LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 38. Helvete And Chaos (1)



FROGNER, OSLO.


Sekar melongok ke dalam ruang perpustakaan keluarga dan mendapati Papa sedang duduk di atas sofa membaca buku. Ia melangkah masuk dan duduk di sebelah Papa seraya menyandarkan kepalanya di bahu pria paruh baya itu.


Papa menutup buku lalu melepas kaca matanya dan memeriksa wajah puterinya yang tampak cemberut.


"Kenapa ini dateng-dateng udah cemberut aja," godanya.


"Pa ... waktu itu Papa ngomong apa sih sama Einar?"


Papa terkekeh. "Mau tahu aja."


"Ish," desis Sekar sebal.


"Obrolan pria, Sekar."


"Papa nggak ngomong yang aneh-aneh, kan?"


"Yang jelas Papa cuma bilang ke Einar, puteri Papa yang cantik ini ...." Papa mengacak rambut Sekar. "Adalah harta Papa yang paling berharga."


Sekar memicingkan matanya. Menatap Papa dengan curiga. "Beneran cuma itu?"


"Beneran, Se."


Sekar tersenyum senang seraya memeluk lengan Papa. "Oh ya, Pa ... nanti sore aku mau nonton konser musik di Øya. Boleh, ya."


"Konser musik? Mau nonton sama Einar?"


"Nggak, sama temen cewek kok, Pa."


"Hmm ... konser musik apa emangnya, Se?"


Sekar meringis. "Metal, Pa."


"Itu genre yang kamu bilang lagi belajar?"


"Iya, Pa. Aku baru tahu kalau metal dan klasik itu banyak kesamaan."


"Oh ya? Apa itu, Se?"


"Sama-sama pake nada diatonik, trus komposisi musiknya frasal. Tahu, nggak, Pa ... waktu aku denger Einar main lagu-lagu klasik pake gitar elektrik, semuanya terdengar kaya metal loh." Sekar bercerita dengan antusias.


"Oh ya? Einar main metal?" tanya Papa.


Sekar meringis. "Sebenernya aku nanti mau nonton Einar manggung sama bandnya."


"Oh, begitu," gumam Papa. Ia melihat sekilas mata puterinya itu berbinar-binar. "Apa nama bandnya? Terkenal di sini?"


"Namanya Lord Abaddon. Kalau untuk kalangan metal sih terkenal. Aku pernah waktu jalan sama dia, ada orang minta foto," kekeh Sekar. "Papa mau denger lagunya, nggak?" tanya Sekar sembari merogoh saku bajunya mengambil ponsel.


"Boleh."


Sekar mengutak-atik layar ponselnya untuk beberapa saat, lalu menunjukkannya pada Papa. Pria itu mengerutkan alisnya. "Ini Einar?" tanyanya sembari menunjuk foto seorang pemuda bertelanjang dada dengan badan penuh tatto dan wajah bercat tengkorak hitam putih yang terlihat di layar.


"Iya," jawab Sekar sembari terkekeh.


Papa mendengarkan beberapa saat lagu yang sedang diputar di halaman youtube itu. "Cadas juga dia," gumam Papa. "Tapi susah, ya, buat Papa mencerna musiknya."


"Ini dibikin versi piano ... bang! klasik, Pa."


Papa mengangguk-angguk. "Papa dengerin musik yang paling heavy, mentok paling Led Zeppelin," kekehnya.


"Aku juga kaget pertama kali denger, Pa." Sekar terbahak. "Tapi lama-lama, setelah dicermati komposisi lagunya, enak banget. Aransemen Einar memang brilliant sih menurutku," puji Sekar.


Papa tersenyum. "Ngomong-ngomong, karakter Einar seseram lagunya, nggak, Se?" pancing Papa.


"Nggak sama sekali, Pa ... Einar tuh baik, sopan ... emm ... dikit jahil sih, tapi lucu, terus ... pinter juga dia, aku sering ngobrolin politik, sejarah sama dia," jawab Sekar sembari pikirannya menerawang membayangkan Einar dan semua tingkahnya.


"Hmm." Papa mengangguk-angguk. "Yang penting nggak ngajarin kamu hal-hal negatif, ya."


"Nggak lah, Pa. Einar tuh jagain aku banget kok."


Papa mengelus kepala Sekar lembut. "Pokoknya Papa nggak ngelarang kamu temenan sama Einar. Tapi, kalau untuk lebih dari itu, Papa belum ngizinin."


"Iyaa, tahu," sungut Sekar. "Tapi Papa kasih izin nggak nih ntar sore?"


"Kasih. Tapi hati-hati."


Sekar tersenyum senang. Ia mengecup pipi Papa seraya mengucapkan terima kasih. Lalu dengan riang ia melangkah keluar dari ruang perpustakaan keluarga.


***


LORD ABADDON CAMP, ØYA, OSLO.


Ask veit ek standa,


Heitir Yggdrasill


Hár baðmr, ausinn


Hvíta auri;


þaðan koma döggvar


þærs í dala falla;


Urðar brunni.


Ask veit ek standa,


Heitir Yggdrasill


Hár baðmr, ausinn


Hvíta auri;


þaðan koma döggvar


þærs í dala falla;


Urðar brunni.


(Völuspá - Die Weissagung aus der Lieder - Edda)


Suara berat Folke dan dua orang kru, Bard dan Lief di depan tenda menyanyikan lagu viking sembari mengepalkan tangan mereka ke udara berbaur dengan hiruk pikuk suasana perkemahan yang terhampar di padang rumput luas di pinggiran Oslo itu.


Einar duduk menyandarkan punggungnya di kursi lipat panjang sembari memainkan gitar akustiknya mengiringi nyanyian Folke, Bard dan Lief. Sementara Goran menabuh tamborin dan Edvard sesekali meniup serulingnya.


Mereka duduk mengelilingi meja bundar yang penuh dengan cemilan dan botol-botol minuman beralkohol khas scandinavia.


Vikings blood brothers


Fighting in the name of Oden


This song celebrates your glory


Vikings masters of blood


Feared by all their enemies


This is your anthem


Looming from the mist


Drakkars messengers of death


Thousand of spears


impaling the innocents


Raining blood


On the battlefield


Looming from the mist


Drakkars messengers of death


Vikings blood brothers


Fighting in the name of Oden


This song celebrates your glory


Vikings masters of blood


Feared by all their enemies


This is your anthem


"Woohoo!" seru Folke sembari mengangkat botol bertuliskan Valhalla yang masih terisi penuh. Ia berdiri dan membuka tutup botolnya lalu menenggaknya. Kemudian ia berjalan mendekati Einar yang masih menyandarkan punggungnya di kursi dan mengucurkan cairan di dalam botol ke mulut pemuda itu yang telah siap menampung di bawahnya.


"Aargh!" erang Einar ketika cairan itu tertelan dengan paksa di tenggorokannya. "F uck!" makinya. Namun sejurus kemudian ia tertawa terbahak-bahak.


"Ayo, lagi, Ein!" seru Folke sembari mengulang perbuatannya pada Einar.


"Mother F ucker!" umpat Einar. Tenggorokannya seakan terbakar. Namun pria sejati pantang merengek. Jika berkumpul dalam suatu acara khusus dan harus minum, maka tidak ada alasan untuk menghindar apa lagi menolak.


Folke menggilir botol mulai dari Edvard, Goran, Bard serta Lief dan dirinya sendiri. Lalu kembali lagi pada Einar dan seterusnya hingga botol pun kosong.


Nyanyian viking kembali berkumandang. Kini Folke yang bernyanyi sembari menari-nari disusul oleh Bard dan Lief mengikuti alunan musik yang dimainkan oleh Einar, Edvard dan Goran.


.


.


"Tendanya di sebelah sana."


Pria tambun berpakaian hitam dan berjenggot tebal itu menunjuk sebuah tenda yang berada persis di belakang panggung utama.


"Tussen takk (terima kasih banyak)," ucap Liana sembari melempar senyum pada pria itu.


"Mana mereka?" Cassandra melongok dari balik punggung Liana mencari-cari keberadaan Lord Abaddon yang belum nampak dalam pandangannya.


Sementara Sekar yang berada di belakang kedua gadis itu hanya berdiri mematung. Dadanya mendadak berdebar kencang. Teringat adegan "hampir berciuman"nya dengan Einar di belakang kuil membuat badannya panas dingin. Bagaimana menghadapi Einar nanti. Ia pasti gugup setengah mati.


"Ayo, Sekar."


Suara Cassandra membuat Sekar terkesiap. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Lalu mengikuti Cassandra dan Liana menuju sebuah tenda di belakang panggung.


Sayup-sayup ia mendengar suara musik dan nyanyian yang berasal dari depan tenda. Semakin mereka mendekat, semakin jelas terdengar.


Sekar menelan ludahnya dengan berat ketika dilihatnya Einar sedang duduk menyandarkan punggung di kursi sembari memainkan gitarnya. Sesekali dilihatnya pemuda itu tertawa lepas menyaksikan Folke dan dua orang pria lainnya yang tengah bernyanyi dan menari-nari dengan gembira.


"Oh, wow ... lihat ini, kita kedatangan para Penyihir!"


Seruan Edvard membuat alunan musik dan tarian seketika berhenti. Untuk sesaat suasana menjadi hening.


Para pria itu terpaku menatap tiga orang gadis cantik berpakaian hitam yang berdiri tak jauh dari mereka.


Sementara Einar, matanya hanya tertuju pada Sekar yang berdiri di sebelah Liana. Dengan gaun hitam sederhana a la abad pertengahan setinggi lutut yang membalut tubuh rampingnya, dipadu dengan boot hitam panjang, lalu riasan wajah semi gothic yang membuatnya terlihat dewasa dan,


Cantik, sangat cantik.


***


***


***