
"Jeg elsker deg også (aku juga mencintaimu) ...."
Mata Sekar terpejam. Suasana hening. Gemericik suara air sungai dan riuh perkemahan yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan pun lenyap, berganti dengan suara-suara berfrekwensi rendah. Bunyi-bunyi infrasonik yang mustahil didengar oleh manusia yang dibawa oleh gelombang elektromagnetik, merambat ke sekelilingnya, membuat telinganya berdengung dan kepalanya terasa pusing.
Ia membuka matanya. Terkesiap mendapati dirinya berada di tengah-tengah kerumunan orang-orang bercat mayat di wajah mereka. Semuanya menghadap ke arah panggung. Di mana Lord Abaddon tengah beraksi di atas sana memainkan lagu ex cathedra.
Matanya menangkap dua sosok berjubah hitam yang berjalan di antara kerumunan orang-orang yang tengah tenggelam dalam alunan musik yang menghentak-hentak.
Dua sosok itu, yang tidak bisa ia tebak mereka pria atau wanita, mengeluarkan pisau belati dari balik jubah mereka.
Sekar terbelalak. Ia ingin berteriak memperingatkan semua orang namun tenggorokannya seakan tercekik. Ia hanya bisa berdiri mematung dan menangis menyaksikan dua sosok itu membantai siapa pun yang ada di sekitar mereka.
"Sekar!"
"Sekar!"
"Hei, Sekar!"
Sekar mengedipkan matanya sekali. Ia mendapati Einar berdiri di hadapannya sembari mengguncang bahunya. Bukan Einar yang biasa, tapi gitaris Lord Abaddon dengan cat wajah tengkoraknya dan rambut panjangnya yang diwarnai hitam.
Sekar menatap Einar lekat. Pertama kalinya ia melihat secara langsung sisi lain dari pemuda itu.
"Are you okay (kau baik-baik saja)?" tanya Einar cemas. Ia memanggil Bard dan menitipkan gitar yang dicangklongnya pada krunya itu.
"Sekar?"
Sekar terkesiap. "Ein!" Ia menghambur ke pelukan Einar. Membenamkan wajahnya di dada pemuda itu.
"Sekar, hei, Sekar," panggil Einar seraya mengelus punggung Sekar lembut. Ia tahu gadis itu baru saja tersadar dari dunianya. Sejak datang ke perkemahan, Sekar hanya diam saja. Hanya sesekali tersenyum dan mengangguk ketika ia mengajaknya bicara. Namun pandangan matanya kosong.
"Jangan naik panggung, Ein, aku mohon," rengek Sekar.
"What did you see (apa yang kau lihat)?" tanyanya.
"Chaos, blood (kekacauan, darah)."
Einar menoleh ke arah Liana dan Cassandra yang berdiri tak jauh dari mereka. Kedua gadis itu tersenyum miring. Kata-kata ancaman yang keluar dari mulut Liana beberapa saat lalu ketika terlibat perdebatan dengan Folke kembali terngiang.
"Ein! Sudah waktunya!" panggil Lief yang baru saja muncul.
"Tunggu sebentar," sahutnya. Ia melepaskan pelukan Sekar.
"Ein, please," ucap Sekar lirih.
"Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja." Einar mengelus pipi Sekar sekilas. Lalu berjalan mendekati Liana dan Cassandra.
Sekar melihat Einar dan dua gadis itu terlibat pembicaraan serius. Bahkan pemuda itu sampai menunjuk-nunjuk wajah Liana dan Cassandra dengan geram.
Bukan, bukan mereka.
Sekar menjerit dalam hati. Ia tidak mampu meloloskan suaranya. Ia hanya bisa memandangi Einar yang kini berjalan menjauh menuju ke panggung bersama Folke, Edvard dan Goran.
.
.
"Lord Abaddon!"
Teriakan dari atas panggung disambut sorak sorai lautan manusia yang berjejal di depan panggung besar dengan tema dekorasi "kematian".
Sekar yang berdiri di samping panggung bersama Liana dan Cassandra menatap Einar dengan cemas. Namun ia tidak menampik kekagumannya pada pemuda itu. Berdiri di atas panggung dengan gagahnya. Mencabik gitar dengan brutalnya. Angkuh, dingin, tiada ampun memperdengarkan lagu berjudul Mother North yang menjadi lagu pembuka penampilan Lord Abaddon.
Gadis itu mengelus bibirnya. Ciuman lembut Einar masih terasa begitu membekas dan membuat dadanya berdebar kencang. Namun ia ragu, apakah memang nyata atau hanya mimpi. Sialnya ia tidak bisa memastikannya.
Jeg elsker deg (aku mencintaimu).
Sederet kata-kata ajaib itu menggema dalam benaknya, seiring dengan alunan lagu berjudul Berge, dengan komposisi naik turun membawa jiwanya menaiki rollercoaster menuju dimensi lain.
Lagu itu wujud kejahilan Einar. Lembut, lalu seketika menjadi brutal, kemudian lembut kembali, lalu menggila.
Astaga, sosok itu. Gitaris dengan tato naga di lengan kanannya itu benar-benar membuatnya jatuh cinta sedalam-dalamnya.
There's no such a thing as coincidence, everything happens for a reason (tidak ada yang namanya kebetulan, semua terjadi karena sebuah alasan).
He's the one (dialah orangnya).
"Denne heter (lagu ini berjudul) ... Ex Cathedra!"
Seruan Folke dari atas panggung disambut gemuruh penonton yang serempak mengangkat tangan mereka membentuk simbol tanduk setan.
"Hail, Lord Abaddon!"
"Hail!"
"Hail!"
Seruan-seruan memuja itu membuat bulu roma Sekar meremang. Ex Cathedra lagu yang berbahaya. Syarat akan sindiran terhadap gereja Katholik. Lagu yang selalu dikaitkan dengan pembakaran gereja yang dilakukan Einar dan teman-temannya. Namun ke empat punggawa Lord Abaddon itu dengan gagah berani membawakannya.
Dada Sekar berdebar kencang. Ia melempar pandangannya ke arah ribuan penonton yang tengah larut dalam beauty in the dankness (keindahan dalam kegelapan). Napasnya memburu, badannya gemetaran. Ia menunggu saat-saat yang ia berdoa sepenuhnya dalam hati, tidak akan penah terjadi.
"Det er på tide (ini saatnya), Cassandra!"
Suara Liana membuat Sekar seketika membalikkan badan. Belum sempat ia mengucap kata, ia dikejutkan dengan suara ledakan dari arah penonton yang begitu memekakan telinga. Dan rentetan tembakan yang mengarah ke atas panggung.
"Apa yang kau lakukan? Seharusnya tidak seperti ini!" Cassandra berteriak pada Liana dengan wajah panik.
"Aku belum melakukan apa pun!" Liana berseru tak kalah paniknya.
Jeritan, lolongan, tangisan, suara sirine mobil polisi bercampur jadi satu. Suasana menjadi kacau balau. Semua berlarian tak tentu arah menyelamatkan diri.
Sementara Sekar sama sekali tak dapat menggerakkan badannya. Matanya terbelalak dan mulutnya terbuka. Napasnya tersengal.
Einar, di mana dia? Aku mendengar suara tembakan. Jangan ... tolong, jangan. Aku mohon.
"Sekar! Ayo, menyingkir!" Liana meraih tangan Sekar dan menariknya menuju ke belakang panggung.
"Einar! Di mana dia!" seru Sekar ketika berhasil meloloskan suaranya. "Einar! Einar!" Ia memanggil-manggil nama Einar seperti orang gila. Ia melempar pandangannya ke sana kemari, namun sosok yang begitu dicintainya itu tidak terlihat di mana-mana.
"We have to go (kita harus pergi), Sekar!" teriak Cassandra. Suaranya tenggelam di tengah hiruk pikuk perkemahan yang kacau balau.
"No, I have to find Einar (tidak, aku harus menemukan Einar)!" sergah Sekar seraya menepis tangan Cassandra.
Ia kembali mengedarkan pandangan. Dilihatnya beberapa tenaga medis berlarian menuju panggung melalui pintu khusus. Tanpa pikir panjang lagi, ia berlari mengikuti orang-orang berseragam putih itu. Ia tidak memedulikan seruan Liana dan Cassandra yang memanggil-manggil namanya.
Ia berhenti di depan pintu masuk. Jantungnya seakan berhenti ketika melihat empat orang petugas medis membawa seseorang di atas tandu.
"Tolong menyingkir, Nona!" seru salah seorang dari petugas itu sembari mendorong Sekar.
Pria yang ditandu itu kru Lord Abaddon. Ia terluka di bagian pahanya. Sekar menarik napas lega.
"Sekar! Astaga! Aku mencarimu ke mana-mana!"
Suara itu. Sekar merasa batu besar yang menghimpit dadanya kini terangkat sudah. Einar, entah datang dari mana, berdiri tak jauh darinya, sembari mengelus kepalanya sendiri. Pemuda itu terlihat berantakan. Dengan cat wajah yang sebagian besar telah terhapus.
"Ein!"
Sekar menghambur ke pelukan Einar. Tangisnya pecah. Antara bahagia melihat pemuda itu baik-baik saja, dan ketakutan menyaksikan hal mengerikan di dalam mimpinya menjadi kenyataan.
"I told you, Ein ... I told you (aku sudah bilang padamu, Ein ... aku sudah bilang padamu)," isak Sekar seraya membenamkan wajahnya di dada Einar.
Sementara Einar hanya bisa memeluk tubuh mungil itu seraya menciumi puncak kepalanya.
"I'm scared (aku takut), Ein."
"Sstt ... I'm here, Baby ... I'm here (aku di sini, Sayang ... aku di sini)." Einar semakin mengeratkan pelukannya pada Sekar, seakan-akan tidak ingin siapa pun merenggut gadis itu darinya.
Dan tangisan Sekar pun tenggelam di antara sirine mobil polisi serta ambulance, dan teriakan orang-orang yang tengah mengevakuasi para korban.
Korban dari sebuah aksi bom bunuh diri yang akan membuat nama Lord Abaddon kembali tercoreng.
***
***
***
Pamerin dadanya Einar ah, mumpung yang bersangkutan lagi sama aku 😁