
"Ein ... kau belum tidur?"
"Hampir."
Anna berucap dengan suara pelan setengah tidurnya. Ia membenarkan posisi kepalanya yang kini mendusal di leher Einar. Sejurus kemudian, napas halusnya terdengar. Menandakan gadis itu telah kembali terlelap.
Namun mata Einar sulit untuk dipejamkan. Pikirannya melayang entah ke mana.
Ke taman. Sore tadi.
Menjauh dariku!
Jangan ikuti aku. Aku ingin sendiri.
Lagi dan lagi, Sekar marah secara tiba-tiba. Ia benar-benar bingung menghadapi gadis itu.
Apa sebenarnya yang ada di benaknya.
Seorang gadis dengan kecerdasan di atas rata-rata, pelahap buku, introvert, tidak punya banyak teman, sering bersikap aneh dan terkadang emosinya meledak-ledak tanpa sebab. Namun, di sisi lain, Sekar bisa bersikap layaknya remaja seumurannya, lucu dan menggemaskan.
Jauh, di lubuk hatinya, ia mengakui, Sekar istimewa. Apakah karena itu, ia peduli padanya?
Einar menatap puncak kepala Anna. Gadis itu ada di pelukannya malam ini. Gadis yang selama ini ia damba, kini telah menjadi miliknya. Mungkin. Ataukah ia hanya dijadikan pelarian untuk Anna. Entahlah.
Ia mendekap Anna. Menciumi wangi rambut merahnya. Makhluk yang begitu rapuh. Begitu ingin ia lindungi.
"Ein ...."
"Ja (ya), Anna?"
Anna kembali membuka matanya. Mendapati Einar yang belum juga tertidur.
"Elsker du meg virkelig (apa kau benar-benar mencintaiku)?"
"Ja, Anna ... jeg elsker deg (aku mencintaimu)."
"Aku tidak mau sakit lagi, Ein ...."
Einar mengeratkan dekapannya pada tubuh Anna. "Jeg lover at jeg ikke vil skade deg (aku berjanji tidak akan menyakitimu), Anna," bisiknya lirih. Namun dadanya merasakan sebuah getaran aneh. Getaran yang membuatnya tak begitu yakin dengan apa yang terucap dari bibirnya.
Ia seperti tengah berada di persimpangan jalan.
***
FROGNER, OSLO.
"Satu sendok untuk hati yang sedang kacau." Sekar bergumam. Ia berada di dapur, duduk di meja makan menatap botol berisi ramuan di depannya sembari melipat lengannya ke atas meja.
"Astagfirulloh, Non ... bikin kaget aja." Mbok Mar yang baru saja masuk ke dapur untuk mengambil minum berseru kaget sembari memegangi dadanya ketika melihat Sekar. "Malem-malem duduk di sini sedirian ngapain, Non? Jam berapa ini kok belum tidur," gerutunya.
"Mbok, ambilin sendok," sahut Sekar tanpa memedulikan ucapan Mbok Mar.
"Apa itu?" tanya wanita paruh baya itu sembari mengulurkan sendok pada Sekar.
"Jamu." Sekar menjawab asal.
Mbok Mar terkikik. "Ealah, ada yang njual jamu juga to di sini."
Sekar mendesis. "Ini bukan sembarang jamu."
"Jamu apa memangnya?"
"Mau tau aja," cebik Sekar.
Mbok Mar ikut mencebik. "Tidur, Non ... udah malem," ujarnya sembari melangkah menyalakan kran dan mengisi gelas di tangannya. "Duh, minum air kok dari kran langsung, yo?" gumamnya. Lalu melangkah keluar dari dapur meninggalkan Sekar.
"Hmmm ...." Sekar menghela napasnya. Ia membuka tutup botol dan menuang sedikit cairan ke atas sendok. Ia menghirup wanginya sebentar lalu menyuapkan sendok ke mulutnya.
Enak. Rasa hangat mengalir melalui tenggorokannya. Berharap reaksi ramuan itu bisa cepat mengatasi kegalauan hatinya.
Dibawa tidur, mungkin. Sekar menutup kembali botol dan memasukkannya ke dalam lemari pendingin. Ia menguap beberapa kali. Lalu melangkah keluar dapur, menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya.
Ia menelusup masuk ke dalam selimut tebalnya. Memejamkan matanya yang memang mulai terasa berat.
.
.
Pohon oak putih itu tinggi menjulang. Akarnya mengular kemana-mana. Daunnya rimbun menjuntai-juntai ke tanah.
Sekar berdiri menatapnya. Matanya lurus ke depan. Memandangi batang pohon besar yang ukurannya berkali-kali lipat dari ukuran tubuhnya.
"Kemari ...."
Bagai terhipnotis, ia melangkah pelan mendekat. Mengulurkan tangannya entah pada siapa. Telapak tangannya menghangat. Seperti ada sentuhan lembut yang membimbingnya terus melangkah. Ia memeluk pohon itu. Menempelkan wajahnya di sana.
"Help us, My priestess (tolong kami, Pendeta Wanitaku) ...."
"They will destroy us (mereka akan menghancurkan kami) ...."
"Don't go to the darkside (jangan pergi ke sisi gelap) ...."
Wanita bermahkota bunga itu, ia berdiri di hadapan Sekar. Tersenyum, mengelus wajahnya. Mata hijaunya begitu indah. Senyumnya begitu menghanyutkan. Sekar merasa sedang berada dalam lautan jamur pcilocybin yang membuat otaknya berkelana menembus ruang dan waktu.
Tapi, jeritan menyayat hati dari wanita bergaun hijau di hadapannya membuat kesadarannya kembali. Mata Sekar terbelalak. Wanita itu jatuh terduduk, sembari memegangi ujung pedang yang menembus perutnya.
Sekar terperangah. Memandang nanar pada seorang pria berjubah hitam yang tengah mencabut pedangnya dari perut si wanita bermahkota bunga, yang membuatnya terkulai dan roboh ke tanah.
Pria itu membuka penutup kepalanya. Tampaklah sesosok tua berjenggot putih. Mata Sekar menangkap kalung salib yang dipakainya. Tangan pria itu terangkat, memberi isyarat pada seseorang di belakangnya.
"Burn it down (bakar)!" serunya seraya menunjuk pohon oak di sampingnya.
"No ... nooo!" Sekar berteriak sekencang-kencangnya. Namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Lidahnya kelu. Tubuhnya tak bisa digerakkan.
Ex Cathedra ....
Ia merasakan ada seseorang yang menepuk-nepuk pipinya. Memanggil-manggil namanya beberapa kali. Ia membuka mata dengan cepat.
"Se? Ya ampun nih anak!"
"Mama?" seru Sekar terengah-engah.
"Tunggu, Ma ... biar aku napas dulu," ujar Sekar sembari memegangi dadanya yang berdetak kencang.
"Bangun tidur kaya abis maraton aja sih, Se. Buruan!" seru Mama sembari melangkah keluar dari kamarnya.
Sekar mencoba mengatur napasnya yang memburu. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruang kamarnya. Lalu menggeleng pelan.
Mimpi yang aneh. Sungguh mimpi yang aneh.
***
OIS, BEKKESTUA, OSLO.
"Hei, Sekar ...."
Sekar yang tengah mengambil tas dari lokernya memutar bola matanya ketika mendengar suara Adam dari balik punggungnya.
"Jangan ganggu!" hardiknya.
"Galak banget sih, Se?" Adam menyandarkan punggungnya pada loker dan tersenyum-senyum memandangi Sekar yang masih sibuk memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.
"Jalan yuk, Se."
"Nggak bisa."
"Mau langsung pulang?"
Sekar menatap pemuda bermata sipit itu sinis. "Aku bilang jangan ganggu." Ia melangkah meninggalkan Adam yang langsung saja mengekorinya hingga keluar dari gedung sekolah.
"Se, harusnya tuh kamu seneng loh ada yang mau deket sama kamu di sini. Dari pada nggak punya temen sama sekali."
"Aku nggak butuh temen."
Adam mencebik. "Atau maunya temenan sama yang model-model kayak gitu, ya?" Dengan gerakan dagunya, Adam menunjuk pada seorang pemuda berambut panjang yang baru saja menepikan motornya di depan gerbang.
Einar.
"Kalau iya kenapa?" tantang Sekar sembari berjalan mendekat pada Einar.
"Hati-hati aja, Se ... jangan-jangan cuma mau manfaatin kamu aja tuh!" seru Adam dengan wajah tak sukanya. Memandang pada Einar dengan tatapan meremehkan.
Sekar mendesis. Lalu mengalihkan perhatiannya pada Einar yang masih duduk di atas motornya. Ia menatap pemuda itu dengan dingin sembari melipat kedua lengannya di depan dada.
"Mau apa ke sini?" tanya Sekar ketus.
"Bukankah kau sudah setuju untuk ikut denganku menemui seseorang?" kekeh Einar sembari mengulurkan helm pada Sekar.
"Aku berubah pikiran."
"Hei, aku sudah jauh-jauh menjemputmu ke sini, Sekar," protes Einar.
"Aku tidak menyuruhmu untuk menjemputku," sergah Sekar. Masih dengan wajah masamnya.
Einar terkekeh. Lalu mengacak rambut Sekar gemas. Gadis itu terlihat kesal, namun tak ada aura gelap bernaung di wajahnya. Lebih terlihat seperti gadis remaja yang tengah merajuk.
"Jangan marah-marah terus. Nanti wajahmu berubah jadi Nenek Sihir," goda Einar sembari mencubit pipi Sekar. Gadis itu langsung menepis tangannya.
"Penyihir tidak selalu seorang Nenek-Nenek!" protes Sekar.
Einar terbahak. "Okay, kau benar ... penyihir sekarang berwajah cantik. Seperti yang ada di depanku ini," guraunya.
"Whatever (bodo amat)," sahut Sekar. Ia malas menanggapi gurauan Einar. Hatinya masih merasa kesal. Sepertinya ramuan dari Cassandra bekerja dengan sangat lambat.
"Okay, bagaimana kalau kuajak kau makan krumkake ice cream. Untuk mengembalikan suasana hatimu menjadi normal. Setelah itu, kita kerumahku melanjutkan kursus gitarmu."
Tawaran yang menggiurkan. Namun Sekar tak ingin langsung menerimanya begitu saja. Ia masih betah memasang wajah masamnya.
"So (jadi, bagaimana)?"
"Pacarmu?" pancing Sekar.
"Ada apa dengan pacarku?"
"Apa dia tidak akan marah kalau tahu kau bersamaku?"
Einar terkekeh. "She's fine. Come on, Lil Sis (dia tidak apa-apa. Ayo, adik kecil)!"
Sekar menatap mata hazel itu lekat. Hatinya menghangat. Bahkan panggilan adik kecil dari Einar padanya tak membuatnya naik pitam.
Siapa yang tersihir sekarang?
Ramuan Cassandra tak mampu menolak pesona si mata hazel yang menawan itu.
Sementara Einar tak henti-hentinya tersenyum ketika Sekar perlahan naik di belakang punggungnya. Ia merasa begitu lega melihat Sekar kembali menjadi gadis yang normal.
Hatinya semakin tersesat di persimpangan jalan.
***
***
***
Hallo, semuanya.
Terimakasih yang sudah like, comment, vote dan kasih hadiah.
Mau ngomong dikit nih.
Mohon maaf kalau ceritanya sedikit dark dan tidak full romantic seperti yang diharapkan. 😁
Dari awal punya ide nulis novel ini memang aku udah antisipasi pada diri sendiri kalau novelnya akan sepi peminat karena banyak hal-hal gelap yang mungkin terdengar asing, ditambah lagi soundtracknya yang super ekstrim.
Tapi, itu tidak membuatku patah semangat. Karena, hatiku merasa terpuaskan dan mood untuk menulis novel ini sangat menggebu-gebu.
Cerita ini memang bentuk dari imaginasiku beserta obsesiku tentang budaya pagan Eropa yang juga sangat menjadi influence dalam aku bermusik di dunia nyata.
Jadi, bagi yang mengikuti cerita ini, aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. 🙏🙏