LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 28. I Could Stay Awake All Night Just To Watch You Sleeping.



"Kau serius, Sekar?" tanya Folke. "Kau tahu, aku punya banyak," kekehnya.


Sekar meringis. Lalu mengikuti langkah Folke masuk ke dalam pondok. Namun Einar buru-buru menahan lengannya.


"Tidak boleh!" seru Einar.


"Apa masalahmu, Ein?" tanya Sekar sembari menarik lengannya dari genggaman Einar.


"Iya, apa masalahmu?" sambung Folke.


Einar mendecak. "Kau akan dapat masalah dengan orang tuamu kalau nanti kau pulang dalam keadaan mabuk."


Sekar mendesis. "Orang tuaku sedang berada di luar kota."


"Santai saja, Ein. Ayo, kalau kau mau bergabung," ujar Folke. Ia mengajak Sekar masuk ke dalam pondok.


Einar terpaksa mengikuti langkah keduanya dengan perasaan dongkol. Ia duduk di atas sofa sembari melipat kedua lengannya di depan dada. Raut wajahnya tampak suram.


Sementara Sekar yang duduk di kursi sebelahnya sembari menunggu Folke menyiapkan minuman, tersenyum miring melihat Einar murung.


"Kau marah, Ein?" tanya Sekar.


"No," jawab Einar singkat.


"Kenapa wajahmu seperti itu?"


"Kenapa tiba-tiba mau minum?"


Sekar mengedikkan bahunya. "Memangnya ada larangan?"


"Kau belum cukup umur."


Sekar mendecak sebal. Selalu saja begitu. Menganggapnya anak kecil, belum cukup umur. Ia benar-benar muak. "Tahun ini aku 17 tahun. Legal."


"Tetap saja."


Sekar kesal bukan main. Ingin rasanya memukuli Einar sekarang juga. "Tidak usah bersikap seakan-akan kau adalah kakakku!" serunya.


"Anggap saja aku kakakmu!"


"Tidak mau!"


"Terserah kau saja," ujar Einar pasrah.


Sekar mendengus kesal. "Aku seorang feminist, dan aku sudah cukup umur. Kalau aku mau minum, kau dan sikap patriakalmu tidak bisa melarangku."


Einar hendak menyahut namun ia buru-buru menahan tawanya yang hampir saja meledak. Dalam keadaan kesal gadis itu masih bisa berteori. Melihat Sekar begitu menggemaskan membuat hatinya melembut.


"Okay, kau boleh minum. Tapi sedikit saja, ya."


"Kenapa kau mengaturku?"


"Karena ...."


Folke yang baru saja bergabung mendecak menyaksikan dua orang yang sedang beradu argumen itu. "Bisa kalian lanjutkan pertengkarannya nanti saja?" tanyanya sembari meletakkan satu botol whiskey dan tiga gelas sloki ke atas meja. Ia menuang masing-masing sloki dengan cairan kecokelatan dari dalam botol dan memberikannya pada Einar dan Sekar.


"Cheers!" ujar Folke seraya mengangkat slokinya. Tiga gelas beradu.


Sekar meneguk minumannya. Ia menjulurkan lidah menahan rasa pahit dan juga rasa panas yang membakar tenggorokannya.


"Don't force yourself (jangan paksa dirimu)," ujar Einar. Ia hendak mengambil gelas di tangan Sekar untuk mencegah gadis itu mengisinya kembali. Namun Sekar dengan cepat menepis tangannya. Ia menyodorkan gelasnya pada Folke.


"Nei (tidak)!" serunya pada Folke.


Folke mendecak. "Slappe av (santai saja), Ein."


Einar menghembuskan napasnya dengan kasar. Ia meneguk whiskeynya dan meletakkan sloki ke atas meja.


"Kau mau lagi?" tanya Folke.


Einar menggeleng. Ia memandang pada Sekar yang kini tengah menghabiskan sloki keduanya. Dalam hati ia berniat akan menjaga Sekar saja. Kalau ia ikut mabuk, siapa yang akan mengantar gadis itu pulang.


"More (lagi)!" seru Sekar pada Folke. Sepertinya ia mulai beradaptasi dengan rasa pahit di lidahnya. Terlebih lagi, sensasi yang ia dapat dari minuman itu membuat tubuhnya hangat dan ringan.


Lagi dan lagi, Folke mengisi sloki Sekar. Keduanya terlibat pembicaraan yang sesekali diselingi oleh gelak tawa.


"... ya, aku terlalu mabuk waktu itu. Aku terjatuh ketika menaiki panggung. Kau bisa bayangkan itu? Seorang vocalist Lord Abadddon ...."


Tawa Sekar berderai-derai mendengar cerita Folke. Gadis itu merasa ekspresi pemuda berambut pirang itu begitu lucu.


Sementara Einar menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Ia mengawasi gerak-gerik Sekar yang mulai tak terkontrol. Terkadang gadis itu menjambak rambut Folke, memukul bahunya dan menyandarkan kepalanya ke pundak pemuda itu.


"Okay, enough (cukup) ... aku antar Sekar pulang," ujarnya seraya beranjak dari duduknya dan meraih tangan Sekar untuk membantunya berdiri.


"Ya, benar ... aku masih mau bicara dengan ... Folke. Hahahahah," ujar Sekar sembari melepaskan tangannya dari cekalan Einar.


"I said enough (kubilang cukup)!" hardik Einar. "Mana kunci mobilmu?"


Folke menunjuk ke atas lemari bufet dengan malas. "Kau sama sekali tidak menyenangkan, Ein," gerutu Folke.


Einar mengacungkan jari tengahnya pada Folke dan menyambar kunci mobil lalu mengambil tas Sekar di atas sofa. Ia menarik Sekar yang hendak duduk kembali dan membawanya keluar.


"Aku belum mau pulang, Ein," ujar Sekar dengan suara menggumam. Einar hanya diam saja seraya membimbing Sekar masuk ke dalam mobil Folke yang terparkir di depan pondok.


"Sudah malam. Kau harus pulang. Jangan membuat orang tuamu khawatir." Einar mengemudikan mobil keluar dari pelataran pondok.


"Mereka ada di luar kota. Hihihi," kikik Sekar sembari menyandarkan kepalanya ke jendela.


"Kau tetap harus pulang."


"Tunggu!" seru Sekar tiba-tiba. Ia meraba ke dalam tasnya untuk mengambil ponselnya. "Owh ... sh it (sial)!" makinya seraya menatap layar ponselnya lekat-lekat. Ia merasa pandangan matanya kabur. "Ada seratus panggilan tak terjawab dari rumah. Hahahaha," ucapnya mendramatisir. Tawanya pun meledak.


Einar hanya menggeleng pelan melihat tingkah Sekar.


"Hallo ... Mbok Maaar ... Mama sama Papa ... hiks ... pulang kapan?"


"Non Sekar di mana? Kenapa belum pulang? Ini udah jam berapa? Mama Papa pulang besok sore tapi tadi Mama udah wanti-wanti ...."


"Aku mau nginep di tempat teman ... nggak usah nyari, ya ... hihihi," kikik Sekar. Lalu menutup telponnya tanpa memedulikan Mbok Mar yang protes di seberang sana.


"I don't wanna go home (aku tidak mau pulang)," rajuk Sekar. Tanpa sadar ia menyandarkan kepalanya di pundak Einar.


Einar yang tengah fokus ke jalan terkejut. Namun ia membiarkannya saja. Hingga wajah Sekar kini mendusal di lehernya dan lengan gadis itu pun melingkar di pinggangnya.


"Aku antar pulang, ya?"


"Tidak mau!"


"Sekar, please ...."


"Pokoknya aku tidak mau pulang!"


"Memangnya kau mau ke mana?"


"Tidak tahu."


Einar menghela napasnya dengan berat. Sekar ini kalau sudah menghendaki sesuatu, harus dituruti. Kalau tidak, amarahnya bisa saja meledak.


Ataukah mungkin ia sendiri yang sebenarnya juga tidak terlalu ingin mengantar Sekar pulang? Lalu kemana ia akan membawa gadis itu?


.


.


Einar membuka pintu kamarnya, sembari satu tangannya merengkuh bahu Sekar supaya tidak terjatuh. Gadis itu mabuk berat dan tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.


Pelan ia membaringkan Sekar di atas ranjangnya lalu menyelimuti tubuh gadis itu. Ia berjongkok di samping ranjang sembari mengelus kepala Sekar dengan lembut.


Sesekali Sekar menggumam tidak jelas sembari merubah posisi tidurnya. Membuat Einar terkekeh sendiri menyaksikan wajah manis dan lucu di hadapannya itu. Einar memijit keningnya. Ia sudah gila. Seharusnya ia antar saja Sekar pulang. Tidak peduli gadis itu setuju atau tidak.


Einar menarik bean bag nya mendekat pada ranjang. Lalu merebahkan badannya di sana. Diraihnya gitar akustik yang tergeletak tak jauh darinya. Ia memutar tuning page untuk mendapatkan komposisi harmoni chord.


"A song for you, Sekar ... sweet dream (sebuah lagu untukmu, Sekar ... semoga mimpi indah).


I could stay awake just to hear you breathing


Watch you smile while you are sleeping


While you're far away and dreaming


I could spend my life in this sweet surrender


I could stay lost in this moment forever


Every moment spent with you is a moment I treasure.


(Aerosmith - I don't want to miss a thing)


***


***


***