
JAKARTA, INDONESIA.
Papa menggenggam tangan Mama dengan erat. Sementara telinganya mendengarkan dengan seksama perkataan pria berbaju putih yang duduk di seberang meja di ruangan bercat krem berdesain minimalis itu.
"Sekar sudah jauh lebih baik, Pak Prayoga."
Kalimat yang diucapkan pria berbaju putih itu membuat hati Papa menghangat. Ia tersenyum seraya menoleh pada Mama yang juga sedang menyunggingkan senyumnya.
"Sindrom katatonianya pun sudah jarang sekali terjadi."
"Dalam dua tahun ini kami banyak melakukan terapi untuk Sekar."
"Penderita Skizofrenia hebrefenik biasanya yang paling susah untuk disembuhkan. Tapi, Sekar benar-benar mengejutkan saya, Pak Prayoga."
Papa menghela napasnya dengan lega. "Tapi, apa ada kemungkinan Sekar akan kambuh lagi?"
"Kemungkinan pasti ada. Saya akan mengatur jadwal terapi untuk Sekar. Tapi, dia tidak perlu tinggal di sini lagi. Bapak dan Ibu Prayoga bisa membawanya pulang."
Mama merangkul bahu Papa penuh haru. Air mata wanita paruh baya itu akhirnya tumpah. Ini hari yang mereka tunggu-tunggu. Akhirnya keduanya bisa membawa puteri semata wayang mereka pulang, setelah dua tahun lamanya Sekar tinggal di pusat rehabilitasi khusus penderita skizofrenia akut.
"Sekar mau jalan-jalan?" tanya Mama pada Sekar sore itu.
Sekar hanya menggeleng pelan. Ia duduk termangu di balkon kamarnya memandang ke depan dengan tatapan kosong.
"Ma ...." Sekar berucap lirih.
"Apa, Sayang?"
"Sekarang tanggal berapa?" tanya Sekar seraya menatap Mama. Pandangannya tidak lagi kosong. Ada harapan di sana, dan juga kecemasan.
"Tanggal 15 oktober. Kenapa, Se?" Mama mengerutkan dahinya heran.
"Boleh minta sesuatu, Ma?"
"Boleh, dong. Apa itu?"
"Liburan."
Bibir Mama mencebik. "Kamu pingin ke mana?"
"Oslo ...."
Mama kembali mengerutkan dahinya. "Kamu pingin liburan ke Oslo?"
Sekar mengangguk. "Boleh, kan, Ma?"
"Ya boleh-boleh aja, Se. Tapi kenapa Oslo? Nggak ke Paris atau Venezia aja, gitu? Lebih seru," kekeh Mama.
"Nggak tahu, aku pinginnya ke Oslo," ujar Sekar. "Mama bisa urus visa secepatnya, nggak? Aku pingin tanggal 2 november udah ada di sana."
"Entar Mama bilang sama Papa dulu, ya."
Sekar mengangguk dengan senyum tersungging di bibirnya. Wajahnya yang biasanya pucat kini lebih terlihat merona. Matanya yang biasanya sayu pun kini tampak berbinar.
Oslo. Sekar belum pernah menginjakkan kaki di sana. Namun selama dua tahun tinggal di tempat rehabilitasi, nama kota di belahan Eropa utara itu sering muncul di benaknya. Seperti ada sesuatu yang menunggunya di sana.
Sekar seorang penderita skizofrenia akut yang sulit membedakan antara halusinasi dan kenyataan. Dan selama ini ia berjuang keras untuk selalu bertahan dalam dunia nyata. Meskipun terkadang halusinasi yang tercipta di dalam kepalanya terlihat begitu nyata.
Merindukan sebuah tempat yang belum pernah dikunjungi. Atau seseorang yang belum pernah ditemui. Atau masa-masa indah yang belum pernah dilalui. Sekar bertanya-tanya dalam hati, apakah semua itu hanya archetype belaka?
Jangan pernah lupakan aku.
Siapa kau yang tidak boleh aku lupakan?
***
OSLO, NORWAY.
Sekar menginjakkan kaki di kota yang tampak begitu akrab dengan jiwanya. Dengan mobil sewaan, Papa dan Mama menemaninya menyusuri setiap sudut kota yang terkenal dengan udaranya yang bersih.
Frogner, sebuah area elite yang pertama Sekar lintasi setelah keluar dari hotel tempat ia dan kedua orang tuanya menginap. Dari dalam mobil yang melaju pelan, matanya menatap sebuah rumah lantai satu bercat putih dengan halaman luas yang sudah terbengkalai. Rumput liar tumbuh dengan lebat di depan rumah itu. Sepertinya sudah bertahun-tahun rumah besar itu tidak ditinggali.
Grønland, area padat penduduk di tengah Oslo yang menarik perhatiannya. Tak henti-hentinya ia menatap sebuah gedung apartemen berharap seseorang muncul dari balik pintu utama.
Nittedal, sebuah daerah di pinggiran Oslo yang memutih diselimuti salju. Tidak ada apa-apa di sana. Sejauh mata memandang, hanya ada padang rumput yang terhampar menyejukkan mata.
Bekkestua, Sekar melihat sekelebat bayangan seorang gadis yang berjalan keluar dari gerbang sekolah menghampiri seorang pemuda berambut panjang yang sedang menunggu di atas motor skuternya. Hanya beberapa saat saja sebelum akhirnya bayangan keduanya menghilang.
"Masih mau jalan-jalan, Se?" tanya Mama ketika mobil yang dikemudikan Papa mengarah masuk kembali ke Oslo.
Sekar menggeleng. Hari ini ia mengalami deja vu yang cukup parah, sehingga membuat badannya terasa begitu lelah.
"Besok mau ke toko musik," ujar Sekar begitu mereka sampai di dalam hotel. "Mama sama Papa nggak usah nemenin, ya ... kayaknya aku pingin jalan-jalan sendiri."
"Jalan-jalan sendiri?" tanya Mama heran.
"Iya, Ma ... boleh, ya," ujar Sekar setengah merengek.
"Tapi kamu belum tahu seluk-beluk kota ini, Se,'' ucap Mama cemas.
"Nggak papa, Ma ... lagian aku cuma ke toko musik, yang dekat-dekat sini aja."
Mama pun akhirnya terpaksa menyetujui. Wanita itu ingat pesan dokter di Jakarta yang menangani Sekar, bahwa ia harus selalu menjaga mood gadis itu agar selalu stabil.
Keesokan harinya, Sekar menaiki taksi mencari sebuah toko musik yang tidak terlalu jauh dari hotel tempatnya menginap.
"4sound Kongens Gate?" tanya sopir taksi membuat Sekar yang sedang memperhatikan gedung-gedung di sepanjang jalan terkesiap.
"Sorry?" tanya Sekar.
"The music store you're searching for (toko musik yang sedang kau cari)," jawab supir taksi dengan logat Norwegiannya yang kental.
"Sudah punya tiketnya?" tanya sopir taksi kembali.
"Tiket?" Sekar mengerutkan keningnya.
"Tiket untuk bertemu Lord Abaddon."
Sekar semakin tidak mengerti arah pembicaraan sopir taksi yang aneh. Ia pun akhirnya hanya diam saja hingga pria itu menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan berpapan nama 4sound Kongens Gate yang ramai oleh orang-orang yang sedang mengantri masuk.
"Sudah sampai," ucap sopir taksi.
"Ini toko musiknya?" tanya Sekar.
"Ya ... aku sudah beberapa kali mengantar orang ke sini sejak pagi tadi."
"Kenapa ramai sekali?" gumam Sekar.
"Kau penggemar Lord Abaddon, bukan?"
Dada Sekar tiba-tiba berdebar kencang. Ia merasakan ada energi kuat yang menariknya keluar dari dalam taksi menuju kerumunan orang-orang yang sedang mengantri. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak muda dengan dandanan ekstrim seperti sedang menghadiri festival metal atau gothic.
Sekar menyelinap dalam antrian seraya memandangi poster-poster yang terpajang di halaman toko. Poster-poster bertuliskan nama Lord Abaddon.
"Jeg gleder meg til å møte Einar (aku tidak sabar untuk bertemu Einar)."
Sekar menoleh ke arah suara seorang gadis yang terdengar begitu girang. Ada dua orang gadis yang tengah mengantri di belakangnya. Mereka berbicara dengan bahasa Norwegia, namun Sekar bisa menangkap satu nama yang membuat hatinya tiba-tiba berdebar dengan kencang.
Einar.
Jangan pernah lupakan aku.
Sekar mengerutkan keningnya. Ia mendekati kedua gadis yang sedang mengobrol itu. "Who is Einar (siapa Einar)?"
Kedua gadis itu saling pandang dan tertawa sejurus kemudian. "Why are you here (kenapa kau ada di sini)?" tanya salah seorang di antara mereka dengan wajah heran.
"I don't know. I have to be here, it's 2nd November (aku tidak tahu, aku harus berada di sini, ini tanggal 2 november)," jawab Sekar.
"Begitu juga kami dan semua orang yang mengantri di sini. Karena hari ini tanggal 2 november dan kami semua ingin bertemu Einar dan Lord Abaddon yang ada di dalam sana."
Mata Sekar mengikuti gerakan tangan gadis itu yang menunjuk ke arah pintu toko yang dijaga oleh dua orang bodyguard bertubuh besar.
Sekar tidak bisa menahan kedua kakinya untuk melangkah ke arah pintu masuk toko itu hingga seseorang memanggilnya untuk berhenti.
"Ticket, please!"
"Einar invited me personally (Einar mengundangku secara personal)." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Sekar.
Pria yang meminta tiket masuk pada Sekar itu tertawa. "Itu yang dikatakan semua orang yang sedang mengantri di sini, Nona. Tolong tiketnya."
"Dia bersama kami."
Sekar membalikkan badannya dan mendapati dua orang gadis berpakaian tradisional Norwegia sedang tersenyum padanya.
"Silahkan, Nona Liana, Nona Cassandra," ucap pria itu mempersilahkan dua orang gadis cantik itu untuk masuk.
"Ayo masuk," ajak salah satu dari dua gadis itu pada Sekar. "Einar sudah menunggumu," bisiknya kemudian.
Sekar mengikuti langkah kedua gadis itu masuk ke dalam toko yang juga penuh dengan orang-orang yang sedang mengantri.
Matanya tertuju pada empat pemuda berambut panjang yang duduk di belakang meja, melayani satu persatu orang-orang yang meminta tanda tangan, berfoto dan berbicara.
Lord Abaddon.
Einar.
Jangan pernah lupakan aku.
Dia yang duduk di tengah, berambut cokelat terang dan bermata hazel, dengan rahang yang kokoh dan senyum yang begitu manis.
Sayatan gitar canon D mengalun indah mengiringi pertemuan sepasang mata hazel dan mata cokelat Sekar.
Hening.
Dunia seakan berhenti untuk beberapa saat.
"Hi, Budbringer (si pembawa pesan) ... you're here at last (akhirnya kau ada di sini)."
"Einar ...." Bibir Sekar bergerak mengucapkan satu nama itu.
Einar mengulurkan tangannya seraya tersenyum. Sekar menyambut uluran tangan Einar tanpa ragu.
Aku menunggumu sejak lama. Ini bukan lagi duniamu saja, Sekar. Jangan pernah bertanya-tanya apakah ini nyata atau halusinasi. Kau tidak akan pernah tahu itu.
Langit yang selalu kau anggap berwarna biru saja hanya tipuan yang tertangkap oleh retinamu.
Aku nyata atau tidak, aku adalah bagian dari kepingan retak alam semesta.
Dan alam semesta adalah dirimu.
As above so below, as within so without, as the universe so the soul ....
***
Dan cerita Einar-Sekar berakhir di sini. Sampai jumpa di cerita-cerita selanjutnya.
Ada Bad Boy Of Manhattan yang masih dalam tahap revisi, silahkan difavoritkan dulu, ya ... bacanya nanti-nanti aja 😁
Terimakasih.