LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 33. Oasis.



FROGNER, OSLO.


"Mau ditaruh di sebelah mana ini mejanya, Non?" tanya Mbok Mar. Wanita itu menenteng sebuah meja kayu setinggi 130.


Sekar mengedarkan pandangan ke seluruh ruang kamarnya sembari mengelus dagu. "Di sana aja, Mbok." Ia menunjuk satu ruang kosong di antara piano dan meja riasnya.


"Buat apa sih, Non?"


"Rahasia," kekeh Sekar sembari mengibas-ngibaskan kain hitam yang dibawanya. Lalu menutup meja yang telah diatur oleh Mbok Mar.


Mbok Mar mencebik. "Main rahasia-rahasiaan segala," gerutunya. "Udah ini nggak ada tugas lain?"


"Udah. Makasih, Mbok Mar," ucap Sekar.


"Siaaaap," kekeh wanita paruh baya itu sembari melangkah keluar.


Sekar merapikan kain hitam yang menutupi meja. Lalu melangkah menuju ranjang dan duduk di tepiannya. Tangannya meraih satu buku tebal di sampingnya. Ia mengelus sampul buku berwarna hijau tua itu pelan, lalu membuka halaman demi halaman. Satu tangannya merogoh tas yang tergeletak tak jauh darinya dan mengambil satu buku tebal yang tampak seperti buku tulis, namun sampulnya berdesain vintage yang unik dengan tulisan tangan Sekar di atasnya.


Sekar's Book Of Shadows (buku bayangan milik Sekar).


Tangannya kembali merogoh ke dalam tas untuk mengambil sebuah pulpen. Ia mulai menyadur tulisan-tulisan di halaman buku yang sedang dibacanya ke dalam buku bayangannya.


Altar pertamaku untuk Lilith dan isinya.


Patung Lilith.


Lukisan galaksi/luar angkasa (langit malam adalah domainnya).


Patung pohon.


Benda apa pun yang berwarna hitam dan merah.


Kristal yang disukai Lilith (amber, mata harimau, garnet, batu darah dan turmalin).


Simbol bulan hitam.


Simbol lain yang terkait dengan Lilith (apel, delima, anggur merah tua, darah dan aprodisiak).


Sekar tersenyum sembari membaca ulang tulisannya. Semua barang yang dibutuhkan ada di Lille Arkana. Mempelajari Witchcraft itu seperti belajar science. Dan untuk Sekar itu adalah hal yang sangat menyenangkan. Menjadi Witch (penyihir) artinya meggabungkan science dan metafisika.


Jangan marah-marah terus. Nanti wajahmu berubah jadi Nenek Sihir.


Penyihir tidak selalu seorang Nenek-Nenek.


Okay, kau benar ... penyihir sekarang berwajah cantik. Seperti yang ada di depanku ini.


Whatever.


Sekar terkesiap ketika sekelumit percakapannya dengan Einar waktu itu di depan sekolah ketika pemuda itu menjemputnya, tiba-tiba muncul dalam memorinya.


Einar. Ya ampun.


Sekar bahkan belum menelpon Einar untuk meminta maaf atas perlakuan Mama padanya di depan gedung ITAN. Einar pasti sakit hati melihat Mama membuang bunga yang diberikan untuknya.


Ia menaruh buku-bukunya ke atas ranjang dan mengambil ponsel di dalam tas. Sembari merebahkan badannya, ia menggulir layar mencari nomor Einar.


Lama ia menunggu pemuda itu mengangkat telponnya. Sekar menghela napas kecewa ketika sambungan telepon dialihkan ke kotak suara.


Lagi apa dia, ya?


Sekar menatap langit-langit kamarnya. Bayangan Einar dengan kemeja hitam dan rambut yang diikat rapi memenuhi pikirannya. Senyuman manis dengan matanya yang menyipit membelenggu hatinya.


Tiba-tiba saja ia merasa rindu sekali dengan frontman Lord Abaddon itu. Rindu yang membuat dadanya terasa perih. Perih dengan kenyataan bahwa Einar telah menjadi milik orang lain. Haruskah ia meminta bantuan Liana dan Cassandra untuk mendapatkan Einar? Memantrai gitaris tampan itu agar jatuh cinta padanya? Sekar terkekeh sendiri. Otaknya pasti sedang mengacau.


Lamunan Sekar buyar ketika ponselnya bergetar. Ia segera memeriksa layar dan nama Einar tertera di sana.


"Ein," panggilnya.


"Hallo, Tuan Puteri, kau tadi menelponku? Maaf aku baru selesai rehearsal (latihan)." Suara Einar terdengar renyah di seberang.


I miss you so much. "Emm ... tentang sikap ibuku kemarin, aku ... mau minta maaf."


Terdengar suara tawa ringan Einar. "Tidak apa-apa. Aku bisa mengerti dia marah padaku karena telah membawa pergi semalaman puterinya yang cantik ini."


Sekar terbahak. Hatinya menghangat mendengar ucapan Einar yang terdengar begitu manis. Ia perhatikan Einar sering memujinya akhir-akhir ini.


"Ein ...."


"Ja (ya), Sekar. I'm here (aku di sini)."


"Aku ingin bertemu denganmu ... emm ...." Sekar menggigit bibirnya. "Aku ... emm ... ingin bicara ... emm ... tentang ...." Sekar memaki dirinya dalam hati. "Teori yang pernah kuceritakan padamu ... ex cathedra!"


"O-kay? Kenapa kau gugup begitu?"


Dada Sekar berdebar kencang. "Aku tidak gugup," protesnya.


"Okay, Sekar ... aku jemput kau besok di sekolah."


Sekar hampir saja berseru kegirangan kalau saja ia tidak segera membekap mulutnya. "Deal," ucap Sekar.


"Sees i morgen (sampai besok), Sekar."


"Bye, Ein."


Sekar menjatuhkan punggungnya ke atas ranjang. Ia merasa hatinya penuh dengan bunga-bunga yang bermekaran. Seindah ini rasanya jatuh cinta.


Namun lagi lagi, jika mengingat Einar sudah menjadi milik wanita lain, rasa pedih menyergap hatinya kembali dan harapannya pun patah.


***


OIS, BEKKESTUA, OSLO.


Mata Sekar berbinar begitu melihat Einar datang dengan motornya dan berhenti di hadapannya. Ia memperhatikan gerakan Einar membuka helm dan merapikan rambut panjangnya.


"Hei, kenapa melihatku seperti itu?" tanya Einar sembari mencubit pipi Sekar.


"Rambutmu jelek," sahut Sekar asal. Padahal hatinya mengatakan sebaliknya.


Einar terbahak. "Ayo," ujar Einar seraya menyodorkan helm pada Sekar. Gadis itu urung menerima ketika dilihatnya mobil yang dikendarai Pak Karso menepi di depan motor Einar.


"Non!" panggil Pak Karso setelah kaca mobil diturunkan.


"Pak, aku ada acara. Pak Karso pulang aja," kata Sekar seraya mengambil helm di tangan Einar dan memakainya.


"Loh, piye to, Non ... Nyonya bilang Non Sekar harus langsung pulang."


Sekar mendesis sembari menghentakkan kakinya. "Nanti aku telpon Mama."


"Waduh, waduh ... gawat ini. Bapak bisa kena marah Nyonya ini," ujar Pak Karso dengan wajah kebingungannya.


"Aku mau les gitar, Pak Karso. Udah izin sama Papa kok."


"Masalahnya ...." Pak Karso memandang ke arah Einar yang sedang berjalan menghampirinya.


Pak Karso menggaruk kepalanya. Ia mengerti yang Einar katakan, namun bingung bagaimana menjawab pemuda itu.


"Pak Karso pulang aja," ujar Sekar. "Janji deh, Pak Karso nggak bakal kena omelan Mama," kekeh Sekar seraya mengacungkan dua jarinya.


Pria paruh baya itu menghela napas dengan berat. "Angel, wes, angel," gumamnya seraya mengemudikan mobilnya pelan meninggalkan Sekar dengan berat hati.


"Ready (siap)?" tanya Einar ketika Sekar telah berada di belakang punggungnya.


"Yes."


Einar melajukan motornya pelan masuk ke jalan raya yang ramai. Sementara Sekar dengan sengaja melingkarkan lengan di pinggangnya. Ia melirik sekilas tangan Sekar yang memegang perutnya dengan erat. Senyumnya pun terbit.


.


.


Akerselva River Walk di sore hari. Sekar duduk di atas anak tangga menurun menuju sungai berair tenang yang berada di tengah kota Oslo itu. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Tidak banyak orang yang berjalan-jalan di tepian sungai yang dikelilingi oleh gedung-gedung tinggi dan juga pepohonan yang tertutup salju tipis.


"Sandwich Ciabatta untukmu."


"Thanks." Sekar tersenyum seraya menerima satu kotak kecil sandwich yang Einar sodorkan padanya. Lalu pemuda itu duduk di sampingnya, menyandarkan punggungnya pada anak tangga.


"Ayo ceritakan teorimu," kata Einar sembari menarik-narik lengan jaket Sekar.


"I'm eating (aku sedang makan)," sahut Sekar dengan mulut penuh.


Einar terbahak. Lalu mengacak rambut Sekar gemas. Ia menunggu hingga gadis itu menghabiskan sandwichnya.


"Kau sudah baikan dengan Anna?" tanya Sekar hati-hati. Ia mempersiapkan hatinya untuk mendengar jawaban Einar.


"Hmmm," gumam Einar seraya menopang sikunya ke atas paha. "Kami putus."


Sekar hampir saja tersedak ludahnya sendiri. Ia menatap Einar tak percaya. "Oh, damn (sial)!" makinya. "Karena aku?"


"Bukan. Aku yang bermasalah."


"What do you mean (apa maksudmu)?"


"How do I explain this (bagaimana ya menjelaskannya)," kata Einar sembari mengelus dagunya. "Kau terlalu muda untuk mengerti masalah percintaan yang kompleks," kekeh Einar.


Sekar mendecak sebal. "Masalah percintaanku lebih kompleks!" sungutnya.


Einar menautkan kedua alisnya. Memandang Sekar dengan ekpresi menahan tawa. "Masalah percintaanmu, Sekar?" Ia meloloskan tawanya. "Serumit apa percintaanmu? Bisa kau ceritakan padaku?" gelaknya.


Wajah Sekar merengut. Ia menatap Einar sebal. "Iya, rumit ... rumit sekali. Kau tidak akan mengerti!"


"Biar kutebak. Kau jatuh cinta dengan teman khayalanmu. Cinta kalian terhalang ruang dan waktu. Kau berada di sini, sementara dia berada di dunia paralel."


"Issssh!" Sekar mendesis. "Kau memang berpikir aku seaneh itu, ya? Menyebalkan!"


"Kau tidak merasa kau itu aneh, Sekar?"


Sekar menggeleng. "Mungkin juga." Bibirnya mencebik. "Kau tahu, Ein?" Sekar merubah posisi duduknya. Kini ia menghadap ke arah Einar. "Aku sering mendengar bisikan-bisikan aneh."


Einar membulatkan sepasang matanya. "Kau mengidap skizofrenia?" godanya.


Bugggh


Sekar memukul bahu Einar dengan keras. Membuat pemuda itu mengaduh seraya mengelus bahunya. Namun tawanya masih berderai-derai.


"Ein! Aku serius!" sungut Sekar.


Einar mengangkat kedua tangannya. "Okay, okay ... lanjutkan ceritamu."


"Aku sering mendengar bisikan-bisikan meminta tolong. Tapi aku tidak yakin itu nyata. Rasanya seperti bermimpi." Sekar menatap sepasang mata hazel yang juga sedang menatapnya. "Kau ingat waktu kau mengajakku ke dalam hutan? Di dekat pohon oak aku seperti kehilangan kesadaran. Aku bertemu dengan Dewi Jörð, Mother North ... dia memberi peringatan tentang ... ex cathedra."


Einar memasang wajah seriusnya. "Lalu?"


"Suatu malam aku bermimpi. Dewi Jörð dibunuh oleh seorang pria tua berjubah hitam, lalu dia membakar pohon oak."


Sekar menghela napasnya dalam-dalam. Ia memijit-mijit keningnya. Lalu terdiam untuk beberapa saat.


"Ein ... kapan pergantian pemerintahan akan berlangsung di Norway?" tanya Sekar.


"Tahun depan, kurasa. Kenapa?"


"Kau ingat aku pernah bilang padamu, berhati-hatilah dengan gereja kathedral Oslo?"


"Ja (iya)."


"Kalau dihubungkan dengan ceritamu tentang pembantaian imigran yang dilakukan oleh Anders Behring Breivik, partai buruh akan mengangkat isyu itu kembali, dan gereja kathedral akan mendukungnya." Sekar menghela napasnya sejenak. "Mereka mengincar orang-orang yang mempraktekan agama leluhur scandinavia, yang mereka tuduh sebagai pengikut Anders."


"Hmmm ... sebagai alat untuk mengambil simpati masyarakat. Terutama para imigran yang semakin banyak saja di negara ini." Einar melanjutkan perkataan Sekar.


Sekar mengangguk. "Tapi aku belum tahu ada agenda apa dari gereja. Sepertinya itu melibatkan ... Vatikan." Ia mengedikkan bahunya. "I don't know, just my theory, maybe I'm wrong (aku tidak tahu, hanya teoriku saja, mungkin aku salah)."


"You're so great (kau hebat sekali), Sekar," puji Einar. "Kau yakin umurmu baru enam belas tahun?" tanyanya seraya menangkup kedua pipi Sekar.


"Tujuh belas!"


Einar terbahak. Lalu mencubit pipi Sekar gemas. Pelan ia merapikan anak rambut Sekar yang jatuh di kening gadis itu.


"Jadi sekarang kau tidak punya pacar, Ein?" tanya Sekar tiba-tiba.


"Kenapa memangnya?" Einar menaikkan alisnya, memandang Sekar penuh selidik.


Bibir Sekar mencebik. "Aku tidak tahu harus bersimpati atau senang," gelaknya.


"Dasar penyihir!" ucap Einar seraya merangkul kepala Sekar dan mengapitnya di antara lengan dan dadanya.


Sekar melingkarkan kedua tangannya di pinggang Einar. Lalu memeluknya dengan erat. Memejamkan mata dan merasakan hangat tubuh Einar untuk beberapa saat lamanya.


"Sekar, ayo aku antar pulang."


Sekar menggeleng. "Tidak mau!" sergahnya sembari mengeratkan pelukannya.


"Kenapa?" tanya Einar seraya mengusap punggung Sekar.


Aku masih mau sama kamu, Ein. "Tidak tahu!"


"Kau mau menempel terus padaku seperti ini?"


Damn. Dengan cepat Sekar melepaskan pelukannya dari Einar. Wajahnya merah padam menahan malu. "Ayo pulang," ujarnya sembari beranjak dari duduknya dan melangkah meninggalkan Einar yang keheranan melihat perubahan sikap Sekar yang hanya dalam hitungan detik.


"Hei, Sekar, vente (tunggu)!"


***


***


***