LOVE IN BLACK

LOVE IN BLACK
Bab 19. The Book Of Shadow.



Sekar terengah-engah sembari membungkuk memegangi lututnya. Entah sudah berapa jauh ia berlari meninggalkan Einar. Ia menyusut air matanya dengan kasar. Menarik napasnya dalam-dalam dan menegakkan badannya.


Ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Trotoar tempatnya berdiri tampak lengang. Hanya ada beberapa pejalan kaki yang melewatinya. Toko-toko yang berjejer di sampingnya pun tak terlalu ramai.


Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul 19.30. Pak Karso belum menelpon untuk menjemputnya. Mama pun belum mengubunginya.


Lalu pandangan matanya beralih pada sebuah toko yang diapit oleh restauran bergaya cowboy dan sebuah swalayan kecil.


Lille Arcana.


Sekar membaca papan nama di atas pintu kaca. Toko itu tampak berbeda di antara yang lainnya. Kaca depannya dibingkai oleh kayu yang masih berbentuk batang asli dan dihiasi oleh tanaman rambat. Ada patung seorang wanita cantik berpakaian yunani kuno yang tengah mengapit sebuah buket bunga di balik kaca. Ia bisa melihat ke dalam toko yang diterangi oleh cahaya lampu kuning temaram.


Banyak rak yang terisi dengan barang-barang seperti cawan perak, akar-akar kering, lilin-lilin tebal dan lain sebagainya.


Perlahan kakinya melangkah masuk ke dalam toko.


"Hello, søsteren min, velkommen (halo, saudara perempuanku, selamat datang)."


Seorang gadis cantik berambut pirang dengan kepala yang tertutup kain motif bunga dan memakai baju tradisional Norwegia menyambutnya dengan ramah. Ia berdiri di belakang sebuah meja yang tampak seperti altar dengan bermacam-macam benda yang ada di atasnya.


"Can I help you (ada yang bisa kubantu)?" Gadis itu berbicara dalam bahasa Inggris begitu menyadari Sekar bukanlah penduduk lokal.


"Emmm ...." Sekar mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Matanya begitu dimanjakan oleh barang-barang yang tertata rapi di rak-rak kayu yang mengelilinginya.


Perhiasan penyihir, losion, ramuan, stiker penyihir, mug, gantungan kunci, plakat, jimat, lemparan pagan, hiasan dinding, tas, kantong kain, jimat keberuntungan, paku peti mati, dupa, kerucut, dan resin.


Sekar menghirup aroma wangi bunga lavender yang menenangkan hati.


"Book (buku)," sahut Sekar. Entah kenapa kata itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Seakan-akan energi yang ada di dalam ruangan ini bisa membaca sesuatu yang bahkan tersimpan di dalam alam bawah sadarnya.


Gadis itu tersenyum. Sepertinya ia telah mengerti buku apa yang dimaksud oleh Sekar. Ia membungkuk untuk memeriksa sesuatu yang ada di bawah meja. Kemudian berdiri kembali dengan sebuah buku di tangannya.


Buku tebal di tangan gadis itu terlihat seperti kitab kuno. Berwarna hijau tua dengan ukiran warna emas di sudut-sudut sampulnya. Ia lalu menyerahkan buku itu pada Sekar.


The Craft : A Witch's Book Of Shadow (buku bayangan penyihir).


Sekar membaca judulnya. Ia memandang pada gadis itu dengan senyum di bibirnya. Namun ia merasa heran bagaimana gadis itu bisa tahu buku apa yang tengah terlintas di benaknya.


"I'm Cassandra." Gadis yang mengaku bernama Cassandra itu mengulurkan tangannya.


"Sekar ...." Sekar menyambut uluran tangan gadis itu. "How much (berapa harganya)?" tanya Sekar sembari mengangkat buku di tangannya.


"Keep it. It's a gift (simpan saja. Itu hadiah)," ucap Cassandra.


Belum sempat Sekar menyahut, seorang gadis lain muncul dari balik tirai di belakang Cassandra. Cantik, dengan rambut ikal panjang dan tubuhnya yang juga berbalut pakaian tradisional Norwegia. Namun tatapan mata hijaunya begitu misterius.


"I'm Liana ...." Gadis bernama Liana itu mengulurkan tangannya pada Sekar. "Aku sudah mendengar namamu tadi di dalam. Sekar ... hmmm ... you'll be back here (kau akan kembali lagi ke sini)," ucapnya.


"Thank you ...." Hanya itu yang meluncur dari bibir Sekar. Ia tersenyum memandang Cassandra dan Liana.


"Read the book and come back here (baca bukunya dan kembalilah ke sini)."


Sekar mengangguk. Ia pun berpamitan pada dua gadis itu. Dengan mengapit buku di lengannya, Sekar melangkah keluar dari toko.


"Pak Karso nggak usah jemput. Aku pulang naik taksi." Ia menutup telponnya sebelum Pak Karso di seberang sana sempat menjawab.


Lalu tangannya melambai pada sebuah taksi yang melintas di depannya.


"Frogner, Sir." Sekar memberi titah pada supir taksi begitu ia telah duduk di kursi penumpang.


Melalui kaca jendela mobil yang transparan, ia menatap ke dalam toko melalui kaca depan. Di dalam sana, Cassandra dan Liana juga tengah menatapnya, dengan senyum tersungging di bibir mereka.


***


Anna duduk di atas sofanya sembari memeluk lututnya. Matanya sembab oleh sisa-sisa air mata. Pipinya pun terlihat memerah akibat tamparan dari pria yang tadi bertengkar dengannya.


"Halvor meminta kami kembali bersama. Jeg er forvirret (aku bingung), Ein."


Einar yang duduk di sampingnya menghela napas dalam-dalam. "Elsker du ham fortsatt (kau masih mencintainya)?"


Anna menggeleng. "Jeg vet ikke (aku tidak tahu)."


Einar merubah posisi duduknya. Ia kini menghadap ke arah Anna. "Jangan kembali pada pria breng sek itu," pintanya. "Kau tidak lihat apa yang telah dia lakukan padamu?"


Anna terdiam. Ia menatap lurus ke depan. Kosong.


"Pria macam apa yang berani memukul seorang wanita!" ujar Einar geram.


Dan pria macam apa yang membiarkan seorang gadis pulang sendirian di malam hari.


Di mana Sekar? Apa ia sudah berada di rumahnya sekarang? Kenapa hatinya mulai merasa cemas?


Gadis itu terlihat sangat murka. Ia berlari entah ke mana. Sendirian. Menembus malam.


"Ein ...."


"Ja (ya)."


"Elsker du meg virkelig (apa kau sungguh-sungguh mencintaiku)?"


Einar menatap Anna lekat-lekat. "Ja, Anna, ja ... Jeg elsker deg (aku mencintaimu)." Einar meraih kepala Anna dan membawanya ke dalam pelukannya. Diciumnya puncak kepala Anna dengan lembut. Namun pandangan matanya kosong. Ia masih memikirkan keadaan Sekar sekarang.


Di mana dan sedang apa.


***


FROGNER, OSLO.


"Non, baru pulang?"


Mbok Mar yang tengah mencuci piring-piring kotor menyapa Sekar yang baru saja masuk ke dapur dan mengambil satu kotak orange juice dari dalam lemari pendingin.


"Mama sama Papa belum pulang?" Sekar balik bertanya.


"Belum." Mbok Mar merapikan piring-piring bersih ke rak piring di samping


kitchen sink. "Mau makan, nggak?" tawarnya.


"Udah makan." Sekar menarik kursi dari bawah meja makan dan terduduk lesu di sana.


"Nggak dijemput Pak Karso, Non?"


"Naik taxi." Sekar menelungkupkan kepalanya ke atas meja.


"Capek banget kelihatannya. Mau dipijitin, nggak?"


Sekar mengangguk.


Wanita paruh baya itu mengeringkan tangannya dengan handuk kecil yang tergantung di samping rak piring. Lalu mendekati Sekar dan mulai memijit bahunya.


"Sebelah sini, Mbok." Sekar mengelus lehernya. Pijatan lembut Mbok Mar membuatnya merasa lebih rileks. Napasnya yang sedikit memburu kini mulai teratur. Ia memejamkan matanya pelan. Membuang segala gundah gulana yang melanda. Menyingkirkan bayangan Einar dan Anna yang membuat dadanya terasa nyeri.


.


.


Einar duduk di tepian ranjangnya sembari mengusap wajahnya kasar. Sesekali diliriknya ponsel yang tergeletak di sampingnya. Sudah tak terhitung berapa kali ia menelpon gadis itu, namun nihil. Tak ada jawaban apa pun.


Pukul 22.30. Ia memandang jam dinding. Kalau pun Sekar sudah berada di rumahnya, tidak mungkin ia datang untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.


Ia memandang bayangan Sekar yang ada di sampingnya, dan bayangan dirinya sendiri yang tengah duduk di atas bean bag


Sekar, focus!


Ia tersenyum melihat wajah tengil Sekar yang tidak memperhatikan apa yang sedang ia sampaikan, melainkan hanya tersenyum-senyum memandanginya.


Lagu Ex Cathedra, apa artinya?


Kenapa kau menjadi seorang Antichrist?


Ein ... apa kau benar-benar menyukai Anna?


Einar tertegun. Ia tersadar Sekar beberapa kali menanyakan tentang perasaannya pada Anna.


Dua kali gadis itu marah-marah tanpa alasan, dan dua-duanya ketika Anna ada.


Tapi, Sekar memang aneh. Sikapnya bisa berubah sewaktu-waktu. Tertidur dan melamun semaunya, setelah itu terlihat seperti sedang kebingungan.


Ada apa dengan Sekar?


***


***


***