
"Sini kamu, Se!"
Sekar mengurungkan niatnya untuk menaiki tangga menuju kamarnya ketika suara Mama dari ruang tengah memanggilnya. Dengan malas ia berjalan mendekati Mama yang tengah duduk di sofa sendirian.
"Duduk sini," titah Mama. Wajah wanita paruh baya itu sepertinya tidak terlalu senang. Dan Sekar tahu apa yang akan Mama bicarakan.
"Kenapa nggak mau dijemput sama Pak Karso tadi?"
"Aku udah izin Papa mau les gitar."
"Terus pulangnya dianter sama Einar itu? Nyari kesempatan kamu ya, Se?"
"Kesempatan apa sih, Ma? Einar itu cuma temen," protes Sekar.
Mama memijit keningnya seraya menghela napas berat. "Kamu ngerti nggak kalau Mama itu khawatir sama kamu? Kalau mau nyari temen yang bener dong, Se."
Sekar hanya diam saja. Ia malas mendebat Mama. Tidak akan ada selesainya.
"Einar ini kan umurnya jauh lebih tua dari kamu, Se. 24 atau 25, mungkin. Ngapain coba bergaul sama anak perempuan umur 16 tahun kalau nggak ada niat macem-macem."
Sekar merasa hatinya tersayat mendengar tuduhan Mama pada Einar. Entah kenapa sudut matanya kini mengembun. Ia merasa nyaman ketika bersama Einar. Tak sekali pun pemuda itu bersikap kurang ajar padanya. Bahkan ketika ia mabuk berat dan tidur satu ranjang dengannya, Einar memperlakukannya dengan sangat baik. Menjaga dan memberi kenyamanan padanya.
"Apa lagi ini nggak jelas asal usulnya. Penampilan kaya gitu. Gondrong, tatoan, astaga ...."
Sekar tidak tahan lagi mendengar Mama menjelek-jelekkan Einar. Ia pun beranjak dari duduknya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Eh, mau ke mana kamu? Mama belum selesai ngomong, Sekar!"
"Aku ngantuk, Ma," sahut Sekar. Ia berdiri mematung di depan pintu kamarnya.
"Pa, Sekar itu loh susah banget dibilangin."
"Udah, biarin dulu, Ma."
Sekar menghela napas panjang. Membiarkan saja Papa yang sepertinya sedang menenangkan Mama. Ia masuk ke dalam kamar dan melempar tas selempangnya ke atas ranjang. Lalu ia pun merebahkan badannya. Disusutnya tetesan bening yang mengalir dari sudut matanya.
Statusnya dengan Einar yang masih menjadi teman saja, Mama sudah membangun benteng yang begitu tinggi. Bagaimana jika Einar menjadi kekasihnya?
Sekar meraup wajahnya. Kekasih. Sampai saat ini saja Sekar tidak tahu apakah Einar menyukainya atau tidak. Kemungkinan besar pemuda itu hanya menganggapnya sebagai sahabat, atau bahkan adik.
Tapi Sekar tidak ingin memedulikan semua itu. Bisa dekat dengan Einar saja, bertemu dengannya setiap hari, sudah membuatnya bahagia. Apa lagi bisa memeluknya lama-lama, menikmati senyum manisnya, merajuk di depannya, dan semua hal tentang Einar.
Sekar merogoh tas dan mengambil ponselnya. Ia menggulir layar mencari nomor Einar.
Ein, I feel so sad right now but I don't know why (aku merasa sangat sedih sekarang tapi aku tidak tahu kenapa).
Ia menekan tombol kirim. Lalu melempar ponselnya sembarang. Ia menarik selimut tebalnya dan bersembunyi di bawahnya.
***
NITTEDAL, OSLO.
Einar menenggak botol Jameson whiskeynya sesaat sebelum mengangkat tangan memberi aba-aba pada Folke, Goran dan Edvard untuk masuk ke dalam intro lagu.
"En (satu) ...."
"To (dua) ...."
"Tre (tiga) ...."
Petikan gitar a la medieval terdengar dari perpaduan rhythm gitar Folke dan lead gitar Einar. Disusul dengan betotan bas Edvard dan tabuhan drum Goran.
Intro lagu berdurasi 58 detik itu mengalun manis. Einar meginjak efek gitar Behringernya untuk mengganti suara akustik menjadi distorsi berat. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam lalu melanjutkan cabikan gitarnya mengiringi vokal menjerit Folke.
Ulverytternes kamp (perang para penunggang serigala), lagu yang Einar tulis satu tahun lalu itu terdengar sedikit berbeda dari lagu-lagu lain yang pernah ia garap. Bas yang begitu menonjol dan ketukan drum yang dinamik.
Einar menghisap rokoknya kembali. Ia mengakhiri lagu dengan satu cabikan seraya menggoyang neck gitar di genggaman tangannya.
"For avslutningssangen (untuk lagu penutup)," ujar Einar. Ia mengambil botol minum kemudian menenggaknya.
"Perfekt (sempurna)!" seru Edvard. "Ex Cathedra bagaimana?"
"Mainkan di tengah." Einar meletakkan gitarnya di lantai. Folke dan Goran mengacungkan jempol tanda setuju.
Einar meninggalkan studio menuju ruang tengah. Sementara Folke, Edvard dan Goran masih berdiskusi mengenai komposisi lagu.
Ia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Sembari menghisap sisa rokoknya, ia memeriksa layar. Satu pesan dari Sekar. Terkirim dua jam yang lalu.
Ein, I feel so sad right now but I don't know why (aku merasa sangat sedih sekarang tapi aku tidak tahu kenapa).
Tanpa pikir panjang ia segera menghubungi gadis itu. Pada dering ke lima, telpon tersambung.
"Are you okay (kau baik-baik saja)?"
"Hmmm." Suara gumaman Sekar di seberang sana. "Aku sedih, Ein."
"Ada apa, Sekar?" Einar mendengar helaan napas Sekar yang berat.
"Tidak tahu."
Einar tak bisa menahan tawanya. Sekar memang gadis random. Tapi hal itu membuatnya gemas setengah mati.
"Kenapa kau tertawa, Ein? Aku sedang sedih," sungut Sekar.
"Kau sedih tapi tidak tahu kenapa. Itu lucu ... maksudku ... aneh."
"Aku bosan."
"Baca buku, Sekar."
"Tidak mau."
"Terus maumu apa?"
"Tidak tahu."
Einar terbahak seraya menepuk keningnya. "Kau mau aku menculikmu sekarang?" guraunya.
"Iya."
"Aku serius, Ein."
"Astaga, Sekar. Aku bercanda."
Terdengar Sekar menghela napas kecewa. "Ya sudah, aku tidur saja."
"Okay ... see you tomorrow, Sekar. Sweet ...." Belum sempat Einar menyelesaikan kalimatnya, Sekar menutup telponnya begitu saja.
Einar menggeleng pelan sembari tersenyum. Benar-benar gadis yang aneh. Tapi entah kenapa ia suka ketika Sekar sedang merengek atau merajuk padanya. Membuatnya ingin menenggelamkan tubuh mungil gadis itu dalam pelukannya.
***
LILLE ARKANA, OSLO.
"Aku turun di sini, Pak!" sekar berseru pada Pak Karso. Pria itu menepikan mobil di depan sebuah toko barang antik yang ditunjuk oleh Sekar.
"Katanya mau les gitar, Non?" tanya Pak Karso.
"Mau mampir sini dulu. Pak Karso pulang aja, nanti aku naik taksi ke tempat Einar."
"Nyonya bilang Bapak suruh nungguin, Non."
"Ishh ... nggak usah," ujar Sekar seraya membuka pintu mobil dan melompat keluar.
"Waduh, kena marah lagi saya nanti," gerutu Pak Karso.
"Nggak," sahut Sekar dengan entengnya.
Ia melangkah riang masuk ke dalam toko. Di sana ia disambut oleh Liana dan Cassandra.
"Hei, Sekar, nice outfit (bajunya bagus)," puji Cassandra seraya memeriksa pakaian yang dikenakan oleh Sekar. Kemeja putih berkerah yang ditumpuk dengan sweater panjang dan celana legging hitam yang dipadu dengan boot setinggi lutut.
"Thanks," sahut Sekar dengan senyum lebarnya. "Owh, aku harus membeli beberapa barang untuk mengisi altar Lilithku," ujarnya sembari mengambil sebuah buku dari dalam tasnya.
Liana tertawa renyah. "Kau bagian dari kami, kau tidak usah membelinya. Gratis."
"Benarkah?" tanya Sekar.
"Tentu saja, Sekar," sahut Cassandra. "Ayo, aku bantu memilih barang-barang yang kau butuhkan."
Sekar mengikuti Cassandra berkeliling memilih barang sembari membuka buku catatannya. Ia menunjukkannya pada gadis berambut pirang itu.
"Okay ... patung Lilith ... lukisan angkasa ...." Cassandra membaca barisan tulisan Sekar di dalam buku.
Beberapa menit kemudian semua barang yang dibutuhkan telah terkumpul. Liana membantu Cassandra memasukkannya ke dalam satu kardus berukuran sedang.
"Apa kalian bisa menemaniku ke Helvete festival besok?" tanya Sekar.
Liana dan Cassandra saling memandang. "Helvete? Tempat berkumpulnya pria-pria bercat wajah tengkorak?"
Sekar mengangguk. "Ya, aku mau menonton Lord Abaddon."
Cassandra menatap Liana dengan senyum jahil. Wajah gadis cantik berambut ikal itu berubah suram.
"Liana bermasalah dengan salah satu personel Lord Abaddon," kekeh Cassandra.
"Aku sudah tahu. Einar yang menceritakannya," ucap Sekar.
"Owh, kau dekat dengan Einar Haugen? Ah, iya aku ingat dia pernah menjemputmu di sini."
Sekar meringis. Pipinya bersemu merah.
"Lord Abaddon ... sekumpulan pria-pria menyebalkan," gerutu Liana sembari mengikat kardus dengan kasar.
"Folke yang paling menyebalkan, Liana," goda Cassandra. Liana memutar bola matanya sebal.
"Einar pacarmu, Sekar?" tanya Cassandra.
Sekar menggeleng cepat. "Bukan ... dia ... hanya teman," jawabnya gugup.
"Tidak bisa dipercaya," gumam Liana. "Kenapa kita harus selalu terlibat dengan mereka? Sudah lama aku menahan diri untuk tidak memikirkan masa lalu."
Cassandra mengedikkan bahunya. "Jodoh," kekehnya.
Liana mendesis. "Omong kosong," sungutnya.
"Jadi bagaimana? Kalian mau atau tidak?" tanya Sekar.
"Kalau aku tidak ada masalah," jawab Cassandra. Lalu ia menoleh pada Liana. "Aku tidak tahu dengan Liana."
Liana berpikir sejenak. Lalu menghela napasnya dengan berat. "Baiklah, karena kau yang meminta, Sekar."
Sekar tersenyum senang. "Owh, aku harus pergi," ujarnya sembari memeriksa jam di pergelangan tangannya. "Bisa kutitipkan di sini dulu barangnya?"
"Sure (tentu)."
"Sampai besok, Cassandra, Liana," ucap Sekar seraya mengecup pipi kedua gadis itu sekilas, lalu melangkah keluar dari toko.
"Mau mengerjai Folke dan teman-temannya lagi?" tawar Cassandra.
Liana menatap Cassandra. Lalu menyunggingkan senyum miringnya.
"Tentu."
***
***
***
*Hello, Silent Readers.
Dor
Dor*