
Sekar pulangnya naik taksi ya, Pak Karso mau nganter Mama sama Papa ada urusan di luar kota.
Sekar tersenyum gembira membaca pesan dari Mama. Ia berdiri di depan gerbang sekolah sembari menunggu taksi melintas.
Taksi loh, Se, jangan T-Bannen.
Pesan dari Mama kembali masuk ke layar ponselnya. Bibirnya mencebik. Lalu tangannya melambai pada sebuah taksi yang akan segera lewat di depannya.
"Youngstorget, Sir," ujarnya menjawab sopir taksi yang menanyakan kemana tujuannya.
Sekar menyandarkan kepalanya ke kursi mobil sembari matanya memandang keluar jendela. Hatinya kembali dihinggapi kehampaan. Suara Anna yang sepertinya sedang berada di pelukan Einar semalam, seakan-akan mematahkan harapan kecilnya yang sempat kembali tumbuh. Beginikah rasanya cinta pertama? Cinta pertama yang tragis. Cinta yang tidak berbalas.
Atau sebaiknya memang ia berteman saja dengan Einar, tanpa mengharapkan lebih. Melupakan perasaan cinta yang sudah terlanjur tumbuh tentu tidaklah mudah. Ia harus menyibukkan dirinya dengan hal lain.
"Sudah sampai, Nona."
Sekar mengalihkan pandang pada si supir taksi. Lalu mengambil satu lembar 100 krona dari dalam dompetnya.
"Takk (terimakasih)." Si supir taksi berucap.
Sekar menganggukkan kepalanya. Kini ia berdiri di depan toko berpapan nama Lille Arkana dan bersiap untuk membuka pintu kaca, namun bersamaan dengan seorang pembeli yang akan keluar dan membuka pintu terlebih dahulu.
Masuk ke dalam toko, Cassandra melambai padanya dan tersenyum ramah. Gadis itu memberi isyarat pada Sekar untuk mendekat.
"How are you today (bagaimana kabarmu hari ini), Sekar?" tanya Cassandra. "You look beautiful (kau terlihat cantik)." Cassandra memeriksa pakaian yang membalut tubuh mungil Sekar. Kaos hitam yang dipadu dengan sweater panjang tanpa kancing dengan warna senada, legging hitam, boot hitam dan terakhir, topi rajut musim semi warna putih yang bertengger di kepalanya.
"I'm good, thank you. Where's Liana (aku baik, terima kasih, di mana Liana)?" tanya Sekar sembari melongok ke arah pintu di belakang Cassandra yang tertutup tirai.
"Ada di belakang. Masuk saja. Aku akan menyusul. Aku sedang menyiapkan sesuatu terlebih dahulu."
Sekar mengangguk. Tanpa basa-basi ia pun masuk melalui pintu bertirai dan mendapati Liana yang tengah membawa satu tempat lilin dengan lilin yang menyala di atasnya, berjalan masuk ke sebuah ruangan.
"Hi, Sekar. Ayo ikut aku," ajak Liana.
Sekar mengikuti langkah Liliana masuk ke sebuah ruangan dengan pencahayaan redup. Ruangan itu tidak mempunyai jendela, sehingga cahaya dari luar tidak bisa masuk.
Liana meletakkan lilin di tengah gambar pentagram yang ada di lantai. Gadis berambut ikal itu kemudian duduk di salah satu sudut gambar bintang di dalam pentagram. "Buka sweater dan sepatumu lalu duduk di situ" perintah Liana sembari menunjuk ke arah depannya.
Sekar membuka sweater, lalu menggantungnya di rak pakaian yang ada di sudut ruangan. Ia juga melepas boot dan topi rajutnya lalu meletakkannya di samping rak.
"Sudah siap?" tanya Cassandra yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Gadis itu meletakkan sebuah cawan kecil yang dibawanya ke atas altar.
Cassandra meraih tangan Sekar yang masih berdiri di tempatnya dan mengajaknya duduk di sebelahnya. Kini ketiga gadis itu duduk bersila memutar mengelilingi satu lilin di tengah.
"Beri hormat untuk arwah para leluhur kita penyihir abad pertengahan yang mati sia-sia." Liana mengangkat kedua tangannya. Diikuti Cassandra yang memberi isyarat pada Sekar untuk mengikuti gerakan mereka.
Ketiganya bertahan dalam posisi mengangkat kedua tangan selama satu menit. Liana memejamkan mata sembari mulutnya berkomat-kamit membaca doa.
Setelah selesai, Liana memandang ke arah Sekar dengan tatapan lembut. "Kita akan melakukan ritual untuk Lilith. Meminta berkat agar selalu mendapat keberuntungan."
"Ingat ini baik-baik, Sekar. Simpan kata-kata yang akan aku ucapkan di dalam memori otakmu."
Liana menghembuskan napasnya pelan. "Jangan memulai apa pun yang tidak bisa kau selesaikan. Sadarilah bahwa apa pun yang kau inginkan dari orang lain mungkin akan kembali kepadamu. Jangan hanya meminta harta, karena orang terdekat dan tersayang yang kau miliki mungkin akan mati."
Sekar mengangguk. Ini adalah ritual kedua yang ia lakukan semenjak bergabung dengan kedua gadis itu. Yang pertama, beberapa waktu lalu, adalah ritual penyambutan dirinya sebagai anggota baru.
"Lilith ada di sini bersama kita," ucap Liana.
"Tak berpasangan selamanya, aku menemukan kedamaian, di antara orang buangan lainnya, burung dan binatang buas dari taman berduri, diasingkan ke tanah tak bertuan ini, aku menyebutnya sebagai rumah, biarkan saja Eve memiliki Adam. Aku tidak menginginkannya."
"Untuk Lilith." Bibir Cassandra menyahut lirih.
Liana berdiri. Diikuti Cassandra dan juga Sekar. Ketiganya saling bergandengan tangan dan memutari lilin. Sementara bibir Liana menyenandungkan sebuah nyanyian dengan suara lembut yang menghanyutkan.
Why so lonely (kenapa merasa kesepian)
Here you may rest (kau boleh beristirahat di sini)
Lay your head down at my chest (letakkan kepalamu di dadaku)
Darkened days brighten (hari-hari gelap akan menjadi terang)
No more to frighten (tak ada lagi yang ditakuti)
Will you be mine (maukah kau menjadi milikku)
Until the end of time (sampai akhir waktu)
Why so lonely (kenapa merapa kesepian)
I'll give you shelter (aku akan memberimu tempat berteduh)
Comfort you, carry you through our lives (menghiburmu, menjagamu sepanjang hidupku)
I'll be the one (aku akan menjadi satu-satunya)
You always can turn to (yang bisa kau datangi)
I'm yours (aku milikmu)
For as long as you want to (selama kau mau)
Lend me your heart (pinjami hatimu)
I will shelter it 'til the end of time (aku akan menjaganya hingga akhir waktu).
.
.
Sekar, kau di mana? Mau melanjutkan belajar hari ini atau tidak?
Sekar membaca pesan dari Einar di layar ponselnya. Setelah selesai di Lille Arkana, Sekar berniat untuk pergi ke Nittendal.
Berjalan-jalan ke hutan dan menengok pohon oak besar. Ia ingin mencari sesuatu di sana. Atau setidaknya bisa merasakan kembali kehadiran wanita bergaun hijau yang beberapa kali datang dalam mimpinya.
Aku pergi ke Nittedal.
Sekar menjawab pesan Einar sepuluh menit yang lalu ketika ia sedang berada di dalam taksi. Namun hingga ia tiba di pondok yang menjadi markas Lord Abaddon, Einar tidak membalas pesannya kembali.
Di depan pondok, Sekar berdiri mematung. Pintu rumah kayu itu tertutup rapat. Tak tampak tanda-tanda kehidupan di sana.
Sekar memutuskan untuk lagsung saja pergi ke tengah hutan. Namun baru beberapa langkah saja ia meninggalkan pondok, terdengar suara pintu dibuka seseorang dari dalam.
"Hei, Sekar!"
Folke yang berdiri di ambang pintu melambai ke arahnya. "Kau ke sini sendirian?" tanyanya sembari mengedarkan pandangannya ke halaman pondok.
Sekar hanya mengangguk. "Aku mau pergi ke hutan," sahutnya.
Pemuda berambut pirang dan panjang itu melangkah menuju ke arahnya sembari mengikat rambutnya asal.
"Einar tidak bersamamu?"
Sekar mengedikkan bahunya. "Aku sendirian."
"Mau kutemani?"
"Emm ... okay," jawab Sekar ragu.
"Tunggu, aku akan mengambil jaketku." Folke dengan antusias masuk ke dalam pondok. Beberapa saat kemudian, ia keluar sembari memakai jaket tebalnya.
"Let's go (ayo)," ujarnya seraya merangkul bahu Sekar.
Suara motor yang mendekat membuat mereka mengurungkan niat untuk meninggalkan halaman pondok. Einar buru-buru turun dari motornya yang ia parkir sembarangan. Ia melepas helmnya dan menaruhnya di atas motor.
Folke mendecak sebal melihat kehadiran Einar yang tentu saja akan menggagalkan rencana spontannya berjalan-jalan dengan Sekar.
"Singkirkan tanganmu!" seru Einar sembari menunjuk tangan Folke yang masih merangkul bahu Sekar.
Folke memutar bola matanya kesal. "Kau mengganggu saja," gerutunya.
"Sekar, kau mau ke mana?" tanya Einar tanpa memedulikan Folke yang memasang wajah masamnya.
"Forest (hutan)," jawab Sekar pendek. Ia benar-benar ingin mengacuhkan Einar. Membayangkan semalam Anna berada dalam pelukannya membuat dadanya bergemuruh.
"Aku akan menemanimu."
"Emm ... I'll go with Folke (aku akan pergi dengan Folke)." Sekar melangkah mundur ke balik punggung Folke. Ia ingin melihat reaksi Einar. Ia ingin membalas sakit hatinya.
"I can't trust him (aku tidak bisa percaya padanya)." Einar menggeleng seraya menatap Folke lekat-lekat.
Folke mengangkat kedua tangannya. Lalu mengibaskannya. "Tull (omong kosong)!" makinya. Ia membalas tatapan Einar tak kalah lekatnya.
"I've changed my mind (aku berubah pikiran)!" seru Sekar membuat kedua pemuda itu spontan menoleh ke arahnya. "Aku mau minum saja!"
"Okay ... kau mau kubuatkan teh hangat atau ...." Folke memutar-mutar telapak tangannya.
"Alkohol!"
***
***
***