
LILLE ARKANA, YOUNGSTORGET, OSLO.
Sekar berdiri di depan pintu kaca sembari memeriksa ke dalam toko. Ada Cassandra yang tengah menyalakan dupa di sudut-sudut ruangan. Begitu melihat Sekar, gadis itu langsung mempersilahkannya masuk.
"Welcome back, Sister (selamat datang kembali, saudara perempuanku)," ucap Cassandra dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Sekar memperhatikan penampilan gadis berambut pirang itu. Hari ini ia memakai gaun hitam panjang dengan boot warna senada. Serupa dengan pakaian yang tengah dikenakan Sekar, walau hanya berbeda modelnya saja.
"Boleh aku berkeliling?" tanya Sekar.
"Owh, tentu ... berkeliling saja. Kalau ada sesuatu yang tidak kau mengerti, kau bisa tanyakan padaku," sahut Cassandra.
Sekar tersenyum senang. Sungguh menyenangkan berada di tempat ini. Aroma lavendernya benar-benar menenangkan.
Ia mulai memeriksa satu persatu rak yang penuh dengan benda-benda yang hampir semuanya menarik perhatiannya itu.
Dimulai dengan satu rak di sudut ruangan.
Ia menyentuh kalung-kalung berliontin pentagram, lambang berbentuk bintang dengan lima ujung lancip dan lima garis lurus yang dikelilingi oleh sebuah lingkaran.
Ukiran kepala kambing jantan bertanduk di tengahnya mengingatkannya pada tato di dada Einar yang sempat ia lihat sewaktu datang pertama kali ke rumah pemuda itu.
"Pakai saja." Suara Cassandra membuatnya terkesiap. Ia pun tersenyum dan mengangguk.
Sekar mengambil satu kalung rantai dengan liontin pentagram berwarna silver dan memakainya. Ia mematut dirinya di sebuah cermin kecil yang menempel di dinding rak.
Cantik sekali. Ia merasa aura wajahnya berubah terang.
Kemudian ia melangkah menuju rak di sebelahnya. Rak yang berisi banyak patung-patung miniatur. Ada dua patung yang menarik perhatiannya. Satu patung wanita bergaun coklat dengan banyak tanduk di kepalanya, menyerupai mahkota. Ia mempunyai dua sayap kelelawar di punggungnya.
"Dewi Lilith." Cassandra yang telah berada di belakang punggung Sekar membuat gadis itu terkejut. "Dewi malam, Permaisuri Lucifer," lanjutnya.
Cassandra menyentuh patung di sebelahnya, seorang pria bertanduk dengan muka seram bertaring besar. Ia mempunyai sayap layaknya malaikat, namun berwarna hitam.
"Very nice (bagus sekali)," gumam Sekar. Lalu pandangannya beralih pada dinding di sisi rak. Sapu-sapu ala sapu penyihir di film Harry Potters tergantung rapi di sana.
"Namanya Besom, untuk membersihkan dan memurnikan ruang yang akan digunakan untuk ritual." Cassandra tersenyum. "Dibuat dari ranting pohon birch dan potongan tipis kayu willow."
"Ritual?" tanya Sekar.
Cassandra mengangguk. "Kau tertarik?"
"Yes ...."
"Akan kutunjukan padamu nanti." Cassandra menyentuh bahu Sekar lembut. "Kemari ...."
Sekar mengikuti langkah Cassandra menuju meja altar. Ia memperhatikan benda-benda yang terdapat di atasnya.
Satu belanga tanah liat mini yang berada di atas tungku keramik. Di sampingnya, berjejer cawan-cawan kecil yang berisi cairan-cairan dengan warna yang berbeda.
"Kau sedang membuat apa?" tanya Sekar dengan rasa penasaran yang tak bisa ditahannya.
"Healing potion (ramuan penyembuh)," jawab Cassandra. "Vodka, buah ceri yang dihaluskan, cattail bubuk, cairan jeruk nipis, cairan bunga aster, cairan maidenhair, cairan akar vetiver, dan ini ... biji-bijian surga," terang Cassandra.
"Ramuan penyembuh?"
"Ya, menyembuhkan luka hati, perasaan cemas, dan semua hal negatif yang mempengarui suasana hatimu." Cassandra dengan terampil memasukkan cairan-cairan dalam cawan ke dalam belanga. Lalu menyalakan api dalam tungku dengan korek kayu dan mengaduk isi cawan dengan sepotong ranting hingga mendidih. Terakhir, ia memasukan biji-bijian yang ia sebut sebagai biji-bijian surga itu.
"Biji apa itu?" tanya Sekar.
"Merica Melegueta."
Sekar mengangguk-angguk. Ia memperhatikan gerak-gerik Cassandra dengan seksama. Hingga gadis berambut pirang itu menyelesaikan adonannya dan meniup-niup belanga hingga asap mengepul dari dalamnya menghilang.
Cassandra mengambil satu botol kaca dan memasukkan cairan di belanga ke dalamnya. Ia menutup botol dan mengikat leher botol dengan tali kain.
"Untukmu." Cassandra menyerahkan botol di tangannya pada Sekar.
"Aku harus meminumnya?" tanya Sekar.
"Kapanpun kau merasa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu. Cukup satu sendok saja. Kau bisa menyimpannya di lemari pendingin."
"Does it really work (apa memang itu manjur)?"
Cassandra mengetuk dahinya sendiri dengan jari telunjuk. Lalu menyentuh dadanya pelan. "Sugesti. Kalau kau percaya dan yakin, Ibu Alam Semesta bersamamu."
Mendengar ucapan Cassandra saja hati Sekar sudah merasa tenang. Ia benar-benar menyukai tempat ini. Dan benda-benda yang ada di dalamnya seakan mengandung energi kuat yang menahannya untuk berlama-lama di sana. Ia bahkan lupa akan perasaan marahnya pada Einar, atau rasa cemburunya terhadap Anna.
"Hello, Sekar, My Sister."
Wajah cantik Liana muncul dari balik tirai. Sekar menyambutnya dengan lambaian tangan.
"Kau mau masuk ke sini?" tawar Liana.
"Okay."
***
NITTEDAL, OSLO.
"Ein!" panggil Folke pada Einar yang masih berkutat dengan gitarnya. Sementara Goran dan Edvard tengah menyiapkan instrumen mereka masing-masing.
"Ja (ya)?" sahut Einar.
"List lagu untuk Helvete, sudah kau siapkan?"
Einar menghentikan permainan gitarnya. Ia berpikir sejenak. "Kalian ingin Ex Cathedra masuk dalam list?" Ia menatap secara bergantian pada Folke, Goran dan Edvard.
"Kalau tidak menimbulkan kericuhan, ya, kenapa tidak?" sahut Edvard sembari terkekeh.
"Sudah lama sekali lagu itu tenggelam." Goran menyeletuk.
"Aku yakin Uskup dari Gereja Katedral di Oslo akan terpancing datang dan membubarkan festivalnya," gurau Folke sembari terbahak.
"Vi bryr oss ikke, ikke sant (kita tidak peduli, bukan?" Einar tergelak sembari menyetem senar gitarnya.
Folke menjentikan jemarinya. "Det stemmer, Baby (itu benar, sayang)," sahutnya.
Einar menarik sudut bibirnya, tersenyum. Ia menginjak pedal gitarnya, lalu memulai lagu yang ia tulis beberapa tahun silam itu
dengan sebuah cabikan pada senarnya yang menimbulkan suara distorsi berat.
Lagu Ex Cathedra, apa maksudnya?
Suara Sekar tiba-tiba terngiang di benaknya. Menelusup masuk ke dalam otaknya, bersaing dengan suara distorsi gitarnya.
Nanti sore aku mau pergi ke suatu tempat.
Suara menggema Sekar kembali terdengar. Rasa cemas dalam hatinya kembali muncul secara tiba-tiba.
Di mana dia?
Einar menghentikan cabikan gitarnya. Membuat Folke, Edvard dan Goran spontan ikut berhenti.
"Hva er galt (ada apa), Ein?" tanya Edvard.
"Vent litt (tunggu sebentar)," ujarnya sembari meletakkan gitarnya ke lantai. Ia mengambil ponsel di saku celananya dan melangkah keluar dari studio, meninggalkan ketiga temannya yang saling berpandangan mata keheranan.
"Angkat telponnya, Sekar," ucapnya. Ia memeriksa layar ponsel yang masih berdering. Namun tak nampak tanda-tanda seseorang akan menjawabnya di seberang sana.
Ia menghembuskan napasnya kasar. Perasaannya benar-benar tidak enak. Ia begitu ingin tahu Sekar ada di mana.
Sekali lagi ia berusaha menghubungi gadis itu. Kali ini, suara Sekar terdengar menyapanya.
"Where are you (kau di mana)?"
"Lille Arkana, why (kenapa)?"
Mata Einar membulat. Lille Arkana.
Damn! Einar memaki, dalam hati.
"Aku akan menjemputmu sekarang."
"What? Why?"
"Jangan bertanya dan jangan pergi ke mana-mana sebelum aku datang, okay, kau dengar aku?"
"Whatever (terserah kau saja), Ein."
"Jævla det (sialan)!" makinya begitu Sekar di seberang sana menutup telponnya begitu saja.
Ia melangkah masuk ke dalam studio dan menyambar jaketnya. "Tunda latihannya, aku ada urusan," ujarnya sembari melangkah keluar tanpa menunggu persetujuan ketiga temannya yang semakin terheran-heran dengan sikapnya.
" Hva er det med det rykket (ada apa dengan si breng sek itu)?" tanya Edvard. Memandang Folke dan Goran.
Kedua pemuda itu mengedikkan bahunya secara bersamaan.
***
***
***
*Lagu Ex Cathedra diambil dari lagunya Wolves In The Throne Room, band black metal asal Oregon, USA.
Kalau penasaran cek aja di youtube. Riff gitarnya bikin horny🤣🤣*
Kubayangin Einar yang lagi mencabik-cabik gitarnya, ah, nggak kuat aku😍