LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 18. Focus, Sekar.



GRØNLAND, OSLO.


"Kom inn (masuk)."


Einar membuka pintu apartemennya lebar-lebar dan mempersilahkan Sekar untuk masuk.


"Where's your mother (mana ibumu)?" tanya Sekar sembari melongok ke ruang sebelah melalui pintu yang sedikit terbuka.


"Di ruang sebelah, mungkin. Emm ... kau tunggu di sini, aku akan memasang senar gitar sebentar," sahut Einar sembari melangkah masuk ke dalam kamarnya.


Sekar mengangguk. Ia pun mendekat ke pintu ruang sebelah dan melongok ke dalam. Ia melihat seorang wanita paruh baya, Ibu Einar, tengah merajut sweater wol.


"Hallo," sapanya pada wanita itu. "Mam (bu)?"


Wanita itu menoleh. "Owh ... du **E**inar venn (kau teman Einar)," ujarnya begitu mengenali wajah Sekar.


"Ja (ya)," sahut Sekar sembari menyodorkan satu kotak makanan yang tadi dibelinya di perjalanan.


"Hva er dette (apa ini)?"


"Emm ...." Sekar berpikir sejenak mengingat nama makanan kesukaan wanita itu. "Farikal."


"Oww ... tusen takk (terimakasih banyak)." Wanita itu menerima kotak makanan dengan senang. "Jeg er Agnes (aku Agnes)." Nyonya Agnes mengulurkan tangan menjabat tangan Sekar.


"Jeg er Sekar (aku Sekar)." Sekar memperkenalkan diri.


"Gadis yang cantik," ucap Nyonya Agnes sembari mengelus pipi Sekar.


Sekar tersipu. "Takk, Fru Agnes (terimakasih Nyonya Agnes)."


"Panggil Agnes saja." Nyonya Agnes tersenyum.


"Sekar!" panggil Einar yang telah berdiri di ambang pintu.


Nyonya Agnes dan Sekar menoleh bersamaan ke arah Einar. "Permisi, Agnes," ucap Sekar sembari melangkah mengikuti Einar masuk ke kamarnya.


"Kau punya dua gitar akustik?" tanya Sekar begitu masuk ke dalam kamar Einar dan meraih satu gitar yang ada di atas ranjang. Satu gitar lagi masih tersandar di stand.


"Gitar pertama yang kubeli," jawab Einar seraya mengambil gitar di stand dan menggenjrengnya. "Kau mau duduk di mana?" tanya Einar.


"Di sini." Sekar menepuk ranjang Einar dan duduk di atasnya.


"Okay," ujar Einar sembari menarik kursi bean bag ke hadapan Sekar dan mendudukinya.


"Where do we start (kita mulai dari mana)," ujar Einar. Ia memutar tuning page gitarnya untuk mengembalikan senar menurun seperti semula. "Aku yakin aku tidak harus mengajarimu dari awal," kekehnya.


"Nada-nada dasar kau sudah tahu, kan?" ujar Einar sembari memetik senar dari yang paling atas hingga paling bawah. "Mungkin kau harus mempelajari gitar klasik terlebih dahulu, sebelum berpindah pada elektrik, distorsi dan lain-lain ...."


Sekar meringis sembari mengangguk. Ia lebih tertarik memandangi wajah Einar dari pada mendengarkan apa yang dikatakannya. Ia tidak membutuhkan seorang guru untuk belajar gitar. Ia bisa dengan mudah mempelajarinya sendiri.


Yang ia butuhkan hanyalah, dekat dengan Einar.


"... fingering (penjariannya) memang cukup rumit karena semua jari di tangan kiri dan kanan semuanya memetik senar. Tapi aku yakin kau akan cepat menyesuaikan karena kau seorang pianist ... jadi ...."


Sekar tersenyum-senyum memandangi wajah Einar yang tampak serius menerangkan pelajaran gitarnya. Tangan kokohnya yang penuh dengan tato itu memegang dan memetik senar gitar dengan lihai. So manly (macho sekali).


"Mau mencoba Canon D?" tanya Einar. "Sekar?"


"Ah, ya ...." Sekar tergagap. "Canon D? Okay."


"Focus, Sekar!" ujar Einar yang sedikit jengah dipandangi terus-terusan oleh Sekar. Bukan ia tak suka, hanya saja, ia ingin Sekar memperhatikan apa yang ia sampaikan. "Kita main di D," lanjutnya membari instruksi pada Sekar.


"... lalu A ... B minor ... F# minor ... G ... D ... G ... A ...."


Otak kiri Sekar menampung pelajaran dari Einar, sementara otak kanannya merekam gerakan bibir Einar mengucapkan kunci-kunci gitar.


Begitu seterusnya hingga satu jam ke depan Einar mengakhiri pelajarannya.


"Sekar, mau makan malam di sini?" Nyonya Agnes muncul di ambang pintu.


Sekar memandang Einar sekilas, lalu mengangguk setuju.


"Okay, middagen vil være klar om femten minutter (makan malam akan siap lima belas menit lagi)," ujar Nyonya Agnes.


Sekar mengangguk senang. Begitu Nyonya Agnes berlalu, ia menghempaskan badan di atas ranjang Einar sembari merenggangkan otot-ototnya.


"Ein," panggil Sekar pada Einar yang masih memetiki gitarnya mengalunkan sebuah lagu celtic, sepertinya, sembari menyandarkan punggungnya pada kursi bean bag. Wajahnya menengadah menghadap langit-langit kamarnya.


"Ja ... hva (ya ... apa), Sekar?"


"Lagu Ex Cathedra, apa maksudnya?"


Einar mengangkat kepalanya dan memandang pada Sekar yang tengah berbaring menengadah sembari melipat kedua lengan di bawah kepalanya.


"Kenapa kau menjadi seorang Antichrist (anti kristus)?" lanjut Sekar. Kini ia memiringkan badannya, menghadap pada Einar.


"Mereka yang anti kami," kekeh Einar. "Agama leluhur kami dianggap satanic."


Sekar bangkit dari atas ranjang dan duduk di tepiannya. Topik pembicaraan mereka mulai menarik. "Tentang pembakaran gereja, bagaimana?"


Einar tersenyum tipis. "Aku akan menceritakannya. Tapi, sebelumnya, kau harus membaca tentang seseorang bernama Anders Behring Breivik dan sepak terjangnya terlebih dahulu. Dia seorang ekstrimis sayap kanan di negara ini."


Sekar mengangguk-angguk. Politik. Konspirasi.


"Boleh merokok?" tanya Einar sembari meraih satu bungkus rokok dan koreknya dari atas meja. "Akan kubuka jendelanya," lanjutnya sembari melangkah ke arah jendela kamar dan membukanya. Ia pun duduk di tepiannya sembari menarik satu lututnya dan menopang lengannya di sana.


Sekar memperhatikan gerak-gerik Einar menyalakan rokok, menghisap dan menghembuskan asapnya.


Lagi-lagi. So manly (macho sekali).


"Ein ...."


"Ja (ya)?"


"Do you really like Anna (apa kau benar-benar menyukai Anna?"


"Ya, dari pertama kali aku melihatnya. Kau sudah melihatnya. Dia pelayan di toko bunga yang potnya kau pecahkan," gurau Einar.


Namun gurauan itu membuat dada Sekar terasa sesak. "Hanya karena dia cantik, manis, baik?"


"Wajahnya mengingatkanku pada Peri-peri hutan," kekehnya. "Soft and pure (lembut dan polos)."


Wajah Sekar berubah masam. Ia tidak suka Einar memuji Anna. Tapi bukankah ia sendiri yang memancingnya?


"Middagen er klar (makan malam sudah siap)."


Nyonya Agnes muncul kembali dari arah pintu. Tanpa menunggu Einar menghabiskan rokoknya, Sekar segera beranjak dari duduknya dan mengikuti Nyonya Agnes keluar dari kamar Einar.


.


.


"Sekar? Kau baik-baik saja?" tanya Einar sembari mengemudikan motornya menelusuri jalanan yang ramai.


"Hmmm," sahut Sekar.


"Dari tadi kau diam saja."


"I'm in a bad mood (suasana hatiku sedang tidak bagus)."


Einar terbahak. "Why (kenapa)?"


Karena kau memuji-muji Anna.


"Kau ini memang tak bisa ditebak, ya," gurau Einar. Ia membelokan motornya masuk area Møllergata, di mana restauran tempat Einar bekerja berada. Karena untuk menuju rumah Sekar di Frogner, jalan ini yang tercepat.


"What the hell (apa-apaan ini)!" seru Einar tiba-tiba sembari menepikan motornya di depan Hell's Kitchen.


Sekar yang keheranan turun dari motor Einar dan memandangi gerakan tubuh pemuda itu berlarian ke arah toko bunga, di mana ada satu wanita dan satu pria tengah bertengkar hebat. Ia terkejut ketika melihat tangan si pria dengan keras menampar pipi si wanita. Wanita berambut merah. Seorang gadis yang membuatnya terbakar cemburu. Anna.


"Jævel (kepa rat)!"


Sekar tersentak mendengar Einar bersumpah serapah dengan bahasa norsk yang cukup kasar. Ia melihat Einar meraih kerah baju pria itu dan memukulinya bertubi-tubi.


Pria itu terjerembab. Einar menarik kerah belakang pakaiannya, lalu memukulinya lagi, dan lagi. Anna menjerit sembari menarik lengan Einar mencoba memisahkannya dari pria itu.


"Einar ... stoppe!" Anna berteriak kencang.


Sekar masih terpaku di tempatnya. Tubuhnya terasa kaku. Segala yang ada di hadapannya terlihat seperti adegan slow motion (gerakan pelan). Ia memandangi pria yang terkapar dengan wajah babak belur itu, lalu Einar yang tengah memeluk Anna.


Einar memeluk Anna yang tengah menangis.


Memeluknya dengan erat.


"Sekar ...."


"Sekar ...."


"Hold yourself, My Priestess (tahan dirimu, Pendeta wanitaku) ....


Sekar mengepalkan kedua telapak tangannya. Matanya memerah. Awan hitam bernaung di atas kepalanya. Wajahnya, gelap.


"Sekar!"


"Sekar!"


"Hei?"


Sekar terkesiap. Ia mendapati Einar tengah mengguncang bahunya. Ia menatap Einar dengan mata yang berat.


"Kau bisa menelpon supirmu untuk menjemputmu? Aku harus mengantar Anna."


Sekar menepis tangan Einar yang masih memegangi bahunya. "Don't touch me (jangan sentuh aku)!" ujar Sekar dengan suara parau.


"Sekar?" Einar mencoba meraih bahu Sekar kembali.


"I said don't touch me (aku bilang jangan sentuh aku)!" teriak Sekar dengan suara menggelegar. Matanya melotot pada Einar. Jari telunjuknya menunjuk tepat di depan wajah pemuda itu.


Ia membalikkan badan, lalu berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Einar yang memanggil-manggil namanya.


***


***


***