LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 29. A Nightmare.



Sekar berlarian menembus hutan belantara. Napasnya tersengal dan dadanya terasa perih. Derap suara kaki kuda masih terdengar di belakang sana. Membuatnya terus berlari masuk ke dalam hutan gelap yang hanya diterangi cahaya bulan yang samar.


"Aaakhh!" Ia berteriak kencang ketika tubuhnya menabrak sesuatu yang begitu kokoh di hadapannya. Membuatnya jatuh terjengkang dan terkapar di tanah.


"Sekar?"


Dalam temaram cahaya bulan, Sekar berusaha mengenali sosok yang berdiri di hadapannya itu.


"Einar ... run! Run!" teriak sekar sekencang-kencangnya pada sosok berambut panjang yang masih berdiri mematung di sana.


Suara derap kuda semakin mendekat ke arah mereka. Sekar terbelalak ketika satu anak panah meluncur beberapa centi di atas kepalanya. Begitu cepat menembus dada Einar. Membuat pemuda itu jatuh terduduk seraya tangannya hendak menggapai Sekar.


"No, Ein ... Ein!!"


"Ein ... Ein! don't die ... don't die (jangan mati ... jangan mati!"


"Jangan mati, Ein ... jangan mati!"


"Siapa yang mati? Hei, Sekar, wake up (bangun)." Einar terkekeh sembari menepuk-nepuk pipi Sekar untuk membangunkan gadis itu.


Sekar membuka matanya dengan cepat. Ia menatap Einar dengan napas terengah-engah. Keringat dingin mengalir di keningnya.


"Ein!" Sekar memeluk Einar dengan erat. "Syukurlah kau baik-baik saja," engahnya.


Einar terbahak. Lalu mengelus punggung Sekar dengan lembut. "Memangnya aku kenapa?"


"Mereka membunuhmu."


"Siapa yang membunuhku? Aku masih di sini."


Sekar semakin mengeratkan pelukannya. Ia membenamkan wajahnya di dada Einar. Napasnya masih belum teratur. Namun sentuhan lembut Einar perlahan-lahan membuatnya tenang.


"It's okay, I'm here. You had a bad dream (tidak apa-apa, aku di sini. Tadi kau bermimpi buruk)," ujarnya.


Sekar menghela napas dalam-dalam. Lalu pelan melepaskan pelukannya. Jika saja kamar itu terang, maka semburat merah di pipinya bisa terlihat jelas.


"Ayo tidur lagi," kata Einar seraya membantu Sekar rebah kembali ke atas ranjang. Ia menarik selimut dan menutup tubuh gadis itu hingga ke leher.


"Ein ...."


"Ja (ya)?"


"Berbaring di sebelahku," ucap Sekar lirih.


"Aku di sini saja," ujar Einar seraya merebahkan diri di atas bean bagnya.


"Please," pinta Sekar memasang wajah memelasnya.


Einar terkekeh. "Aku takut terjadi sesuatu," guraunya.


"Memangnya akan terjadi apa?"


"Emmm ...."


"Ayolah, Ein, please, please," rengek Sekar.


Einar mengangkat kedua tangannya. Ragu-ragu ia pun naik ke atas ranjang. Lalu membaringkan badannya di samping Sekar. Ia membiarkan saja tangan gadis itu melingkar di perutnya, dan kepalanya yang ia dusalkan ke dadanya.


Tentu saja dadanya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia pria normal yang jika bersentuhan sedekat ini dengan seorang wanita, tubuhnya akan bereaksi sedemikian rupa, menghasilkan gelenyar-gelenyar aneh yang membuat bulu roma meremang.


Namun gadis yang ada di dalam pelukannya ini adalah Sekar. Gadis yang membuatnya merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Perasaan yang belum bisa ia definisikan dalam bentuk kata. Ia menyayangi Sekar. Namun sebagai apa, ia pun belum mengerti. Walaupun rasa pedulinya pada Sekar begitu tinggi.


Napas teratur Sekar mulai terdengar lembut memecah keheningan kamarnya. Gadis itu telah terlelap dalam pelukannya yang hangat. Ia merubah posisi badanya menyamping, seraya membenarkan posisi kepala Sekar di dadanya. Pelan, tanpa membuat gadis itu terbangun.


Tangannya tanpa sadar mulai membelai rambut panjang Sekar. Mengelus punggungnya, lengannya, lalu kembali ke rambutnya. Begitu seterusnya hingga ia pun ikut terlelap.


.


.


"Owh ... sepertinya Einar masih tidur. Aku baru pulang ke rumah dan belum bertemu dengannya."


"Terima kasih, Nyonya. Boleh aku masuk ke kamarnya?"


"Tentu saja, silahkan."


Sayup-sayup Einar mendengar suara ibunya tengah berbicara di luar kamar dengan seseorang. Ia memicingkan matanya yang silau terkena cahaya terang yang menyeruak masuk dari balik tirai jendela kamarnya.


Di pelukannya, Sekar masih tertidur pulas. Ia hendak melanjutkan tidurnya ketika pintu kamarnya dibuka dari luar oleh seseorang. Pandangannya kini tertuju ke arah pintu. Ia terkesiap memandang sosok gadis berambut merah yang sedang berdiri di ambang pintu dengan ekpresi wajah yang sulit untuk digambarkan.


"Anna?"


"A-pa a-ku mengganggu, Ein?" ucap Anna dengan suara terbata. Sorot mata indahnya penuh dengan kekecewaan.


Einar pelan menggeser Sekar yang masih terlelap ke sampingnya. Ia beranjak dari ranjangnya dan berdiri mematung memandang Anna dengan perasaan bersalah yang begitu besar.


"Jeg kan forklare dette (aku bisa jelaskan)!" seru Einar seraya mengejar Anna keluar dari kamarnya.


"Anna, tunggu!" panggil Einar. "Kau sudah pulang, Momma?" Ia menyapa ibunya sekilas, lalu kembali mengejar Anna yang kini telah keluar dari apartemen.


Agnes mencebikkan bibirnya. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun perasaannya mengatakan kalau ada seseorang di dalam kamar Einar.


"Owh, Sekar. Du blir her (kau menginap di sini)." Nyonya Agnes menyapa Sekar yang sepertinya baru saja membuka matanya. Ia pun seketika mengerti apa yang sedang terjadi. Wanita paruh baya itu tersenyum simpul.


"Dia sedang menemui temannya ... sepertinya." Nyonya Agnes mengedikkan bahunya. "Mau sarapan bersama?" tawarnya yang langsung disambut anggukan gembira oleh Sekar.


"Ayo." Agnes memberi isyarat pada Sekar dengan gerakan kepala untuk mengikutinya.


Di meja makan, Sekar memperhatikan menu sarapan yang tersaji. Beberapa lembar roti pipih dan sepiring daging cincang.


"Einar pacarmu?" tanya Nyonya Agnes sembari mengambil satu lembar roti, mengisinya dengan beberapa sendok daging cincang dan menggulungnya. Ia meletakkannya di atas piring Sekar. Kenudian ia menyiapkan roti untuk dirinya sendiri.


"Owh, bu-kan ... kami hanya berteman." Sekar tergagap.


Nyonya Agnes tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia bisa membaca raut wajah Sekar yang gugup.


Sekar menggigit rotinya. Lalu mengunyahnya perlahan. "Ini enak sekali."


"Ya, kami orang Norway suka sekali membuat menu ini untuk sarapan. Namanya lefse."


"Hmm ... benar-benar enak," gumam Sekar seraya menggigit sepotong demi sepotong roti di tangannya.


"Kau suka? Ini, habiskan dua gulung lagi." Nyonya Agnes menyiapkan dua gulung besar roti lengkap dengan daging cincang dan menambahkannya ke piring Sekar. "Makan yang banyak," kekehnya.


Lalu obrolan demi obrolan mengalir di antara mereka. Begitu hangat dan sesekali diselingi oleh canda tawa. Sekar merasa ibunya Einar ini adalah wanita yang hangat dan bisa meghidupkan suasana. Pemikirannya juga sangat terbuka. Sekar bahkan berani menceritakan kalau semalam ia mabuk berat dan Einar menjaganya. Nyonya Agnes hanya menanggapinya dengan senyuman.


"Einar itu memang susah diatur. Tapi dia anak yang bertanggung jawab." Nyonya Agnes mengisi cangkir Sekar dengan kopi yang telah siap di teko kaca.


"Takk (terima kasih)," ucap Sekar.


Nyonya Agnes mengangguk. "Aku dan Einar berbeda prinsip. Kau bisa lihat itu," ujarnya sembari menunjuk pada salib terbalik yang ada di dinding ruang tamu. Kemudian wanita itu terkekeh. Sekar meringis. Ia sudah mengetahui hal itu sejak pertama kali datang ke rumah ini.


Obrolan mereka terhenti ketika Einar masuk ke dalam apartemen dengan langkah gontai. Wajahnya jelas terlihat murung. Ia bergabung dengan Sekar dan ibunya di meja makan.


"Hva er det (ada apa), Ein? Bertengkar dengan temanmu?" goda Nyonya Agnes.


Sekar mengerutkan dahinya. Menatap ke arah Nyonya Agnes dan Einar bergantian.


"Tadi ada seorang gadis mencari Einar." Wanita paruh baya itu seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Sekar.


Seorang gadis mencari Einar. Anna. Sekar menelan ludahnya. Apa gadis itu memergokinya berada di atas ranjang bersama Einar? Itukah sebabnya wajah pemuda itu begitu muram?


Einar hanya diam saja. Ia mengambil selembar roti dan mengisinya dengan daging cincang. Tanpa menaruhnya ke atas piring, ia langsung saja menggigitnya.


"Sekar ini cantik sekali ya, Ein?" celetuk Nyonya Agnes membuat dada Sekar berdebar kencang. Ia melirik pada Einar. Pada saat yang bersamaan pemuda itu pun tengah memandang ke arahnya.


"Cantik sekali," sahut Einar. Lalu ia kembali sibuk dengan rotinya.


Kembali Sekar menelan ludahnya. Mungkin saat ini pipinya telah memerah. Ia buru-buru menyesap kopinya untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


"Ayo, Sekar ... kuantar kau pulang," kata Einar setelah menghabiskan rotinya. Ia beranjak dari duduknya dan melangkah masuk ke dalam kamar.


Beberapa saat kemudian ia keluar sembari menenteng tas milik Sekar. "Ayo," ujarnya seraya menyerahkan tas di tangannya pada gadis itu.


"Terima kasih untuk sarapannya, Agnes," ucap Sekar sembari memeluk Nyonya Agnes.


"Datang lagi kapan pun kau mau, akan kubuatkan kau makanan-makanan khas Norway yang lezat," kekeh wanita itu.


Sekar tersenyum sembari mengangguk. "Sampai jumpa, Agnes." Ia melambai pada Nyonya Agnes dan mengikuti langkah Einar keluar dari apartemen.


.


.


"Kau bertengkar dengan Anna? Karena aku?"


Setelah saling diam dalam perjalanan menuju Frogner, Sekar memberanikan diri bertanya pada Einar, begitu keduanya sampai di depan rumahnya.


Einar tersenyum kecut. "Tidak usah dipikirkan," ujarnya.


"Tapi aku ...."


"It's okay (tidak apa-apa)," potong Einar sembari mengelus kepala Sekar lembut.


"I'm sorry, Ein. Semalam aku benar-benar tidak tahu apa yang kulakukan."


Einar terbahak. Namun begitu hambar. "We didn't do anything bad, she will understand it later (kita tidak melakukan sesuatu yang buruk. Dia akan mengerti nanti)." Pandangannya beralih ke halaman rumah yang luas itu, di mana satu orang pria dan dua orang wanita berjalan tergopoh-gopoh menghampiri mereka.


"Sekar!"


Mama membuka pintu gerbang dan menariknya masuk. "Kamu dari mana? Astaga, Mama sampai mau lapor polisi saking paniknya!"


"Ma-ma sama Papa u-dah pu-lang?" tanya Sekar terbata-bata. Ia tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya. Mbok Mar yang berdiri di belakang Papa terlihat cemas. Sementara wajah Papa terlihat dingin. Atau murka. Entahlah, Sekar bergidik melihatnya.


"Sudah pulang lima belas menit yang lalu dan mendapati kamu nggak ada di rumah!" seru Mama. Wanita itu murka. Tentu saja. Ia menatap Einar yang masih berdiri di samping mobil dengan tatapan yang begitu sinis.


"Masuk, Sekar!" Papa berucap. Tenang, namun menyiratkan amarah.


Pria itu hanya menatap Einar sekilas. Lalu memberi isyarat pada Sekar, Mama dan Mbok Mar untuk masuk ke dalam rumah.


***


***


***