
GRØNLAND, OSLO.
"Berhenti di sini, Pak!" seru Sekar ketika suara asisten google map di ponselnya memberitahu tujuannya berada di sebelah kiri jalan.
Pak Karso menghentikan mobil di depan sebuah restauran Timur Tengah yang cukup ramai. Lingkungan di sana cukup kumuh. Membuat pria itu mengerenyitkan keningnya.
"Yakin ini tempatnya, Non?" tanyanya. "Kok kumuh begini? Memangnya ada temen sekolah Non Sekar yang tinggal di tempat seperti ini?"
"Dih, Pak Karso jangan gitu dong!" ujar Sekar sembari membuka pintu mobil dan keluar. Ia berdiri di sisi jalan menunggu Pak Karso mengemudikan mobilnya.
Pak Karso menurunkan kaca jendela mobil dan melongok keluar. "Non, Bapak tungguin aja, ya?" tawarnya.
Sekar mendecak. "Nggak usah, udah sana, Pak Karso, aku telpon nanti kalau udah mau pulang."
"Iya deh, Non ...."
Dengan berat hati Pak Karso melajukan mobil meninggalkan Sekar yang masih mengawasinya di pinggir jalan.
Sekar tersenyum tipis begitu mobil yang dikendarai supir Papanya itu menghilang di antara mobil-mobil lain di jalanan. Ia mengambil ponsel dari dalam tas selempangnya dan memeriksa kembali alamat yang diberikan oleh Einar. Benar gedung di samping restauran Timur Tengah ini adalah Gørland Tord, terlihat dari papan nama lusuh yang terpasang di atas pintu utama. Ia tinggal mencari apartemen nomor 28 di mana Einar tinggal.
Masuk ke dalam lobi, ia mencari informasi di lantai mana apartemen nomor 28. Akhirnya ia pun menemukan papan informasi yang terletak di samping tangga.
Apartemen nomer 28 ada di lantai dua. Sekar menaiki tangga yang mengular ke atas itu. Sesekali ia berpapasan dengan beberapa orang penghuni apartemen yang memandangnya dengan tatapan penuh tanya. Mungkin karena mereka melihat orang baru.
Sekar sampai di depan pintu bertuliskan nomor 28. Ia menghela napas pelan. Lalu perlahan mengetuknya.
Pintu terbuka pelan. Seorang wanita paruh baya berwajah pucat muncul. Ia sedikit terkejut melihat Sekar. Namun, sejurus kemudian senyum ramahnya tersungging.
"Kan jeg hjelpe deg (ada yang bisa kubantu)?" tanya wanita itu dengan bahasa Norsk yang sedikit Sekar mengerti.
"Emmm ... Einar." Sekar menjawab asal.
Kening wanita itu mengerenyit. "Einar?" tanyanya.
Sekar mengangguk pelan.
"Kom inn (silahkan masuk)," ujar wanita itu sembari memberi isyarat pada Sekar untuk masuk.
Sekar mengikuti wanita itu masuk ke dalam ruang tamu yang sempit. Ia menyapu pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Matanya dimanjakan oleh wallpaper motif bunga yang membungkus seluruh dinding ruangan. Ada bufet panjang lusuh untuk menaruh televisi dan beberapa hiasan lainnya, lalu kayu salib yang terpasang di atasnya, kemudian matanya menangkap satu foto anak lelaki kecil berambut kecokelatan dengan mata hazel yang terbingkai rapi di sebelahnya.
"Ein!"
Gedoran pintu kamar yang terletak di samping bufet membuat Sekar terkesiap.
"Ein ... noen leter etter deg (ada yang mencarimu)!" Wanita itu kembali menggedor pintu kamar yang sepertinya milik Einar.
"Ein!" serunya kembali ketika tak ada reaksi apa pun dari dalam. "I et øyeblikk (sebentar)," ucapnya pada Sekar.
Sekar yang tak mengerti ucapan wanita itu hanya mengangguk.
"Einar!" Wanita itu mengeraskan suara panggilannya. Ia berusaha membuka pintu namun terkunci. "Goss (astaga)!" gerutunya.
Pelan pintu kamar terbuka. Einar dengan wajah khas bangun tidur dan rambut panjangnya yang berantakan muncul dari balik pintu. "Hva (apa)?" tanyanya sembari menyipitkan matanya yang masih terasa berat.
Wanita itu menunjuk ke arah Sekar yang tengah duduk di atas sofa.
"Owh, Sekar ... I'm sorry," kekehnya. "Wait a minute (tunggu sebentar)," ujarnya kemudian sembari menutup pintu kamarnya.
Sekar hanya tersenyum menanggapi Einar. Ia sempat melihat tattoo kepala kambing jantan dengan tanduk panjang di dada telanjang Einar, seperti yang ia lihat dalam foto pemuda itu di internet.
Wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibu dari Einar itu memandang Sekar sembari menggeleng pelan. Lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun, wanita itu masuk ke dalam ruangan di samping kamar Einar dan menutup pintunya rapat-rapat.
Beberapa menit kemudian Einar muncul dari dalam kamarnya dengan penampilan yang jauh lebih rapi dari beberapa saat lalu. Rambut panjangnya ia ikat sembarang, tubuhnya dibalut jaket panjang musim dingin yang terlihat sedikit stylish, dengan celana biru dan sepatu casual.
"I'm ready (aku siap)," ujarnya sembari menyambar dua helm yang ada di dalam loker terbuka di dekat pintu keluar.
Sekar mengangguk. Lalu beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Einar keluar.
"Sebentar," ujar Einar menghentikan langkahnya. Ia masuk kembali ke dalam ruang tamu dan berjalan ke arah bufet, lalu dengan jahil ia membalik kayu salib di atasnya, hingga bagian kayu yang melintang berada di bawah.
"Selesai," ujarnya seraya mengibas-ngibaskan tangannya dan mengajak Sekar yang keheranan keluar dari apartemen.
.
.
"Kau mau kemana? Mall, tempat pariwisata, museum, kebun binatang, atau ...."
Sekar menggeleng.
"Ah, aku lupa kau seorang penyendiri yang tidak suka keramaian," kekeh Einar. "Pakai helmnya," ujarnya seraya mengulurkan satu helm dengan penutup kaca itu pada Sekar. Kemudian ia pun memakai helm yang satunya untuk diri sendiri.
"Naik ini?" tanya Sekar sembari memandang motor skuter warna hitam di hadapannya.
"Ja (ya)?"
"Okay ...." Sekar menyahut pelan. Ia merasa tidak nyaman jika harus naik motor, namun ia tidak mau Einar mengecapnya sombong. Ia pun menurut saja ketika Einar menyuruhnya untuk naik di belakangnya.
"Emm ... hutan di pinggir kota?"
Einar terbahak. Dalam benaknya langsung saja tertuju pada satu tempat.
Markas Lord Abaddon.
"Okay, aku akan membawamu ke suatu tempat yang indah. Kau pasti akan suka."
Einar menghidupkan mesin motornya dan melaju pelan menelusuri jalanan padat area Grønland.
Udara dingin mulai menampar wajah Sekar menelusup melalui kaca helmnya. Ia pun menggigil di balik punggung kokoh Einar.
"Kau kedinginan?" tanya Einar setengah berseru. Ia merasakan sedikit getaran pada motornya ketika badan Sekar gemetaran.
"Iya ...."
"Kau boleh menaruh tanganmu ke dalam saku jaketku!"
"Apa?" tanya Sekar yang tak begitu mendengar suara Einar, karena bersamaan dengan suara klakson panjang sebuah truk.
"Mana tanganmu?"
"Tangan?"
"Iya, mana tanganmu?"
Ragu-ragu Sekar mengulurkan satu tangannya ke depan Einar. Pemuda itu segera meraihnya dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya.
"Tanganmu yang satunya!" seru Einar.
Sekar pelan memasukkan tangan kanannya ke saku jaket Einar yang lain.
"Better (merasa lebih baik)?"
"Ya ...."
Sekar merasa begitu canggung dengan posisi seperti itu. Dadanya gini berdegup kencang. Ia berusaha mengalihkan perhatian pada sekelilingnya. Kini mereka telah keluar dari jalan utama dan berada di jalan yang lebih kecil, dengan pemandangan padang rumput serta pohon-pohon pinus dan cemara yang memutih tertutup salju.
"Apa kita akan ke Nittedal?" tanya Sekar. Ia sangat berharap Einar mengajaknya ke sana.
"How do you know (bagaimana kau bisa tahu)?" Wajah Einar di balik kaca helmnya terlihat kaget.
Sekar meringis. Ia tidak mungkin mengatakan terus terang kalau selama beberapa hari ini ia mencari tahu semua tentang Einar dan bandnya.
"Ya, kita akan ke Nittedal. Aku punya tempat bagus di sana."
"Okay ...." Sekar berucap senang.
Einar membelokkan motornya masuk ke jalanan setapak yang sepi, menuju sebuah pondok kecil yang terletak di pinggir hutan.
"Kita sudah sampai." Einar menghentikan motornya di depan pondok.
Sekar buru-buru menarik tangannya dari saku jaket Einar. Lalu turun dari motor dan menyapu pandangan ke sekelilingnya. Sunggu indah. Hutan pinus yang memutih di belakang pondok terlihat begitu mempesona. Menoleh ke arah kirinya, ada hamparan padang rumput tertutup salju tipis yang menyejukkan mata. Pemandangan kota dengan gedung-gedung dan segala fasilitasnya seakan tak ada artinya jika dibandingkan dengan semua ini.
Dihadapkan dengan pemandangan luar biasa seperti itu, Sekar melupakan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang-tulangnya.
"Ein!" seru seseorang yang baru saja keluar dari dalam pondok. Seorang pemuda berambut panjang pirang dengan wajah tirusnya. Folke.
"Hei, hvem er dette (siapa ini)?" Folke melemparkan senyum jahilnya pada Sekar.
Sekar membalas senyumnya dan mengangguk. Ia tahu wajah itu, ia bahkan mengingat namanya, walaupun hanya sekali ia membacanya di sebuah situs musik metal.
Folke Jørgensen. Vocalist Lord Abaddon.
"Sekar, this is my friend ... Folke." Einar berucap sembari meraih helm yang masih dipegang oleh Sekar.
"Hello ...." Sekar mengulurkan tangannya pada Folke yang langsung menyambutnya.
"Tunggu, tunggu ... kau bisa jelaskan ini, Ein? Kau bilang kau berkencan dengan Anna, kenapa kau membawa gadis lain lagi?" tanya Folke sembari mengarahkan telapak tangannya ke arah Sekar.
Einar terbahak. "Itu kemarin, Bodoh!"
"Dette er Sekar ... hun er min venn (ini Sekar, dia temanku)," lanjut Einar.
Sekar tak begitu mengerti pembicaraan dua pemuda itu. Namun ada satu kata yang ia tangkap.
Anna.
***
***
***