LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 47. You Have No Idea What I'm Capable Of.



"Hekser (penyihir)!"


"Brenne (bakar)!"


Teriakan orang-orang yang berhasil merangsek masuk membuat ketiga gadis itu bersiap-siap untuk membela diri dengan batang kayu di tangan mereka.


Sekar memperhatikan para pria yang kebanyakan berwajah timur tengah itu. Ekspresi mereka bengis. Berteriak-teriak penuh amarah padanya juga pada Liana dan Cassandra. Memaki-maki dengan kata-kata kotor. Dalam hati Sekar mendecih. Kasar sekali sikap mereka pada wanita. Hatinya mendidih mendengar umpatan-umpatan tidak senonoh dari mulut mereka.


Ia yakin, mereka oknum yang dibayar untuk menyebarkan fitnah. Teorinya memang benar. Ada agenda terselubung di balik semua ini.


"Pe lacur Luciferian. Hajar saja, bakar!"


Kata-kata makian itu membuat Sekar tak lagi bisa membendung amarahnya. Cukup. Tidak ada yang boleh memaki wanita seperti itu.


"You have no idea what I'm capable of (kalian tidak tahu kemampuanku)," desisnya.


Aura gelap menaungi wajahnya. Ia berteriak lantang sembari mengayunkan batang kayu di tangannya dan mengincar kepala pria yang baru saja mengumpat itu.


Cepat. Batang kayu di tangan Sekar menghantam kepala pria itu, yang tak sempat menghindar dan roboh seketika. Belum puas, Sekar menarik kerah bajunya dan membanting tubuhnya ke lantai dengan sanga keras.


Suasana menjadi gaduh. Ada yang menarik hoodie yang dipakai Sekar dan hendak menghadiahi gadis itu pukulan di kepala. Namun, entah kekuatan dari mana, Sekar mencekal tangan orang yang menarik hoodienya dan dengan keras mengkilir lengannya hingga ia berteriak kesakitan.


Buggh.


Sekar menghantam wajah orang itu dengan batang kayu hingga bibirnya pecah. Gadis itu tak lagi sadar apa yang dilakukannya. Ia mengamuk, mengayunkan batang kayu ke sana kemari membabat siapa pun yang ada di sekitarnya.


"Sandra! Serbuknya! Lempar! Lempar!" Terdengar seruan Liana di tengah-tengah keributan.


Bumm.


Asap tebal memenuhi ruangan. Membuat pandangan mata semua yang ada di tempat itu menjadi buram. Namun tidak bagi Sekar. Dengan wajah yang masih dinaungi aura gelap, ia mengincar semua pria yang tertangkap oleh matanya, dan menghajarnya dengan membabi buta. Ia tidak mendengar apa pun, yang ia dengar hanya bisikan-bisikan di dalam kepalanya yang memerintahkannya untuk menghabisi mereka.


Hingga satu tangan menarik tubuhnya dan membawanya berlari keluar dari tempat itu. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Sayup-sayup terdengar teriakan Liana dari kejauhan.


"Folke, kau yang menyetir. Cepatlah, Breng sek!"


Sekar mendapati dirinya telah berada di kursi belakang mobil, dengan kepalanya yang sedang didekap erat oleh Einar.


"Ein?" panggilnya lirih. Ia menengadahkan wajahnya memandang wajah tampan Einar yang tampak cemas.


Einar mengecup kening Sekar lembut lalu membenamkan kepala gadis itu kembali di dadanya.


"Astaga! Liana, Cassandra, kalian tidak apa-apa?" Sekar terlonjak ketika tersadar melihat Liana dan Cassandra yang duduk di kursi tengah bersama Edvard, sementara Folke menyetir ditemani Goran di sampingnya.


"Kami baik-baik saja. Justru orang-orang itu yang hampir saja terbunuh. Kalau saja Einar ...." Liana memandang Einar meminta persetujuannya untuk melanjutkan kata-katanya.


Namun Sekar sudah mengerti apa yang terjadi. Ia melihat tangannya penuh cipratan darah. Dan ia tahu itu bukan darahnya.


"Ein, jeg vil være med deg i kveld (aku mau sama kamu malam ini)."


"Ja, Baby."


Sekar meloloskan senyumnya senang. Ia ingin tidur di pelukan Einar malam ini. Tubuhnya terasa nyeri, meskipun tidak ada luka apa pun yang didapatnya dari peristiwa di Lille Arkana. Namun, rasanya ia begitu lelah. Kepalanya pun terasa berat. Seperti orang yang baru bangun dari tidurnya selama tiga hari.


.


.


NITTEDAL, OSLO.


"Ditt svin (dasar breng sek)!" Folke mendorong bahu Einar sembari terkekeh, lalu menenggak botol bir di tangannya. Keduanya sedang duduk di anak tangga di teras pondok.


Einar terbahak seraya mengelus tengkuknya. "Jeg vet ikke, jeg er fortapt (aku tidak tahu, aku hilang arah)."


Folke mendecak. "Pokoknya kau breng sek!" umpat Folke.


Einar hanya mengedikkan bahunya. "Kau tidak keberatan, kan, dua penyihir itu tinggal di sini untuk sementara?" tanya Einar mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja tidak," kekeh Folke.


"Kau bisa memperbaiki hubunganmu dengan Liana," goda Einar.


"Pfffh!" Folke menghembuskan napasnya kasar. "Kau pikir aku mau kembali dengan wanita setengah gila seperti Liana?"


"Aku dengar namaku disebut!"


Mendengar suara Liana dari balik punggung mereka, kedua pemuda itu langsung menoleh. Einar mengangkat kedua tangannya pertanda ia tidak mau ikut campur. Kemudian beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam pondok.


Di ruang tengah ia mendapati Edvard dan Goran yang tengah berbincang dengan Cassandra. Namun langkahnya cepat menuju sebuah kamar dengan pintu yang sedikit terbuka.


Einar mendapati Sekar tengah tertidur. Setelah menutup pintu rapat-rapat, perlahan ia naik ke atas ranjang dan membaringkan badannya di samping gadis itu. Ia memeluk tubuh mungil Sekar dari belakang, lalu mencium tengkuknya.


"Sekar ...." Ia berbisik.


"Hmmm?"


"Orang tuamu tidak akan mencarimu?" tanya Einar.


"Mereka menginap di luar kota," jawab Sekar dengan suara menggumam.


Sekar membalikkan badan menghadap pada Einar. Tangannya pelan mengelus dada kokoh pemuda itu. "Ein ... I'm so tired (aku capek)," ucapnya.


"Aku tahu, Sayang." Einar mengelus kepala Sekar lembut. Ia paham apa yang dialami gadis itu. Jika tadi ia tidak datang tepat waktu, mungkin ada yang akan mati di tangan Sekar.


Namun Einar sama sekali tidak ingin membicarakannya. Ia hanya ingin memberikan kenyamanan pada gadis itu malam ini.


Sekar menatap Einar sendu. Lalu perlahan mendekatkan wajahnya pada wajah kekasihnya itu dan memagut bibirnya untuk beberapa saat.


Pelan Sekar melepas satu persatu kancing bajunya sendiri tanpa mengalihkan pandangan matanya pada Einar. Entah otaknya yang sedang eror atau bagaimana, yang jelas ia begitu menginginkan hal itu. Hal yang bisa membuatnya terikat pada Einar selamanya.


"Ein ...." Sekar meraih tangan Einar dan membawanya ke dadanya yang kini setengah terbuka.


"Sekar ... jangan." Einar menggeleng.


"Kenapa? Kau tidak mau?"


"Aku mau, mau sekali. Tapi ...." Jemari Einar bergerak menutup kembali kancing baju Sekar yang terbuka. "Belum waktunya." Ia mengelus pipi Sekar, lalu menarik kepala gadis itu dan membawanya ke pelukannya.


"Aku ingin menyerahkan segalanya untukmu, Ein."


Einar tersenyum seraya mengeratkan pelukannya. "Aku peluk kau saja semalaman, ya."


Sekar mengangguk dalam pelukan Einar. Ia tersenyum bahagia. Meski hatinya bertanya-tanya bagaimana bisa ada pria kulit putih yang begitu menahan diri untuk tidak menyentuh pacarnya sendiri, sedangkan kesempatan terbuka lebar untuknya.


He's the one, no doubt about it (dialah orangnya, tidak diragukan lagi).


***


***


***