lagu Lord Abaddon direkam di sini. Dan dia selalu membuatku tercengang dengan aransemennya yang ... bagaimana, ya, aku menjelaskannya?" Daniel berpikir keras mencari kata-kata yang tepat. "Emm ... tak terduga. Ya, tak terduga. Tidak terpikirkan oleh gitaris mana pun."


Einar terbahak mendengar pujian Daniel. "Jangan terlalu memujiku," protesnya.


"Jeg snakker sant (aku mengatakan yang sebenarnya)."


"Ok, skal vi begynne nå (bisa kita mulai sekarang?" tanya Einar.


"Ja (ya)." Daniel menyahut seraya beranjak dari duduknya. Lalu mengajak Einar dan Sekar masuk ke sebuah ruangan yang terbagi menjadi dua. Satu untuk ruang kontrol dan satu lagi untuk mengambil vocal dan juga instrumen.


Dari ruangan inilah, perjalanan karir musik Einar dan Sekar dimulai.


***


***


***