
"Hei, Sekar."
Einar berjalan mendekati gadis mungil yang sedang berdiri mematung dengan raut wajah suram itu.
"Ha det (sampai jumpa), Ein!" Anna berseru sembari melambaikan tangannya pada Einar. Lalu tersenyum pada Sekar yang membalas sekenanya.
"Ha det fint (hati-hati di jalan), Anna." Einar menyambut lambaian tangan Anna sekilas. Lalu mengalihkan perhatiannya kembali pada Sekar yang masih memasang wajah cemberutnya.
"Kenapa datang ke sini?" tanya Einar dengan senyumnya yang tak lepas dari bibirnya. Ia senang. Senang sekali melihat gadis itu.
"Memangnya kenapa? Aku mengganggu acara berduaanmu dengan mantan pacarmu itu, ya?" sungut Sekar.
Einar terbahak. "Anna mau pulang."
"Dan kau berniat untuk mengantarnya?" cecar Sekar.
Einar mengerenyitkan keningnya. "Aku mau pergi ke bar," ujarnya seraya menunjuk sebuah bar dengan tulisan Klosterenga Café & Bar di papan nama yang ada di seberang jalan.
"Kenapa mantan pacarmu itu datang ke sini?" Sekar masih bersungut-sungut. Ia belum berniat untuk mencairkan suasana hatinya.
"She heard about the tragedy in Øya, so she wanted to know how I was doing (dia mendengar tragedi di Øya, jadi dia ingin tahu kabarku)."
"Apa dia harus datang? Tidak bisa bertanya lewat telpon?"
Einar kembali terbahak. "Mana aku tahu, Sekar."
Sekar melipat kedua lengan di depan dada. "Kenapa kau matikan ponselmu?"
"Ah, yaa ...." Einar mengelus kepalanya sendiri pelan. Lalu memandang Sekar yang kini memasang tatapan mata penuh selidik. "Ayo jalan-jalan."
Tanpa menunggu persetujuan Sekar, Einar meraih tangan gadis itu dan menggandengnya menelusuri sidewalk yang lengang.
"Ada taman di balik gedung ini, kita jalan memutar."
Sekar menurut saja kemana Einar akan membawanya. Ia masih bertahan dengan wajah cemberutnya dan menahan diri untuk tidak meloloskan senyum bahagianya. Hingga mereka sampai di belakang gedung apartemen dan masuk ke dalam sebuah taman luas yang banyak ditumbuhi pohon besar tanpa daun. Di ujung taman ada sebuah lapangan basket.
Suasana taman sepi. Terlihat di kejauhan sana hanya ada dua orang anak yang sedang bermain basket.
Einar menyingkirkan salju tipis yang menempel di atas kursi kayu panjang di pinggir taman. Lalu mengajak Sekar duduk di sana.
"Jadi, kenapa kau matikan ponselmu? Karena kau sedang bersama Anna?" tuduh Sekar.
"Bukan, Sekar. Tidak ada hubungannya dengan Anna." Einar merapikan anak rambut Sekar yang tertiup angin menutupi wajahnya. "Aku ingin bicara serius denganmu," ucapnya.
"Bicara apa?" tanya Sekar.
Einar menatap Sekar lekat. "Dengar, Sekar ... mungkin kita tidak bisa bertemu lagi," ucapnya dengan suara bergetar.
"Ke-napa?" tanya Sekar terbata. Ia terkejut mendengar ucapan Einar.
Einar menghela napasnya. Ia menggeleng pelan.
"Ayahku bilang sesuatu padamu? Atau Ibuku?" tebak Sekar. Dadanya berdebar kencang.
"Mereka sangat menyayangimu, Sekar. Aku bisa mengerti kekhawatiran mereka."
Sekar mendecak. "Bukankah kita hanya berteman? Apa masalahnya?"
"Ada banyak hal dalam diriku yang menjadi pertimbangan kedua orang tuamu untuk mengizinkan kita ... berteman."
"Aku tidak mau!" sergah Sekar.
Einar menaikkan alisnya. "Tidak mau apa?"
"Tidak mau berpisah denganmu, Ein."
"Aku tahu, Sekar. Tapi aku sudah berjanji pada ayahmu untuk ...."
"Tidak menemuiku lagi?"
Einar mengelus tengkuknya. "Yeah."
Buggh.
Tinju Sekar mendarat telak di dada Einar. Pemuda itu mengaduh seraya mengelus dadanya. "Kenapa memukulku?" tanyanya heran.
"Kau ini. Kenapa harus berjanji tentang hal-hal bodoh seperti itu?" bentak Sekar kesal.
"Aku tidak mau melihatmu bermasalah dengan orang tuamu, Sekar. Lagi pula ... sebelum kita melangkah semakin jauh ... akan sangat sulit bagiku untuk ... emm ... sebaiknya kita ...." Einar menghentikan ucapannya.
"Apa maksudmu? Melangkah semakin jauh? Semakin sulit untuk apa?" Sekar memicingkan matanya.
"Lupakan saja."
"Ein!"
"Bukan apa-apa, Sekar."
"Ein!"
Sekar membulatkan matanya. "Apa kau bilang?"
"Jeg elsker deg (aku mencintaimu)!" seru Einar seraya menatap dalam mata Sekar.
Sekar menutup mulutnya dengan telapak tangan. Ia tidak percaya apa yang baru saja didengarnya.
"Say it one more time (katakan sekali lagi)."
"Jeg elsker deg (aku mencintaimu)." Einar mengulang ucapannya.
"Kau serius, Ein?"
"Sangat serius, sampai-sampai aku bingung harus bagaima ... wow!" Einar berseru kaget ketika tanpa aba-aba Sekar menghambur ke pelukannya, mendusalkan kepalanya ke leher Einar dengan manja.
"Jeg elsker deg også (aku juga mencintaimu), Ein."
"Sh it! I broke a promise (sialan, aku melanggar sebuah janji)," desah Einar seraya merengkuh tubuh Sekar.
Sekar melepaskan pelukannya. "Kalau kau meninggalkanku, kau juga melanggar janjimu pada Dewi Jörð!"
"Jævla (sial)!" maki Einar.
Sekar meringis senang. Lalu melingkarkan kedua lengannya di leher Einar.
"Gadis menggemaskan ini," gumam Einar seraya mencubit hidung Sekar. "Bagaimana bisa kau membuatku hilang arah seperti ini," kekehnya. Sekar hanya mengedikkan bahunya.
"Tunggu!" seru Sekar. "Ini bukan mimpi?" tanyanya seraya menepuk-nepuk pipinya. Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Lalu menghirup udara dalam-dalam.
"Kenapa kau pikir ini mimpi?" tanya Einar.
"Karena ... aku pernah mengalami ini, di Øya, di tepi sungai. Hanya saja ...." Sekar tersipu malu. "Kau lebih romantis dari ini," ucapnya lirih. "Tapi sayangnya itu hanya mimpi."
"Ohya? Aku romantis? Seperti ini?" Einar mendekatkan wajahnya pada wajah Sekar. Menatap mata cokelatnya dalam-dalam dari jarak yang begitu dekat. Lalu pelan ia mendaratkan bibirnya di bibir gadis itu. Mengecupnya lembut seraya mengelus pipinya. Memagut dan menggigitnya kecil.
Einar merasakan Sekar sepertinya begitu tegang menerima perlakuannya itu. Gadis itu hanya memejamkan mata dan terdiam. Sama sekali tidak membalas ciumannya.
"Apa ini ciuman pertamamu?" tanyanya lirih.
Sekar membuka matanya. Ia mengangguk pelan.
"I'm sorry I stole your first kiss (maaf aku telah mencuri ciuman pertamamu)," ucapnya lirih membuat Sekar terkesiap. Kata-kata yang sama diucapkan Einar dalam mimpinya waktu itu.
Einar kembali menatap mata Sekar dalam-dalam. Lalu menangkup pipi Sekar dan mendaratkan ciumannya kembali. "Open your mouth (buka mulutmu)," bisiknya.
Sekar yang tengah menahan malu luar biasa mulai membuka mulutnya sedikit demi sedikit, hingga membuat Einar leluasa memagut bibirnya.
"Ikuti gerakan bibirku, Sekar." Einar kembali berbisik.
Sekar menelan ludahnya. Dengan perasaan yang sudah tidak menentu, ia mulai membuang rasa malunya yang menggunung dan mencoba membuka diri dengan mengikuti ritme ciuman Einar yang lambat namun dalam.
Einar mengelus kepala Sekar lembut. Mencium keningnya dan membawanya ke dadanya.
"Selanjutnya bagaimana?" tanya Sekar seraya menengadahkan wajahnya memandang wajah tampan itu.
"Aku akan bicara dengan orang tuamu."
"Jangan! Kita sembunyi-sembunyi saja."
Einar menggeleng. "No, Sekar ... aku akan meminta izin baik-baik pada kedua orang tuamu. Sebuah hubungan yang baik harus diawali dengan kejujuran, walaupun tidak akan mudah."
"Kalau mereka menolak?" tanya Sekar. "Dan pasti mereka akan menolak," lanjutnya.
"Well ... saatnya membuktikan kalau cinta bukan hanya di bibir saja," kekeh Einar.
Sekar menggenggam erat tangan Einar. Rasa bahagianya sungguh tak terkira. Pelukan Einar adalah tempat ternyaman baginya di bumi ini.
"Ein?"
"Ja, Kjære (iya, sayang)?"
"Fortell meg at det ikke er en drøm (katakan ini bukan mimpi)."
Einar mengeratkan pelukannya. Lalu sambil mencium puncak kepala Sekar ia berbisik pelan.
"This is not a dream (ini bukan mimpi).
***
***
***