
MØLLERGATA, OSLO.
"Einar!"
"Di mana dia!"
Wanita berbadan tambun dengan seragam kerja warna merah itu menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Namun sosok yang ia cari tak tampak batang hidungnya. Hanya ada beberapa pengunjung yang tengah mengantri memesan pizza.
Di ruang karyawan pun ia tak mendapati Einar. Ia mendengus kesal. Banyak pesanan pizza yang harus di antarkan siang ini, namun si pemuda bengal itu menghilang entah ke mana.
"Kau lihat Einar?" tanya wanita itu pada salah seorang karyawan yang tengah memasukkan pizza ke dalam kotak.
"Sepertinya dia keluar tadi, Brit."
"Hmm ... anak itu!" gerutu wanita yang dipanggil dengan nama Brit kesal. Ia bergegas keluar restauran pizza dengan plang nama Hell's Kitchen itu.
Disambut oleh udara dingin yang menusuk, pandangan mata Brit berkeliling mencari sosok Einar di mana-mana. Pemuda itu tengah menghisap rokoknya dan berbicara dengan seorang gadis cantik di depan sebuah toko bunga yang berdampingan dengan restauran pizzanya.
"Einar!" panggilnya.
Einar menoleh padanya dan melambaikan tangan. Terlihat ia berpamitan dengan gadis yang tengah ia ajak bicara dan segera melangkah mendekati Brit yang memasang wajah masam dan berkacak pinggang.
"Kau digaji bukan untuk berpacaran dengan penjaga toko bunga!" hardiknya.
Einar meringis. "Namanya Anna, Brit ... Anna!"
"Terserah," sahut Brit sebal sembari melangkah masuk ke dalam restauran, diikuti oleh Einar. "Banyak pesanan yang harus kau antar siang ini, Anak Bengal!"
"Okay, Bos!" Einar membungkuk kecil berpura-pura memberi hormat pada manajer Hell's Kitchen, restauran pizza tempatnya bekerja sebagai delivery man itu.
"Semuanya ada di area Bekkestua." Brit meletakkan ke atas meja beberapa kotak pizza yang telah siap untuk diantar.
Einar membaca nama-nama pemesan beserta alamat mereka yang tertulis di memo stick warna merah di masing-masing kotak. Anita Berg di perpustakaan Bekkestua, Bard Larsen di kantor pemadam kebakaran, Camilla Johansson di Oslo International School, dan beberapa nama lain.
Oslo International School.
Einar mengerenyitkan keningnya. Ia teringat pada Sekar yang mengatakan kalau gadis itu bersekolah di sana. Senyumnya pun terbit.
"Einar, jam!" seru Brit sembari mengetuk-ngetuk jam tangannya.
"Iya, aku berangkat sekarang," sahut Einar sembari menyambar tumpukan kotak pizza dan membawanya keluar restauran.
Ia menghampiri motor skuter tua miliknya yang terparkir di depan restauran. Setelah memastikan barang bawaannya aman di kursi belakang, Einar mengenakan helmnya lalu mengendarai motor butut warna hitamnya itu pelan membaur dengan kendaraan lain di jalanan.
.
.
OSLO INTERNATIONAL SCHOOL, BEKKESTUA, OSLO.
Setelah selesai melakukan tugasnya mengantar pesanan pada seorang Guru bernama Camilla Johansson, Einar berjalan menelusuri koridor sembari sesekali memeriksa wajah-wajah siswa wanita yang berpapasan dengannya di sana.
Sampai di depan sebuah ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka, sayup-sayup ia mendengar suara denting piano yang mengalun lembut. Cukup indah, hingga menarik perhatiannya untuk berhenti dan melongok ke dalam ruangan.
Sekar. Tepat seperti dugaannya. Einar tersenyum lebar melihat gadis yang tengah duduk menghadap piano dan memainkannya dengan lihai. Ia seorang diri di dalam ruangan yang sepertinya adalah kelas musik itu. Terlihat dari beberapa alat musik seperti gitar, terompet, biola dan lain-lain yang tertata rapi di sana.
Mata Sekar terpejam menghayati setiap nada yang ia mainkan, hingga tak menyadari kehadiran Einar.
Einar bertepuk tangan begitu Sekar mengakhiri lagunya. Membuat gadis itu terperanjat. Dan ia semakin terkejut ketika mendapati Einar berdiri di depan pintu dengan senyum yang tersungging dari bibirnya.
"Very beautiful (indah sekali). Chopin, bukan? Yang kau mainkan tadi?" Einar berujar sembari mendekat pada Sekar.
Sekar tersenyum malu-malu mendengar pujian Einar. "Yes, Nocturne No. 20 in C sharp minor," sahutnya.
"Very talented pianist (pianis yang sungguh berbakat)," puji Einar.
Sekar hanya meringis. "Kenapa ada di sini?" tanyanya.
"Mengantar pizza?"
"Ah, ya ... I'm a delivery man (aku seorang kurir)," kekeh Einar.
Sekar mengangguk-angguk. Ingatannya pada foto Einar yang ia temukan di internet membuatnya kembali membandingkan wajah pemuda itu dengan pemuda yang sekarang ini tengah berdiri di hadapannya. Memang sungguh berbeda.
"Kenapa bersembunyi di sini sendirian? Kau tidak punya teman atau bagaimana?" goda Einar.
"Aku sedang berlatih untuk drama musical sekolah," kekehnya.
"Tapi kau memang tidak punya teman, kan?"
Sekar meringis. Pipinya pun bersemu merah menahan malu.
"Ohya, kenapa kau tidak membalas pesanku?"
Sekar terkesiap. Ia lupa membalas pesan Einar, karena waktu itu ia terlalu fokus mencari informasi tentang pemuda dengan corpse painting di wajahnya. "Owh, I'm sorry," ucapnya.
"Mau menjawabnya sekarang?"
"Emmm ... hari sabtu, mungkin," jawab Sekar ragu-ragu. Ia harus memikirkan alasan yang tepat untuk disampaikan pada Mamanya.
"Hari sabtu aku ada kencan dengan pacarku ... emm ... belum menjadi pacar, sebenarnya, dia gadis yang aku sukai selama ini," kekehnya. "Mungkin hari munggu saja, ya," lanjutnya.
Gadis yang Einar sukai. Sekar mencebik. Ia sedikit tidak nyaman mendengarnya. Namun, ia tak mempermasalahkannya. Mungkin Einar bisa menjadi teman yang menyenangkan. Ia tertarik dengan dua kepribadian pemuda tampan berambut panjang itu.
"Hari minggu ...." Sekar mengangguk.
"Deal!" Einar mengangkat telapak tangannya. Meminta Sekar untuk memberinya high five.
"Okay ...." Sekar menyambut telapak tangan Einar.
"See you on sunday, then (sampai jumpa hari minggu, kalau begitu), Sekar," ujar Einar sembari tersenyum dan membalikkan badan lalu melangkah keluar.
Sekar memandangi punggung kokoh Einar yang terbalut jaket hitam tanpa penutup kepala hingga menghilang di balik pintu.
Sosok Einar yang menghilang kini berganti dengan seraut wajah bermata sipit yang muncul dan kini telah berada di hadapannya. Adam.
"Se, makan, yuk," ujarnya sembari menekan-nekan tuts piano sembarang, hingga menimbulkan bunyi nada yang terdengar berantakan.
"Nggak lapar!" Sekar menyingkirkan tangan Adam dari tuts pianonya.
"Eh, tadi siapa, sih? Bukan siswa di sini, kan?" tanya Adam. Pastinya yang ia maksud adalah Einar.
"Siapa?" tanya Sekar berpura-pura tak mengerti.
"Itu cowok gondrong yang baru aja keluar dari sini."
"Nggak tau!" Sekar mengedikkan bahunya. Lalu beranjak dari duduknya dan berjalan keluar ruangan diikuti oleh Adam.
"Se, ternyata Papamu temen Papaku, tau?" Adam mengimbangi langkah Sekar yang cepat menuju kelasnya.
"Terus?" tanya Sekar. Ia tak tampak terkejut dengan penuturan Adam.
"Yaelah, sempit banget dunia, ya?" kekeh Adam.
"Bakal sering main ke rumahmu nih aku kayaknya," lanjutnya.
Sekar tak menyahut. Otaknya sibuk memikirkan cara agar hari minggu bisa keluar dan berjalan-jalan dengan Einar, tanpa ada pengawasan dari Pak Karso yang sudah pasti akan diminta Mama untuk menungguinya.
***
***
***