
FROGNER, OSLO.
"Gimana sekolahmu, Se?"
Papa, pria paruh baya dengan rambut yang selalu rapi, menutup buku di tangannya. Ia melepas kaca matanya dan menoleh ke arah Sekar di sampingnya yang tengah berkutat dengan bukunya. Keduanya ada di dalam perpustakaan keluarga.
"Biasa aja," jawab Sekar tanpa beralih dari buku di tangannya. Bloodlands, karya Timothy D. Snyder, tentang Hitler dan Stalin, dua tokoh penting dalam sejarah perang dunia dua di Eropa, yang belum selesai dibacanya.
"Betah, nggak?"
"Biasa aja, Pa."
"Udah punya banyak teman?"
Sekar menggeleng.
"Anak teman Papa juga satu sekolah sama kamu. Udah kenal?"
Si cerewet Adam. Sekar memutar bola matanya. "Udah."
"Piano, gimana?"
"Lagi belajar genre baru."
"Ohya?" tanya Papa. "Genre apa?"
"Hmmm ... dijelasin juga Papa nggak bakal ngerti."
Papa terbahak mendengar perkataan puterinya itu. "Si jenius ini sombong banget, sih."
Sekar meringis. Pikirnya, Papanya yang selalu berkutat dengan urusan birokrasi apa bisa membayangkan sebuah genre musik ekstrim dengan kebrutalannya. Termasuk gaya hidup orang-orang di dalamnya yang pastinya berbeda seratus delapan puluh derajat dengan gaya hidup Papa yang sangat teratur.
"Baca buku apa tuh, Se?" tanya Papa sembari memiringkan kepala memeriksa halaman buku di tangan Sekar.
"Biasalah, sejarah," sahut Sekar.
"Papa nggak inget pernah beli buku itu?"
"Aku yang beli kok ...."
Papa mengangguk-angguk. "Masih obsesi sama Hitler dan kawan-kawan, ya?" kekehnya.
"Habisnya, perang dunia dua penuh konspirasi sih, Pa."
Papa menaikkan alisnya. "Seperti apa itu?" pancingnya.
"Ya dalang dibalik perang dunia dua siapa sebenernya? Hitler terlihat seperti seorang diktator jahat yang membantai kaum Yahudi, cuman ... alasan sebenernya tuh apa, Pa. Kupikir dia hanya ingin menerapkan ideologinya demi kemakmuran bangsanya." Sekar menghela napasnya. "Hitler itu alat, kaum Yahudi juga alat. Ada seseorang atau sekelompok orang di balik semua, yang punya agenda tertentu." Sekar menggeleng. "Politik itu rumit ya, Pa?"
Ini masalah politik yang cukup rumit.
Hati Sekar mencelos ketika barisan kata Einar waktu itu terngiang di benaknya.
Sedang apa dia? Apakah sedang bersama Anna?
Papa manggut-manggut sembari mengelus janggutnya. "Sangat rumit," sahutnya.
"Papa ...."
"Hmmm?"
"Kenapa sih Mama overprotective banget sama aku?" tanya Sekar sembari menutup bukunya.
Papa tersenyum. "Ya mirip Hitler itu, terlihat diktator, memaksakan ideologinya untuk tujuan kemakmuran bangsanya." Pria itu membalikkan kata-kata Sekar.
Sekar mencebik. "Bedalah, Pa. Memaksakan ideologi bukan berarti hilang kebebasan hidup."
"Memangnya kebebasan hidupmu hilang, Se?"
"Ya nggak juga sih ...."
Papa terkekeh. "Intinya, Mama itu sayang banget sama kamu, namanya juga anak satu-satunya, ya ... mana cantik dan pinter begini," ujarnya sembari mencubit pipi Sekar gemas.
Sekar memanyunkan bibirnya. "Boleh nggak sih, Pa ... kalau aku punya teman yang agak unik gitu?"
"Unik gimana?"
"Ya unik ... emmm ... maksudku, terlihat buruk di mata kebanyakan orang, terlihat abnormal gitu, tapi sebenarnya tuh enggak."
"Kalau Papa sih boleh-boleh aja. Kalau cuma temenan loh, Se ... inget, te-me-nan," tegasnya. "Asal bisa membawa diri dan nggak perpengaruh buruk buat kamu."
"Kalau Mama?" tanya Sekar.
"Wah, nggak tahu tuh kalau Mama. Kayaknya sih bakalan susah," kekeh Papa.
Sekar mendengus. "Payah nih Mama," gerutunya.
Mama muncul dari balik pintu dengan wajah cemberut. Membuat Papa dan Sekar saling pandang dan terkekeh.
***
NITTEDAL, OSLO.
"For gudene som alltid er med oss (untuk para dewa yang senantiasa bersama kita)."
"Odin, Frigg, Baldr, Thor, dan Tyr."
Seorang Gothi (pendeta) berjubah hitam dengan penutup kepala mengangkat satu cawan berisi anggur merah. Ia berdiri di belakang altar.
Di atas altar, ada dua mangkuk, satu pohon lilin, dan satu mabkhara (tempat dupa) berisi elemen klasik yang diletakkan sejajar dengan empat arah mata angin. Satu mangkuk berisi tanah di arah utara sebagai simbol bumi, satu mangkuk di arah barat berisi air, satu mabkhara berisi dupa di arah timur sebagai simbol angin, dan satu pohon lilin bercabang tiga berisi lilin di arah selatan sebagai simbol api. Sebuah athame (belati) tergeletak di tengah altar. Lalu sebilah tongkat perak dengan kepala berbentuk bulan berada di sebelahnya.
Sang Gothi membuka The Book Of Shadow yang berisi mantra-mantra Magick dan instruksi ritual.
Empat orang pemuda, semua berjubah hitam dan bertudung kepala, dengan tali kecil warna putih yang mengikat pinggang mereka dan difungsikan sebagai sabuk, berjalan pelan memutari ruangan remang-remang yang hanya diterangi oleh cahaya lilin di setiap sudutnya.
"Stoppe (berhenti)!" seru sang Gothi sembari mengangkat tongkatnya. "Kom hit (kemarilah)," titahnya.
Keempatnya berjalan pelan menuju ke depan altar dan berdiri berjejer. Mereka membuka tudung masing-masing.
Einar, Folke, Goran dan Edvard berlutut sembari menopang tubuh mereka dengan tangan.
Sang Gothi berjalan memutar altar dan berhenti di depan mereka. Ia membawa Book of Shadow di tangan kirinya, dan satu tangan yang lain memegang pisau belati. Pria berjanggut putih itu mengangkat kedua tangannya. Mulutnya berkomat-kamit mengucap mantra.
"Herre, jeg ber deg om å bli med meg i navnet på månekraft, jeg vil at du skal gi meg styrke. Velsigne meg ...."
"Einar!" panggilnya. Ia menyerahkan pisau belati pada Einar. Pemuda itu menggores telapak tangannya sedikit hingga beberapa tetes jatuh ke cawan perak yang telah disiapkan oleh sang Pendeta. Ia kemudian menyerahkan pisau pada Folke. Pemuda itu melakukan hal yang sama. Begitu pun dengan Goran dan Edvard.
Darah ke empatnya terkumpul di dalam cawan yang dibawa oleh sang Pendeta.
Pria tua itu meletakkan cawan ke atas altar. Lalu berjalan memutar kembali ke belakang altar.
"Stå opp (berdiri)," titahnya.
Einar dan yang lainnya berdiri. Menautkan lengan masing-masing ke depan badan mereka.
"Helvete festival akan menjadi milik kalian," ucapnya memberi berkat.
"Ahh-men!" seru keempatnya secara bersamaan.
Einar diikuti oleh Folke, Goran dan Edvard, berjalan mendekat pada sang pendeta, membungkuk dan menyilangkan lengan ke dada mereka. Pria itu menyentuh kepala keempat pemuda itu satu persatu sebagai tanda ritual meminta kelancaran telah selesai.
***
FROGNER, OSLO.
"Hmmm ...." Sekar bergumam sembari mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti alunan musik yang terdengar di headsetnya.
Ia memperhatikan layar ponselnya.
Berge. Begitu judul lagu yang tengah ia dengarkan melalui halaman youtubenya.
Lagu milik Lord Abaddon, tentu saja.
"Manis ...." Bibir Sekar mencebik. Tidak seperti dua lagu yang pernah ia dengarkan yang terkesan begitu brutal, lagu Berge ini cukup terdengar romantis.
Oh, tapi tunggu dulu. Sampai pada hampir pertengahan lagu, gitar Einar dan suara Folke berubah ekstrim, seperti biasa.
Sekar terkekeh.
Dasar Einar, aransemen lagunya sungguh tak terduga.
Senyum manis pemuda itu kembali melintas. Ia bisa membayangkan bagaimana jahilnya wajah Einar ketika merancang lagu ini.
Manis di awal, menghentak di tengah, lalu tiba-tiba menjadi manis kembali, begitu seterusnya.
Apa yang dia pikirkan, ya?
Ponsel Sekar bergetar tiba-tiba. Satu pesan masuk ke layar membuat matanya membola.
Hei, Petite Sekar, kau sudah sembuh?
***
***
***
Lagu berjudul Berge adalah lagu milik Ellende, band black metal asal Austria.