LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 31. You Little Witch



Einar tersenyum ketika memeriksa kotak pizza di kursi belakang motornya yang harus diantar hari ini. Ada pesanan dari Oslo International School. Sungguh ia berharap bisa bertemu Sekar di sana. Dan memastikan dia baik-baik saja.


"Ein!"


Einar yang hendak memakai helmnya menoleh ke arah asal suara. Gadis berambut merah itu berdiri tak jauh darinya, dengan wajah sendu.


"Anna ...."


"Kau tidak berniat untuk menemui atau menelponku? Sekedar menanyakan apakah perasaanku baik-baik saja?" Anna meradang. "Ya Tuhan, Ein ... tempat kerja kita bahkan bersebelahan dan kau sama sekali tidak ada niat untuk menemuiku."


Tenggorokan Einar tercekat. Perasaan bersalahnya pada Anna kembali datang. Wajah cantiknya menyiratkan kepedihan.


"Anna ... beklager (maaf)," ucapnya. "Banyak yang sedang aku pikirkan. Ada festival Helvete yang menyita waktu untuk rehearsal (latihan), dan ...."


"Dan gadis itu ... gadis yang memecahkan pot waktu itu. Aku mengerti sekarang."


"Anna ...."


"Aku rasa sekarang kau tidak perlu menjelaskan apa-apa lagi."


"Jeg er forvirret med min egen følelse ... beklager (aku sedang bingung dengan perasaanku sendiri, maafkan aku)."


"Aku hanya heran saja, Ein ... kalau kau jatuh cinta pada orang lain kenapa harus mengejarku dan menyatakan cinta padaku."


Einar menghela napasnya dengan berat. "Maafkan aku, Anna."


Anna mengangguk pelan. Terlihat matanya berkaca-kaca. Hatinya terasa perih. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hubungannya dengan Einar hanya seumur jagung. Kalau pada akhirnya harus berakhir, sebaiknya sekarang saja. Sebelum perasaannya pada pemuda itu semakin dalam. Toh, pada awalnya Einar hanya pelampiasan untuk rasa sakitnya.


"Takk for alt (terima kasih untuk semuanya), Ein," ucapnya. Ia menatap Einar beberapa saat, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Einar yang berdiri mematung memandanginya hingga masuk ke dalam toko bunga.


"Pokker!" maki Einar tertahan. Ia menengadahkan wajahnya ke langit seraya memejamkan matanya. Rasa bersalahnya benar-benar memuncak. Namun mungkin begini lebih baik. Ia tidak ingin membohongi Anna dengan perasaannya yang kini telah tersesat entah di mana.


.


.


OIS, BEKKESTUA, OSLO.


L'amour est un oiseau rebelle


Que nul ne peut apprivoiser


Et c'est bien en vain qu'on l'appelle


S'il lui convient de refuser


Rien n'y fait menace ou prière


L'un parle bien l'autre se tait


Et c'est l'autre que je préfère


Il n'a rien dit mais il me plaît


Suara soprano Miss Anniken Behn terdengar indah diiringi oleh denting piano Sekar dan dua orang teman perempuannya yang masing-masing memainkan biola dan cello. Ruang musik yang cukup luas itu terasa seperti panggung opera mewah, dengan alunan lagu Habanera milik George Bizet.


Mais si je t'aime, si je t'aime


Prends garde à toi.


Wanita berambut hitam pendek itu mengakhiri nyanyiannya. Tangannya terangkat ke atas memberi isyarat kapan ketiga gadis itu harus mengakhiri permainan mereka.


"Bravo!" Miss Anniken memberi tepuk tangan untuk ketiga muridnya itu. "Kalian siap untuk hari rabu?"


Sekar dan kedua temannya saling pandang dan tersenyum, lalu mengangguk bersamaan. Mengiringi sebuah acara teater besar di tempat sekelas International Theathe Academy Norway adalah sebuah kebanggaan.


"Okay, persiapkan diri kalian dengan baik, istirahat yang cukup dan jaga kesehatan. Kita akan bertemu di ITAN hari rabu," kata Miss Anniken seraya mengambil tasnya yang berada di atas bufet.


"Sampai jumpa, Miss," ucap Sekar dan kedua temannya. Miss Anniken melambai pada ketiga gadis itu dan melangkah keluar dari ruang kelas.


"See you, Sekar."


"Bye." Sekar melambaikan tangan pada dua temannya yang sedang bersiap untuk meninggalkan kelas.


Sekar kembali fokus dengan pianonya. Jemarinya lembut menekan tuts memainkan lagu milik Gabriel Fauré, Pavane. Begitu indah, begitu romantis. Hatinya berbunga-bunga mengingat malam di mana ia memeluk tubuh Einar yang hangat dan menenangkan.


"Boleh masuk?"


Sekar seketika menghentikan permainan pianonya ketika mendengar suara yang tidak asing di telinganya dari arah pintu.


"Ein?" Mata Sekar membola. "Kenapa ada di sini?" Ia tak bisa menyembunyikan senyumannya.


"Tidak. Kelasku baru saja selesai."


Einar menarik kursi yang ada di samping piano dan mendudukinya. Sementara Sekar masih berdiri di hadapannya.


"Aku mengantar pizza untuk seorang guru di sini," ujar Einar. "Tapi aku juga ingin menemuimu. Tadi aku menunggu di luar kelas sampai kau selesai."


Sekar menyandarkan tubuhnya ke badan grand piano di belakangnya. "Menemuiku?"


"Ya, memastikan kau baik-baik saja. Aku tidak berani menelponmu, aku takut kau terkena masalah lagi dengan orang tuamu."


Sekar meringis. Ia merasa Einar sedang menyindirnya tentang kejadian beberapa hari lalu.


"Jangan bandel, ya. Jangan meminta menginap lagi. Kau bisa membuatku terkena masalah," gurau Einar.


Bibir Sekar cemberut. Tidak boleh menginap lagi artinya ia tidak bisa mengulang malam itu, memeluk tubuh Einar semalaman.


"Kau bisa datang ke ITAN hari rabu?" tanya Sekar antusias.


"ITAN? Why (kenapa)?"


Sekar mengangguk mantap. "Aku akan mengiringi sebuah drama musikal di ITAN."


"Wow ... bagus sekali, Sekar. Pasti. Aku pasti datang."


Sekar terlonjak senang. "Sebagai gantinya aku akan datang ke Helvete Festival untuk menontonmu."


Einar terbahak. "Deal."


"Ein, aku lapar. Mau menemaniku makan siang?"


"Dengan senang hati, Tuan Puteri. Tapi, kau mau makan di mana? Bukankah sekolah belum selesai?"


"Di cafe belakang. Tempatnya enak," jawab Sekar sembari memakai blazer hitamnya.


"Apa tidak apa-apa aku berkeliaran di sini?" tanya Einar sembari terkekeh.


"No problem."


Einar mencebik. "Okay," ujarnya seraya mengikuti Sekar keluar dari ruangan itu.


.


.


Tidak banyak yang memperhatikan Einar dan Sekar ketika keduanya masuk ke dalam cafe yang cukup ramai karena bertepatan dengan jam makan siang sekolah. Hanya ada beberapa gadis yang saling berbisik dan mencuri pandang ke arah Einar sembari melempar senyum.


"Kau yakin tidak mau makan?" tanya Sekar untuk kedua kalinya.


"Ja, jeg er ikke sulten (ya, aku tidak lapar)."


"Vent litt (tunggu sebentar)." Sekar meninggalkan Einar di meja mereka dan melangkah menuju food court. Mengantri dengan beberapa siswa lain.


Sesekali gadis itu menoleh ke arah Einar dan melempar senyum. Sementara Einar membalas senyuman Sekar dengan kikuk. Entah sejak kapan perasaan aneh ketika bersama Sekar muncul. Ia tidak pernah menyadarinya selama ini sampai pada beberapa hari terakhir.


"Haahh ... antrian menyebalkan," gerutu Sekar setelah berhasil membawa ke meja mereka satu piring spagetti dan satu gelas orange juice. "Kau juga tidak mau minum sesuatu?" tanya Sekar sembari memutar garpunya untuk menggulung mie spageti.


"Tidak. Aku akan menemanimu saja. Sayangnya tidak boleh merokok di sini," kekeh Einar. Membuat Sekar mencebikkan bibirnya.


"Sekar, kau kena marah orang tuamu?"


"Mmm ... ya, ibuku. Tapi ayahku tidak memarahiku. Hanya memberiku beberapa peringatan," jawab Sekar sembari mengunyah spagetinya.


"Masih boleh belajar gitar?" tanya Einar penasaran.


"Masih."


Dalam hati Einar bersorak. Artinya, semua akan berjalan seperti biasa. Ia tersenyum memperhatikan cara Sekar melahap makanannya. Menggemaskan. Wajahnya manis sekali. Mata yang sedikit bulat dengan iris mata cokelat, hidung mungil, bibir tipis, rambut hitam panjang dan kulit terang.


Selama ini Einar tak begitu memperhatikannya. Ia akui Sekar cantik. Namun baginya gadis itu hanya seorang anak kecil yang ia anggap seperti adiknya sendiri.


Einar tidak pernah menyangka saat ini ia akan memperhatikan setiap inci wajah mungil Sekar, layaknya ia menikmati kecantikan seorang wanita yang ia sukai.


Did you put a spell on me, Little Witch (apakah kau sudah memantra-mantraiku, penyihir kecil)?


***


***


***