
"Terungkap insiden pengeboman di Helvete metal festival, Øya, yang menelan korban jiwa sebanyak 20 orang adalah perseteruan antara sekte Luciferian Witchcraft dan Satanic Norse Paganism yang akhir-akhir ini mulai muncul kembali di Oslo. Nama Lord Abaddon, band black metal yang beberapa tahun lalu terlibat insiden pembakaran gereja di Nittedal muncul sebagai bagian dari salah satu pihak yang berseteru ...."
Suara pembaca berita di televisi membuat Mama terpekik. Sementara Papa hanya duduk terpaku menatap layar televisi.
"Mama bilang juga apa!" serunya. "Papa biarin orang berbahaya ada di kamar Sekar!"
Mama beranjak dari duduknya dan melangkah menuju tangga. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Einar sedang menuruni tangga.
"Tolong jangan ganggu puteri kami lagi." Mama berucap dingin. Einar sedikit terkejut mendengar perkataan wanita paruh baya itu, namun ia tidak bisa berkata apa-apa.
"Einar, bisa kita bicara sebentar?" tanya Papa.
"Yes, Sir." Einar mengangguk dan mengikuti Papa menuju teras rumah.
"Sejak kecil Sekar susah berteman. Dia anak yang penyendiri." Papa memulai pembicaraan ketika Einar telah duduk di hadapannya. "Dia selalu sibuk dengan pianonya." Papa tersenyum mengingat masa kecil Sekar.
"Aku tidak menyangka Sekar mau membuka diri dan berteman denganmu."
"Aku yakin kau pemuda yang baik, Einar. Aku bisa melihat ketulusanmu berteman dengan puteriku."
"Hanya saja ...." Papa menghela napas dengan berat. "Kau berada di lingkungan yang berbahaya, terutama untuk Sekar."
"Aku tidak sedang menghakimi apa pun yang kau lakukan dalam hidupmu. Itu hakmu, Einar. Aku hanya memikirkan keselamatan puteriku."
"Sekar puteriku satu-satunya," lanjut Papa. Ia menatap ke arah Einar yang tengah menundukkan wajah. "Aku harap kau bisa mengerti posisiku sebagai seorang ayah yang ingin selalu melindungi puterinya."
"Sir ...." Einar kini memberanikan diri untuk menatap Papa. "Aku mengerti. Kau mau aku menjauhi Sekar?"
Kembali Papa menghela napas dengan berat. "Aku minta maaf, Einar. Aku tidak punya pilihan lain."
Einar mengangguk dengan berat hati. Ada sesuatu yang hilang secara tiba-tiba. Hatinya terasa perih. Namun ia sangat mengerti kekhawatiran pria paruh baya di hadapannya ini. Jika ia ayah dari seorang puteri, mungkin ia akan melakukan hal yang sama. Ia tidak ingin menjadi kerikil dalam keluarga Sekar. Ia tidak layak.
"Aku berjanji tidak akan menemui Sekar lagi, Pak."
Papa mengangguk-angguk. Lalu beranjak dari duduknya. "Terima kasih, Einar." Ia menepuk-nepuk bahu Einar yang ikut berdiri di hadapannya.
Akhirnya dengan perasaan yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, ia pun berpamitan pada Papa.
Ia merasa kehilangan, merasa kosong, dan juga hampa. Separuh jiwanya seakan terbang entah ke mana.
Sebelum melajukan motornya, ia menyempatkan diri untuk memandang sejenak jendela kamar Sekar yang masih terlihat terang. Wajah menggemaskan gadis itu ketika sedang merajuk, mungkin tidak akan pernah ia saksikan lagi. Einar tersenyum pahit.
"Good bye, Sekar."
.
.
"Gimana, Se ... udah merasa baikan?" tanya Mama sembari menaruh menu sarapan ke piring Sekar. Omelette, sayur brokoli rebus dan beberapa potong sosis.
Pagi itu, Sekar terlihat segar. Wajahnya pun tidak lagi murung. Senyumnya terus tersungging di bibirnya. Masih terbayang dengan jelas wajah panik Einar kemarin malam ketika ia tiba-tiba memeluknya.
"Lumayan, Ma," jawab Sekar seraya mengunyah potongan brokoli. "Pa, makasih, ya ... udah ngizinin Einar nemenin aku. Walaupun cuma sebentar."
Papa yang tengah meneguk segelas air putih hampir saja tersedak.
"Papa, pelan-pelan, dong, minumnya," ujar Mama.
Papa terkekeh. Lalu melempar senyum pada Sekar yang meringis melihatnya menepuk-nepuk dada.
"Papa berangkat dulu, ya. Se, nanti Pak Karso balik lagi buat nganter kamu ke sekolah." Papa beranjak dari duduknya.
"Mau naik taksi aja?"
Sekar mengangguk. Lalu memandang ke arah Mama meminta persetujuan. Wanita itu hanya mencebikkan bibirnya. Mata Sekar mengikuti gerakan Papanya mendekat pada Mama lalu mencium kening wanita paruh baya itu. Kemudian Papa meraih kepalanya dan melakukan hal yang sama padanya.
***
GRØNLAND, OSLO.
Einar duduk terdiam di atas bean bagnya, memandang dinding kamarnya dengan tatapan kosong selama beberapa menit. Kedua lengannya ia letakkan di atas gitar yang berada dalam pangkuannya.
Ia terkesiap ketika ponsel di atas ranjang berdering. Tangannya meraih benda itu dan segera memeriksa layar. Dadanya terasa nyeri membaca satu nama yang tertera. Ia memejamkan matanya. Lalu menggeleng, menghela napas dan mendecak.
Dengan berat hati ia menyentuh tombol reject dan mematikan ponselnya.
"F uck!" umpatnya entah pada siapa. Pada keadaan, mungkin. Ia menghela napasnya dengan berat. Lalu meraup wajahnya kasar.
Einar memasukkan kabel jack gitar ke dalam ampli dan mulai memainkan gitarnya. Melodi paling menyayat hati yang pernah terbersit di kepalanya. Mengalir begitu saja. Kosong seperti yang hatinya rasakan saat ini.
Ia menjadi begitu melankolis. Sosok gitaris dengan cabikannya yang brutal seakan lenyap entah ke mana.
"Ein!"
"Ein!"
Suara Agnes terdengar bersamaan dengan ketukan pintu kamarnya. Einar menghentikan permainan gitarnya dan segera membuka pintu.
"Ada yang mencarimu," kata Agnes.
Einar melongok keluar pintu dan mendapati seorang gadis berambut merah tengah duduk di sofa ruang tamu, tersenyum menatapnya.
.
.
Di depan pintu gerbang sekolah, Sekar menatap layar ponselnya dengan wajah keheranan. Ponsel Einar tiba-tiba saja tidak aktif. Padahal beberapa saat lalu masih tersambung. Namun panggilannya ditolak.
"Kenapa, ya?" gumamnya. Ia tertegun sejenak. Kemudian tangannya melambai pada taksi yang melintas pelan di depannya.
"Grønland, Sir," ucapnya pada supir taksi ketika ia telah duduk di kursi belakang.
Dalam perjalanan, Sekar mencoba menelpon Einar kembali. Namun masih sama. Ponselnya tidak aktif. Dadanya mulai berdebar kencang. Ia merasa ada yang tidak beres.Tidak biasanya Einar mematikan ponsel. Kalau pun Einar tidak sempat menjawab telponnya saat itu juga, beberapa saat kemudian ia pasti akan menelpon balik. Tapi kali ini tidak ada respon apa pun dari pemuda itu.
Sampai di depan gedung apartemen Einar di Grønland, Sekar menghambur keluar taksi setelah memberikan uang 80 nok (krona) pada supir taksi. Ia berdiri di depan pintu lobi sembari berpikir apakah Einar ada di apartemennya atau tidak. Mungkin saja ia sedang bekerja, atau berada di Nittedal.
Sekar memutuskan untuk masuk saja mengecek keberadaan Einar. Lagi pula ia bisa bertanya pada Agnes. Namun, baru beberapa langkah saja dari pintu lobi, ia berhenti.
Ia tersenyum ketika melihat Einar muncul dari balik pintu sembari mengenakan jaketnya. Rambut panjangnya ia ikat sebagian, menyisakan anak rambut yang jatuh di dahinya.
"Ein!" panggilnya riang.
Namun senyumnya seketika memudar begitu seorang gadis berambut merah muncul dari balik punggung Einar.
***
***
***