
FROGNER, OSLO.
Juli 2017. Pembakaran gereja di Nittedal melibatkan Lord Abaddon, band metal yang terkenal dengan ritual satanicnya. Polisi telah menahan Einar Haugen, Folke Jørgensen serta dua orang personel lain dan masing-masing dijatuhi hukuman lima bulan penjara.
"Pembakaran gereja ...." Sekar menggumam. Berita empat tahun lalu yang ia temukan di web search engine dengan bahasa Norsk yang ia terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu membuat bulu kuduknya meremang.
Namun, hal itu membuat rasa penasarannya pada sosok Einar semakin menggebu. Ia mulai mengulik segala hal tentang pemuda itu dari internet.
Youtube.
Sekar mulai menulis nama Lord Abaddon di kolom search situs video sharing itu. Berharap ada seseorang yang mengunggah lagu atau apa pun tentang Einar dan bandnya.
Satu buah video yang diunggah sekitar dua tahun lalu menarik perhatiannya. Sebuah lyric video official dari lagu berjudul Northen Prince Of Evil (Pangeran Jahat Dari Utara). Covernya begitu mencolok memperlihatkan foto Einar dengan pakaian vikingnya dan garis hitam tebal di area matanya. Rambut panjangnya terlihat seperti sedang dilumuri oleh lumpur.
"Ya ampun!" Sekar menepuk keningnya begitu ia memutar lagu yang begitu menghentak-hentak itu. Sungguh sebuah genre musik yang baru untuknya. Ia tahu metal, namun tidak sementah dan seekstrim ini.
Seorang pemain dan penikmat musik klasik seperti dirinya tentu saja shock mendengar aliran musik sekeras ini. Telinganya yang terbiasa dengan nada-nada lembut nan elegan, harus beradaptasi degan broken chord (nada-nada yang dirusak) dari permainan gitar Einar.
Namun, Sekar akui pemuda itu jenius. Nada-nada yang dimainkannya seperti melompat-lompat dan tak berstruktur. Namun harmonisasinya tetap terjaga. Mendengarkan lagunya, serasa masuk ke dalam dunia Eropa kuno yang penuh dengan ilmu sihir dan makhluk-makhluk mitologi.
Sekar tersenyum simpul. Sepertinya keputusan tiba-tibanya membelikan sebuah gitar pada Einar yang belum ia kenal sama sekali waktu itu adalah keputusan yang tepat.
Ia menutup layar laptopnya dan beranjak dari tempat tidur lalu melangkah keluar dari kamarnya. Ia menuruni satu demi satu anak tangga dan sekilas melihat asisten rumah tangganya di ruang dapur.
"Mbok Mar, Mama mana?" tanya Sekar pada Mbok Maryati, wanita paruh baya dengan rambut digelung yang tengah sibuk mencuci piring-piring kotor.
"Di kamar mungkin, Non," sahut Mbok Mar tanpa menoleh pada Sekar.
"Owh," sahut Sekar pendek. Ia melangkah menuju kamar Mama yang terletak di samping ruang perpustakaan keluarga.
Pelan ia membuka pintu dan melihat sang Mama berdiri di depan cermin dengan pakaian rapi. "Mau kemana, Ma?" tanya Sekar yang masih berdiri di ambang pintu.
"Mama mau arisan sama Ibu-Ibu Indonesia." Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mematut dirinya di depan cermin. Merapikan sanggulnya yang sebenarnya telah rapi.
"Ma ...."
"Hmmm ... apa, Sayang?"
"Hari minggu boleh keluar, nggak?" tanya Sekar hati-hati.
"Kemana?"
"Main ke rumah teman."
"Teman siapa?"
"Ya teman lah, Ma ... teman sekelas."
"Cewek apa cowok?"
"Cewek, Ma ...."
"Boleh ...."
Sekar melonjak kegirangan. Rupanya meminta izin Mama tak sesulit yang ia bayangkan.
"Tapi, ditungguin Pak Karso ...."
Senyum di bibir Sekar menghilang seketika. "Kenapa harus ditungguin sih?" gerutunya.
"Biar aman."
Sekar memutar bola matanya sebal. Ia memanyunkan bibirnya. "Nggak usah ditungguin deh, tapi dianter aja sama Pak Karso gimana, Ma?" tawar Sekar. "Nanti kalau mau pulang tinggal dijemput."
Mama memandang Sekar sejenak. Lalu menghela napas pelan. "Okay," sahutnya dengan berat hati. "Tapi jangan aneh-aneh, ya, Se ... Pak Karso anter dan jemput kamu pokoknya!" tegasnya kemudian.
"Beres," ujar Sekar riang.
Sekar berlarian menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Menyambar ponselnya yang tergeletak di atas ranjang. Sembari berbaring ia mengutak-atik layar menuliskan sesuatu.
Where should we meet (kita bertemu di mana)?
Sekar.
***
Einar muncul dari balik pohon pinus besar dengan jubah hitam menutupi keningnya, membawa satu tengkorak kepala kijang berlumuran darah di tangan kanannya, berjalan menapaki salju yang terhampar menuju api unggun yang di kelilingi oleh Folke, Edvan dan Goran, yang juga berjubah hitam.
"Berkeliling!" seru seseorang yang berdiri tak jauh dari mereka dengan kamera di tangannya.
"Angkat kepala kijangnya, Ein!"
Einar mengangkat tengkorak kepala kijang ke udara. Lukisan mayat hitam putih di wajahnya terlihat jelas oleh bias api unggun yang menyala-nyala. Pelan ia melangkah mengelilingi api diikuti oleh ketiga temannya dari belakang.
"Okay ... satu putaran lagi ...."
"Ja, ferdig (ya, selesai)!"
Einar membuka penutup kepalanya dan meletakkan tengkorak kepala kijang di dekat api unggun.
"Bagaimana hasil gambarnya, Bard?" tanya Einar pada sang kameramen bernama Bard yang tengah memeriksa hasil tangkapan gambar di layar kameranya.
"Hyggelig (bagus)," jawab Bard sembari mengacungkan ibu jarinya.
Einar dan ketiga temannya menghela napas lega. Setelah berjam-jam melakukan shooting video clip yang menguras tenaga dari siang hingga malam, dengan banyak adegan yang harus diulang-ulang, akhirnya mereka bisa menyelesaikannya dengan lancar.
"Folke!" panggil Einar. Folke yang tengah menyulut rokoknya berjalan menghampiri Einar.
"Ja (ya)?" Folke duduk di samping Einar yang tengah menghangatkan tangannya ke arah api unggun.
"Aku tidak bisa ikut technical meeting besok di Helvete," ujar Einar.
"Hvorfor (kenapa)?" tanya Folke sembari menghisap rokoknya.
"Kencan dengan Anna," kekehnya.
Folke terbahak. "Anna si Cantik penjaga toko bunga?"
"Yeah!" sahut Einar bersemangat. "Kau tahu aku sudah mengejarnya sejak lama. Baru kali ini aku mendapat kesempatan pergi dengannya. Aku tidak akan menyia-nyiakannya."
"Dia tidak cocok untukmu, Ein. Aku serius. Hidupnya terlalu normal. Seperti gadis Oslo pada umumnya. Dia bisa pingsan kalau tahu seperti apa kau!"
"Hei, hun er søt (dia manis)," sergah Einar.
"Tiduri saja dia, setelah itu tinggalkan saja!"
Einar memukul ujung kepala Folke dengan keras hingga pemuda itu mengaduh kesakitan.
"Drittsekk (breng sek)!" maki Einar sembari beranjak dari duduknya. Ia lalu membantu Goran dan Edvard mengemasi properti yang mereka gunakan untuk keperluan shooting.
Setelah lokasi bersih dan memastikan tidak ada api yang tersisa, Einar dan rombongannya kembali ke pondok kecil di tepian hutan yang menjadi markas mereka.
Setelah selesai membersihkan wajahnya, Einar menyambar sebotol Akevitt dan memisahkan diri dari teman-temannya yang berkumpul di ruang tengah. Ia duduk menyandarkan punggungnya di kursi depan pondok sembari menikmati suasana gelap malam yang hanya diterangi oleh lampu kecil di teras pondok.
Ia meraih ponselnya yang bergetar di dalam saku celananya. Satu pesan muncul di layar. Sebuah pesan dari Sekar yang sepertinya sudah dikirim dari siang. Namun baru masuk ke ponselnya setelah mendapat sinyal.
Where should we meet?
Sekar.
Senyum Einar tersungging. Ia hendak membalas pesan dari gadis itu ketika satu pesan kembali masuk ke layar.
Bagaimana kalau bertemu di rumahmu saja? Beri aku alamatmu.
Einar mengerenyitkan keningnya. Sedikit heran kenapa Sekar memintanya bertemu di rumahnya. Ia berniat untuk meminta gadis itu memberikan alamat rumahnya agar ia bisa menjemputnya.
*Grønland Torg Building No. 28, Grønland. Come whenever you want. I stay home all day on sunday (datang saja kapanpun kau mau, aku akan berada di rumah sepanjang hari di hari minggu*).
***
***
***
Lagu Northen Prince Of Evil milik Lord Belial (black metal dari Swedia).
Silahkan check di youtube.
Warning: Bisa menyebabkan kejang-kejang.