LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 26. I Don't Wanna Fall In Love With You.



I don't wanna fall in love, with you (aku tidak ingin jatuh cinta padamu).


Einar mengalihkan pandangannya dari Sekar dan memilih menatap ke luar jendela kamarnya. Punggungnya menyandar di bean bag, sementara jemarinya masih memetik gitar dan mengalunkan outro lagu Wicked game dengan sedikit modifikasi.


Dan Sekar, masih menata hatinya yang berdebar setelah beberapa detik bertemu pandang dengan Einar. Ia tahu Einar dengan jelas menghindari tatapan matanya. Ia melihat sekilas rasa gugup di wajah pemuda itu. Hanya sepersekian detik saja, namun mampu membangkitkan harapannya kembali. Harapan bahwa, Einar punya rasa terhadapnya. Walaupun hanya secuil saja.


Kini hanya ada suara petikan gitar Einar yang terdengar begitu syahdu. Hingga pemuda itu menyelesaikan lagunya, tak ada pembicaraan apa-apa di antara mereka. Masing-masing bergulat dengan pikiran sendiri.


"Kau mau melanjutkan kursusnya atau tidak?" tanya Einar.


Sekar menggeleng. Ujung jarinya masih terasa sedikit nyeri jika harus bersentuhan lagi dengan senar gitar.


"Okay, kita lanjutkan besok," ujar Einar sembari meletakkan gitar ke atas ranjang. "Kuantar pulang, ya?"


"Tidak usah. Aku akan menelpon supirku." Sekar merogoh ponsel dari dalam tas yang tergeletak disampingnya. "Pak Karso, jemput aku di Grønland," ujarnya begitu tersambung dengan Pak Karso di seberang.


Sekar melangkah ke luar dari kamar Einar dan duduk di ruang tamu untuk menunggu Pak Karso datang menjemput.


"Mau minum sesuatu, Sekar?" Einar mengikutinya keluar. Ketika gadis itu menggeleng menjawab tawarannya, ia pun ikut duduk di samping Sekar.


Einar menoleh pada Sekar yang tengah menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa sembari melipat lengannya di depan dada. Gadis itu terdiam dan menatap lurus ke depan.


Mulai lagi. Sekar asyik dengan dunianya sendiri. "Hei, jangan melamun," ujarnya sembari mengelus kepala gadis itu.


"Aku tidak melamun. Aku sedang berpikir."


"Ohya? Tentang apa?"


"Tentang ...." Sekar menghela napasnya. "Tidak apa-apa. Bukan hal yang penting."


Tentang kau menghindari tatapan matamu padaku, Ein.


"Ein, aku tidak akan mabuk, kan?" tanya Sekar dengan polosnya.


"Mabuk?"


"Iya ... aku kan tadi minum minumanmu itu."


Tawa Einar meledak. "Seteguk tidak akan membuatmu mabuk, Sekar," ucapnya di sela-sela tawanya.


"Kau bilang kadar alkoholnya tinggi."


"Reaksi alkohol itu cepat, Sekar. Kalau kau mabuk, sudah dari tadi."


Sekar meringis. Ia tahu. Ia hanya ingin mengalihkan pembicaraan saja.


"Kau ini lucu sekali," gumam Einar sembari mengacak rambut Sekar. Namun gerakan tangannya perlahan berubah menjadi elusan lembut.


Tersadar dengan apa yang dilakukannya, Einar dengan canggung menarik tangannya. Ia terdiam. Mengikuti Sekar memandang lurus ke depan. Hening. Hanya terdengar sayup-sayup suara klakson mobil-mobil di jalanan. Hingga dering ponsel di dalam tas Sekar memecah kebisuan di antara mereka.


"Iya, Pak ... tunggu bentar," ucap Sekar menjawab telepon Pak Karso. Ia menutup telponnya dan menoleh ke arah Einar. "I gotta go (aku harus pergi)," ujarnya sembari beranjak dari duduknya.


"Kuantar sampai ke bawah," ujar Einar sembari mengikuti Sekar berdiri dan mengikutinya keluar.


Mobil tesla yang dikendarai Pak Karso telah terparkir di luar gedung. Einar berinisiatif untuk membukakan pintu belakang mobil dan mempersilahkan Sekar masuk.


"Hello, Sir," ucapnya pada Pak Karso dan disambut oleh anggukan kepala oleh pria paruh baya itu.


"See you, Sekar." Ia mengacak rambut Sekar pelan. Lalu menutup pintu mobil dan melambai pada Sekar.


"Sebenernya itu guru les, temen apa pacar, Non?" goda Pak Karso sembari mengemudikan mobilnya membaur dengan kendaraan lain di jalan raya. Sekar menoleh ke kaca belakang mobil dan melihat Einar yang masih berdiri di tempatnya memandangi kepergiannya.


"Maunya gimana, Pak?"


"Laaah, malah nanya Bapak."


"Nggak tahu lah, Pak. Aku bingung." Sekar menghempaskan tubuhnya ke atas bantal di sampingnya. Helaan napasnya begitu berat.


***


"Ikke dagdrøm (jangan melamun), Ein." Suara lembut Anna membuat Einar yang tengah memandangi makanan di atas piring sembari mengaduknya tanpa berniat menyantapnya, terkesiap.


"Maaf," ucapnya.


"Bukan apa-apa." Einar menyunggingkan senyumnya. Kemudian mulai menyuapi dirinya. Ia tak ingin membuat Anna kecewa karena telah memasak makan malam untuknya. Walaupun sebenarnya ia tidak terlalu lapar.


"Ein ...."


"Ya?"


Anna terkekeh. "Aku rasa aku mulai jatuh cinta padamu," ucapnya dengan wajah tersipu.


Einar merasa ada getaran aneh dalam dadanya. Namun anehnya, bukan getaran bahagia yang ia rasakan. Lebih kepada perasaan bersalah, kalut dan semacamnya. Ia menatap sendu wajah cantik Anna yang tengah menyunggingkan senyumnya.


"Aku senang sekali mendengarnya," ucap Einar.


Anna yang telah menyelesaikan makan malamnya beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Einar. Dipeluknya punggung pemuda itu sembari mendaratkan kecupan lembut di pipinya. Einar menyambutnya dengan elusan di lengan Anna yang melingkar di lehernya.


Minuman apa itu. Rasanya tidak enak sama sekali.


Ini memang bukan minuman untuk anak-anak.


Einar tersenyum simpul membayangkan wajah cemberut Sekar setiap kali ia menyebut gadis itu anak kecil.


Aku belum punya teori yang mendetail tentang hal itu. Tapi aku akan mengumpulkan informasi.


Oh, aku suka sekali teori konsporasi.


Tanpa sadar Einar terkekeh pelan. Membuat Anna melepaskan pelukannya. "Ada yang lucu, Ein?"


"Owh, bukan apa-apa, Anna."


.


.


FROGNER, OSLO.


Dewi Jörð, orang mengaitkannya dengan bumi. Dia adalah ibu dari dewa petir Thor, dan permaisuri dari Odin. Namanya sering digunakan dalam puisi skaldik dan kennings sebagai istilah puitis untuk tanah atau bumi.


"Hmmm," gumam Sekar. Ia berbaring tengkurap sembari membuka halaman demi halaman dari buku yang sedang dibacanya. "Pohon oak besar ... wanita bergaun hijau ...." Sekar menghela napasnya. "Pria berjubah hitam yang memakai kalung salib." Sekar mengelus janggutnya.


"Gereja Kathedral Oslo kayaknya hanya sebagian kecil yang terlihat."


"Ada organisasi yang lebih gede di baliknya ... dan semua yang terlibat di bawah, hanya alat."


"Kira-kira siapa, ya?"


Sekar berpikir dengan keras. Ia sampai membanting-mbanting keningnya ke atas ranjang.


"Masa iya Vatikan?" Ia memanyunkan bibirnya.


Pandangan Sekar beralih pada layar laptop yang masih menyala di depannya. Ia menuliskan beberapa baris kata di mesin pencarian google.


Teori konspirasi Vatikan. Mengenai Paus dan Gereja Katholik Roma.


Bahwa Gereja dan perwakilannya diam-diam mengkontrol masyarakat sekuler dengan agenda Satanik dan mendominasi dunia.


"Agenda ... agenda." Sekar menggumam.


Sekar meraih ponsel di sampingnya. Lalu dengan senyum riang ia menggulir layar untuk mencari nomor Einar. Ia tidak sabar ingin membahas hal ini dengan pemuda itu.


"Ja (ya), sekar?" Suara Einar terdengar di seberang.


"Ein, aku ingin bicara mengenai teori ...." Kata-katanya menguap begitu saja ketika sebuah suara lembut dari seberang sana terdengar.


"Siapa yang menelpon, Ein?"


***


***


***