LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 32. Benteng.



Nyonya Agnes membulatkan matanya begitu melihat Einar keluar dari kamarnya dengan penampilan yang cukup rapi. Kemeja hitam dipadu dengan jean warna serupa, sepatu semi formal yang juga berwarna hitam, lalu rambutnya yang ia ikat rapi.


"Hvor skal du (kau mau ke mana)?" tanya Nyonya Agnes sembari menaikkan alisnya.


"Menonton opera," jawab Einar sembari menyunggingkan senyumnya.


"Hmmm?"


"Tidak usah heran begitu, Agnes," ujar Einar seraya meraih helm yang ada di atas bufet.


Bibir Nyonya Agnes mencebik. Ia memutar badan Einar sembari meneliti penampilannya. "Bagus," pujinya. "Tampan," ujarnya seraya menepuk-nepuk pipi Einar.


"Ser deg, Momma (sampai jumpa, Mama)," ucap Einar seraya mencium pipi ibunya sekilas.


"Sampaikan salamku pada Sekar," goda Nyonya Agnes.


Einar terbahak. "Dari mana kau tahu aku akan bertemu dengan Sekar?"


"Tahu saja."


Einar mengedikkan bahunya. Ia melambai pada Nyonya Agnes. Tak lupa ia membalik salib di atas televisi lalu membuka pintu dan melangkah keluar.


"Einar!" seru Nyonya Agnes geram. "Kau ini!"


Einar melongok dari luar pintu dan melambai sekali lagi pada ibunya sembari terkekeh. Ia pun berangkat dengan perasaan gembira yang membuncah.


.


.


THE INTERNASIONAL THEATRE ACADEMY NORWAY, OSLO.


Einar masuk ke dalam ruangan besar dengan barisan kursi yang membentuk kurva menanjak dan sebuah panggung besar melingkar berbentuk kipas di depan sana.


Ia mencari kursi kosong di deretan paling belakang. Ada dua kursi yang belum terisi oleh penonton.


"Unnskyld meg (permisi)," ujarnya ketika melewati satu orang yang duduk di sebelah kursi yang akan didudukinya.


Einar mendaratkan tubuhnya di atas kursi dan menatap ke arah panggung. Di mana Sekar kini sedang memainkan solo pianonya di sana. Bibir Einar tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Si gadis cerdas itu tengah larut dalam permainan pianonya. Wajah cantiknya tampak serius. Balutan gaun hitam yang begitu pas di tubuh mungilnya membuat kecantikannya bertambah berkali lipat.


"Bunganya indah sekali," celetuk seorang wanita lanjut usia yang duduk di samping Einar.


"Ah, terima kasih," sahut Einar tersipu. Ia memandang satu buket bunga campuran mawar dan lily yang ada di genggaman tangannya. Ide memberikan bunga untuk Sekar terlintas begitu saja sewaktu ia tadi melintas di depan sebuah toko bunga.


"Bunga untuk siapa?" Wanita itu kembali bertanya.


"Emm ... untuk gadis yang sedang bermain piano," kekeh Einar.


"Oww ... manis sekali. Dia pacarmu?"


Einar terbahak. "Bukan, dia temanku."


Wanita itu mengangguk-angguk seraya tersenyum. Einar sedikit salah tingkah dibuatnya. Ia kembali menatap ke arah panggung di mana pertunjukan drama musikal kini dimulai.


Pandangan matanya sama sekali tak lepas dari sosok Sekar yang begitu anggun di belakang pianonya. Sesekali ia melihat gadis itu melempar pandangan ke arahnya. Namun sepertinya ia tidak menyadari kehadiran Einar di sana.


Satu setengah jam Einar menikmati penampilan Sekar dan keseluruhan drama musikal yang sempurna. Tepuk tangan pun menggema ke seluruh ruangan.


Ketika seluruh team yang terlibat dalam acara itu berdiri berjejer di atas panggung untuk memberi penghormatan pada penonton, saat itu mata Einar beradu pandang dengan gadis bergaun hitam yang melempar senyum ke arahnya.


"Bravo," ucap Einar dengan gerakan bibir tanpa suara sembari bertepuk tangan.


"Thank you." Sekar di atas panggung membalas ucapan Einar.


Einar memutuskan menunggu Sekar di luar gedung untuk memberikan bunga padanya. Setengah jam lamanya ia berdiri menyandarkan punggungnya pada pilar besar sembari memperhatikan orang-orang yang baru saja keluar dari pintu utama gedung. Matanya berbinar ketika melihat Sekar keluar digandeng oleh ibunya. Ia buru-buru menyembunyikan bunga yang dibawanya ke balik punggung.


"Ein!" panggil Sekar seraya menghambur ke arah Einar. "Thank you for coming (terima kasih sudah datang)."


"Hei, look at you ... you look like an angel (lihat dirimu ... kau terlihat seperti malaikat)," puji Einar. Memang benar, Sekar terlihat begitu cantik. "Your performance was great (penampilanmu tadi bagus sekali)."


"Bunga untuk seorang pianist yang cantik," ucap Einar seraya menyerahkan satu buket bunga pada Sekar.


"Terima kasih, Ein." Mata Sekar berbinar menerima bunga cantik itu dan menciuminya.


"Sekar, ayo!" Suara Mama membuat senyum di bibir Sekar menghilang. Wanita itu menarik lengan Sekar menjauh dari Einar.


"Hallo, Nyonya," sapa Einar.


Namun Mama menanggapinya dengan dingin. Ia terus menarik lengan Sekar menuju ke arah mobil mereka yang terparkir di halaman gedung.


Sesekali Sekar menoleh ke arah Einar yang masih berdiri mematung memandangi kepergiannya. Einar menghela napas berat ketika melihat Sekar dan ibunya sepertinya terlibat argumentasi kecil. Dan hatinya mencelos ketika bunga di tangan Sekar direbut paksa oleh ibunya dan wanita itu membuangnya begitu saja ke tempat sampah yang berada tak jauh dari mobil mereka.


Mama mendorong Sekar masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya rapat-rapat. Ia menatap Einar sekilas dengan tatapan sinis. Lalu ia masuk ke dalam mobil dan mobil pun bergerak pelan keluar dari halaman gedung.


.


.


"Mama kenapa sih, masa dibuang bunganya?" gerutu Sekar. Ia melipat kedua tangan di depan dada. Bibirnya cemberut.


"Mama nggak suka sama si Einar Einar ini."


Sekar mendecak sebal. "Terserah Mama deh!"


"Memangnya di sekolah kamu nggak punya temen, Se? Sampai harus nyari temen yang nggak jelas kaya gitu?"


"Siapa sih yang nggak jelas? Mama asal ngomong deh kayaknya."


"Ya si Einar itu."


"Don't judge a book by its cover (jangan menilai buku dari sampulnya)," sela Sekar.


"Pokoknya Mama nggak suka. Titik."


Sekar menghembuskan napasnya kasar. Lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Beradu argumen dengan Mama adalah hal yang percumah. Lebih baik ia mengalah dan diam saja.


"Mama nggak ngizinin kamu les gitar sama dia lagi loh ya, Se."


"Kok gitu sih, Ma!" protes Sekar.


"Cari guru lain, masih banyak."


"Nggak mau!"


"Eeh, mulai susah ya dibilangin orang tua."


"Papa aja ngizinin."


"Nanti Mama bicara sama Papa."


Sekar menghempaskan badannya ke atas bantal di sampingnya. "Mama nyebelin!"


"Biarin. Demi kebaikan kamu kok. Iya, nggak Pak Karso?" tanya Mama pada Pak Karso yang sedari tadi mengemudi sembari mendengarkan pertengkaran ibu dan anak itu.


Pria paruh baya itu mengiyakan saja. Membantah nyonya besarnya ini bisa berakibat tidak baik untuk nasibnya.


***


***


***



*Tampilan Einar begini sih ya, pantes Mama nggak setuju🤣🤣🤣🤣


Sebenarnya tipe-tipe cowok begini adalah idaman aku sendiri🤪*