LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 16. Be My Guitar Teacher.



NITTEDAL, OSLO.


"Ein!"


Folke menepuk pundak Einar yang tengah berkutat dengan gitar di tangannya. Ia bahkan tak menyahut panggilan Folke karena sibuk mengutak-atik efek gitar yang dirasanya belum sesuai dengan keiinginannya.


"Ein!" seru Folke kembali di sela-sela suara distorsi gitar Einar yang menggema ke seluruh ruang studio.


"Hva (apa)?" sahut Einar tanpa menoleh pada Folke.


"Kau tidak mengajak Sekar ke sini?" tanya Folke.


"Kenapa memangnya?" Einar menyelipkan pick gitar ke bibirnya sembari memutar tuning page gitarnya untuk membenahi nada yang menurun.


"Aku rindu," kekeh Folke yang langsung disambut oleh pukulan di ujung kepalanya oleh Einar.


"Jangan macam-macam kau, Breng sek!" maki Einar. Tawa Folke pun pecah.


"Hvorfor (kenapa)?"


"Aku sudah bilang dia masih SMA, cari saja wanita seumuranmu, Kepa rat!"


"Apalah arti umur," kekeh Folke sembari melenggang keluar dari studio.


"Berani macam-macam pada Sekar, kuhajar kau!" ancam Einar.


"Uuuwh ... aku takut sekali, Ein!" seru Folke dari balik pintu diikuti dengan tawanya yang membahana. Einar hanya bisa menggelengkan kepalanya. Lalu kembali menyibukkan diri dengan gitarnya.


Ia baru berhenti mencabik-cabik gitarnya ketika ponsel di saku celananya bergetar.


Ein, bisa aku belajar gitar denganmu?


Ia membaca pesan dari Sekar di layar ponselnya. Bibirnya mencebik. Belajar gitar? Tiba-tiba sekali. Ada apa dengan bocah itu?


Ia putuskan untuk menelpon saja gadis itu.


"Ein!" seru Sekar dari seberang, hanya selang beberapa detik saja sejak dering telpon terdengar.


"What do you mean you wanna learn guitar (apa maksudmu ingin belajar gitar)?" Einar terkekeh.


"Bisa kita bertemu saja untuk membicarakan ini?"


Einar mengangguk-angguk. "Okay ... when (kapan)?"


"Besok, jam 2 siang. Aku yang tentukan tempatnya."


Einar tersenyum simpul begitu Sekar menutup telponnya tanpa memberinya waktu untuk mengiyakan. Ia meletakkan ponselnya di lantai dan kembali berkutat dengan gitarnya.


.


.


OIS, BEKKESTUA, OSLO.


Guru Bahasa Norsk berambut pirang dan bertubuh tambun itu, Miss Freya Pedersen, menerangkan beberapa grammar yang ia tulis di atas papan tulis putih.


Mata Sekar memperhatikan gerak-gerik wanita paruh baya itu, namun otaknya sibuk melanglang buana memikirkan tempat di mana ia akan menemui Einar. Semalam ia telah mencari di internet tempat-tempat enak yang bisa menjadi pilihan untuk berkencan. Berkencan? Sekar tertawa dalam hati. Ya, anggap saja begitu.


"Sekar, bisa kau beri contoh satu kalimat menggunakan verb yang telah kutulis di sini?"


Suara Miss Freya membuyarkan lamunannya. Sekar melihat wanita itu mengetuk-ngetukkan ujung board marker ke atas kata kerja yang ia tulis di sana.


Otak Sekar yang sempat menampung penjelasan dari Miss Freya sekilas segera saja merangkai sebuah kalimat.


"Hun løp tilbake for å gi meg meg blyanten min (dia(perempuan) menghampiriku untuk mengembalikan pensilku)."


"Hyggelig (bagus)," puji Miss Freya. "Ada yang bisa memberi contoh lain ...."


Sekar mengalihkan perhatiannya pada Adam di kursi sebelahnya, yang ia tahu, sejak tadi memandangnya dengan tersenyum-senyum. Ia memutar bola matanya jengah. Lalu mengacuhkan pemuda bermata sipit itu. Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Lima belas menit lagi kelas akan berakhir.


Ia menunggu detik demi detik berlalu. Hingga akhirnya, Miss Freya mengakhiri kelas Bahasa Norsknya dengan memberi Pekerjaan Rumah yang cukup banyak.


Sekar merapikan buku-bukunya yang tercecer di atas meja, memasukkannya ke dalam tas selempangnya, lalu segera beranjak meninggalkan kelas, diikuti Adam yang mengekor di belakangnya.


"Se, mau pulang bareng, nggak?" Adam mengimbangi langkah Sekar keluar dari gedung sekolah.


"Nggak, aku dijemput," sahut Sekar sembari mencari sosok Einar di balik gerbang. Namun ia belum tampak ada di sana.


"Sopir?"


"Bukan." Senyum Sekar terbit ketika melihat Einar muncul dengan motor skuternya. Ia segera menghampiri dan menerima helm yang disodorkan oleh pemuda itu.


Sementara Adam memandang keduanya dengan wajah cemberut.


"Is that your boyfriend (itu pacarmu)?" goda Einar begitu Sekar telah naik di belakangnya.


"No way (jangan sampai)!" sergah Sekar sembari mengaitkan tangannya ke perut Einar.


"Kau mau kemana?" tanya Einar sembari melajukan motornya pelan-pelan.


"Makan siang di Klosteret ... sambil mengobrol. Kau tau tempatnya, kan?"


Einar mendecak. " Fredensborgveien ... jauh sekali, Sekar. Aku cuma punya waktu satu setengah jam. Aku harus kembali bekerja."


"Kalau begitu kita makan siang di dekat tempat kerjamu saja, Ein."


"Okay, Princess (baiklah, tuan puteri)."


Rasa ingin memiliki pemuda dalam dekapannya ini begitu besar.


He's the one (dialah orangnya).


Jika saat ini Einar tengah menunggangi kudanya, menembus belantara yang berkabut, melindunginya dari energi jahat dengan pedangnya, dan membawanya ke negeri antah berantah, ia rela.


"Sekar, makan siang di sini saja, ya?" Einar menghentikan motornya di depan sebuah restauran dengan papan nama Gazakjøkken.


Ia menoleh ke belakang ketika tak ada jawaban apa pun dari Sekar. Gadis itu masih menempel di punggungnya. Memejamkan matanya, tertidur.


"Sekar ...." Einar mengusap lengan Sekar yang masih melingkar di perutnya. "Hei, kita sudah sampai."


"Hmm?" Sekar membuka matanya. Lalu memandang ke sekelilingnya. Ia dengan canggung melepaskan pelukannya di punggung Einar.


Ia segera menuruni motor dan melepas helmnya. "Di sini?" Sekar melempar pandang ke seberang jalan. Hell's Kitchen, restauran tempat Einar bekerja ada di sana. Lalu toko bunga di sampingnya.


Sekar mengikuti Einar masuk ke dalam restauran. Duduk di meja dekat jendela seraya menunggu Einar memesan makanan.


"Kjottboller ... sudah pernah mencobanya?" tanya Einar sembari meletakkan dua piring penuh isi makanan. Seorang pelayan mengantarkan dua gelas minuman berwarna jingga.


Sekar menimpali Einar dengan gelengan kepala sembari mengamati piring di depannya yang berisi kentang tumbuk dan bola-bola daging yang ditaburi parsley.


"Minuman apa ini?" tanya Sekar sembari mengalihkan pandangannya pada gelas panjang di depannya.


"Mjød ... honey wine, fermentasi madu." Einar menyahut sembari menyuapi dirinya dengan sesendok kentang tumbuk.


"Det er så velsmakende (ini enak sekali)," gumam Sekar sembari mengunyah bola-bola dagingnya. Einar terkekeh mendengar aksen norsk Sekar yang terdengar lucu.


"Jadi, kau serius mau belajar gitar denganku?"


Sekar mengangguk mantap. "Everyday. I'll pay you (setiap hari. Aku akan membayarmu)."


Einar terbahak. "Setiap hari? Kau yakin?"


"Ja (ya).


"Kenapa tiba-tiba ingin belajar gitar?"


Karena aku ingin bertemu denganmu setiap hari. "Ingin saja," sahut Sekar dengan entengnya.


"Baiklah. Setiap jam lima sore. Di mana?"


"Di rumahmu."


Einar terbahak. "Kenapa di rumahku?"


"Ingin saja."


Kembali Einar terbahak. Lalu ia menggelengkan kepala pelan. Gadis ini sungguh random.


"Okay," cebik Einar.


Sekar tersenyum puas. Ia lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Suasana lengang. Hanya ada beberapa pengunjung restauran yang tengah menikmati makan siang mereka.


Seorang wanita cantik yang tengah berdiri di belakang meja kasir tersenyum padanya. Sekar terkesiap. Wanita itu memakai gaun hijau yang dihiasi tanaman merambat. Bermahkota bunga dan memegang ranting pohon yang panjang.


"Komme (datanglah) ...." Wanita itu berbisik sembari mengulurkan tangan pada Sekar.


"Hah?" Sekar mendorong kursinya ke belakang. Gerakannya membuat dua gelas di atas meja hampir saja roboh, kalau saja Einar tidak sigap menahannya.


"Kau kenapa?" tanya Einar keheranan.


Sekar tampak kebingungan. Ia seperti baru saja terlelap untuk beberapa detik. Ia memandang kembali ke arah meja kasir. Hanya ada seorang wanita dengan seragam merah hitam yang tengah melayani dua orang pengunjung.


"Are you okay (kau baik-baik saja)?"


Sekar termangu. Otaknya yang biasanya encer tiba-tiba buntu. Ia berpikir keras apa barusan ia terlelap sesaat dan bermimpi? Matanya masih terasa berat layaknya orang yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Ia meraih gelas mjødnya dan meneguknya perlahan. Minuman berkadar alkohol ringan itu melewati tenggorokannya dengan mulus.


"Hei, kau terlihat aneh, kau tahu?" ujar Einar sembari memperhatikan wajah tegang Sekar.


Sekar menatap Einar lekat-lekat. "Temani aku ke perpustakaan."


"Hah?"


"Yang tertua di Oslo."


"Sekarang? Aku tidak bisa, Sekar. Aku sudah bilang aku hanya punya waktu satu setengah jam."


"Besok."


"Okay ... sebelum kelas gitar?" tanya Einar yang masih terlihat keheranan. Gadis aneh. Terkadang pendiam, terkadang sibuk dengan dunianya sendiri, terkadang marah tanpa alasan dan merajuk, tapi terkadang menggemaskan.


Dan saat ini, Sekar terlihat seperti tengah berada di dunianya sendiri.


"Deal!"


***


***


***