LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 39. Helvete And Chaos (2).



"Wow ... lihat ini, kita kedatangan para Penyihir!" Edvard berseru. Semua mata tertuju pada tiga gadis berpakaian hitam yang berdiri dengan anggunnya.


Liana tersenyum miring, pada Folke yang berdiri mematung dan terdiam. Ia terpaku menatap gadis cantik berambut ikal panjang yang beberapa tahun lalu pernah singgah dalam kehidupannya, menorehkan kenangan indah namun sekaligus buruk.


"Lord Abaddon, hvordan har dere det (apa kabar kalian)?" sapa Liana dengan tenang.


"Tidak ada yang menyambut kami dengan minuman selamat datang?" sindir Cassandra ketika melihat pria-pria berambut panjang itu hanya diam terpaku di tempat masing-masing.


Edvard terbahak. "Owh, maafkan kami, Nona Penyihir ... emm ... maksudku, Nona Cassandra." Ia mencoba mencairkan suasana. "Folke ... bisa kau tuang minuman selamat datang untuk teman lama kita ini?" Ia memandang pada Folke.


"Emm ... selvfølgelig (tentu saja)," jawab Folke gugup. Pemuda berambut pirang itu mengambil tiga gelas kosong yang ada di atas meja lalu mengisinya dengan cairan warna kecokelatan dari botol yang baru saja dibukanya. "Untukmu, Sekar ... Cassandra, dan ... Liana," ucapnya seraya menyerahkan gelas pada ketiga gadis itu. "Sekar, aku tidak tahu kalau kau berteman dengan mereka." Ia melempar senyum pada Sekar.


"Dia saudara perempuan kami sekarang," sahut Liana.


"Owh, kau bergabung dengan sekte Luciferian?" tanya Folke pada Sekar. Lalu menoleh pada Einar yang masih terdiam di kursinya. Einar hanya menggeleng pelan.


"I follow the universe (aku mengikuti semesta)," sahut Sekar, disambut oleh cebikan bibir Folke.


Sementara Goran dan dua kru yang lain menyiapkan tiga kursi lipat untuk tempat duduk Liana, Cassandra dan Sekar.


Suasana kembali hening dan canggung.


"Folke? Apa kabarmu?" tanya Liana memecah keheningan di antara mereka.


Folke mengangkat kedua tangannya. "Seperti yang kau lihat, Liana."


Liana tersenyum miring. "Kau masih terlihat ... sama."


"Bagus atau buruk?" kekeh Folke.


Bibir Liana mencebik. "Buruk, tentu saja," ujarnya. Bertatap muka kembali dengan pemuda itu membuat rasa kesalnya muncul kembali. Ia belum melupakan masa lalunya dengan vocalist Lord Abaddon itu.


Folke terbahak. Ia menenggak botol di tangannya. Lalu menggeleng pelan.


"Bukankah ini hari yang tepat?" Edvard berseru. Membuat semua mata menatap padanya. "Hari yang tepat untuk menyelesaikan urusan yang belum tuntas." Ia mengedarkan pandangan ke arah semua orang. Meminta persetujuan atas perkataannya.


"Kau benar," sahut Cassandra. "Tidak baik menyimpan dendam terlalu lama. Masalah pribadi yang berkembang menjadi perseteruan antar sekte. Bukan begitu, Liana?" Cassandra menoleh pada Liana dan tersenyum miring.


Liana menarik sudut bibirnya. Ia menatap Folke tajam. Hatinya terasa nyeri. Luka lamanya kembali terbuka. Ingatannya yang masih sangat jelas ketika memergoki pemuda itu tidur dengan wanita lain membuat dadanya sesak. Sepertinya keputusannya mengiyakan ajakan Sekar adalah ide buruk. Tapi mendengar nama Lord Abaddon membuat rindunya pada pemuda berambut pirang itu datang dengan tiba-tiba. Ia memang rindu, tapi benci dan marah. Begitu bingungnya Liana dengan perasaannya sendiri, hingga satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah membuat kekacauan untuk mengerjai Folke, atau lebih tepatnya mencari perhatiannya.


"Aku datang kemari untuk menemani Sekar." Liana menyentuh lengan Sekar yang duduk di sampingnya. "Selain itu aku tidak punya niat apa-apa." Ia menyeringai. "Mari kita berbincang layaknya teman lama."


"Bisakah omongan seorang Penyihir kita percayai?" celetuk Folke seraya terkekeh.


"Apa maksudmu?" Cassandra berseru seraya menunjuk pada Folke.


"Pesta di mulai." Goran yang sejak tadi hanya menyimak kini menyeletuk. Kemudian tergelak.


Liana mendengus kesal. "Kalian masih sama, sekumpulan pria-pria menyebalkan!"


"Okay, Ladies and Gentlemen (nyonya-nyonya dan tuan-tuan) ... kalian selesaikan saja masalah kalian, aku butuh udara segar," ujar Einar seraya bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati Sekar lalu mengulurkan tangannya. "Mau ikut denganku?"


Sekar tersenyum dan mengangguk. Lalu menyambut uluran tangan Einar. Keduanya meninggalkan tempat itu diiringi tatapan tak suka Liana dan Cassandra.


.


.


Sungai kecil berbatu di tepi padang rumput itu sungguh menyegarkan mata Sekar. Ia duduk di tepiannya dan menyentuh airnya yang dingin.


"Ein, kenapa tidak menyambut kedatanganku tadi? Kau diam saja. Tidak senang aku datang?" tanya Sekar.


Einar yang duduk tak jauh di belakangnya terkekeh. "Aku terkejut kau datang bersama Liana dan Cassandra," jawabnya.


"Kau tidak suka aku berteman dengan mereka?"


"Aku sudah pernah mengatakan padamu, Sekar. Mereka itu ...."


"Ya, ya ... aku tahu," potong Sekar. "Aku juga sudah bilang kalau aku tidak punya masalah dengan itu. Lagi pula, mereka tidak seburuk yang kau pikirkan."


Sekar membalikkan badannya menghadap pada Einar yang kini berbaring di atas rumput sembari melipat kedua tangan di bawah kepalanya.


"Kau mabuk, ya?" Sekar memicingkan matanya menatap Einar yang tengah memejamkan mata. Pipi pemuda itu tampak memerah.


"Sedikit."


"Jam 8 malam, kurasa."


Sekar melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul empat sore. Ia tersenyum. Artinya masih banyak waktu untuk bersama si mata hazel ini. Ia merangkak mendekat pada Einar dan ikut berbaring di sebelahnya.


"Ein ...."


"Hmm ...."


Sekar memperhatikan wajah Einar di sampingnya itu. Pria scandinavia yang tampan. Gitaris brutal yang mumpuni. Front man Lord Abaddon yang cool. Ia terkikik sendiri dalam hati.


"Apa, Sekar?" Einar membuka matanya dan menoleh pada Sekar. Mata hazelnya menatapnya sendu.


Sekar buru-buru mengalihkan pandangannya ke langit. Ia tidak bisa berlama-lama menatap sepasang mata itu. "Tidak apa-apa," jawabnya.


"Aku suka dandananmu. Gothic," ujar Einar. "Membuatmu terlihat seperti wanita dewasa," lanjutnya.


"Aku memang sudah dewasa," sahut Sekar. "Kau saja yang selalu menganggapku anak kecil," sungutnya kemudian.


Einar tergelak. "Jadi kau mau diperlakukan seperti wanita dewasa?"


"Iya."


"Okay." Einar tersenyum jahil. "Coba lihat kemari."


"Hah?"


"Look at me (lihat aku), Sekar."


Dengan dada berdebar Sekar menoleh ke sampingnya. Wajah Einar hanya berjarak beberapa centi saja darinya. Mata Sekar membulat ketika perlahan tangan Einar menyentuh pipinya, lalu mengelusnya lembut, kemudian turun ke dagunya dan menariknya mendekat pada wajahnya.


Antara kaget, gugup, malu dan bingung, seketika telapak tangan Sekar mendarat di wajah Einar dan mendorongnya menjauh.


"Kau ... mau apa?" tanya Sekar terbata.


"Kau bilang kau mau diperlakukan seperti wanita dewasa," kekeh Einar.


"Memangnya ... kau ... mau apa?"


"Melakukan apa pun yang dilakukan seorang pria ketika melihat wanita dewasa secantik ini berbaring di dekatnya."


Sekar menelan ludahnya dengan susah payah. Dengan wajah yang pastinya telah merah padam ia beringsut menjauh.


"Kenapa, Sekar, kau tidak mau?"


"Emm ... aku ...."


"Come here (kemari)," pinta Einar sembari mengulurkan tangannya. Namun gadis itu masih terdiam di tempatnya.


"Please." Ia mengulang permintaannya.


Ragu-ragu Sekar mendekati Einar dan menyambut uluran tangannya. Ia tidak berani menantang tatapan pemuda itu. Kepalanya tertunduk. Ia merasakan tubuhnya seringan kapas sekarang.


"Look at me (lihat aku)." Einar mengangkat dagu Sekar pelan, menatap lekat sepasang mata cokelatnya. "Jeg elsker deg (aku mencintaimu), Sekar," bisiknya. Lirih, namun mampu membuat jantung Sekar seakan melompat-lompat mendesak dadanya. Dan ketika tanpa aba-aba, Einar mendaratkan bibirnya menyentuh bibir mungilnya, dan memagutnya dengan hati-hati, tubuhnya seakan tak bertulang lagi.


Apa ini mimpi? Bahkan otaknya saat ini tidak dapat membedakan mimpi dan kenyataan.


"Apa ini ciuman pertamamu?" tanya Einar setengah berbisik. Sekar hanya bisa menganggukkan kepalanya.


"I'm sorry I stole your first kiss (maaf aku telah mencuri ciuman pertamamu)," bisik Einar.


Aku rela kalau kau yang mencurinya, Ein.


Sekar memejamkan matanya. Menunggu sesapan hangat itu hinggap menyentuh bibirnya kembali. Ia tidak tahu caranya mengimbangi ciuman Einar. Atau tidak mau, mungkin. Malu. Ia terlalu malu untuk membalas sentuhan bibirnya, atau sekedar membuka mulutnya untuk memberi kesempatan lidah Einar berkelana. Pikirnya, jauh lebih mudah mempelajari lagu klasik yang paling rumit sekali pun, jika dibandingkan dengan belajar menghadapi rasa tak menentu yang tidak ada teorinya ini.


"Jeg elsker deg også (aku juga mencintaimu), Ein."


***


***


***